Kamis, 21 Februari 2013

Revival Slime vs Osiris



"Wis, ngalamat sarapan sego nget-ngetan ki" - Messi kepada bandar.


Bagi siapapun yang mengikuti perkembangan dunia anime, mungkin tidak begitu asing dengan judul di atas. Ya, judul di atas adalah salah satu judul chapter di komik 'Yu-Gi-Oh', yang dirilis dalam versi komik seri ke-20, dengan judul "The Pressuring God."

Saya tentu tidak akan panjang lebar bercerita tentang bagaimana jalan cerita komik karangan Kazuki Takahashi itu. Tapi, kiranya ada sebuah kemiripan antara alur cerita di chapter itu, yang bisa merefleksikan pertandingan antara Milan vs Barca semalam.

"Revival Slime vs Osiris" bercerita tentang bagaimana sebuah monster card yang memiliki attack poin 1500 dan defense poin 500 sebuah nominal yang kecil di ranah battle card yu-gi-oh memenangkan duel melawan kartu berlabel 'dewa' yaitu Saint Dragon The God of Osiris. Osiris tak memiliki nominal poin, di kartunya hanya terpampang X000. Akan tetapi, dia bukan dipanggil 'dewa' tanpa sebab. 'X' di attack/defense poin-nya adalah angka yang merujuk jumlah kartu yang ada di deck lawan. Semakin banyak kartu yang keluar, semakin tinggi nominal angka 'X' yang ada di attack/defense poin.

Di atas kertas, Revival Slime tak mungkin bisa menang melawan Osiris. Sama seperti halnya Dewa buatan Ahmad Dhani, Dewa di card duel Yu-Gi-Oh pun punya kelemahan. Di card duel Yu-Gi-Oh, seorang duelist harus tetap memiliki kartu di deck-nya, sebagai syarat meneruskan pertandingan. Di duel itu, Osiris kewalahan menghadapi Revival Slime defense mode yang dibentengi oleh card trap Defense Slime & Repayment of Life. Kedua card trap ini adalah kunci, di mana setiap serangan dari Osiris akan 'dimentahkan' oleh defense slime dan kemudian menjadi mubadzir, karena Repayment of Life membuat kedua pemain di harus membuang 3 kartu ke graveyard setiap kali gilirannya datang. Combo ini terus berulang, sampai akhirnya Osiris mencapai attack poin 28.000, tapi menyisakan 0 kartu di deck-nya. Yugi Mutou 1 - 0 Malik.

Pun dengan pertandingan Milan - Barcelona semalam.

Datang ke San Siro dengan penuh keyakinan karena menyandang gelar sebagai pemuncak klasemen di fase group UCL dan pemuncak klasemen di La-Liga, Barcelona seolah-oleh datang ke Milan hanya untuk berlibur & berbelanja kebutuhan fashion team, yang kemudian disisipi agenda pemanasan ringan melawan El Shaarawy & friends FC oleh manajemen tim.

A.C Milan pun sebetulnya tak jauh berbeda dengan Barcelona. Mengawali musim dengan start terburuk dalam 2 dekade terakhir hingga akhirnya sempat nangkring di posisi 7 klasemen , mereka perlahan tapi pasti mulai menunjukkan jati dirinya dengan merangkak naik ke posisi 3 klasifika. Moral tim pun sedang bagus, karena pasca kedatangan si bengal Balotelli, tim ini terus memetik hasil positif di liga.

Tapi, semua keberhasilan itu nampak tidak berarti jika dihadapkan dengan kedigdayaan pasukan Catalan. Ibarat sukses penjualan single album Cakra Khan yang meledak laris di pasaran Indonesia, single itu hanya akan menjadi olok-olok & backsong tvc obat pelega tenggorokan di ranah yang jadi kiblat industri musik dunia, Amerika & UK. Keberhasilan pelakunya di ranah masing-masing, memiliki standar yang sungguh jauh berbeda.

Sebelum pertandingan dimulai, sulit bagi saya untuk menentukan kepada siapa dukungan saya berlabuh. Di satu sisi, Milan adalah salah satu tim yang saya benci di Serie-A, karena selalu menyulitkan langkah Juve dalam perburuan gelar (lebih-lebih ke Mexes & Boateng). Namun, di satu sisi saya juga tak ingin melihat nama belakang saya menang, karena jujur saja saya sudah bosan melihat dominasi Barcelona di setiap kompetisi yang mereka ikuti.

Namun untuk sesaat, akal sehat saya ikut berperan untuk mengalamatkan dukungan di match kali ini.

Kemenangan Milan di San Siro, tentu akan memuluskan langkah mereka ke babak perempat final UCL. Jika skenario ini berjalan lancar, bersama Juventus mereka akan menambah nilai plus serie-A di koefisien liga peserta UCL. Seperti yang kita ketahui, semenjak terlempar dari top three liga Eropa, serie-A praktis hanya boleh mengirimkan 3 wakilnya di kancah UCL. Imbasnya, pemain dengan label 'top' tak lagi sering kita dengar seliweran di mercato, selayaknya apa yang biasa tim-tim besar Italia lakukan pada periode 90- 2000'an awal. Jadi, kemulusan langkah 2 wakil Italia di UCL adalah mutlak, apabila mereka mengharapkan kejayaan serie-A kembali lagi seperti dulu.

Saat mengetahui Allegri menerapkan formasi 4-4-3, hal pertama yang saya cari adalah: di mana dia menempatkan Boateng. Allegri cukup waras dengan menempatkan dia sebagai winger, bukan sebagai trequartista seperti biasanya di 4-3-1-2. Jujur, melihat dia mengenakan nomer 10 dan bermain sebagai treq di Milan, bagi saya merupakan salah satu bentuk penghinaan untuk Rui Costa dan Seedorf. Selain karena dia tak memiliki skill pemain tipikal classic number ten visi, holding ball, akurasi passing di atas rata-rata seperti biasa, dia adalah salah satu pemain ter-tengil di dalam tim. Menantikan headline "Ballotelli vs Boateng" di laman La Gazetta Dello Sport, hanya jadi bom waktu buat saya.

Mengawali laga dengan terus menekan sepanjang pertandingan, Barcelona nampak memberi angin segar kepada fans-nya di seluruh dunia yang gemar ber-#ViscaBarca di manapun mereka sanggup menuliskannya itu. Seakan mereka berkata "tenang, di babak kedua kita baik hati ga ngejebol Abbiati lebih dari 3 gol".

Tapi alih-alih mencuri gol, justru mereka lah yang kebobolan terlebih dulu. Boateng memanfaatkan dengan baik, assist dari Kobe "Zapata" Bryant. Sesuatu yang membuat timeline saya dipenuhi dengan tulisan "wasit asu! wasit goblok, atau wasit dibayar!"

Jika Milan adalah Revival Slime, maka boleh dibilang Massimo Ambrosini adalah Defense Slime Milan. Lihat bagaimana dia membuat Xavi - Iniesta tak lagi tampil selayaknya pasangan emas Tsubasa - Misaki, namun lebih seperti jebolan Primavera yang baru saja menjalani laga debut di liga profesional. Ambrosini memang tak seperti Montolivo, yang terlihat berandil besar dalam skema serangan Milan, namun ketika Milan dalam posisi bertahan, dia tahu harus berbuat apa. Hanya berhasil membuat 9 dari rataan biasanya yang mencapai 30 touches/match, dan menghibahkannya secara ikhlas ke Messi 1 dari kebiasaan 6 touches/match, adalah bukti betapa 'seret'-nya suplai bola dari lini kedua Barca. Dan sekali lagi, Ambrosini yang paling bertanggung jawab atas statistik ini.

Gol dari Muntari, seakan mengukuhkan pendapat para pengamat yang meragukan posisi Pique di best starting-XI FIFA kemarin. Lubang menganga yang dia buat, tak lagi disia-siakan oleh Muntari. Mungkin dia belajar banyak dari pertemuan Juventus - Milan season lalu. Setelah laga, kini dia tak lagi trauma dengan siapapun yang berteriak 'oit! Dapet salam dari hakim garis tuh!' kepadanya.

Tapi Barca tetaplah Barca. Sekalipun kalah, mereka harus punya nilai lebih yang mungkin bisa diunggul-unggulkan oleh remaja ber-#ViscaBarca. Barca unggul jauh dalam ball possesion, dibanding Milan. Rataan mereka mencapai angka 66% meleset 4% dari perkiraan orang-orang dan menyisakan 34% sisanya untuk AC Milan. Seperti kebanyakan team yang doyan ber-false-nine-ria, unggul penguasaan bola adalah wajib fardlu, tampil menghibur sembari kutak-katik-umpan-satu-sentuhan atau biasa disebut "Tiki-Taka" adalah sunnah muakad. Sedangkan kemenangan adalah makruh. Sungguh berbeda dengan filosofi permainan Milan pada malam itu.

Jauh dari kategori 'menghibur', menempatkan 9 pemain di daerah pertahanan sembari menyisakan 1 prima punta di depan, kalah jauh di penguasaan bola, adalah salah satu alasan yang menyebabkan penikmat bola di seluruh dunia mengambil kopi 3 sendok lebih banyak saat jeda babak pertama kemarin. Milan sungguh jauh dari kata 'berbahaya'. Catenaccio/Zone Press Up Match System atau apapun itu namanya, memang seperti raut muka Sultan Bhatoegana: tak pernah sedap dipandang mata. Namun, strategi ini sangat efektif ketika menghadapi Barca yang sering lupa diri menerapkan all-out-attack. Lihat bagaimana Inter 09/10, Chelsea 11/12, Celtic 12/13 berhasil meredam 'amukan' Messi dkk. Berlama-lama menahan bola di daerah aman sembari menumpuk pemain bertahan, terbukti ampuh ketika berhadapan dengan gempuran L1 - X - X - L1 -X - milik Barca. Allegri kini bergabung bersama Mourinho, Di Matteo, dan Lennon, sebagai penasehat Jokowi untuk memperbaiki kualitas armada bus Transjakarta dalam 5 tahun ke depan.

Setelah laga, Allegri merayakan euphoria ini dengan berkunjung ke salah satu kafe di kota Milan. Ketika baru saja membuka pintu masuk, seisi pengunjung kafe memberikan tepuk tangan sebagai bentuk penghargaan atas kejeniusannya di laga semalam. Sungguh, bertentangan dengan sikap supporter mereka di awal musim yang menginginkan Allegri pergi setelah memetik rentetan hasil buruk di kompetisi dalam negeri.

Barca sang Osiris pun tumbang di hadapan Revival Slime, A.C Milan. Tim yang dianggap terbaik di dunia dalam 2 dasawarsa terakhir, tunduk di hadapan tim yang diklaim sebagai skuad-terburuk-dalam-sejarah-klub di 2 dasawarsa terakhir pula. Siapapun yang dianggap 'dewa', pastilah tetap memiliki celah, dan Allegri paham benar bagaimana memanfaatkan titik lemah tersebut. Pazzini - Boateng - Muntari - Mexes - Abate pun seakan memberi bukti, bahwa Milan tak lagi perlu Van Basten - Seedorf - Rijkaard - Tasotti - Maldini, hanya untuk mempertahankan harga diri tim. Ketika mereka diberi arahan dan porsi yang mumpuni, status 'medioker' yang mereka sandang pun seakan menjadi tak penting lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar