Minggu, 03 Maret 2013

Cring, Cring, Cring


Beberapa tahun belakangan ini, saya merasa muak. Saya jijik, melihat bagaimana seseorang harus menjadi pribadi yang berbeda ketika dihadapkan dengan pundi-pundi rupiah.

Saya iba, melihat betapa lacurnya mereka menukar bahagia ― yang mungkin sudah mereka bangun dalam skala tahunan ― hanya demi bertambahnya digit-digit rekening, yang saya yakin tak sanggup bertahan dalam hitungan bulan.

Entah, saya yang besar pada jaman yang salah; atau saya yang terlalu keras menghardik perubahan jaman yang mau tak mau pasti datang menghampiri. Saya merasa, ada yang salah dengan jaman ini, di mana acuan bahagia harus dihitung dengan berapa banyak pigura-mortal-para-pahlawan yang sanggup kita gelontorkan.

Syukur, sejauh ini ― sekalipun tak pernah berada dalam kadar 'berlebihan' ― saya masih diberi kemudahan ketika harus berhadapan dengan segala yang berbau rupiah. Menyenangkan, mendapati kesederhanaan tak pernah pelit berbagi kebahagiaan dengan saya dan keluarga.
                                   
Saya banyak bertemu sahabat, yang tak pernah jauh-jauh dari makna 'bahagia', sekalipun garis hidupnya sanggup membuat siapapun yang mengetahuinya; berulang-ulang kali mengelus dada.

Sesekali mereka bercerita, tentang bagaimana hidup menempa & memaksa sekitarnya untuk tetap tegar. Kadang, mereka juga dengan lucunya berbagi mimpi tentang bagaimana nikmatnya jika mereka hidup seperti 'mereka-mereka'. Sebuah bahasan yang selalu berhasil membuat tawa pecah di mana-mana.

Saya membagi bahagia dalam dua kategori. Pertama, yang memang mendapatinya dengan dengan tanpa perlu bersusah-payah, sehingga acuan bahagia yang mereka miliki kadang sulit untuk dimengerti. Kedua, yang harus memperhatikan sekeliling terlebih dahulu untuk mendapatkan acuan bahagia; lantas bersusah-payah mendapatkannya, agar kemudian semua orang tahu bahwa dia kini tak lagi akrab berkawan dengan duka.

Lucu, ketika mendapati remaja yang baru saja menginjak kepala dua seperti saya, harus lebih memperdulikan bagaimana tatanan hidup bahagia seseorang lewat besarnya nominal uang. Bukan tentang cinta-cintaan atau bagaimana memperdalam kemampuan omong kosong saya, tentang bagaimana indahnya mahligai rumah tangga yang akan dibina kelak; pada wanita yang tingkat akurasi menjadi pendamping untuk masa depan, hanya mencapai kisaran 20%. Yah, kurang lebih itulah yang jadi pemandangan saya sehari-hari ketika duduk bersama 5 kepala yang baru saja mengucapkan salam perkenalan pada angka 20; sampai pagi, sampai malas untuk pesan secangkir kopi lagi.
 
Tapi, itulah yang mendasari rasa muak & benci saya kepada beberapa sosok beberapa tahun belakangan ini. Melihat bagaimana mereka harus mengorbankan apa yang jadi cerita kebanggaan pada anak cucu kita masing-masing kelak, hanya karena kesimpang-siuran berita yang kesemuanya mengerucut pada satu bahasan: uang.

Ah, tiba-tiba saya ingat cerita tetangga ketika duduk bersebelahan di angkringan dekat rumah. Dia dengan penuh rona bahagia berbagi cerita, tentang bagaimana ia menjalani rutinitas hidupnya dari pagi-menjelang malam hari. Secangkir kopi, sebatang kretek selalu jadi sahabatnya di pagi hari. Yang dilanjut dengan kegiatan mengantar anak sekolah, 15 menit kemudian. Tak lupa sebelum mengecup kening anaknya di depan gerbang sekolah, ia menitipkan beberapa lembar ribuan di saku anaknya.

"Buat jajan dan keperluan fotokopi ya nak. Kalo ibu guru menagih uang LKS, bilang: dompet ayahmu ini baru terisi penuh ketika angka di kalender hanya menunjukkan 1 digit angka saja. Masuk, masuklah. Cari bahagiamu dengan berlari-lari dan berlomba menarik perhatian teman wanita sebangkumu" katanya.
Kemudian dia pulang. Sesampainya di rumah, segeralah dia bergegas untuk mengisi mangkuk pakan burung yang ada di sangkar ― yang tergantung di atap rumahnya ― dengan penuh. Sesekali ia menggoda burung peliharaannya itu dengan pertanyaan bodoh. Bertahun-tahun ia bertanya pada burungnya itu, bertahun-tahun pula ia tak pernah mendapati burungnya menjawab; meski hanya dengan kicauan, anggukan, atau apapun gerak tubuh yang menandakan ia paham dengan apa yang diucapkan oleh majikannya. Tapi, ia selalu mendapatkan senyum kecil dari rutinitasnya yang satu itu. Sekali lagi, hidup 0 - 1 kesederhanaan bahagia.

