Jumat, 12 Mei 2017

Menuju Kicau Kacau Kota: Mencoba Menyimak The Mudub Dari Sisi yang Berbeda

The Mudub bicara soal persiapan merilis mini-album terbarunya, dan bercerita tentang bagaimana mereka beralih dari unit melodic-punk menuju pembuat single untuk sekolah pendidikan anak usia dini.

Melihat Catur Ayudiono sedang bersemangat memainkan gitar dan bertanya kepada orang di sekelilingnya tentang lagu apa yang baiknya ia mainkan tentu bukan hal yang baru bagi saya. Saya pernah melihat ia melakukan hal serupa di berbagai situasi; di tongkrongan, di atas panggung pensi, di panggung dadakan yang butuh penampil untuk mengulur waktu, sampai di hajat nikahan kawan satu skena. “Seperti yang biasa diucapkan oleh teman-teman, saya memang senang tampil,” ujar Catur. “Ini pengaruh dari keluarga saya, senang manggung semua, senang tampil di hadapan orang banyak. Dulu waktu TK saya pernah didandani dengan rompi dan kumis, kemudian disuruh joget, rasanya senang sekali. Terakhir waktu ada drama natal, saya berperan sebagai orang gila. Pokoknya kalau disuruh tampil saya senang.”

Malam itu, sebelum wawancara, Catur kembali memuaskan hasratnya untuk tampil di hadapan banyak orang. Saya datang sedikit terlambat, tapi tahu situasi macam apa yang bakal saya hadapi ketika Catur sudah memegang gitar dan tandemnya di atas panggung, Arum Setiadi, berada di dekatnya. 

“Ini pasti bakal molor dari jadwal,” gumam saya. Dan benar saja, sejurus kemudian mereka membuat semua orang—termasuk saya—yang ada di Rumah Blogger Indonesia (RBI) jadi ikut menggila dalam durasi yang tak sebentar. Bermula dari karaoke massal hit era ’90-an, menyanyikan nomor andalan milik Didi Kempot, sampai ajang pamer kemampuan nihil guna dari Catur yang mampu menirukan suara karakter Teletubbies; si bayi matahari, Dipsy, hingga karakter mesin vacuum cleaner berjalan yang selalu menghasilkan aneka suara tak jelas, Noo-noo. Catur kemudian menutup ‘panggung kecil’ miliknya itu dengan menirukan gestur, mimik, dan vokal Glenn Fredly ketika tampil di atas panggung. “Saya justru terlihat seperti copet dengan dandanan seperti ini,” kata Catur seraya mencopot flatcap yang lekat dengan penampilan penyanyi keturunan Ambon itu pada awal karirnya.

Keempat personel The Mudub kemudian memisahkan diri dari kerumunan yang sedari tadi mengharapkan mereka untuk terus melempar kelakar. Arum Setiadi (vokal), Catur Ayudiono (gitar), Achmad Jeky Priliana (drum) dan Fauzan Abusallam (bass) adalah kuintet panas kota Bengawan yang belakangan semakin sering tampil dari satu panggung ke panggung yang lain. Meski berdiri sejak 2008 dan konsisten tampil di panggung seni dari tahun ke tahun, The Mudub boleh dibilang baru melebarkan spektrum musiknya ke wilayah yang lebih luas sejak 3 tahun belakangan. Sebelumnya, mereka kerap mendapat predikat sebagai band favorit anak-anak seni, baik dari kampus ISI atau fakultas Seni Rupa UNS, karena intensitas tampil yang cukup sering di tiap hajatan yang dihelat oleh kedua perwakilan institusi tersebut. “Mungkin setelah Mas Jeky dan saya masuk, The Mudub jadi semakin memiliki koneksi ke arah sana [kampus], karena terkait latar pendidikan yang kami miliki. Band saya yang terdahulu juga punya skena sendiri, jadi relasi kami saat ini juga semakin bertambah,” ujar Fauzan yang lebih akrab disapa Jampes.

Selain karena musik, The Mudub juga bisa dibilang dipersatukan karena seni ilustrasi. Arum tercatat sebagai salah satu komikus yang sudah malang melintang di skena komik lokal sejak pertengahan ’00, Catur bekerja sebagai desainer lepas yang juga merintis usaha percetakannya sendiri, Jeky melanjutkan studinya di DKV dengan merilis studio komik, sedangkan Jampes dikenal sebagai artis mural merangkap ilustrator di tengah kesibukannya menyelesaikan studi seni rupa. Dengan latar belakang tersebut, bukan hal yang aneh apabila The Mudub kemudian menjadi favorit setiap hajatan yang bersifat nyeni di kota Solo. Apalagi masing-masing personel The Mudub terbilang cukup aktif di tiap komunitas yang menaungi ide kreatif mereka.

Meski memiliki benang merah yang sama sebagai ilustrator dan pegiat seni rupa, nyatanya mereka tidak memiliki kesamaan untuk urusan referensi musik. “Ringo Star. Saya selalu ingin menjadi seperti dia. Dia selalu memainkan pola yang itu-itu saja, simpel, tapi di panggung tetap terlihat ceria,” ujar Jeky seraya tersenyum ketika ditanyai soal pengaruh musik terbesarnya. Lain halnya dengan Catur, yang terang-terangan menyukai genre glam rock, karena di tiap kesempatan ia selalu terlihat flamboyan bagaikan personel Poison namun minus rambut gondrong. Tapi jika bicara soal referensi musik dan perjalanan yang menyertainya, Arum boleh bertepuk dada karena kisahnya mungkin jadi yang paling menarik di antara personel lainnya. Berulangkali berujar bahwa dirinya menjadikan Benyamin Sueb sebagai rujukan dalam bermusik dan melakoni aksi panggung, nyatanya perjalanan musik Arum sebelum tergabung dalam The Mudub nyaris tidak pernah bersinggungan dengan karakter yang dimiliki maestro kesenian Betawi itu. Ia pernah membentuk band beraliran melodic punk sebelum membentuk The Mudub. “Capek teriak-teriak terus,” ujar Arum.

Tentu membayangkan Arum menjadi garda terdepan dalam sebuah band beraliran melodic punk akan terasa konyol jika Anda pernah menyaksikan performanya bersama The Mudub. Memang benar ia selalu tampil enerjik dengan aksi panggung yang mendekati gila saat menjelma dari Arum Setiadi menuju Arum Mudub, tapi sulit membayangkan bahwa ia bisa melempar kelakar semau hati dan melakukan gimmick komedi yang biasa ia lakukan andai masih tergabung dengan band lamanya. Lagi pula, memang hal semacam itu yang kemudian membedakan The Mudub dengan band lainnya. Di atas panggung, personel The Mudub selalu mengenakan kostum yang sesuai dengan karakter masing-masing; Arum sebagai guru olahraga yang sekilas terlihat letoi tapi siap mengejutkan Anda dengan energi yang seakan tidak ada habisnya jika sudah melantunkan lagu, atau di lain kesempatan, ia mencopot jaket training yang ia kenakan dan membiarkan tubuh kurusnya hanya berbalut kaus singlet ketat hijau terang dan celana panjang ketat dengan warna yang sama. Di sebelahnya, ada Catur yang seakan sudah bersiap untuk menyambut kembali kejayaan musik rock centil era ’80 dengan setelan satin macan tutul plus ikat kepala bercorak serupa, dan sesekali ia memoles bibirnya dengan gincu. Sebelum mengenakan setelan retro seperti saat ini, Jampes pernah menjajal kostum SMA di tiap penampilan The Mudub, sampai akhirnya menyadari bahwa pilihannya memang sama sekali tidak keren.

“Dulu waktu pakai seragam SMA, rasanya ga enak dan membuat saya sadar bahwa saya terlihat jelek sekali saat masih SMA. Dan kalau kami tampil di panggung pensi di sekolah, saya justru terlihat sebagai salah satu siswa yang membolos,” tutur Jampes yang di panggung lebih sering dikenal sebagai personel irit bicara. Jeky juga pernah menjajal kostum berbeda sebelum memilih seragam petugas pemadam kebakaran. “Dulu saya pakai kostum ala badut, tapi waktu tampil rasanya juga ga enak dan ga bebas. Malah seperti ledek kethek.”

Pemilihan kostum memang merupakan bagian dari paket hiburan yang ditawarkan oleh The Mudub di tiap penampilan. Arum pernah berujar kalau konsep seperti ini memang sudah ia persiapkan sejak kali pertama membentuk The Mudub, karena jika hanya untuk mengekor konsep menjadi ‘band keren’, menurutnya stok band seperti itu sudah ada banyak di kota Solo. Bukan tanpa alasan mereka menyebut The Mudub sebagai proyek dramatic-pop, karena memang gimmick dan penampilannya yang total di atas panggung merupakan bagian dari konsep dramatik yang ingin mereka usung. Tik-tok antara Arum dan Catur yang seringkali menjadi selingan di tiap pergantian lagu—atau bahkan di tengah-tengah lagu—seringkali membuat repertoar yang sudah mereka susun di awal penampilan menjadi tidak ada artinya. Sebagai contoh, hit andalan mereka “Bakso Bakar Bang Brewok” hanya memiliki durasi selama 2 menit 7 detik jika menilik versi aslinya, tapi andai menyaksikan lagu ini dibawakan secara langsung, mungkin akan menghabiskan 15 menit karena gimmick yang menyertainya. 

Mulai dari perdebatan tona nada Arum yang sering dirasa kurang tinggi oleh Catur saat memasuki bait pertama lagu, intro dari Catur yang meleset dan harus diulang sampai lebih dari tiga kali, sampai ketukan Jeky yang—dibuat—tidak seirama dengan komponen musik lainnya. Andaikan Anda sedang menyaksikan band lain, sorak kekecewaan adalah respons paling tepat untuk menanggapi insiden seperti itu; tapi di penampilan live The Mudub, Anda tidak memiliki kuasa untuk menahan tawa dan merasa dikecewakan atas gimmick yang mereka buat. Tanyakan kepada mereka yang sudah berulangkali menonton penampilan The Mudub; meski dengan komposisi gimmick dan kelakar yang seragam, Anda masih selalu tertawa ketika menyaksikannya sendiri. Bahkan ketika Anda melempar protes, “Kemarin sudah pernah!” karena melihat komedi situasi yang sama, mereka akan menimpali dengan ucapan, “Anyar terus malah koyo kondom,” dan membuat gelak tawa penonton jadi semakin pecah. It’s Mudub’s world and we’re all just living in it.

Di luar panggung, mereka juga punya polah yang tidak kalah absurd. Saat band-band lain menjual merchandise dalam bentuk kaos atau artwork sebagai bukti eksistensi dan sumber pemasukan tambahan untuk band, The Mudub menolak mengikuti arus dan memilih untuk menciptakan merchandise dengan caranya sendiri. Tiga tahun lalu, mereka pernah meluncurkan merchandise dalam bentuk pangan bermerek ‘Karak Semangat’, dan dikenalkan melalui launching di sebuah gigs meriah selayaknya pesta rilisan album baru. Sebelumnya, mereka juga pernah mengeluarkan produk pangan lain yaitu ‘Keripik Tempe Persahabatan’ dan membuka jasa cetak undangan serta menyediakan MC untuk berbagai acara, yang semuanya dikelola dalam payung bisnis The Mudub, C.V Mudub Jaya. Di kesempatan lain, mereka juga pernah bekerjasama dengan salah satu sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) untuk menciptakan jingle yang bakal digunakan untuk kegiatan belajar mengajar di kemudian hari. The Mudub memang konsisten menciptakan karya dengan berbagai cara, dan yang paling terpenting, mereka mengaku merasa bahagia melakukan itu semua—meski terdengar seperti proyek ala kadarnya.

Kini setelah melewati proses hampir satu dekade berkarya, The Mudub siap untuk sesuatu yang lebih serius. Berselang sembilan tahun sejak peluncuran album pertama bertajuk Hidup Jaya Abadi, kini mereka bakal melepas mini-album bertajuk Kicau Kacau Kota yang bakal memuat enam buah lagu di dalamnya. Album ini merupakan kelanjutan dari proyek kerjasama mereka dengan kolektif sosial Kampungnesia, yang terfokus pada pengembangan dan pemberdayaan beberapa kampung di wilayah kota Solo. Pemilihan materi yang ada di album Kicau Kacau Kota juga dipengaruhi oleh keterkaitan tema dengan isu-isu yang beredar di seputar kampung dan kota.

Direkam lewat proses live recording dan rekaman terpisah di studio yang cukup berpengaruh di kalangan skena kota Bengawan, RDT, The Mudub mengaku bahwa mereka memang sedang berusaha untuk menjajaki fase yang lebih serius sebagai band ketika menyusun materi Kicau Kacau Kota. Tidak ada yang meragukan kualitas penampilan mereka ketika ada di atas panggung, tapi untuk proyek kali ini, mereka juga berusaha untuk meningkatkan musikalitas dan kedalaman lirik sebagai wujud keseriusan mereka untuk membawa The Mudub ke jenjang yang lebih jauh.

Dalam nomor paling anyar mereka, “Emosi di Jalan” misalnya. The Mudub berani untuk sejenak keluar dari zona nyamannya di komposisi pop dan menggantinya dengan eksplorasi musik yang lebih segar lewat corak distorsi yang padat. Mereka tidak meninggalkan lirik berima yang menjadi ciri khasnya selama ini, tapi alih-alih dikemas dalam balutan jenaka, kali ini mereka menampilkan sisi getir dengan pembawaan vokal Arum yang terdengar lebih emosional. Seperti pada lirik, “bising suara mobil dan motor/asap tebal udara kotor/semua berteriak ingin cepat/merasa paling penting,”  yang kemudian dilanjut dengan harmonisasi Arum dan Catur di bagian, “bersaing, bersaing dan bersaing/berpacu dalam dunia yang bising/untuk bisa menang harus mengalahkan/emosi di jalanan.”

“Respons penonton ketika mendengar lagu ini memang tidak seheboh seperti saat mendengar lagu kami yang lain. Tapi biarkan ini menjadi ‘momen egois’ kami sebagai musisi, dan mempersilakan penonton untuk menikmati. Tapi setelah itu, kami kembali berkomedi lagi,” ujar Arum. “Pernah ada mahasiswa yang mendengar lagu ini kemudian berkata bahwa lirik ini kritis. Padahal waktu membuat kami tidak kepikiran untuk ke arah sana, tapi setelah dibilang seperti itu, ya kami kait-kaitkan saja.”

Di nomor lain, The Mudub tetap menampilkan karakter musik yang selama ini membuat mereka dikenal banyak orang. Pada “Andai Aku Jadi Tarzan”, mereka kembali menunggangi kemudi mesin pop yang dibalut dengan nuansa balad yang cukup kental. Arum seperti sedang melagukan sebuah cerita anak tentang kisah aneka satwa penghuni hutan, tapi diselingi dengan vokal latar dari personal lainnya—yang tentu saja jauh dari kesan serius. Uniknya di bagian koda, mereka seperti memberi twist dengan hentakan irama musik berbeda dan peralihan lirik yang jauh dari kesan manis. Coba simak lirik, “Tapi ternyata semua hanya mimpi/hutan digunduli tanahku erosi/banjir tak terbendung lagi/satwa liar lari dan bersembunyi,” yang ditutup dengan repetisi sinisme tingkat tinggi seperti, “diburu ditangkap lagi/diburu ditembak lagi/diburu dibunuh lagi.”

Tapi The Mudub tetaplah The Mudub. Mereka tidak ingin nampak terlalu keras berusaha untuk menjadi band kritik sosial, dan tetap menyisipkan elemen remeh temeh ke dalam Kicau Kacau Kota. Sulit untuk tidak menyertakan “Bakso Bakar Bang Brewok” ke dalam daftar ini, karena latar kisah di balik pembuatan lagu dan karakter musik yang ada di dalamnya. Bercerita tentang fenomena merebaknya penjaja bakso bakar di berbagai tempat di kota Solo dalam beberapa tahun terakhir, "Bakso Bakar Bang Brewok" dikemas dalam irama simpel nan catchy, dan terbukti mujarab mengundang penonton untuk larut dalam ajakan berdendang dan bergoyang. Musik dan lirik yang sederhana membuat tembang ini selalu menjadi andalan untuk menghasilkan koor massal yang masih terkesan intim, dan menutup penampilan mereka dengan teriakan, “bakso bakar Bang Brewok/brewoknya sampai ke bakso!” dari baris penonton.

Tiga nomor sisanya, biarkan menjadi misteri yang kemudian menjadi alasan Anda untuk datang ke helatan launching Kicau Kacau Kota yang bakal digelar Sabtu (13/5) ini di Studio Lokananta. Penunjukan venue legendaris yang menyimpan romantisme kejayaan musik masa lalu ini juga terasa spesial, karena penggunaan Lokananta sebagai medium perhelatan bagi ajang skena lokal justru terasa lebih sedikit dibandingkan dengan hajatan musisi dari luar kota Solo. Di lain sisi, hal ini juga masih seiring dengan komitmen Lokananta untuk menjadi fasilitator pelbagai talenta musik setempat yang membutuhkan ruang untuk berkarya, pun bersinggungan langsung dengan wacana yang diusung The Mudub dalam album Kicau Kacau Kota kali ini. Namun terlepas dari itu semua, Lokananta memang dirasa sebagai venue yang paling representatif untuk membangun atmosfer intim dan tak bercela yang selama ini menjadi ciri khas karakter panggung ideal versi The Mudub.

Ada banyak penyesalan yang sebaiknya Anda lewatkan ketika menjalani hidup yang serba singkat ini. Dan pastikan bahwa ‘gagal menyaksikan penampilan The Mudub kala merilis karya terbarunya di tempat pertunjukan spesial’ tidak masuk ke dalam daftar penyesalan tersebut. Jika Anda ingin sejenak merasa gila tanpa harus menenggak Lexotan dan merasakan sensasi berteriak “icikiwir” pada momentum yang tepat, maka Anda tahu akhir pekan nanti harus menghabiskan waktu ke mana untuk menonton siapa.

Selasa, 02 Mei 2017

Kulihat Kau Ada di Seberang Jalan

Di jalanan yang lengang itu, pikiranku bergaduh hebat. Aku dan bagian diriku yang lain saling berdebat, bicara tentang bagaimana cara menunjukkan keberanian untuk sekadar menyapamu di seberang jalan, tepat di pinggir kedai kopi favoritmu itu. Takdir tak pernah suka untuk diburu, tapi kurasa ia juga tak betah berlama-lama menanti gerak lelaki yang nyalinya senyap dan lidahnya kelu. Kau akhirnya hilang, larut ditelan temaram lampu jalan dan pergi tanpa permisi bagaikan pejudi kampung yang kocar-kacir kabur kala mendengar sirine mobil polisi.

78 detik lampu merah memberiku sedikit ruang untuk berpikir, tentang menu apa yang baru saja kau pesan di tempat yang selalu kau bangga-banggakan itu. Tebakanku, kopi Sidikalang dengan dua kue kering sebagai pendamping. Diminum lima sampai tujuh menit setelah tersaji di meja, dan gelasnya pasti kau letakkan di tengah; diapit dompet di sisi kiri, sedang di sisi kanannya ada tumpukan kunci—beserta pengisi daya portabel yang kau tempeli stiker Lotso, si beruang merah jambu penguasa Sunnyside.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, kepalaku sesak dengan tebak-tebakan yang akhirnya berusaha untuk kujawab sendiri. Aku kira, kau masih suka mendebat lawan bicaramu tentang mana yang lebih nikmat antara seduhan kopi robusta atau arabika. Kemudian jika kau tak puas, kau akan menjejalinya dengan pilihan mana karya terbaik Sheila on 7 antara Kisah Klasik Untuk Masa Depan atau 07 Des. Sebagai penutup, kau bakal meyakinkan dia bahwa bubur yang tak diaduk adalah sebaik-baiknya cara untuk menikmati bubur. Kuharap dia juga bakal selalu menentangmu, dengan mengatakan bahwa menikmati hidangan adiluhung seperti bubur lewat cara yang tak elok—tidak diaduk—adalah sebuah penghinaan bagi peradaban umat manusia.
 
Aku tidak akan pernah sepakat untuk pilihanmu atas perdebatan itu. Yang kucari dari bubur adalah rasa, bukan estetika dan keindahan tampak. Lagi pula jika memang itu yang aku cari, tentu jauh lebih mudah untuk menatap parasmu saja dibanding harus memandangi semangkuk bubur. Lebih indah dan—waktu itu—bisa kunikmati kapan pun aku mau.
 
Kemudian aku teringat, pesan singkat terakhir yang kau kirim sempat membuatku serasa bagaikan pegawai honorer yang baru saja naik status. Kau bertanya tentang bagaimana cara menyusun kata dan merangkai ejaan dengan sempurna, sedang saat tulisanmu kubaca, aku masih saja jatuh cinta dengan caramu menempatkan titik dan koma. Kau paham cara memberi jeda, menitik akhir, sedang aku masih berharap pada awal. Entah kau sadari atau tidak, sejatinya kisah kita berdua tergambar dalam fragmen tulisan yang kau buat sendiri.
 
Sampai di rumah, aku akhiri semua tebak yang membawaku pada kilas balik tak berujung. Kurebahkan diri sembari menyusun nyali untuk sekadar menyapamu lewat ponsel, demi memastikan jawaban atas semua tanya yang mengganjalku hari ini. Saat niatku belum terkumpul sempurna, ponselku seketika berdering nyaring. Ada notifikasi pesan masuk. Tentu perasaanku berkecamuk, sebab pikirku, rasa penasaran bakal memaksamu untuk menyapaku lebih dulu; demi memastikan apakah pria yang barusan kau lihat di seberang jalan memang diriku atau bukan.

Setelah kubuka, ternyata bukan namamu yang kulihat, melainkan akun Line Event dengan pesan berisi tawaran untuk menawar harga barang—yang sudah pasti langsung kuhapus. Aku kembali merebah dan ponselku kusetel dalam mode senyap. Malam itu, aku memilih tidur lebih dulu.

Jumat, 31 Maret 2017

Narasi Basi Bernama Klaim Pribumi dan Non-Pribumi

Maret tahun ini undur diri dengan cara yang tak elok. Pengujung bulan ketiga kali ini jatuh di hari Jumat, hari penuh keutamaan yang paling diarep-arep oleh PNS plus anak sekolah karena kebanyakan dari mereka hanya masuk setengah hari saja. Sebagian muslim menantikan kedatangan hari ini karena hampir bisa dipastikan mereka bakal menyambangi masjid untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat, tapi sebagian sisanya, menanti kedatangan Jumat (31/3) untuk mengikuti aksi 313 yang terkonsentrasi di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Saya tak pernah mempersoalkan aksi tersebut, karena menurut saya, sekonyol dan sedungu apapun ide yang dibawa oleh kolektif massa dalam sebuah aksi demonstrasi, yang jelas negara memang memberi ruang dan mempersilakan mereka untuk melakukan itu. Yang penting bagi saya belum tentu penting bagi mereka, vice-versa, jadi kiranya bukan domain saya untuk mempersoalkan jenis aksi yang mereka gelar. Tapi yang jelas, urusan mau ngece atau ngecroi aksi itu jadi lain soal.

Cuma yang bikin saya mangkel, adalah perederan foto yang menjadi viral pada hari ini. Saya melihat beberapa gambar yang menunjukkan aksi sebagian orang sedang memegang stiker bertuliskan ‘pribumi’, di gambar yang lain, ada pula yang terlihat sedang menempelkan stiker tersebut di bagian belakang mobil seseorang. Ada yang berspekulasi bahwa striker tersebut disebar pada pelaksanaan aksi 313, tapi setelah saya melakukan sedikit penelusuran, muncul berita yang menuliskan bahwa persebaran stiker itu dilakukan oleh Forum Syuhada Indonesia (FSI) sehari jelang pilkada DKI putaran I yang dihelat 15 Februari lalu.

Membaca berita tersebut, saya jadi heran dan makin meyakini bahwa ada sebagian orang yang memang tidak hadir waktu Gusti Allah bagi-bagi otak di hari kelahiran umat manusia. Berikut saya kutip langsung ucapan penanggung jawab aksi persebaran stiker ‘pribumi’ yang berlangsung di sebagian daerah di Jakarta itu.

“Kami melihat adanya kemungkinan kerusuhan di Jakarta. Oleh karena itu kami sengaja membagikan stiker ini sebagai antisipasi, kalau-kalau terjadi kerusuhan ‘Anti Cina’ seperti kejadian yang lalu-lalu,” ujar Panglima Forum Syuhada Indonesia (FSI), Diko Nugroha kepada wartawan, Senin (13/1/2017).

Ya Allah, pengen rasane tak kamehameha pas ning ngarep raine.

Mungkin Anda juga merasa geram ketika membaca pernyataan tersebut, karena untuk siapapun yang merasa nalarnya masih jalan, mendengar ada manusia modern menyebut sentimen ‘pribumi’ dan ‘anti-pribumi’ memang menjadi fenomena langka. Di saat umat manusia di negara bagian lain sedang berlomba-lomba unjuk kecerdasan dan inovasi teknologi demi kemaslahatan mereka; di sini, di NKRI tercinta ini, ada manusia yang tidak mengalami proses evolusi dengan sempurna yang menggunakan sentimen primordialisme untuk menyudutkan latar belakang identitas seseorang yang jelas-jelas tidak bisa mereka ubah karena sudah menjadi bawaan sejak lahir. Tak usah berdebat soal definisi ‘pribumi’ menurut KBBI atau pakar ini-itu, karena haqul yaqin definisi ‘pribumi’ yang ditujukan oleh kelompok tersebut adalah golongan penduduk asli secara umum, atau ‘asal bukan orang Cina’ secara khusus.

Saya mau sedikit bercerita tentang alasan kenapa saya berlipat-lipat lebih geram ketika menyimak tulisan yang ada di stiker tersebut. Saya telah menyelesaikan tugas akhir sebanyak 5 bab yang khusus membahas isu kesetaraan sosial bagi etnik Tionghoa dan kaitannya dengan materi standup comedy, jadi ngulik klaim ‘pribumi’ dan ‘anti Cina’ ini sejatinya bukan hal yang baru buat saya. Saat teman-teman saya satu per satu mulai rabi, saya masih sibuk konsultasi; saat teman-teman saya nontoin pameran KPR, saya masih berkutat dengan hasil penelitian; dan yang paling parah, saat masing-masing dari mereka sudah kelon—yang halal—sama istri, saya masih nglomoh tumpukan revisi. (Jadi, harap maklum kalau saya sedikit sentimental sama urusan yang satu ini. Soale menyangkut buah pemikiran final dari masa 7 tahun kuliah je. Seven fucking years, melewati dua kali Piala Dunia dan dua kali Euro.)

Ndakik-ndakik cari contoh kasus diskriminasi rasial di masa lampau dengan tujuan agar bisa jadi pembelajaran di generasi saat ini—juga yang akan datang, lha tau-tau ada corong bensin eceran hidup yang nyebarin stiker kolot dan membuat kita seakan kembali hidup di era Mbah Harto. Kelewatan kalau yang kaya begini tidak mengusik nurani kita sebagai manusia, terlepas dari suku, agama, dan ras yang melekat pada diri kita.

Saya jadi ingat, bahwa sudut memori saya tidak meninggalkan kesan yang baik ketika bicara soal klaim pribumi dan kaitannya dengan era Suharto. Di hari yang paling kelam di sepanjang ’98 itu, saya ingat ada tetangga keturunan Tionghoa yang luar biasa ketakutan hanya sekadar untuk keluar rumah, karena keributan massa di Solo kota sudah mulai pecah. Ada pula tetangga keturunan Tionghoa yang sampai memarkir mobilnya di kantor, kemudian meminjam sepeda dan berganti pakaian biasa milik office boy di kantornya untuk bisa pulang ke rumah—setelah menghindari pusat kericuhan dan nyempil lewat jalan-jalan tikus. Belum lagi tulisan ‘100 persen pribumi’ yang banyak terpampang di pusat pertokoan di sepanjang rute dari rumah saya ke sekolah. Jelas waktu itu saya belum paham maknanya, tapi bertahun-tahun setelahnya, saya akhirnya bisa mengerti bahwa ada ironi mendalam di balik tulisan yang terpampang di pintu-pintu pusat pertokoan tersebut.

Hampir dua dekade berselang, saya kira sentimen seperti itu tidak akan muncul lagi di permukaan—meski sulit pula dipungkiri bahwa diskriminasi rasial di lapisan masyarakat akar rumput masih sering kita jumpai. Lagi pula sejak era Mbah Harto usai, telah diterbitkan Inpres No.26/1998 yang mengatur tentang penghentian penggunaan istilah istilah pribumi-non pribumi di dalam kehidupan sehari-hari. Lha undang-undang sudah jelas melarang, kok ya masih ada yang kekeuh mempertahankan kebanggaan identitas semu macam itu? Situ pribumi apa primata kok susah bener buat dibilangin? Mengutip ucapan pulisi-pulisi lalu lintas yang membuat Mas Eko jadi konslet, “Ono undang-undange Bro.”

Yang berbahaya, diskriminasi rasial seperti ini bisa kembali ‘meledak’ andai tiap kemunculannya ditandai dengan pembiaran dari mereka yang merasa tidak diusik haknya. Narasi kesetaraan hanya akan selalu menjadi wacana andai kelompok-kelompok pemuja primordialisme dibiarkan tumbuh subur bagaikan kemunculan akun peninggi_pelangsing di kolom komentar Instagram milik Raisa.
 
Tapi selain itu, coba dipikir lagi, apakah masuk akal jika kita menaruh kebencian kepada seseorang hanya karena identitas yang dibawa sejak kali pertama memecah tangis di dunia? Jika Anda ingin menghajar seseorang karena dia memiliki latar belakang sebagai seorang Tionghoa, bolehkah saya menempeleng kepala Anda dengan pacul hanya karena situ berwajah kemampleng dan nggateli?

Toh, selama Anda bukan Pithecanthropus Erectus yang menjadi penghuni museum fosil Sangiran, saya rasa Anda tidak berhak untuk menggunakan istilah ‘pribumi’ untuk merujuk sebagai penduduk asli nusantara. Jadi, jika Anda menjumpai siapapun yang hendak mengembalikan narasi pribumi dan non-pribumi untuk muncul ke permukaan, coba dekati dia baik-baik, beri senyum termanis yang Anda punya, coba berbicara mendekati kuping kanannya, kemudian lirih berbisik...

“Konthol.”

Minggu, 12 Maret 2017

Eko Riawanto, Manifestasi Perlawanan yang Menantang Ortodoksi

Setelah merampungkan pekerjaan dan terbebas dari belenggu tenggat waktu, opsi pertama yang saya pilih untuk sejenak membebaskan pikiran adalah membuka media sosial. Saya masih memilih Twitter untuk sekadar membaca apa yang selentas lewat di linimasa, mengecek kolom mention, atau iseng nge-zoom avatar mbakmbak dan dikadik artsy yang telah pensiun jadi Bidadari Timeline dan mencoba peruntungan baru dengan bekal kelakar absurd yang sesekali lucu—meskipun banyak tidaknya. Belakangan ini saya sedikit mengurangi intensitas seliweran di linimasa dan hanya nongol ketika ada pertandingan sepakbola saja, karena lama-lama jenuh juga setiap hari dijejali sajian adu kelahi dan intrik politik sejak isu Pilkada DKI ramai muncul ke permukaan. Saya sebetulnya senang-senang saja jika menyaksikan ada orang beradu argumen di Twitter, karena puas saja rasanya melihat mereka sedang masturbasi ego dalam tajuk ‘bertukar pikiran’ dengan lawan bicara, atau lebih tepatnya saya sebut sebagai lawan nge-tweet? Namun makin hari lingkup bahasan mereka jadi semakin meracau dan terasa tidak penting, apalagi sebetulnya saya tak peduli-peduli amat Jakarta mau jadi seperti apa di kemudian hari. Wong kalau ban motor saya sedang bocor di tengah malam, yang saya minta untuk datang membantu ya tetap saudara dan teman dekat saya, bukan Teman Ahok atau Sahabat Anies.

