Minggu, 09 November 2014

Ramen, Gama-Chan, Sexy no Jutsu, dan Hal-Hal Dungu Lainnya


Keluarga Cemara

Malam itu serasa surreal. Saya yang baru saja rampung melahap suguhan sci-fi nan elegan milik Nolan, Interstellar, kembali harus terdiam sembari mengawang-awang setelah membaca bab terakhir Naruto. Untuk alasan yang pertama, tentu karena terkagum. Hampir selama 3 jam, saya menikmati visual megah dengan sentuhan Odissey-esque dan muatan emosional yang pas. Untuk alasan yang kedua, karena muatan emosional yang membuncah. Pikiran saya kacau untuk sejenak, karena komik yang saya ikuti sejak 12 tahun silam, malam itu tamat. Bukan hal mengejutkan memang, karena Naruto sendiri sudah sejak jauh-jauh hari dikabarkan oleh Masashi Kishimoto—sang empunya karya—akan tamat jelang penutupan 2014. Bukan karena ada twist yang sedemikian mengejutkan dari segi plot juga, karena menurut hemat saya komik ini sudah mengalami degradasi kualitas sejak cukup lama; yang mana, hal ini mengakibatkan cerita jadi mudah ditebak dan terkesan ‘terpaksa selesai’ lebih lekas.

Naruto memang tidak menempati posisi nomor wahid dalam deretan komik terbaik yang pernah saya baca. Tapi, Naruto pernah membuat saya tergila-gila selayaknya saat saya membaca komik favorit saya sepanjang masa, Dragon Ball, dulu. Apa alasannya? Mari sedikit bernostalgia.



Komik pertama yang saya miliki adalah Dragon Ball edisi 1-4. Ayah saya dulu dinas di Jogja, dan jika hendak pulang ke Solo sering menyempatkan diri untuk mampir ke toko buku di daerah Senopati sejenak. Entah kenapa, Ayah saya memilih Dragon Ball sebagai komik pertama yang dikenalkan kepada anaknya. Ayah saya lebih paham khazanah sepakbola dibanding dunia manga, jadi jelas itu bukan pilihan atas dasar selera; dugaan saya, atas rekomendasi penjual buku. Dan ternyata, dugaan saya tepat. Terbukti, komik-komik yang Ayah saya beli di bulan-bulan selanjutnya tidak ada korelasinya dengan komik yang sudah dibeli sebelumnya. Alih-alih mengobati rasa penasaran anaknya dengan membelikan Dragon Ball edisi selanjutnya, Ayah saya malah membelikan komik-komik tipis macam Sugar & Spike, Tintin, Asterix, The Smurfs, sampai Tiny Toon: The Adventures.

Sebetulnya kalau saya sudah cukup umur waktu itu, saya bisa saja membunuh rasa penasaran sewaktu-waktu. Bagaimana tidak, wong ketika saya mulai tekun mengoleksi Dragon Ball, komiknya sendiri sudah dibikin tamat oleh Akira Toriyama. Saya bisa saja ‘melompat’ dari pertarungan Goku-Yamcha ke pertarungan final Goku-Bhu kalau saya mau. Dari edisi 3 ke 42, 4 ke 25, 17 ke 30, dan seterusnya. Tapi namanya juga anak kecil, akses informasi saya untuk mengetahui bahwa komik yang tengah digandrungi sebetulnya sudah tamat, tentu saja masih sangat minim. Internet baru saya kenal saat saya SMP. Itupun bukan untuk cari informasi, melainkan membuka Worldsex, Uh-Oh, Lalatx atau chatting lewat Mirc.

Singkat cerita, komik pertama yang membuat saya jatuh cinta adalah Dragon Ball. Baru setelah memasuki bangku SMP, saya mulai berkenalan dengan banyak judul. Mulai dari yang tenar, sampai yang bikin mata nanar—karena saking jeleknya. Sampai suatu saat, saya main ke persewaan buku di dekat rumah dan mendapati nama asing di papan ‘komik baru minggu ini’ berjudul Naruto. Penasaran, saya bawa pulang ke rumah edisi perdananya.

Kesan pertama saat membaca Naruto? Busuk. Buat saya, karakter Naruto tak ubahnya seperti Super Saiya Goku dengan fisik yang lebih kecil dan karakter yang jauh lebih dungu. Tak ada kesan istimewa saat saya membaca komik perdananya. Saya rasa, saya tak berminat untuk mengoleksi komik ini. Tapi keyakinan ini tak bertahan lama, karena lingkungan sekitar tidak mendukung saya untuk mempertahankan keyakinan ini. Adalah kawan sebangku saya semasa SMP, yang berulangkali meyakinkan saya untuk mengikuti jejaknya mengoleksi Naruto.

Iki apik, Le. Jajal woconen meneh, adegan gelut’e apik jebule. Nganggo jurus-jurus ninja ngono. Ki lho, gawanen,” ujar kawan saya seraya menyodorkan Naruto edisi 10 untuk dibawa pulang.

Tidak butuh waktu lama, untuk membuktikan bahwa kelabilan saya semasa SMP memang benar adanya. Naruto edisi 10, menampilkan salah satu adegan duel yang hingga kini masih menjadi duel favorit saya di semua edisi Naruto: Gaara versus Rock Lee. Anggapan saya bahwa Dragon Ball-esque* akan menuntun saya pada keengganan untuk mengoleksi Naruto, seketika tidak lagi menjadi berarti.

(n.b: Beberapa saat kemudian, baru saya tahu kalau Masashi Kishimoto memang pengagum berat karya-karya Akira Toriyama. Bukan hanya Dragon Ball saja, tapi juga Dr. Slump. Di salah satu sesi wawancara dengan Shonen Jump, ia terang-terangan mengaku ingin menjadi seperti Akira Toriyama di awal karirnya sebagai komikus.)

Tidak seperti saat menggemari komik Dragon Ball, saya tidak bisa seenak udel lompat ke edisi Naruto selanjutnya kalau mendadak bosan atau penasaran. Momentum saya menyukai Naruto memang tepat; saat masih dalam proses pengerjaan, dan jalan ceritanya masih jauh dari tamat. Jadi, edisi baru memang selalu ditunggu kemunculannya. Hampir setiap bulan, rak buku komik Gramedia selalu menjadi tempat yang wajib dikunjungi. Kunjungan itu tidak selalu berbuah dengan belanja; sesekali kami—saya dan kawan-kawan semasa SMP—lalui dengan aksi vandal, merusak sampul plastik dengan kunci motor dan diam-diam bergantian membacanya di sudut rak buku reliji. Tentu saja, satpam atau pegawai Gramedia tidak akan menghampiri pemuda yang berkutat di rak rak buku reliji. Selain karena terlihat lebih meyakinkan, lagipula, apa mereka tega mengusir pribadi yang sedang mencari jati diri lewat bacaan yang memperdalam khazanah Ilahi? Saya rasa tidak.

Masa masa SMP-SMA, adalah saat terbaik saya bergumul dengan pelbagai hal yang berkaitan dengan Naruto. Bukan hanya komik, namun juga konsol game macam Naruto: Shinobi no Sato no Jintori Kassen (PSX), Naruto: Ultimate Ninja, Naruto Shippūden, dan Naruto: Uzumaki Chronicles (PS2). Hanya saja, saya tidak pernah melewati fase tertarik untuk berdandan ala tokoh Naruto. Sering saya mengelus dada, kalau melihat kawan yang memaksakan diri untuk nampk aterlihat misterius dengan mengenakan jubah Akatsuki ke sekolah. Di bayangan mereka, mungkin mereka merasa keren-keren-misterius-gagah-gimana-layaknya-Itachi-gitu, namun kenyataanya banyak dari mereka yang justru lebih mirip Kisame. Yang keren dari Akatsuki hanya ada dua: status mereka sebagai kriminal S-Rank, dan juga kalau disisipi dengan kata “Pein”, lalu muncul di adegan pembukaan film.

Saya rasa, tidak ada alasan untuk tidak jatuh cinta kepada Naruto pada waktu itu. Lewat sentuhan magisnya, Masashi Kishimoto berhasil membuat saya berdecak kagum lewat berbagai aspek: lewat rentetan adegan mindblowing saat Shikamaru menyusun strategi untuk melawan musuh-musuhnya, lewat selera humor yang ditampilkan Naruto-Jiraiya-Deidara, lewat pengenalan sejarah ninja tiap-tiap desa dari waktu ke waktu, lewat detail penggambaran karakter-karakter kuat yang sesekali muncul, lewat variasi jurus tiap-tiap karakter, dan yang paling terpenting lewat unsur kejutan yang sesekali diselipkan dalam bab tertentu.

Namun, sebetulnya ada alasan lain kenapa saya pernah jatuh cinta dengan komik Naruto: karakter Uzumaki Naruto itu sendiri. Menurut hemat saya, banyak pembaca yang merasa terwakilkan setiap meliat perangai Naruto. Kerap bertindak bodoh namun percaya dirinya melebihi siapapun, pekok tur semangat. Mimpi-mimpi Naruto memang sesekali terdengar muluk: menjadi ninja terkuat nomor satu, menjadi Hokage, menjadikan dunia lebih damai, dan sebagainya. Namun jangan lupa, ia juga punya mimpi sederhana yang mungkin menggambarkan mimpi pembacanya. Ia ingin punya banyak teman, karena dirinya pernah terkungkung dalam lembah kesendirian.

Naruto hampir selalu melewati hidupnya seorang diri. Meski kawan karibnya, Sasuke juga mengalami hal serupa, Naruto tidak ujug-ujug memiliki kelebihan seperti halnya Sasuke: otak cerdas, wajah rupawan dan talenta natural bawaan keturunan. Segala yang dimiliki Sasuke adalah antitesis dari kepribadian Naruto. Sepanjang hayatnya, Naruto selalu berusaha untuk selangkah di depan Sasuke, di segala bidang. Jatuh bangun Naruto untuk menjadi yang terbaik, seakan memberi lecutan kepada saya—mungkin juga pembaca yang lain—bahwa usaha keras tak akan mengkhianati. Klise, namun memang benar adanya.

Sebagai perbandingan, Goku adalah pria bodoh yang gemar bertarung, namun ia jarang menjadikan alasan-alasan sentimental macam keluarga dan pertemanan untuk musabab pertengkaran. Paling-paling, dengan alasan klasik untuk menyelamatkan perdamaian dunia; tapi memang di situlah daya tariknya. Naruto berbeda, ia nampak ingin selalu menyisipkan pesan di setiap pertarungan yang ia lakoni. Entah tentang kesetiaan, kekeluargaan, persahabatan, perdamaian, atau cinta. Mungkin, Masashi Kishimoto kelewat sering mendengarkan pesan KPI yang selalu digembor-gemborkan setiap tahun, “Jadikan tayangan bukan hanya menjadi tontonan, tapi juga menjadi tuntunan.”

Tapi Naruto bukan tanpa cacat. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, ada saat di mana Naruto mengalami degradasi plot yang begitu drastis. Saya lupa detailnya, tapi yang pasti banyak ditemui setelah Naruto beranjak dewasa. Atau dalam versi anime, saat memasuki seri Shippuden. Banyak adegan krusial, yang saya rasa bisa selesai jauh lebih epik—tapi ternyata selesai begitu saja. Salah satunya duel Naruto dengan Nagato, mungkin. Setelah melewati serangkaian “duel Pein” yang melelahkan, saya membayangkan final battle ini akan menjadi epik dan kolosal. Tapi ternyata, Nagato hanya dikalahkan lewat wejangan akan cita-cita mulia Naruto. Hal semacam ini terus berulang, bahkan jelang episode terakhir. Masih ingat betapa busuknya duel antara Naruto dan Kaguya*, bukan?

(n.b: karakter paling kuat di Naruto, selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Adalah wajar, mengingat jalannya cerita memang selalu berkembang. Komik lain juga melakukan hal serupa. Tapi saya rasa, kelewat banyak tokoh yang berusaha ditampilkan Kishimoto sebagai karakter terkuat. Mulai dari Orochimaru, lalu Akatsuki, lalu Pein, lalu Madara, lalu Rikkudo Sennin, lalu Kaguya. Saya kira, Rikkudo Sennin adalah karakter terkuat, namun tiba-tiba entah darimana muncul Kaguya. Andai belum usai, besar kemungkinan Kishimoto mencantumkan Allah S.W.T sebagai karakter terkuat setelah Kaguya.)


Persamaan karakteristik yang ditampilkan berulang-ulang juga membuat saya jengah. Karakter tim 7 hanyalah pengulangan dari tim yang sudah ada sebelumnya: Sannin, Kakashi-Obito-Rin, Yahiko-Nagato-Konan. Apalagi, karakter kuat di Naruto tidak pernah benar-benar mati. Di komik lain, misalnya, kematian karakter kuat adalah hal yang krusial. Malas betul kalau saya membayangkan tiba-tiba Ace kembali datang membantu Luffy bertarung melawan tokoh Admiral, padahal drama pasca kepergian Ace sudah mencapai klimaksnya. Sekali dua kali mungkin barang wajar, tapi kelewat sering ‘mendatangkan kembali’ orang yang sudah mati justru membuat muak. Alih-alih sebagai strategi untuk mengobati kerinduan para pembaca, kehadiran orang yang sudah mati sebagai cameo ini menurut saya malah menjadi blunder Masashi Kishimoto. Terkesan dipaksakan untuk tampil.

Kalau mau jujur, sebetulnya masih ada cukup banyak alasan yang bisa saya beberkan. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan sekarang, momennya kurang pas. Bagi saya, seburuk apapun kualitas Naruto, komik ini pernah membuat saya terkagum-kagum dan jatuh cinta. Saya tidak akan pernah lupa, ketika saya dibawa ke dalam alur cerita yang bersifat sentimental—dan itu cukup berkesan hingga kini. Hubungan kakak-adik Itachi-Sasuke, hubungan Ayah dan anak Minato-Sasuke, Sakumo-Kakashi, Dai-Guy, jalan perdamaian berbeda yang ditempuh Danzo dan Nagato; itu semua, saya rasa jauh lebih besar dibandingkan kekurangan yang ada di keseluruhan plot Naruto. Sebagaimana mantan kekasih saja lah: kalau dicari kurangnya terus, akan selalu ada. Seakan-akan lupa, dulu pernah dibuatnya terkesima.

Di akhir cerita, Masashi Kishimoto tidak memberi kejutan berarti. Setelah melewati duel singkat—tapi krusial dengan Sasuke, akhirnya Naruto berhasil menggapai mimpinya untuk menjadi Hokage. Tidak ada twist, seperti perkiraan akhir cerita yang pernah dibahas di beberapa forum manga; semua berjalan sesuai dengan bayangan para pembaca. Kalau dibilang spesial, tidak; dikata buruk, juga tidak. Biasa saja. Tapi setidaknya—sekali lagi—Uzumaki Naruto memberikan pelajaran berarti bagi saya, bahwa mimpi kelewat muluk itu tidak pernah ada salahnya. Orang bodoh sekalipun berhak memiliki mimpi, karena itu yang membuatnya tetap hidup. Perjalanan mimpi dalam cerita Naruto mengingatkan saya pada ucapan Vaclav Havel, bahwa mimpi tidak berbicara tentang keyakinan pada hal-hal yang akan berjalan dengan baik; melainkan rasa pasti bahwa ada sesuatu yang bukan hanya omong kosong belaka, apa pun yang akan terjadi akhirnya.
Untuk semua mimpi dan hal-hal bodoh selama 15 tahun ini,

Terima kasih, Masashi Kishimoto-sensei.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar