Selasa, 12 Maret 2013

Romantisme Sepakbola dan Musik


Sulit rasanya, jika mencari korelasi antara kegiatan berlarian—menyundul—menendang bola, dengan aktivitas tarik suara. Yang satu menempatkan seseorang dalam kondisi selalu siaga mengejar bola, dan bahkan membuat mereka harus terlihat ‘jelek’ dan ‘kotor’ karena berpeluh keringat; sedangkan yang satunya mewajibkan siapapun yang terlibat di dalamnya terlihat sempurna dan menawan, karena menyangkut soal penyajian sebuah karya kepada publik. Secara kasat mata, sepakbola dan musik dalah dua bahasan yang sungguh berbeda.

Namun, jika kita mengingat bagaimana Dorce Gamalama bisa dipanggil ‘bunda’, bagaimana benda-benda tajam dan bahan baku material bisa bersarang di tubuh seseorang karena konon katanya dikirim oleh ‘orang pintar’, bagaimana seorang pelaku koruptor diperlakukan layaknya priyayi di negeri ini, bagaimana Pique bisa ditempatkan dalam daftar pemain terbaik FIFA 2012; rasanya, sudah tidak ada lagi yang tidak mungkin di dunia ini, semuanya bisa terjadi. Samar-samar, saya bisa merasakan bagaimana Adolf Dasler tersenyum, karena melihat bagaimana tagline produk olahraga miliknya bisa menjadi sumber inspirasi banyak orang. Ya, Impossible is nothing.

Please, let him get what he wants

Morrissey dengan atribut West Ham
Dari sekian banyak keterkaitan antara sepakbola dengan dunia musik, saya ingin memulai bahasan dari dataran Britania: surga bagi penikmat sepakbola dan juga musik. Dimulai dari bapak pop kesayangan kita bersama: Steven Patrick Morrissey.

Morissey sempat santer diisukan sebagai supporter Liverpool, karena —bersama The Smith— dia pernah menciptakan sebuah lagu berjudul ‘Frankly Mr. Shankly’, yang bercerita tentang pelatih legendaris Liverpool, Bill Shankly. Namun, pada tahun 1997 publik seakan dibuat bingung, karena lagi-lagi dia membuat sebuah lagu dengan tema sepakbola; kali ini tentang salah satu ikon klub Manchester kabupaten, Roy Keane. Single ‘Roy’s Keen’ seakan membantahkan stigma penggemar Morissey, bahwa ‘You’ll Never Walk Alone.mp3’ bukanlah satu-satunya file lagu bertemakan sepakbola yang ada di playlist iPod-nya, mereka nampaknya harus rela berbagi tempat dengan ‘Glory Glory Man.United.mp3’.

Belum selesai kebingungan kita tentang apa klub bola favorit Morissey, tiba-tiba dia muncul dengan seenaknya di jalanan Los Angeles, dengan mengenakan jersey klub London selatan: Milwall. Bahkan, ia pernah digosipkan membeli sebagian persen saham klub Milwall oleh beberapa koran Inggris. Tapi sebagaimana isak tangi Eza Gionino saat jumpa pers, terkait masalahnya dengan Ardina Rasti: keabsahan berita media Inggris, (selalu) patut untuk kita pertanyakan. Belakangan baru diketahui, bahwa Morissey hanya menjalin hubungan pertemanan dengan asisten manager Milwall. Tidak lebih.

Yang terakhir ini, sebetulnya buat saya sendiri pun sedikit mengejutkan: bagaimana bisa ia diklaim sebagai fans Milwall —karena jalan-jalan di Los Angeles dengan jersey-nya— sedangkan dalam beberapa kesempatan, baik bersama The Smith maupun saat saat tampil solo, ia juga mengenakan atribut West Ham? Mungkin rivalitas di antara kedua tim agak sedikit overrated semenjak adanya film ‘Green Street Hooligans’, tapi bagaimanapun, mengenakan dua atribut tim yang memang memiliki sejarah perseteruan kelam, sedikit mencengangkan. Bayangkan, Valentino Rossi mengenakan jersey Inter saat berbelanja di pusat kota Milan, kemudian ia berbalik mengenakan jersey Juventus sesaat sebelum memulai pemanasan di Mugello. Apa klub sepakbola favorit Morissey, kini semakin menambah panjang daftar misteri Tuhan yang belum terpecahkan. Sebuah alasan masuk akal, bagi sebagian besar fans-fans sepakbola berumur belasan di luar sana, mengatai Morissey sebagai ‘Glory Hunter’.