Karena alasan itulah, Facebook kembali terlihat seksi di mata saya. Pengguna Facebook masih bisa menawarkan hiburan untuk netizen dengan berbagai cara: foto selfie yang disamarkan dengan pose kebersamaan bersama anak, gif yang menguji kombinasi kecepatan jari dan kecermatan mata, keluh kesah yang belum banyak didomplengi niat ingin terlihat ini-itu, umpatan netizen yang merasa tertipu karena gagal melihat air surut ketika menekan angka “1” setelah menyaksikan foto wanita berjarik sedang berendam di air dengan caption “ketik 1 maka air akan surut”, sampai video random yang bikin saya tersenyum simpul sambil berujar “iki jan-jane entuk seko ngendi to ki,” karena kadar kekocakan yang tidak masuk akal. Memang ada satu-dua kawan yang juga menyajikan konten seperti di Twitter, yang sebetulnya membuat saya sejenak ‘selingkuh’ dengan Facebook, tapi kehadirannya tidak sampai tahap menjengkelkan dan membuat muak. Paling hanya membuat saya menekan tombol unfollow alih-alih unfriend, dalam rangka mengurangi potensi drama di kemudian hari.

Kamis (9/3) lalu, saya kembali bersyukur karena masih mainan Facebook. Saya nemu harta karun dalam bentuk 2 video yang beredar di beranda, isinya orang sedang marah-marah karena akan ditilang oleh polisi. Dalam 2 video yang memiliki total durasi 4 menit 58 detik itu, saya benar-benar dibuat takjub karena otak saya rasanya sedang ditelanjangi lewat rangkaian kata-kata yang terlontar dari mulut pria yang ada di video tersebut. Untuk kaum Adam, Anda masih ingat sensasi, maaf, pertama kali menyaksikan pancaran air seni bercabang yang mancur dari Dik Joni persis setelah khitan? Atau untuk kaum Hawa, Anda masih ingat dengan lelaki yang masih bersedia mendengarkan keluh kesah Anda dengan khidmat meski dahulu pernah kalian tinggalkan saat sedang sayang-sayangnya setelah sekian tahun berlalu? Nah, semacam itu reaksi yang pertama kali saya rasakan waktu lihat video yang diunggah Galih Ganira Utomo tersebut. Bikin saya mbatin, “Matane, kok isoh ya? Kok enek ya?”

Namun jujur saja, reaksi tersebut hanya muncul saat pertama kali menyaksikan video yang akhirnya jadi viral itu. Saat saya memutuskan untuk menyaksikannya sampai berkali-kali, saat itu pula saya memahami bahwa sosok lelaki berkopiah putih nanggung yang kemudian dikenali sebagai Eko Riawanto alias Iwan alias Jembut itu menganut prinsip hidup adiluhung yang setara dengan pemikiran para filsuf. Lho, kalian pikir saya bercanda? Ndak, saya ini serius. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan jenjang tempuh pendidikan mencapai dua digit semester dan mengambil tema tugas akhir dengan pendekatan studi pesan plus semiotika, saya bisa menarik simpulan yang akan saya jabarkan lewat paparan berikut.

Pertama, Mas Eko ini adalah pribadi yang menolak tunduk pada kebiasaan arus utama dan mengingatkan saya akan perjuangan Simón Bolívar, tokoh pergerakan asal Venezuela yang berusaha memperjuangkan kemerdekaan Amerika Latin dari cengkraman Monarki Spanyol pada abad 18. Sebagaimana yang dilakukan Bolívar, Mas Eko juga beranggapan bahwa ia perlu menentang sebuah sistem terkutuk yang dianggap menyebabkan manusia menjadi tidak bebas dan merdeka. Coba simak perkataan Mas Eko saat dimintai surat-surat oleh polisi, dan Anda akan mengerti bahwa sebetulnya ia sedang memperjuangkan suara pengguna motor yang sering kita rasakan tapi tak punya cukup nyali untuk dikatakan.

“STNK-ne ra eneng, iki motor nyilih! Bajingan og.”
“Bar iki mulih tak amuk ndase, lonthe, SIM-e ra nduwe og.”
“Yo wis ben to, lha ngopo to kowe? Wong gur helm e lho.”


Sungguh menakjubkan. Ketika semua orang berpikir bahwa mengendarai motor harus memiliki SIM, STNK, dan mengenakan helm, Mas Eko muncul dengan gagasan berbasis logika terbalik bahwa semua prasyarat tersebut justru hanya akan menghalangi kebebasan dirinya yang sedang dalam tugas mulia, yaitu menjemput sang ayah yang baru saja pulang umroh. Coba dipikir betul, apakah memuliakan diri sendiri—dengan membawa surat berkendara dan mengenakan helm—jauh lebih penting dibanding menjemput ayah yang selesai ibadah dari tanah suci? Sudah membawa pacar yang nantinya akan berbagi jok dengan sang ayah dan bejubel-jubel barang bawaan umroh hanya menggunakan motor Scoopy, berpanas-panasan menempuh terik Sukoharjo-Solo-Karanganyar-Boyolali, Mas Eko masih harus diributkan dengan surat-surat berkendara dan helm yang bakal melindungi kepala, yang berisikan pemikiran-pemikiran revolusioner, dari kerasnya aspal? Sungguh tidak manusiawi.

Kemudian, Mas Eko juga memiliki latar belakang sama seperti Bolívar yang hidup serba berkecukupan tapi berani menggadaikan kenyamanan demi tujuan yang lebih mulia. Bolívar lahir dari keluarga ningrat di Caracas, tapi masa mudanya justru lebih sering dihabiskan bersama kaum proletar dan memiliki Ibu Angkat yang dikenal sebagai seorang budak. Pengalaman hidup inilah yang kemudian membuat Bolívar menjadi paham, bahwa ada sebuah sistem yang selama ini membuat sebagian kelompok masyarakat hidup dalam garis kemiskinan dan tidak pernah merasakan kebebasan. Di lain sisi, kita memang tidak mengetahui bagaimana rekam jejak Mas Eko di dalam lingkungan keluarganya, tapi lewat 2 video yang kini beredar di mana-mana itu, saya bisa menarik kesimpulan kalau ia memang dapat digolongkan sevagai pria yang serba berkecukupan tapi memilih hidup sederhana untuk sebuah perlawanan. Simpel saja, Mas Eko ini sedang menaiki motor Scoopy seharga 18 juta untuk menjemput ayahnya yang melakukan ibadah umroh di tanah suci.

Per 2017, biaya umroh yang disediakan oleh berbagai biro travel berkisar di angka 20 sampai 30 juta per orang, sungguh bukan angka yang kecil jika orang tersebut bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Dengan narasi kesejahteraan yang dimiliki oleh Mas Eko, apakah kita melihat adanya bentuk kesombongan ketika beliau berhadapan dengan aparat? Tidak. Ia justru merendah dengan mengatakan “wong duitku kosong og, mung ameh pengadilan ngopo,” ketika banyak orang justru menawarkan praktek suap atau ‘jasa titip’ saat melakukan pelanggaran lalu lintas. Demi sebuah perlawanan, Mas Eko paham bahwa kekayaan finansial tidak berarti apa-apa, persis seperti yang dilakukan Bolívar ketika merelakan tanah dan harta benda miliknya disita penguasa Spanyol akibat sikap politik yang ia miliki. Membela cita-cita orang banyak untuk melihat sebuah perubahan sistem, bagi mereka kedua, jelas lebih mulia dibanding kepentingan pribadi.

Sebagaimana yang dilakukan Bolívar, Mas Eko juga menyadari bahwa sebuah perlawanan kadangkala tidak bisa dilakukan seorang diri. Bolívar pernah mengajak jendral militer kawakan, Francisco de Miranda, untuk menemani dirinya melakukan revolusi kemerdekaan—seperti yang ia lakukan bersama George Washington di Amerika, atau saat dirinya memimpin Army of the North di Battle of Varmy yang menjadi cikal bakal gerakan Revolusi Prancis. Bukan hanya Miranda saja yang pernah menjadi sekutu Bolívar, tapi ada juga Gubernur Cartagena yang mengirimkan pasukan untuk membantu Bolívar memenangi pertempuran akbar di Cucuta, karena didasari oleh kesamaan ideologi sebagai pribadi yang anti-Spanyol. Representasi Miranda dan Gubernur Cartagena bagi Mas Eko dapat dengan mudah kita temukan pada sosok Bang Udin dan Heri—yang sayangnya sedang piket—saat dirinya mendapatkan hadangan dari aparat karena dianggap melakukan pelanggaran lalu lintas. Saat terdesak dan hampir konslet, sebuah kondisi yang disebut Mas Eko saat berhadapan dengan aparat, ia meminta bantuan dari Bang Udin dan Heri agar bisa mengambil kunci dari ‘pulisi-pulisi lalu lintas yang bikin complain’.

Bukan hanya itu saja, Mas Eko kemudian melakukan sebuah rekayasa situasi yang memposisikan Bang Udin dan Heri sebagai kelompok yang ditantang oleh aparat, dan melabeli mereka sebagai kolektif orang gila karena membuat dirinya harus menunjukkan SIM dan STNK saat mengendarai motor. Politik yang dijalankan Mas Eko ini nampak seperti sebuah usaha untuk mengadu Polisi Militer dengan Polisi Lalu Lintas, kemudian ujung-ujungnya meminta bantuan dari pihak pertama untuk kepentingan dirinya sendiri. Mas Eko sepertinya paham betul dengan adagium klasik yang terdapat pada risalat Sanskrit, Arthashastra, yang mengatakan bahwa the enemy of my enemy is my friend. Sebagai seorang tokoh perlawanan, Mas Eko memang diharuskan piawai membaca situasi dan memanfaatkan peluang sekecil apapun demi cita-cita orang banyak, yaitu numpak motor modal yakin lan bismillah tanpo perlu nggowo helm, SIM, lan STNK.

Mas Eko juga mewarisi sifat romantis Bolívar, yang memiliki seorang tambatan hati untuk menemani dirinya melakukan revolusi. Bolívar jatuh hati kepada Maria Teresa del Toro, wanita cantik kelahiran Madrid yang kemudian ia sunting setelah 2 tahun menjalani hubungan. Sayangnya, Maria Teresa harus mangkat lebih dulu meninggalkan Bolívar karena terjangkit penyakit kuning dan membuat Bolívar luar biasa berkabung, lantas mengucapkan sumpah untuk tidak lagi menikah di kemudian hari, meskipun saat menyandang status duda dirinya belum genap berusia 19 tahun. Terlihat ‘keras’ dari luar karena berani menantang dunia demi cita-cita yang lebih baik, Bolívar ternyata masih punya sisi lembut untuk seorang wanita yang paling ia kasihi. Tak terkecuali dengan Mas Eko, yang juga memiliki dua sisi berbeda ketika melakukan komunikasi dengan aparat dan kekasihnya—yang tidak diketahui identitasnya itu. Dalam komunikasi nonverbal, ada ekspresi tertentu yang bisa disimpulkan hanya melalui perilaku mata dan parabahasa, dan apa yang dilakukan Mas Eko membuat saya teringat akan beberapa tulisan milik Paul Ekman, yang sering didaulat sebagai pakar mikro-ekspresi dan pendeteksi kebohongan paling piawai di seluruh dunia.

Dalam Nonverbal Messages: Cracking the Code: My Life's Pursuit, kita bisa menemukan perubahan perilaku mata ketika Mas Eko melakukan interaksi dengan aparat dan sang kekasih. Saat berbicara dengan aparat yang sedang merekam kelakuannya, Mas Eko melakukan perilaku mata regulator, yaitu ketidaksediaan menatap lawan bicara dengan memalingkan muka untuk menandakan ketidaksukaannya. Pun dengan parabahasa yang dimiliki Mas Eko, di mana ia berbicara dengan cepat, nada tinggi, dan volume suara kencang untuk menunjukkan kegusarannya kepada aparat. Sedangkan kepada sang kekasih? Anda akan melihat perubahan nada, volume, dan tempo yang mengisyaratkan bahwa Mas Eko jauh lebih ramah kepada wanita yang ia cintai, bahkan ia mengeluarkan gestur mesra dengan membungkuk dan berulangkali meyakinkan pasangannya lewat kalimat, “Ayo, Dek, kowe melu aku, manut aku, iki wong ra nduwe ati,” hanya demi membujuk sang kekasih agar terhindar dari prahara yang sedang ia hadapi. Ketika semua orang memanggil pasangan dengan sebutan, ‘Beb’, ‘Yang’, ‘Hon’, atau ‘Umi’, Mas Eko hadir mendobrak tatanan arus utama dengan menggunakan sapaan sayang klasik nan paling berkesan, yaitu ‘Dek’.

Lagi pula, tahukah Anda alasan utama kenapa Mas Eko enggan menggunakan helm sementara sang kekasih justru tertib berlalulintas dengan menggunakan pelindung kepala? Tepat. Ia memberi kesempatan kepada Mbak Pacar untuk mengacak-acak rambutnya—yang tersisa sedikit di jambul bagian depan karena tidak tertutup oleh kopiah—seperti yang biasa dilakukan oleh pasangan ketika merasa gemas atau sayang bukan kepalang. Naik motor berdua, sok merasa sakit ketika dicubit dari belakang, kemudian ditutup dengan adegan mengacak-acak rambut sambil berujar, “kamu ngeselin banget sih,” adalah situasi yang diinginkan oleh Mas Eko ketika memilih sikap untuk tidak menggunakan helm saat menemani sang kekasih jalan-jalan di siang yang terik itu. Sungguh, kalian semua kalah romantis dibanding Mas Eko.

Namun yang paling epik, tentu saja adegan saat Mas Eko menyeringai dan menyatakan ketidaksukaannya pada aparat yang merekam perilakunya karena telah nggawe mumet Mas Eko. Ekspresi yang sempat membuat aparat yang merekam video itu berkata “mangap mangap koyo singo,” tersebut muncul karena idola kita itu berada pada kondisi terdesak dan diselimuti amarah yang telah memuncak. Sebagai seorang tokoh perlawanan, memang penting bagi Mas Eko untuk menunjukkan sisi garangnya ketika ada kelompok lain yang berusaha untuk menghentikan usahanya mendobrak sistem yang dirasa menyulitkan. Ekspresi yang dikeluarkan Mas Eko itu membuat saya teringat akan tokoh Alan Gado yang menjadi final boss di Bloody Roar 2, di mana dirinya bisa bertransformasi menjadi singa untuk mendapatkan kekuatan bertarung yang jauh lebih dahsyat. Transformasi ini hanya bisa dilakukan ketika empunya kekuatan sedang dalam kondisi terdesak dan tidak bisa menahan amarah, tapi beruntungnya, Mas Eko menahan emosi sehingga transformasi itu tidak terwujud dan menghindarkan semua pihak dari pertumpahan darah.

2000 kata yang baru saja Anda baca sebelum mencapai paragraf ini, adalah bentuk kekaguman saya terhadap tokoh perlawanan yang menolak tunduk terhadap ortodoksi dan membalik logika semua netizen karena jalan pikir adiluhung ya ia miliki. Ia mau bangkit melawan dan menolak berdiam diri saja seperti orang yang baru saja menghadapi realita “we fall in love with people we can’t have,” karena menurut Mas Eko, apa yang ia yakini harus ia perjuangkan meski sebagian orang akan melabeli dirinya sebagai sosok sesat nalar. Pada akhirnya Mas Eko memang harus berhadapan dengan hukum karena menolak tunduk terhadap undang-undang, tapi ia mengajarkan kepada kita bahwa anarkis sesungguhnya tidak hanya hadir di forum-forum intelektual dan bersembunyi di balik tajuk keyboard warrior, tapi juga bisa ada di sekeliling Anda: naik Scoopy biru, menolak menggunakan helm, alpa surat berkendara, dan membawa sosok terkasih yang tak bergeming dan memilih bungkam saat diajukan pertanyaan,

“He yangmu edan to? He? He?” 




Jumat, 15 Juli 2016

Kamis yang Tak Habis

Menurutku, kau tak banyak berubah.

Lengkung mata yang membentuk sudut tajam ketika kau tertawa masih bisa kunikmati dengan khidmat. Kukira dulu bekas luka; terjatuh, tergores, atau membentur benda yang kau sendiri tak tahu apa namanya, sambil berulangkali berujar bahwa ini adalah adun yang tergaris sejak kali pertama kau memecah tangis di dunia.

Swift yang pernah kukenalkan padamu kini beranjak menjadi diva. Kemarin selintas kubaca di portal berita, mantan kekasihnya menabur drama perpisahan di mana-mana. Sedangkan Swift, gadis Pennsylvania yang dulu selalu bercerita tentang koboi penunggang mustang dari utara itu, bebas berjalan di Suffolk bersama putera raksasa Fárbauti tanpa menenteng palu saudaranya yang termasyhur seantero Asgard.

Kau dan Swift sama, sejak saat itu, kalian berdua lebih banyak mengenal dunia. Waktu bagimu adalah perkara yang harus diburu dengan lekas, tak ada ruang untuk ini-itu yang nantinya hanya akan membuatmu tertatih. Semua serba cepat, meski kau tak pernah terbersit bahwa hidup adalah kompetisi yang menuntutmu tiba di garis finis lebih dulu—kau hanya tidak ingin berhenti, itu saja.

Kemarin kulihat kau masih ingin berlari, cepat mengejar mimpi yang kau kisahkan sambil menggebu dengan hebat. Kalau sudah seperti itu, kau tahu bahwa yang terbaik yang bisa kulakukan adalah terdiam, mengudak kopi yang tak pernah kuseduh gula sambil sesekali memberikan koreksi. Sampai akhirnya kita berdua menikmati hening yang dicipta sendiri, dan menyadari bahwa kau masih memiliki ingatan yang buruk—meski sialnya aku tidak.

“Kamu terlalu banyak mikir. Hidupmu kelewat serius,” ucapmu pelan.

Setiap kali mendengar ucapanmu yang tajam seperti itu, aku selalu teringat bahwa pernah suatu ketika kau kuanggap sebagai ladang dosa yang harus memanen satu persatu kesialan saban harinya. Hatimu tidak menyisakan apapun selain untuk dicaci dan dimaki, meski pada akhirnya tawa kecil dan suara lirihmu dari seberang yang membuatnya sirna dalam seketika, persis daun kering yang diempas angin sore pada ujung gang yang sepi—layaknya momen favorit Toru dan Naoko, tokoh fiksi karangan Murakami.

Kau juga paham, bicaramu yang tiada henti dan tanpa spasi—laksana tangis bayi—itu selalu diikuti oleh kesediaanmu untuk ditatap berlama-lama tanpa ada sepatah kata dariku. Tapi aku tahu, kali ini ada yang berbeda. Matamu memerah. Aku tak pandai menerjemahkan gerak tubuh, tapi tak perlu kuambil kursus hanya untuk memahami bahwa kau sedang dirundung duka; bisa karena penyesalan atas apa yang sudah atau ketakutan atas apa yang belum.

Menangislah jika kesedihan tidak bisa lagi kau tawar. Meski barang sebentar, kukira kau masih perlu itu. Betul kau beranjak jauh lebih tangguh, tapi tak harus juga menjadi dungu. Kau tentu tahu bahwa airmata tidak membuatmu menjadi selemah yang kau pikir. Dewasa bukan berarti menjauhkanmu dari hakikat manusia biasa, kecuali kau perlu alat pacu jantung bertenaga soda yang tertanam di dada kirimu dan kepalamu mesti kupukul pelan andai sistem motorikmu sedang sedikit tersendat.

Mungkin di pertemuan selanjutnya, tak perlu melewati beberapa musim berganti lagi, atau kesedihan baru di antara aku dan kau yang akhirnya membuat salah satu dari kita memberanikan diri untuk membuat janji. Sebab aku yakin, rindu tak akan usai untuk waktu yang sebentar.

(Surakarta, 10 hari jelang aku berkurang umur dan rasa tergesa-gesa karena mengejar ceramah khotib Shalat Jumat.)