Kamis, 10 Maret 2016

Mengenang Momen Setan Kredit dari Tepian Sungai

Tempo hari, sungai di belakang rumah saya hampir meluap. Hujan deras sejak siang sampai sore hari membuat volume air semakin membeludak, untungnya, talut yang dibangun di sisi sungai mencegah aliran untuk naik ke permukaan. Seingat saya, talut ini baru berumur dua tahun. Ayah saya kebetulan ditunjuk sebagai penanggungjawab proyek pembangunan tersebut.

Saat ini, ia sedang bertugas di luar kota. Sesekali saat menelpon ke rumah, ia bertanya soal kondisi sungai di belakang rumah pasca hujan deras. Pikir Ayah, dirinya mungkin akan menjadi sosok yang paling bertanggungjawab andai jalan pinggir komplek yang berdekatan dengan sungai masih dilanda banjir pasca dibangun talut.

Ada satu sudut ingatan tentang relasi Ayah dan sungai, yang selalu berhasil membuat saya tersenyum simpul saban mengenangnya. Bukan soal talut atau banjir, tapi soal anak tetangga yang dikabarkan hampir meregang nyawa saat aliran sungai sedang deras-derasnya.

Selasa, 05 Januari 2016

Blunder Florentino Perez Sejak Dalam Pikiran

Menakar logika seorang megalomania di kursi nomor satu El Real.

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Rafael Benitez akhirnya tergusur juga dari kursi pelatih Real Madrid. Meski tak kelewat mengejutkan, kabar didepaknya Benitez ini masih menyisakan tanya bagi sebagian orang. Ia 'hanya' diberi waktu selama tujuh bulan di Bernabeu, dan klub menunjuk seorang suksesor yang belum memiliki banyak pengalaman di level senior sebagai penggantinya. Tak ada yang menyangkal, bahwa Zinedine Zidane adalah salah satu pemain paling brilian dalam sejarah sepakbola.

Tapi ketika berbicara sebagai pelatih utama, ia belum membuktikan apapun.


Kamis, 01 Oktober 2015

Totti dan Swastamita di Ufuk Roma

No Totti, No Party

Pjanic datang memotong bola dari Consigli, yang sejatinya ditujukan kepada rekan setimnya di depan kotak penalti. Dengan cepat, penyihir dari Bosnia itu memberikan umpan dengan sekali sentuhan kepada Totti yang berada tepat di depannya. Berdiri bebas, Kaisar Roma itu sedikit memutar badan dan langsung melakukan sontekan mendatar dengan kaki kanannya. Bola itu mengecoh Consigli yang terlanjur mati langkah, dan tidak bisa menjangkau bola pelan dengan tangan kanannya.

Gol.

Senin, 24 Agustus 2015

Perkara Terbaik dan Perdebatan yang Tak Akan Pernah Usai

"Mangan ra mangan sing penting gelut."
Pada laga pembuka Premier League beberapa waktu lalu, beberapa hasil mengejutkan bermunculan. Duo unggulan, Chelsea dan Arsenal harus terseok-seok kala menghadapi klub ‘non-unggulan’ macam Swansea dan West Ham. Chelsea—beruntung bisa bermain—imbang 2-2 dengan Swansea setelah bermain dengan 10 pemain, sedangkan Arsenal terjungkal di kandangnya sendiri dengan skor 0-2. Pada awal musim, London sepertinya sama-sama tidak bercorak biru atau merah. Sementara itu, kedua tim unggulan sisanya Manchester United dan Liverpool, sama-sama bermain pragmatis dengan menomorsatukan poin dibanding keindahan permainan, sesuatu yang seringkali mereka gunakan sebagai senjata untuk menyerang kedigdayaan Chelsea musim lalu.

Jumat, 24 Juli 2015

Ode untuk Iker Casillas


Adios, Iker! 
Iker Casillas kecil adalah sosok teledor. Pada usia delapan tahun, ia pernah membuat kesalahan bodoh: lupa mengirimkan surat milik ayahnya, yang berisikan 14 prediksi tepat hasil Liga Spanyol pada musim 1989/1990. Andai surat hasil prediksi itu tidak lupa dikirim, keluarga Iker Casillas sudah menikmati hadiah utama sebesar 1,2 juta Euro. Menurut Casillas, itu adalah salah satu kesalahan paling bodoh dalam hidupnya. Sampai sekarang, ia merasa masih memiliki ‘hutang’ kepada ayahnya, meski secara finansial—dengan menilik statusnya sebagai bintang sepakbola dunia—ia dengan mudah sanggup membayar uang 1,2 juta Euro.

Setahun setelahnya, Casillas bergabung bersama akademi sepakbola Real Madrid. Pada 1997, ia sedang berada di ruang kelas Instito Canaveral, sekolah menengah atas yang berada di Mostoles—kota kecil yang menjadi bagian Community of Madrid. Hari itu, kepala sekolah menghampirinya setelah mendapat sebuah panggilan telepon. Instruksi kepala sekolah jelas: Iker harus segera berkemas pulang. Tak lama kemudian, taksi datang untuk menjemputnya menuju tempat latihan Real Madrid. Ia diberitahu bahwa kiper utama Los Blancos, Bodo Illgner dan Pedro Contreras sama-sama dibekap cidera. Sebagai gantinya, Casillas—yang masih bermain di akademi—akan dipanggil bergabung dengan tim inti, dan akan bertolak ke Norwegia untuk melakoni laga penyisihan grup melawan Rosenberg di Liga Champions. Dua tahun setelah itu, ia berhasil menembus tim inti Real Madrid.

Dan seperti yang kita ketahui, sisanya adalah sejarah.