Tapi, hei..jangan lupa dia adalah Morissey, dia berhak melakukan apapun yang dia mau di dunia. Hak prerogatif yang sudah diberikan oleh hampir separuh pemimpin negara peserta kongres PBB, atas sumbangsih dan kedigdayaannya di dunia musik; membuatnya tidak bisa disalahkan. Seperti yang dikutip dari Espn Sports, Morissey pernah mengutarakan pembenarannya atas klaim ‘fans kutu loncat’

“I was forced onto several [football -- meaning soccer] teams and track events and so forth. And the impression,” Morrissey said, “was indelible. The high drama, the stakes, the exhilaration of giving all that was left of you physically. I saw it all with a poet’s eye, though.”

Please, just let him get what he wants, people.

The Number of the Bubble

Masih dari dataran Britania, cerita berikutnya datang dari pria yang self proclaimed sebagai ‘British Lion’, Stephen Percy Harris. Sebelum Tuhan menunjukkan dia ke jalan yang benar, dengan menjadi pembetot bas di Iron Maiden; sebelumnya Harris kecil adalah calon pemain akademi West Ham United.  Seperti anak kecil Inggris — yang mendadak mencintai sepakbola, sejak kiprah Inggris di Piala Dunia ’66 — pada umumnya, dia mengawali minpi masa kecilnya, dengan bermain sepakbola di tim amatir setempat. Hingga akhirnya, seorang scout talent bermata jeli, Stanley Walter (Wally) St Pier, berinisiatif untuk mempromosikannya ke akademi West Ham. Jika melihat daftar pemain yang pernah ‘ditemukan’ oleh Wally St Pier, rasa-rasanya sulit untuk memandang sebelah mata skill sepakbola Harris kecil. Bagaimana tidak, coba tengok siapa saja yang pernah berhasil dia orbitkan: Bobby Moore, Geoff Hurst, Martin Peters, Frank Lampard Sr, Paul Brush, Alan Curbishley, sampai Pat Holland.

Tapi sekalipun mempunyai kesempatan untuk merintis karir hingga mencapai keberhasilan seperti pemain-pemain di atas, Harris menolaknya. Ia beranggapan bahwa hal itu — bermain sepakbola professional — bukan suatu hal yang benar-benar dia inginkan. Sekalipun begitu, ia tetap bermain sepakbola. Bahkan di tahun ’99, dia tercatat sebagai top skor F.C Maidonians di divisi 1 Ilford & District dengan 18 gol. Di posisi ke-dua ada Tony Newton dengan 14 goal ( beberapa dari kalian mungkin mengingat dia sebagai pemain bass ‘Dirty Deeds’, yang dalam beberapa tahun terakhir ikut tour dengan Maiden, dan tergabung dengan Steve’s Beast Records). Sebetulnya, Harris bisa saja tampil masa bodoh dengan usia dan skill bermain bolanya pada saat itu, karena pemiliknya tak akan pernah mendatangi dan memarahi dia di ruang ganti; yang tidak lain dan tidak bukan adalah Steve Harris sendiri.

Namun, mari mengingat foto Eric Cantona dengan quote ‘You can change your wife, your politics, your religion, but never, never can you change your favourite football team” yang seringkali serempak muncul, kompak dengan update status BBM ‘I’m United’ atau ‘#GGMU’ sesaat sebelum Manchester United bertanding;  kata-kata yang ada di gambar itu, memang benar adanya. Harris boleh berganti-ganti band, pun boleh berganti-ganti memainkan instrumen musik, tapi tidak dengan klub sepakbola kesayangannya: West Ham United.

i am british lion, fuck you!
Harris menjadi fans The Hammers sejak berumur 9 tahun. Sampai sekarang, ia mengaku masih sering meluangkan waktunya untuk datang ke stadion dan bermain gelembung udara sambil menyanyikan ‘I’m Forever Blowing Bubble’ yang terkenal itu. Ia pun paham benar, bagaimana cara menyisipkan kecintaannya akan sepakbola dengan pilihan karirnya sebagai musisi. Tengok bagaimana logo West Ham United terpampang di body Fender Precision Bass — yang biasa ia gunakan ke manapun Iron Maiden manggung — miliknya.

Yang paling fenomenal, mungkin saat ia mencantumkan tulisan ‘West Ham 7- 3 Arsenal’ di ticker yang ada di artwork cover album ‘Somewhere In Time’ milik Iron Maiden, yang dirilis pada tahun 1986. Dan saya sempat dibuat bingung, ketika ngubek-ngubek website yang menyuguhkan data head-to-head antara West Ham – Arsenal; dan hasilnya nihil. Tak ada satupun data yang mencantumkan skor 7-3. Skor terbesar West Ham ketika berjumpa Arsenal adalah 7-0, itupun di musim 1926/1927. Banyak yang menduga, pencantuman skor di artwork ini masih didasari atas sentimen sesama klub dari kota London. Tapi apapun itu, sepertinya Harris hanya ingin menunjukkan bagaimana kecintaannya pada West Ham, dengan mencoba menampilkan ‘kedigdayaan fiktif’ ketika menjamu Arsenal.

Coba temukan logo illuminati di sini
Salah satu interview Harris dengan Kerrang! pada Mei 1992, memunculkan sebuah pernyataan menarik, terkait bagaimana dia memaknai West Ham dan Iron Maiden:

I must admit I love West Ham enough to have a tattoo done. In fact, I´m seriously thinkin´about havin´one. But for me. West Ham´s there for life, I´ll be watching them forever. But Maiden´s not going to be around forever..."

Terlalu banyak cerita yang harus saya tuliskan, apabila ingin mengulas lebih dalam tentang bagaimana keintiman antara musisi Inggris dengan ranah sepakbola di sana. Masih ada Ian Brown, yang dengan gagahnya mengibarkan bendera Manchester United, ketika Stone Roses menyambangi Jakarta beberapa waktu yang lalu. Kemudian ada Liam Gallagher, yang sering disorot kamera sedang lebih bisa nampak hangat ketika melakukan selebrasi Poznan Pose bersama beberapa supporter City, dibandingkan dengan saudaranya, Noel. Jangan lupakan juga, ada Albarn dengan Chelsea, yang romantikanya sayang untuk dilewatkan.

run bob, run!
Di pengunjung tahun 76, sekompok pria berambut gimbal nampak bersusah payah merebut bola dari kaki seorang lelaki bernama Paolo Cesar, — yang kemudian dikenal sebagai salah satu pemain yang membawa Brazil juara dunia di World Cup ’70 — . Seketika ada pemain yang nampak begitu kelelahan, selayaknya dia baru saja mengangkat seluruh kardus yang berisi perabotan rumah tangga ketika pindahan, padahal dia hanya terlihat sesekali berlari-lari kecil. Seorang fotografer asal Brazil, Mauricio Valladares, yang kebetulan sedang meliput momentum itu, berkata

Beruntung game ini berjalan dengan cepat dan singkat. Saya bersyukur, pertandingan ini segera selesai, karena begitu menyedihkan. Bagaimana tidak, melihat pertandingan yang sangat timpang ini adalah ‘bencana’ bagi siapapun. Dia bermain sangat, sangat buruk. Sederhana saja, dia sepertinya tidak bisa bermain sepakbola. Dari skala 1 sampai 10, saya akan memberinya 1,5

Yang sedang dibicarakan oleh Valladares adalah Robert Nesta Marley. Pria yang bertanggung jawab atas merebaknya stensil wajah dirinya yang disertai quote ‘no woman no cry’ dalam bentuk sticker; yang biasa terpampang di gerobak penjual batagor depan sekolah, atau yang sedikit lebih eksklusif, dalam bentuk kaos seharga 35 ribuan, yang bisa dengan mudah kita dapatkan di pasar kaget pinggir jalan.

Kembali ke sepakbola, Bob Marley adalah salah satu musisi yang benar-benar memiliki ketertarikan dengan bidang ini. Di sela-sela tur, dia selalu bermain sepakbola di dekat lapangan parkir karavan, dengan rekan-rekan bandnya. Ia juga dikenal dekat dengan beberapa pemain sepakbola terkenal, tentu bukan tanpa alasan Paolo Cesar mengiyakan ajakan Marley untuk bermain sepakbola bersama —seperti yang diceritakan di atas tadi — jika tidak saling kenal. Di Jamaica, ia pun dikenal dekat dengan salah satu permain sepakbola terbaik yang pernah mereka miliki: Allan ‘Skilly’ Cole. Pada akhir ’60-an hingga pertengahan ’70-an, banyak sekali foto dan cerita yang mendokumentasikan kebersamaan mereka. Mungkin ini juga, yang menyebabkan Allan Cole didepak dari tim terakhirnya sebelum ia resmi menyatakan pensiun. Terlalu sering menerapkan kebiasaan Rastafara dalam kehidupan sehari-hari, menyebabkan manajemen timnya merasa berang. Entah bagaimana nasibnya setelah pensiun dari sepakbola. Mungkin, sesekali kalian bisa menemukan dia berada di belakang panggung bersama Marley. Berdua, saling memandangi, dan kemudian tertawa terbahak sembari mengisap ganja secara bergantian. Mungkin.

Seperti halnya Morissey yang dalam beberapa kesempatan terlihat ‘sinting’ karena diduga menjadi supporter klub yang berstatus ‘rival’ — West Ham dan Milwall —, begitu juga dengan Bob Marley. Hampir semua orang tahu, ketika dia terang-terangan mengidolakan Pele dan Brazil-nya ketika ditanya oleh beberapa jurnalis, tentang ‘siapa pemain favorit dan tim sepakbola yang dikagumi’. Tapi seakan tidak peduli dengan apa yang dia pernah ucapkan, dia juga sering berkata bahwa
Ossie Ardiles dan Argentina-nya adalah jawaban dari pertanyaan yang sama. Yah, sekali lagi Marley — seperti halnya Morissey — adalah sebuah anomali. Ia tidak bisa dibenci karena terlihat sebagai ‘fans kutu loncat’ atau ‘glory hunter’ seperti orang-orang lain. Sumbangsih dan kecintaan mereka atas musik, yang kerap membuat mereka diposisikan selayaknya messiah bagi penggemarnya, sudah terlalu banyak memberi kontribusi kepada perkembangan musik dunia.
Begitu pun sebaliknya, sepakbola juga harus ‘berterima kasih’ pada musik karena telah berhasil menghidupkan atmosfir stadion, kapanpun, dimanapun, pertandingan sepakbola berlangsung. Mulai dari chant di Old Trafford yang memplesetkan ‘Love Will Tear You Apart’ milik Joy Division menjadi ‘Giggs Will Tear You Apart’, bagaimana pula fans Gamba Osaka ‘mencomot’ nada ‘We’re Not Gonna Take It’ milik Twisted Twister dan ‘Blitzkrieg Bop’ milik The Ramones, setiap kali mereka menyanyikan dukungan di Field of Smile, sampai yang paling dekat dengan kita: bagaimana lagu hits ‘Iwak Peyek’ milik Trio Macan – Tiga Macan – Trio Macan Asli – Lima Serigala atau siapapun itu, yang terinspirasi chant sederhana milik teman-teman Bonek di Surabaya. Sekalipun hal itu masih memunculkan polemik antara Trio Macan – Imron – Arek Band, tentang siapa pemilik hak cipta lagu ini. Sesuatu yang akan membuat para personil Cock Sparrer di Inggris sana tertawa terbahak-bahak, karena menyaksikan part-part di lagu itu sangatlah mirip dengan chorus ‘Take 'Em All' miliknya. 

Howay The ガンバ大阪
Namun apapun itu, chant/yel-yel/nyanyian dari supporter yang terinspirasi dari beberapa musik yang sudah ada sebelumnya, menang mutlak diperlukan kehadirannya untuk sebuah klub. Sering, terlihat beberapa pemain bola/pelatih mengayunkan tangan ke arah tribun, untuk meminta para supporter menyanyikan chant dengan lebih keras. Tidak dipungkiri, mendapati nama kita/klub yang kita bela disanjung dan dinyanyikan oleh ribuan orang adalah sesuatu yang menyenangkan, dan menjadi suntikan semangat tersendiri bagi siapapun yang mendengarnya.

It’s a sad day for football

Sebelum mengakhiri tulisan ini, sebetulnya saya juga punya bahasan menarik soal salah satu musisi yang mempunyai ketertarikan dengan sepakbola; Justin Bieber.

Bojan, is that you?
Bieber terlihat mengenakan jersey Barcelona, saat mengunjungi Spanyol beberapa waktu yang lalu. Dia berkata, ”Lionel Messi adalah pemain sepakbola favorit saya. Rasanya sulit, melihat superioritas Barcelona bisa dipatahkan oleh tim-tim lain. Ini hebat” 

Namun, tiba-tiba ia mengejutkan publik dengan mengenakan jersey milik Chelsea di Stamford Bridge pada akhir 2011. Adalah sebuah hari yang menyedihkan bagi fans Chelsea, ketika mengetahui Lampard dan Cole menyaksikan Bieber menunjukkan ‘skill bermain sepakbola’-nya di hadapan mereka. Saya membayangkan, Torres berkata You will not take my job, Bieber! You are clearly better than me at football, but I have the better hair! Ha!” kepada Bieber saat itu.

#BieberOut
Belum usai kesedihan mereka, tiba-tiba ia mengeluarkan statement kepada pers “Ini adalah sebuah pengalaman hebat. Bisa berada di Stamford Bridge bersama pemain Chelsea adalah sebuah hal yang aku idam-idamkan sejak dahulu. Aku telah menjadi bagian dari tim ini sejak lama” ujarnya. London berduka, hampir sebagian besar kawasan penduduk di sana dianjurkan untuk mengibarkan bendera setengah tiang, sesaat setelah komentar itu dimuat di beberapa media.

Yes, it’s a sad day for football.

3 komentar:

  1. saya pun sebagai fans chelsea turut berduka.

    BalasHapus
  2. BONUS 10% SETIAP HARI

    Peserta Bandar Taruhan Judi Bola Sbobet Online Terpercaya dan terbaik yg sediakan jasa layanan pada pembukaan akun permainan judi atau taruhan online buat anda di duta judi online yang berperingkat International, valid dan terpercaya hanya di situs judi online.

    Juga Sebagai Perutusan Bola Sbobet Indonesia Terpercaya, ZeusBola telah berkerja sama bersama perseroan Sbobet beroperasi di Asia yang dilisensikan oleh First Cagayan Leisure & Resort Corporation, Manila-Filipina dan di Eropa dilisensikan oleh orang nomor 1 Isle of Man pada beroperasi yang merupakan juru taruhan latihan jasmani sedunia.

    https://agenzeus.com/main-judi-online-deposit-pulsa/

    Ayo daftar sekarang di Zeusbola.biz

    BalasHapus
  3. BISA DEPOSIT PAKE PULSA

    DewaZeus merupakan partner dari situs ZeusBola, yg merupakan agen master agen taruhan judi bola, Casino, Poker, taruhan sabung ayam online S128, CF88 DewaPoker, Live Casino Agen Resmi Lisensi Filipina Paling Terpercaya di Indonesia, hanya di bolazeus.

    Sebagai Perutusan Bola Sbobet Indonesia Terpercaya, ZeusBola telah berkerja sama dgn industri Sbobet beroperasi di Asia yg dilisensikan oleh First Cagayan Leisure & Resort Corporation, Manila-Filipina dan di Eropa dilisensikan oleh presiden Isle of Man guna beroperasi sebagai juru taruhan latihan jasmani sedunia.

    https://dewazeus.site/cara-bermain-poker-online-deposit-via-pulsa/
    https://dewazeus.site/situs-agen-taruhan-online-terpercaya-deposit-pulsa/
    https://zeus365.net

    bonus deposit sabung ayam

    Kunjungi juga link alternatif maxbet nova88 nova88 link alternatif, main langsung maxbet nova88.

    BalasHapus