Siang hari, ia kembali bergegas menuju sekolah anaknya. Selama hidupnya, ia tak pernah membuat anaknya menunggu lebih dari 15 menit untuk kepanasan di depan gerbang sekolah menanti ayahnya datang dengan motor tuanya.

Di rumah, makan siang dengan lauk-apapun-yang-bisa-dimasak-dari-kulkas-kecil-di-dapur sudah terhidang. Bagi mereka, tak penting apa yang masuk ke perut. Toh nanti ketika dibuang, warna dan bentuknya kurang lebih sama. Tapi yang menarik adalah: ada semacam peraturan tak tertulis, yang mengharuskan mereka makan di meja makan bersamaan. Bagi keluarga ini, bahasan dan perbincangan yang terjalin setelah makan siang, harus jauh lebih berkualitas dibanding apa yang mereka makan. Makan boleh hanya dengan sepiring tahu, tapi setelah makan, semua problematika yang ada di dalam keluarga; semua harus tahu.

Sore hari, ia mewajibkan anaknya untuk keluar rumah. Entah hanya untuk sekedar bermain bola di lapangan kecil di kampungnya, atau bersepeda sambil berkejar-kejaran dengan teman sebayanya. Membiarkan anaknya di rumah, dan melewatkan kesempatan untuk menghapal nama anak-anak tetangganya ― karena tak pernah keluar rumah ― adalah dosa besar bagi dirinya. Tawa kecil mereka saat berjalan kembali ke rumah, sesaat setelah adzan Maghrib berkumandang, adalah sebuah keriuhan yang bakal mereka kenang sampai tua nanti. Persis seperti apa yang dirindukan sang ayah kini. Sementara ia sendiri, sesekali pergi memancing di sungai kampung sebelah. Tak peduli seberapa banyak tangkapan yang berhasil dia bawa pulang, ketika sampai di rumah, dia seperti baru saja mengisi-ulang kapasitas bahagianya untuk hari ini. Baginya, ikan hanyalah kepingan rupiah dalam proses kehidupan, hanya jadi bonus; yang terpenting adalah bagaimana melewati prosesnya, bukan hasilnya. Klise, tapi memang selalu begitu adanya.

Ketika hari tak lagi terang, selalu ada riuh di balik sunyinya malam. Dia pergi ke pos ronda, bertemu dengan para pria-pria seusianya; yang sama-sama jenuh dengan tumpukan kertas, deretan angka, raut muka pimpinan, dan tentu saja aroma pewangi ruangan yang tergantung di mesin pendingin selama berjam-jam. Angkringan, papan catur, dan beberapa tumpuk kartu gaple adalah pendengar setia dari keluhan siapapun yang duduk sampe larut di sana; mulai dari politik, biaya sekolah anak, baiaya tagihan motor, kebiasaan tetangga, bahkan hingga kurang memuaskannya pelayanan sang isteri beberapa hari belakangan. Tetapi itulah mereka, di sana, mereka selalu menertawakan bagaimana hidup mencoba menertawakan mereka.

Dee pernah mencoba menulis di salah satu karyanya, Supernova — Petir, tentang bagaimana sinisnya dia memandang berhala rupiah. ‘Mpret’ adalah refleksi sempurna, akan ketidakpedulian manusia akan acuan bahagia yang seenak jidat sudah ditetapkan bersama:

“ Besok pagi lu bayangin, lu bangun dan satu dunia sepakat kalo uang itu nggak ada. Bisa? Pasti bisa. Uang bisa hilang dalam sedetik. Tapi coba lu bayangin, lu dan dunia sepakat kalo rasa bahagia itu nggak ada…cinta itu ga ada…bisa?”

Memang, Mpret sepertinya lupa, kalo suatu saat — ketika dia sudah berkeluarga — dia harus mendapati bahwa keluarganya bukan kuda lumping; yang bisa merasa kenyang cuma karena makan bohlam dan pecahan beling. Mereka butuh beras, nasi, atau apapun itu yang bersifat mengenyangkan. Bahagia tidak akan membuat kita menghasilkan tinja berwarna kekuning-kuningan.

Seorang teman pernah berkata “Jangan pernah punya mau, jika enggan berusaha. Sebaliknya, jika tak pernah ingin berusaha, jangan pernah juga untuk punya mau”. Sekilas, terdengar seperti kutipan seorang motivator yang —self proclaimed— berhasil membuat banyak orang bangkit dari kegagalan; kemudian jadi milyarder, namun untuk beli obat penumbuh rambut untuk dirinya sendiri ia tak sanggup. Memang, bahagia selalu menuntut seseorang untuk tak bermalas-malasan mengejarnya, namun kita juga jangan lupa; ketika acuan bahagia nampak mustahil untuk kita nikmati, kenapa bukan standar bahagianya saja yang kita ubah? Sesederhana itu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar