Tampilkan postingan dengan label sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepakbola. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juni 2018

Yang Tersisa dari Jejak Kaki Bale, Maradona, dan Stoichkov


Seminggu silam, final Champions League digelar di Kiev. Madrid masih kelewat digdaya dengan meneruskan dominasi di Benua Biru untuk kali ketiga secara beruntun, sementara Liverpool kembali ke Anfield dengan kepala—yang dipaksa—tegak dan beberapa penyesalan yang akan terus mengusik dalam kurun waktu yang tak sebentar. Malam itu, Gareth Bale mencuri perhatian dunia. Dua gol ia borong meski masuk sebagai pemain pengganti; satu lewat sepakan akrobatik, satu lagi lewat sepakan kencang yang ‘dibantu’ muntahan salah arah dari Loris Karius. Dalam kurun 20 menit, Bale merampungkan mimpi The Reds untuk angkat trofi kuping besar mereka yang keenam. Mungkin musim depan akan menjadi milik mereka, tapi musim ini, biarkan dulu Los Merengues berpesta di Olympic Stadium dengan Gareth Bale sebagai dirigen utamanya.

Yang dilakukan Bale dengan kaki kirinya, kemudian membuat saya harus berdiskusi dengan partner menonton saya malam itu: ayah. Menurutnya, Karius memang melakukan blunder pada proses terjadinya gol ketiga Madrid, tapi sepakan luar biasa kencang dari Bale membuat bola bersarang jadi lebih mudah.

“Kirinya Bale ini memang gila,” ujar Ayah. “Orang taunya dia mahal, larinya kenceng, tapi pada lupa kalau kaki kirinya ini bahaya. Dari jarak segitu lho, coba dilihat lagi.”

Saya terdiam sesaat setelah mendengar pernyataan itu. Ada benarnya juga, pikir saya. Mungkin jika tidak ‘diingatkan’ ayah, saya masih berpikir bahwa yang menjadi daya tarik utama Bale hanya soal akselerasi dan transformasi fisiknya setiba di Madrid. Seakan-akan abai dengan rentetan tembakan knuckleball yang berulangkali dilakukan Bale sejak merumput di St. Mary's. Teknik menendang yang mencomot istilah dari baseball itu memang unik; bola yang dilepas dengan teknik knuckleball akan mereduksi intensitas berputar bola sesaat setelah ditendang, kemudian menghasilkan gerakan tak beraturan yang kerap mengecoh lawan.

Robert Adair, seorang profesor fisika dari Yale University pernah berujar bahwa menghentikan laju bola hasil teknik knuckleball adalah hal yang hampir mustahil karena manusia memiliki keterbatasan fisik untuk menghasilkan waktu bereaksi. Di kompetisi baseball, bahkan ada anekdot macam ini terkait trik terbaik untuk menghentikan teknik knuckleball: “the way to catch a knuckleball is to wait until it stops rolling and pick it up.” Tapi Karius menolak untuk tunduk pada hukum fisika, dan melakukan tindakan penyelamatan yang sejatinya tidak menyelamatkan apapun—termasuk bola, karir, dan nama baiknya sebagai kiper profesional.

Setelah gol kedua Bale, ingatan saya mengawang pada mimpi di masa kecil: bisa menendang bola dengan kaki kiri. Dan ayah, adalah orang pertama yang paling memacu saya untuk bisa melakukan hal tersebut.

“Papah tuh bisa nendang pakai kaki kiri kan ya?” tanya saya setelah diskusi kecil soal gol kedua Bale.

“Bisa, malah lebih sering pakai kaki kiri waktu masih main. Kerasanya pas sudah tua sekarang, lebih sering sakit di kaki kiri kalau dipakai aktivitas.”

Ayah tidak kidal, ia melakukan semua aktivitas utamanya dengan tangan-kaki kanan. Hanya saja ketika bermain bola, kaki kirinya selalu lebih hidup. Saya belum pernah menyaksikan ayah bermain bola saat masih aktif bermain di level amatir, tapi saya beberapa kali setim dengan ayah saat main sepakbola di lapangan dekat rumah. Bahkan, ia sempat melatih saya dan kawan-kawan kampung saat membentuk kesebelasan untuk kompetisi sepakbola antar remaja masjid. Seingat saya, dulu ada satu sesi di mana saya dan kawan-kawan dipersilakan untuk mencoba menendang dengan kaki terlemah. Beberapa kawan yang lebih tua dari saya bisa menendang dengan cukup terarah meski tak bertenaga, sedangkan saya, terarah tidak-kencang apalagi. Bahkan lebih mirip Ishizaki yang pernah terpeleset ketika mencoba melakukan drive shot di serial Tsubasa; terlihat konyol bin memalukan.

Ketika ayah memberi contoh tiga kali menendang bola dengan kaki kiri, seketika itu saya dan kawan-kawan sepakat untuk tidak mencoba menyundul atau menghalau laju bola saat tidak setim dengan ayah di laga eksebisi, andai masih sayang organ tubuh masing-masing.

Tidak cukup sekali-dua kali saya mengeluh tidak bisa menendang dengan kaki kiri, sampai akhirnya ayah bilang bahwa sebelum konsisten mencoba melatih menendang dengan kaki kiri, tentukan dulu ‘mazhab kiri’ mana yang ingin saya pakai: mazhab Maradona atau Stoichkov. 

Mazhab Maradona untuk ‘genre’ sepakan kaki kiri yang tak melulu bertenaga tapi menghasilkan akurasi tembakan yang sulit dijangkau lawan, sedangkan mazhab Stoichkov merujuk pada sepakan kencang yang akurasinya tak terlalu sempurna, tapi selalu merepotkan kiper karena laju kecepatan ekstrem yang juga sama sulitnya untuk dibendung. Saya bingung, wong bisa saja belum sudah disuruh menentukan ingin meniru siapa. Meskipun dalam hati kecil, saya ingin menjawab, “ya minimal bisa kaya papah,” tapi belum pernah terucap.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru memahami ucapan itu. Lewat kompilasi video yang dengan mudah diakses di YouTube, saya jadi paham kenapa dua orang itu selalu disebut-sebut ketika disinggung soal acuan pesepakbola kaki kiri terbaik versi ayah. Maradona adalah Maradona, sedangkan Stoichkov adalah seorang gunslinger yang menjadi bagian integral dari dream team Blaugrana saat dipoles Cruyff. Dua sosok yang pantas masuk altar pemujaan sekte kiri bersama Inessa Armand, Guy Debord, dan tentu saja Tan Malaka.

Andai disuruh memilih saat ini, tentu saja memilih mazhab Stoichkov. Maradona adalah kesempurnaan yang muskil dijangkau pria normal tanpa talenta ilahiah, sedangkan Stoichkov memiliki aspek-aspek normal yang jauh lebih masuk akal untuk diduplikasi. El Pistelero adalah kepingan puzzle terakhir yang melengkapi ‘orang-orang sopan’ dalam komposisi dream team Cruyff. Agresivitas dan sikap oportunistisnya sebagai seorang jugador, membuat skuat Barcelona yang memang didesain ofensif jadi jauh lebih sempurna.

“Ada pemain yang lebih memilih untuk menunggu momen, atau menantikan peluang untuk mengkreasi gerakan indah ketika mengolah bola, Stoichkov adalah orang yang menciptakan momen, menjemput bola, dan langsung menembaknya ketika mendapat peluang,” ujar Cruyff ketika disinggung soal karakter pemain asal Bulgaria itu. Dalam skema ofensif khas Barca yang kerap memasang garis pertahanan tinggi untuk secepat-cepatnya mencuri penguasaan bola dan mengusik daerah berbahaya lawan, Stoichkov adalah karakter kunci dalam racikan taktik El Flaco. Dan tentu saja, kaki kiri pemain kelahiran Plovdiv itu yang kemudian menyelesaikan tugas-tugasnya; baik dari dalam kotak penalti, atau dari luar kotak penalti.

Saya cukup kenyang menyaksikan cuplikan gol Stoichkov, tapi tentu saja tidak mengubah apapun yang berkaitan dengan kemampuan saya untuk menendang bola dengan kaki kiri. Di sepanjang karir pada laga eksebisi di kampung dan atlet bola pocokan-non-amatir-namun-banyak-gaya, seingat saya, saya tak lebih dari 3 atau 4 kali mencetak gol dengan kaki kiri. Separuh tak sengaja tersenggol, sisanya mungkin sengaja dipersilakan kiper untuk masuk gawang sebagai bentuk apresiasi. Maka, di sepertiga malam pada bulan penuh berkah ini, izinkan saya memanjat doa sederhana yang menjadi ambisi sejak masih piyik: 

Duh Gusti, aku ingin bisa menendang bola dengan kaki kiri.

Selasa, 05 Januari 2016

Blunder Florentino Perez Sejak Dalam Pikiran

Menakar logika seorang megalomania di kursi nomor satu El Real.

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Rafael Benitez akhirnya tergusur juga dari kursi pelatih Real Madrid. Meski tak kelewat mengejutkan, kabar didepaknya Benitez ini masih menyisakan tanya bagi sebagian orang. Ia 'hanya' diberi waktu selama tujuh bulan di Bernabeu, dan klub menunjuk seorang suksesor yang belum memiliki banyak pengalaman di level senior sebagai penggantinya. Tak ada yang menyangkal, bahwa Zinedine Zidane adalah salah satu pemain paling brilian dalam sejarah sepakbola.

Tapi ketika berbicara sebagai pelatih utama, ia belum membuktikan apapun.


Kamis, 01 Oktober 2015

Totti dan Swastamita di Ufuk Roma

No Totti, No Party

Pjanic datang memotong bola dari Consigli, yang sejatinya ditujukan kepada rekan setimnya di depan kotak penalti. Dengan cepat, penyihir dari Bosnia itu memberikan umpan dengan sekali sentuhan kepada Totti yang berada tepat di depannya. Berdiri bebas, Kaisar Roma itu sedikit memutar badan dan langsung melakukan sontekan mendatar dengan kaki kanannya. Bola itu mengecoh Consigli yang terlanjur mati langkah, dan tidak bisa menjangkau bola pelan dengan tangan kanannya.

Gol.

Senin, 24 Agustus 2015

Perkara Terbaik dan Perdebatan yang Tak Akan Pernah Usai

"Mangan ra mangan sing penting gelut."
Pada laga pembuka Premier League beberapa waktu lalu, beberapa hasil mengejutkan bermunculan. Duo unggulan, Chelsea dan Arsenal harus terseok-seok kala menghadapi klub ‘non-unggulan’ macam Swansea dan West Ham. Chelsea—beruntung bisa bermain—imbang 2-2 dengan Swansea setelah bermain dengan 10 pemain, sedangkan Arsenal terjungkal di kandangnya sendiri dengan skor 0-2. Pada awal musim, London sepertinya sama-sama tidak bercorak biru atau merah. Sementara itu, kedua tim unggulan sisanya Manchester United dan Liverpool, sama-sama bermain pragmatis dengan menomorsatukan poin dibanding keindahan permainan, sesuatu yang seringkali mereka gunakan sebagai senjata untuk menyerang kedigdayaan Chelsea musim lalu.

Jumat, 24 Juli 2015

Ode untuk Iker Casillas


Adios, Iker! 
Iker Casillas kecil adalah sosok teledor. Pada usia delapan tahun, ia pernah membuat kesalahan bodoh: lupa mengirimkan surat milik ayahnya, yang berisikan 14 prediksi tepat hasil Liga Spanyol pada musim 1989/1990. Andai surat hasil prediksi itu tidak lupa dikirim, keluarga Iker Casillas sudah menikmati hadiah utama sebesar 1,2 juta Euro. Menurut Casillas, itu adalah salah satu kesalahan paling bodoh dalam hidupnya. Sampai sekarang, ia merasa masih memiliki ‘hutang’ kepada ayahnya, meski secara finansial—dengan menilik statusnya sebagai bintang sepakbola dunia—ia dengan mudah sanggup membayar uang 1,2 juta Euro.

Setahun setelahnya, Casillas bergabung bersama akademi sepakbola Real Madrid. Pada 1997, ia sedang berada di ruang kelas Instito Canaveral, sekolah menengah atas yang berada di Mostoles—kota kecil yang menjadi bagian Community of Madrid. Hari itu, kepala sekolah menghampirinya setelah mendapat sebuah panggilan telepon. Instruksi kepala sekolah jelas: Iker harus segera berkemas pulang. Tak lama kemudian, taksi datang untuk menjemputnya menuju tempat latihan Real Madrid. Ia diberitahu bahwa kiper utama Los Blancos, Bodo Illgner dan Pedro Contreras sama-sama dibekap cidera. Sebagai gantinya, Casillas—yang masih bermain di akademi—akan dipanggil bergabung dengan tim inti, dan akan bertolak ke Norwegia untuk melakoni laga penyisihan grup melawan Rosenberg di Liga Champions. Dua tahun setelah itu, ia berhasil menembus tim inti Real Madrid.

Dan seperti yang kita ketahui, sisanya adalah sejarah.

Kamis, 17 Juli 2014

Fly You High, Antonio!

So long, Coach!

“Do you know what your problem is? You can't live with the idea that someone might leave.” ― John Green, An Abundance of Katherine


*******************************************


Ada yang lebih pedih, dari cinta yang tak berbalas? Tentu ada. Salah satu di antaranya, mungkin ditinggalkan saat cinta sedang mencapai titik puncaknya. Bagaimana tidak, saban hari kita dipersilakan untuk mencintai, memuji, dan membayangkan hal-hal indah lainnya. Hingga pada suatu titik, saat sudut terlemah kita —yang tak pernah membayangkan kemungkinan-kemungkinan pahit— tidak pernah benar-benar terjaga, dihantam dengan satu kenyataan yang bertolak belakang dengan pengharapan. Blam. Semua hancur. Seketika.

Belum lama ini, sosok yang menyerang sudut terlemah saya bernama Antonio Conte. Ia pertama kali membuat saya jatuh cinta pada 2000. Pada sebuah laga penuh gengsi tak lama setelah pekan pembukaan liga, tendangan Conte dari pinggir kotak penalti di menit 89 berhasil menembus sudut kiri jala Christian Abbiati. Laga berakhir imbang, 2-2 untuk Juventus dan A.C Milan. Tapi malam itu, seorang supersub yang baru saja sembuh dari cidera parah berhasil memukau hati bocah ingusan umur 8 tahun, lewat tendangan spektakulernya.

11 tahun berselang, ia kembali ke Juventus. Kali ini statusnya sebagai pelatih. Setelah berpetualang —sembari menimba ilmu bersama Bari, Siena, dan Atalanta, akhirnya Conte kembali ke tempat yang ia sebut sebagai ‘rumah’. 14 tahun berkarir di Turin, pria kelahiran Lecce ini berhasil merengkuh semua trofi bergengsi di tingkat klub. Mulai dari gelar Serie-A, Coppa, Super Coppa, UEFA Cup, Champions League, UEFA Super Cup, Intercontinental, bahkan sampai Intertoto. Pernah menjabat sebagai kapten dan menjadi pemain kunci selama satu dekade lebih, Conte menjadi salah satu simbol terpenting dalam sejarah klub. Gaya bermainnya jauh dari kategori elegan ala kompatriotnya di lini tengah, Zidane. Pun tak memiliki naluri mencetak gol setajam Del Piero, Inzaghi, atau Trezeguet, tapi ia dikenal memiliki grinta —semangat juang yang merepresentasikan identitas klub. Marcelo Lippi pernah berujar, semasa jadi pemain, Conte memiliki tekad yang begitu kuat untuk meraih kemenangan, jauh melebihi siapapun di dalam tim. Untuk alasan itulah, ia memberi nama putrinya Vittoria —yang berarti kemenangan.

Conte datang ke Juventus dengan satu misi yang jelas: mengembalikan momen kejayaan klub sebagaimana mestinya. Berbekal stadion baru dan manajemen yang mumpuni, Conte berhasil menempatkan Juventus ke kasta tertinggi di Italia —setelah bertahun-tahun sebelumnya terseok-seok di kubangan papan tengah dan jerat pemain medioker. Dalam kurun waktu 3 tahun, Conte berhasil menorehkan catatan fantastis. 3 gelar Serie-A secara beruntun, 2 gelar Super Coppa, satu musim tak terkalahkan, dan —yang paling sensasional, berhasil memecahkan rekor poin tertinggi klub Serie-A dalam satu musim, 102 poin. Sebuah pencapaian yang bahkan tidak bisa digapai oleh deretan pelatih hebat macam Marcelo Lippi, Trapattoni, Ancelotti, Carcano, atau Capello. Dan hebatnya, Conte menorehkan prestasi itu bersama skuat yang tidak memiliki dimensi internasional, sebagaimana skuat milik pelatih sebelumnya. Kita mengenal Del Piero, Zidane, Vialli, Montero, Davids, Deschamps, Trezeguet pada Juventus era Lippi, atau Cannavaro, Vieira, Emerson, Nedved, Ibrahimovic pada Juventus era Capello. Tentu, sekarang kita bisa menyebut Buffon, Pirlo, Vidal atau Chiellini, tapi bisakah Anda membayangkan, Juventus meraih gelar 2011/2012 bersama Estigarribia, Matri, Boriello, dan Pepe sebagai andalan?

Lantas, apa yang menjadikan skuat milik Conte ini spesial? Jawabnya adalah: Conte itu sendiri. Dalam tulisan ini, Anda bisa menyimak bagaimana Conte menjadi egosentrisme taktik Juventus dari tahun ke tahun. Bagaimana ia ‘menendang’ pemain tenar macam Krasic/Elia dan lebih memilih Giaccherini/Pepe, bagaimana ia menempatkan Bonnuci, Vidal, dan Pogba dalam posisi terbaiknya, dan memilih kolektivitas tim dalam mencetak gol di dua tahun pertamanya. Namun kelebihan Conte bukanlah dari segi taktikal, melainkan pendekatan personal dan karakter. Sesuatu yang tidak dimiliki Ranieri, Del Neri dan Zaccheroni.

Conte adalah elemen fundamental dalam kebangkitan Juventus. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Turin, tugas pertamanya bukan untuk mengubah taktik, tapi memperbaiki mentalitas tim. Pavel Nedved yang sudah lebih dulu bergabung dengan manajemen tim mengatakan, salah satu penyebab kegagalan Juventus pasca Calciopoli adalah masalah mental. Menurutnya, pemain baru belum mengerti makna mengenakan seragam Juventus, sedangkan pemain lama kehilangan gairah untuk menularkan grinta yang mereka miliki kepada pemain baru. Conte paham betul akan hal ini. Sejak masih bermain, ia sadar bahwa ketika mengenakan seragam Juventus, kalian harus dituntut untuk menang —apapun yang terjadi. Apalagi, ia merupakan penggemar Juventus sejak masih remaja. Dalam suatu perlombaan melukis di Lecce, Conte muda pernah melukis Roberto Bettega sebagai sosok idolanya. Sejak remaja ia sudah mengenal kultur kemenangan yang ada di dalam diri La Vecchia Signora. Karena sesuai perkataan legenda hidup Juventus, Giampiero Boniperti, yang kemudian dijadikan slogan klub: Alla Juventus, vincere non è importante. È l'unica cosa che conta. Di Juventus, kemenangan bukan menjadi hal yang penting, tapi jadi satu-satunya hal yang berarti.

Saya tak pernah sangsi, akan kemampuan Conte untuk memperbaiki mentalitas tim. Karena sejak menjadi pemain, ia memiliki kemampuan itu. Luciano Moggi pernah berujar, “Zidane adalah seorang pemain bintang, tapi di ruang ganti, ia bukan seorang pemimpin. Di lapangan dan di ruang ganti, pemimpin sesungguhnya adalah Conte. Ia tahu bagaimana harus berbicara dan membakar semangat pemain lain.”

Saat menjadi pelatih, Conte menjadi Conte. Karakternya tidak berubah, hanya saja ia mempelajari gaya pelatih lain. Dalam bukunya, Testa, Cuore e Gambe, Conte menjadikan Van Gaal sebagai panutan. Menurutnya, seorang pelatih harus menjadi poros utama dalam sebuah kesatuan tim. Ia harus menjadi pemimpin —yang mana kehendaknya, adalah satu-satunya hal yang dijadikan acuan dalam melakukan apapun. Dan tentu saja, ‘arogansi ala Van Gaal’ ini tidak mentolerir segala pembangkangan dari pelbagai pihak. Maka dari itu, hal pertama yang akan ia bangun adalah mentalitas tim.

Testimoni mengenai karakter melatih Conte, pernah dituliskan dengan jelas dalam buku biografi Andrea Pirlo, I Think Therefore I Play. Pirlo mendeskripsikan Conte sebagai sosok pelatih yang tidak pernah merasa senang, karena selalu marah dan berteriak ke semua pemain di ruang ganti; meskipun sedang dalam posisi unggul. Menurutnya, Conte adalah sosok pekerja keras yang sangat mencintai Juventus, sampai-sampai ia pernah berujar, “Saya tidak paham, apakah Conte itu seorang pelatih atau penggemar berat Juventus. Ia selalu memikirkan tim ini, sampai ke detail kesalahan yang pernah kami perbuat. Ia melakuan itu, bahkan ketika tidak berada di lapangan dan sampai berhari-hari. Conte sangat benci kekalahan.” Bersama Buffon, Pirlo menempatkan Conte sebagai pelatih terbaik yang pernah menanganinya. Sebuah gelar prestisius, mengingat mereka berdua pernah dilatih oleh deretan pelatih top macam Ancelotti, Prandelli, Trapattoni, Capello dan Lippi.

Seperti yang sudah saya sebut sebelumnya, metode kepelatihan Conte ini berbuah sukses. Juventus melaju kencang di Italia, dan mentalitas juara yang selama ini hilang berhasil disematkan kembali ke dalam jati diri masing-masing pemain. Semua diraih dalam kurun waktu 3 tahun. Namun, deretan prestasi ‘instan’ ini tidak serta merta menghilangkan adanya kemungkinan ‘cacat tak terlihat’ di dalam klub. Perlahan-lahan, suara sumbang dari sana-sini mulai terdengar.

Yang pertama muncul, tentu soal target prestasi. Atmosfer Serie-A yang tidak kompetitif, membiarkan Juventus melaju kencang seorang diri di Italia. Bagi sebagian kalangan, hal ini tidak menjadi masalah —apalagi yang pernah merasakan/menyaksikan pahitnya turun kasta ke Serie-B. Tapi bagi pribadi ambisius macam Conte, hal ini tentu saja mengganjal. Sejak memenangi scudetto pertamanya, ia langsung menyatakan keinginannya untuk melebarkan sayap di kancah Eropa. Sejumlah nama ia sebut, sebagai daftar pemain yang harus menjadi target belanja Marotta dan Paratici. Mulai dari Robin van Persie, Cavani, Tevez, Higuain, sampai Aguero. Di tahun kedua Conte, Juventus mendatangkan pemain yang dinilai mampu memperbaiki titik lemah di sektor kiri, Asamoah dan Peluso. Alih-alih mendatangkan penyerang kualitas wahid untuk mempertajam lini depan, manajemen ‘hanya’ mendatangkan kembali Giovinco, serta merekrut pemain dari galaksi lain, Nicklas Bendtner dan penyerang veteran Anelka. Beruntung, Juventus mampu meraih scudetto kedua, dan tampil cukup memuaskan di liga Champions, meski dilumat Bayern Muenchen di perempat final —yang akhirnya keluar sebagai juara. 

Di tahun ketiga, salah satu target lawas Conte, Carlos Tevez, berhasil didatangkan ke Turin. Meski menjadi tandem maut bersama Llorente—dengan total 39 gol dan meraih scudetto kali ketiga secara beruntun, nyatanya Juventus tidak bisa berbuat banyak di Eropa. Sneijder dan salju di Turki, menghempaskan mimpi Juventus untuk melangkah ke babak perdelapan final. Bahkan saat ‘turun kasta’ di Europa League, Conte harus merelakan timnya kandas oleh Benfica. Menyedihkan, mengingat final Europa League sendiri berlangsung di Juventus Stadium. Hasil ini tentu membuat Conte geram. Bahkan di penghujung musim, ia terang-terangan mengatakan bahwa scudetto kali ini tidak cukup membuat dirinya merasa senang. Menurutnya, ia perlu amunisi yang lebih komplet di musim depan, agar bisa berbicara banyak di kancah Eropa. Untuk kali pertama, spekulasi mengenai pengunduran diri Conte berhembus. Kepada media, Conte mulai melancarkan pernyataan-pernyataan multitafsir. Entah karena ingin memberi tekanan kepada manajemen untuk segera menuruti permintaannya, atau memang murni karena ingin hengkang.

Jika ditelusuri lebih dalam, sebetulnya tuntutan untuk melangkah jauh di Eropa, tidak pernah diutarakan oleh manajemen tim. Dalam pidato pembukaan jelang musim 2013/2014, Presiden Andrea Agnelli berkata bahwa target utama Juventus adalah scudetto ketiga secara beruntun, bukan melangkah jauh di Eropa. Saya rasa, manajemen tim paham betul bahwa kesuksesan di Eropa tidak datang secara instan —sebagaimana sukses di Italia. Kasus Atletico dan Dortmund mungkin sebuah anomali, tapi pada kenyataannya, mereka ‘hanya’ melangkah sampai babak final; gelar juaranya tetap milik klub yang memang pantas menyandang gelar klub terbaik di Eropa, Bayern dan Real Madrid. Dan fondasi kedua klub tersebut, tidak dibangun dalam setahun atau dua tahun. Hasil yang mereka dapatkan adalah buah dari proyek jangka panjang. Mr. Trap bahkan baru bisa memenangi gelar Eropa pertamanya, setelah 10 tahun menukangi Juventus.

Lantas, ini ambisi siapa?

Dalam kunjungannya ke Turin beberapa bulan lalu, David Trezeguet pernah menjelaskan alasan, kenapa Conte sangat tergila-gila dengan gelar Eropa. “Semasa menjadi pemain, Antonio pernah mencapai babak final sebanyak empat kali (1997, 1998, 1999, 2002). Sedangkan saya, baru sekali —di 2002. Tapi saya masih memiliki penyesalan yang amat mendalam soal itu, saya tak akan lupa bagaimana kami kalah melawan A.C Milan di babak adu penalti. Berkaca pada saya, bisa kalian bayangkan perasaan Antonio? Pantas jika ia sangat berambisi mengejar gelar Eropa.” Tentu, saya tidak menjadikan pernyataan Trezeguet ini sebagai satu-satunya pembenaran atas ambisi Conte. Tapi setidaknya, saya paham dari mana sebagian besar rasa penasaran Conte akan gelar Eropa berasal.

Jika Anda mengikuti Seria-A dalam tiga tahun belakangan, tentu akan paham betul bahwa Juventus benar-benar melaju seorang diri. Di musim 2011/2012, Juventus memuncaki klasemen dengan selisih 4 poin dengan tim peringkat kedua, A.C Milan. Di 2012/2013, selisih poin Juventus dengan tim peringkat kedua, Napoli, sebanyak 9 poin. Sedangkan di musim 2013/2014, Juventus menorehkan selisih 17 poin dengan klub yang tampil sensasional di bawah asuhan Rudi Garcia, A.S Roma. Padahal, A.S Roma sendiri memiliki selisih poin yang cukup besar dengan klub peringkat tiga, Napoli, yaitu sebanyak 7 poin. Praktis, selama tiga tahun belakangan, perebutan tempat ketiga, zona UCL, atau siapa yang lolos dari zona degradasi menjadi lebih menarik untuk ditonton di Serie-A. Membosankan? Untuk pelatih seambisius Conte, bisa jadi. Sesekali saya membayangkan, apabila Juventus gagal merengkuh gelar ketiga atau kedua, mungkin saja ambisi Conte untuk merajai Italia masih tetap terjaga. Mungkin.

Dan benar saja, Conte akhirnya tiba pada titik lelahnya. Pada 16 Juli, Conte resmi mengundurkan diri sebagai pelatih Juventus. Dalam video yang diunggah di kanal YouTube tim, ia mengucapkan salam perpisahan dan memberikan ucapan terima kasih kepada semua elemen tim yang pernah bekerjasama dengannya. Presiden, staf kepelatihan, pemain, bahkan sampai pengurus stadion dan pemotong rumput lapangan. Hanya dua sosok yang tidak ia sebut, Beppe Marotta dan Fabio Paratici —duet paling berpengaruh dalam kebijakan transfer klub. Hal ini, jelas menimbulkan spekulasi: apakah kebijakan transfer kali ini, mempengaruhi keputusan Conte untuk mengundurkan diri?

Apabila menyimak video perpisahan Conte, tentu pendapat tadi terbantahkan. Dalam video tersebut, Conte menyatakan bahwa ia mundur karena merasa tidak lagi memiliki energi untuk membawa Juventus ke dalam performa terbaiknya. Ia merasa lelah, karena Juventus selalu menututnya untuk menang —dan kadang terasa menyakitkan. Apalagi kawan baiknya, Gianluigi Buffon juga menyertakan argumen pendukung. “Dari nada berbicaranya, saya bisa melihat bahwa ia kelelahan, dan tidak memiliki energi lagi untuk membawa tim ini menjadi juara. Ini pukulan telak bagi seluruh tim.” Namun, argumen ini terkesan normatif. Tidak mungkin, sosok haus kemenangan seperti Conte kehabisan ‘bahan bakar’ untuk melaju kencang di arena kompetisi. Belajar dari pengalaman, Conte tidak pernah blak-blak’an kepada media, apalagi sejak dituduh terlibat dalam skandal pengaturan skor sewaktu menjabat pelatih Siena 2011 silam. Conte sedikit memberi jarak dengan media, apalagi terkait hal-hal yang bersifat pribadi seperti ini.

Kembali pada spekulasi awal, menurut saya Conte memang hengkang karena kebijakan transfer. Conte telah berada di titik puncak, di mana ia memang tidak bisa melangkah lebih jauh jika tidak ada perubahan signifikan. Dan sedari awal, wish-list Conte memang belum bisa dipenuhi oleh manajemen. Bagaimana tidak, Alexis Sanchez —pemain yang sudah getol diburu Conte sejak berseragam Udinese, gagal digaet Juventus dengan alasan finansial, pun dengan pemain incaran Conte yang lain, Cuadrado dan Iturbe. Sanchez, Cuadrado dan Iturbe adalah opsi kesekian Conte, setelah manajemen ‘memaksa’ dirinya untuk putar otak memaksimalkan potensi yang ia miliki. Sejak awal datang ke Juventus, Conte memang berniat untuk menggunakan taktik 3-5-2, seperti yang pernah ia tulis dalam tesis kepelatihan di Coverciano. Dalam skema ini, ia menjadikan 3-5-2 ala Brazil 2002 sebagai acuan; tiga centre-back kualitas wahid, tiga midfielder yang diapit dua fullback dengan kemampuan bertahan dan menyerang yang mumpuni, kemudian satu seconda punta dan satu prima punta. Conte tak pernah memiliki masalah berarti dengan tiga barisan lini belakang, pun dengan tiga gelandang yang ada di depannya. Yang selalu menjadi masalah adalah, dua fullback dan duet penyerang yang ada di depan. Dari tahun ke tahun, sektor ini terus mengalami perubahan. Conte tak pernah mendapatkan pemain yang benar-benar ia incar, kecuali Tevez dan Llorente di tahun ketiga. Mulai dari Esti & Pepe, beralih ke Asamoah & Lichsteiner, dari Vucinic & Matri – Giovinco & Vucinic sampai akhirnya duet sempurna El Apache & El Rey Leon. Skema 3-5-2 idaman Conte, memang mencapai transformasi paling sempurna di tahun ketiga. Namun nyatanya, skema ini menjadi mudah terbaca dan tidak sanggup berbuat banyak ketika dipakai di kancah Eropa.

Contohnya, saat Juventus bertemu Bayern Muenchen dan Real Madrid. Kala berjumpa Bayern, Conte harus menghadapi kenyataan bahwa 3-5-2 miliknya tak berarti apa-apa di hadapan 4-2-3-1 milik Heynckes. Ribery dan Robben, malam itu menjadi mimpi buruk bagi lini belakang Juventus. Duet winger berkecepatan penuh seperti mereka, tak pernah Juventus temukan di kompetitornya di Serie-A. Di musim 2013/2014 —pasca ditaklukan 4-2 oleh Fiorentina di Artemio Franchi, wacana Conte untuk mengubah taktik semakin mengerucut. Eksperimen pertamanya di Eropa, saat bertandang ke Madrid. Meski kalah 2-1, skema 4-3-3/4-5-1 miliknya menuai hasil yang tidak begitu mengecewakan. Semenjak pertandingan itu, Conte —dan diiyakan oleh banyak pandit, berencana untuk menyempurnakan taktik 4-3-3, dengan syarat mendapat sokongan pemain berkualitas dari manajemen. Maka, diincarlah nama-nama seperti Evra, Cuadrado, Sanchez, Morata dan Iturbe.

Namun apa daya, beberapa hari sebelum Conte mengundurkan diri, nampaknya tidak ada gayung bersambut dari manajemen. Bahkan hingga saya menulis artikel ini, belum nampak tanda-tanda salah satu di antara mereka —minus Sanchez, bakal hengkang ke Turin. Apalagi, berita terbaru menyebutkan bahwa Iturbe kini resmi berbaju Roma, dengan kontrak senilai €22m (dengan tambahan pembayaran tahap ketiga sebesar €8m, atau total sekitar €3om). Bahkan, dikabarkan Juventus akan melego salah satu di antara Vidal atau Pogba, sebelum bisa belanja secara leluasa di bursa transfer pemain musim panas nanti.

Kaget? Tentu. Namun jika menilik alasan tersebut, nampaknya Conte memang tidak lagi sejalan dengan manajemen klub. Ingat prinsip melatih Conte tadi. Karakter bossy yang terkesan arogan ala Van Gaal itu, menempatkan titah pelatih sebagai rujukan utama. Ini masalah prinsip yang sifatnya sangar mendasar. Dan ketika prinsip itu ditawar —atau bahkan diinjak-injak, tentu pemiliknya akan gusar. Pun dengan Conte. Terdengar pongah memang, tapi itulah jalan yang diambil Conte. Pria yang ingin mengembalikan identitas juara Juventus dengan caranya sendiri, dan terbukti berhasil.

Manajemen klub telah menunjuk Massimiliano Allegri sebagai suksesor Conte. Betul, mantan pelatih Milan yang selalu berdiam diri saat timnya menang, seri, ataupun kalah itu. Betul, yang sering saya ledek semasa menjabat di Milan itu. Iya, Massimiliano Allegri yang itu. Semenjak resmi menjabat sebagai pelatih Juventus, saya mencoba berpikir jernih, dan sesegera mungkin mencari kelebihan yang dia miliki, atau apapun, yang setidaknya bisa membuat saya sedikit tenang. Persis seperti anak kecil yang mengunggul-unggulkan mobil-mobilan dari kulit jeruk buatannya sendiri, setelah menangis karena tak pernah dibelikan mobil remote control oleh orang tuanya. Seteleh mencari di pelbagai sumber, akhirnya memang ada beberapa argumen pendukung yang bisa membuat saya menjadi sedikit tenang. Ah, hasil mengulik kelebihan Allegri tadi nampaknya tidak perlu saya tulis di sini. Biarkan saja. Biarkan mobil kulit jeruk itu melaju dengan caranya sendiri, tanpa perlu saya tuntun.

Mulai detik ini, saya harus membiasakan diri mendengar teriakan “Dai, dai, dai!” milik Allegri —yang tersohor itu dari pinggir lapangan. Tak akan ada lagi, sosok pria berambut tipis yang akan siap meloncat ke siapapun yang ada di dekatnya, apabila pemainnya mencetak gol; tak akan ada lagi, pria berambut tipis yang ditelanjangi di ruang ganti —dan diceburkan ke kolam renang saat perayaan scudetto; tak akan ada lagi pintu ruang ganti yang akan ia pukul dengan botol minuman saat jeda babak pertama tiba; tak akan ada lagi pria berambut tipis yang langsung menghampiri dan berjabat tangan dengan wasit —sesaat setelah peluit pertandingan tiba, apapun hasilnya, tak akan ada lagi pria berambut tipis yang langsung memeluk erat semua pemainnya. Tak akan ada lagi Antonio Conte; pria berambut tipis yang telah menjadi ikon klub ini selama dua dekade. Grazie il’ capitano, grazie!

Jika bicara harapan, tentu saya berharap Allegri menjadi Pep di masa peralihan Barca dari Rijkaard. Di mana ia hanya tinggal meneruskan fondasi kuat yang sudah dibangun dalam skala tahunan, tanpa perlu memoles kelewat jauh. Atau mungkin, Lippi pasca mendapat warisan skuat juara dari Mr. Trap pada 1994. Jangan sampai, ego miliknya menghancurkan tatanan solid tim, sebagaimana yang dilakukan Pep pasca Bayern ditinggal Heynckes. Atau kalau mau berdelusi, saya tentu mengharapkan Conte hanya rehat selama setahun, untuk kemudian kembali ke Juventus dalam kondisi yang lebih matang. Sebagaimana yang dilakukan Lippi di 2001.

Apapun itu, keputusan telah diambil. Saya harus menghadapi kenyataan, bahwa Conte memutuskan untuk melangkah menggapai kesuksesan dengan caranya sendiri. Keputusannya sudah bulat, tak perlu disesali, karena disesali berulangkali pun yang akan saya dapatkan tetap Massimiliano Allegri. Nasi sudah menjadi bubur. Tapi setidaknya, mari berharap bahwa bubur buatan Allegri akan menghantarkan kita semua naik haji.

Rabu, 12 Juni 2013

Mencoba Mengerti Marco Veratti


Mini-Vidic, is that you?

Sebelum Anda berpikir untuk meninggalkan laman ini karena judulnya yang gak banget — atau bisa dikatakan lebih mirip judul artikel sisipan majalah remaja wanita, yang berdampingan mesra dengan kolom “Zodiak Kamu Hari Ini” — percayalah, saya sudah berulang kali ketik-hapus-ketik-hapus judul, mulai dari: “Marco (O)Verrat(ed)ti”, “Marco Overrated Veratti (?)”. Terlihat rumit dan susah dibaca?Coba lihat ini:“Marco Veratti yang Ingin Dimengerti”Geli? Sama. Jadi saya pikir, judul yang saya pilih ini sudah yang terbaik. Harap maklum.

Adalah Zdenek Zeman, yang bertanggung jawab atas gelar “The Next Andrea Pirlo” yang disandang Verratti sejak umur 19 tahun. Ia yang pertama kali mengubah posisi Verratti dari central midfielder menjadi deep-lying midfielder. Mengingat ia memang memiliki teknik, visi, dan juga akurasi passing di atas rata-rata, Veratti nampak tidak kesulitan ketika beradaptasi dengan posisi barunya. Malah kalau boleh dibilang, lebih nyetel dibanding dengan penempatan posisi sebelumnya. Bersama Insigne dan Immobile, ia berkontribusi untuk membawa Pescara promosi ke Serie-A dengan status jawara Serie-B. Prandeli bahkan pernah mencantumkan namanya ke dalam 32 skuat yang dibawa Italia ke Euro 2012, sebelum akhirnya dicoret bersama 6 pemain lain, karena alasan seleksi dan perampingan tim.

Selayaknya animo calon mahasiswa baru saat jumpa dengan penjaja buku — atau lebih tepatnya kumpulan fotokopi buram — “Tips Sukses SNMPTN” seharga 15-ribuan di kala mengantre daftar masuk kuliah, Marco Verratti pun mendadak menjadi incaran banyak klub karena berada dalam “waktu jual” yang tepat. Juventus, Napoli, dan PSG secara terang-terangan menyatakan ketertarikan mereka untuk menggunakan jasa pemuda kelahiran Manopello, Pescara ini. Saat itu, fans Juventus boleh sedikit jemawa karena saat transfer-market berlangsung, beredar luas foto Verratti cilik yang tengah mengenakan jersey Juventus + berbagai kutipan tentang ketertarikannya untuk bermain di klub idola semasa kecilnya itu. PHP level: comeback CR7 ke Old Trafford.
Napoli pun nampak enggan kalah dalam perburuan. Bahkan menurut kabar yang beredar, De Laurentiis sempat menginstruksikan kepada Lorenzo Insigne untuk membujuk Veratti secara personal. Mungkin tentang ajakan untuk kembali mengulang masa kejayaan di Pescara bersama-sama di Naples. Mungkin.

Namun ibarat pria berseragam orange dengan peluit di tangan yang-mendadak-entah-muncul-darimana saat kita ingin memarkirkan/meninggalkan kendaraan di lokasi parkir, PSG tiba-tiba muncul dan menyeruak dalam perburuan Marco Verratti.  Memang betul, pada saat bersamaan Ancelotti dan beberapa nama besar di Serie-A melakukan eksodus besar-besaran ke Paris, tapi siapa yang mengira kalau seorang pemuda berumur 20 tahun yang bahkan belum pernah mencicipi atmosfer liga kelas wahid di negaranya, bakal ditawari untuk hijrah ke luar negeri dan — lebih mencengangkan lagi — dibanderol 12M?

Tentu saja Napoli dan Juventus mundur teratur ketika mendengar Verratti sudah dibanderol €12M oleh PSG. Lebih-lebih, urusan transfer Juventus di-handle oleh Beppe Marotta. Sedari dulu, ia memang terbiasa menangani urusan transfer klub dengan keuangan yang biasa-biasa saja (Venezia, Atalanta, Sampdoria) baginya sangat pantang untuk berjudi mengeluarkan uang jumlah besardemi pemain yang belum teruji betul kualitasnya. “Kalau bisa gratis, kenapa harus membayar” adalah salah satu prinsip yang ia pegang teguh, bahkan sampai ia menangani Juventus saat ini. Sebagai perbandingan, dana yang digelontorkan PSG untuk membeli Marco Verratti lebih mahal dibandingkan harga pembelian ke-empat pemain kunci Juventus: Arturo Vidal (€10.5M), Andrea Barzagli (€500K), Andrea Pirlo (Free). dan Paul Pogba (Free).Overrated and overpriced, eh?

************
Verratti pun hijrah ke Paris. Keputusan yang disayangkan oleh banyak pihak di Italia ini, juga diikuti oleh beberapa keraguan. Sebagai contoh, di awal musim saat Ancelotti menerapkan skema 4-3-3, banyak yang mempertanyakan dimana Verratti akan bermain?Skill terbaiknya sebagai pemain poros, diragukan tidak akan muncul ketika ia ditempatkan dalam skema seperti ini, lebih-lebih jika ia ditempatkan melebar.
 Pada skema 4-3-3, Veratti jarang menempati posisi utama. Terhitung ia hanya dipasang sebagai starter sebanyak 3x, saat PSG mengawali laga dengan formasi ini. Posisinya terlalu jauh didapuk di depan. Verratti sendiri padahal pernah berkata “Saya nyaman berada di depan daerah pertahanan. Saya bisa dengan lebih leluasa melihat ruang dan memberikan supplai bola kepada pemain lain. Saya rasa, daerah itu — turun ke dalam, sebelum garis tengah lapangan — titik maksimal posisi saya.Saya kurang cepat dan tak sanggup untuk naik lebih ke depan.” Dari 7x bermain menggunakan skema seperti ini, PSG mencatat hasil yang kurang bagus; 3x menang, 3x seri, dan 1x kalah. 

Tapi Ancelotti bukanlah pelatih kemarin sore yang baru saja lulus kursus kepelatihan sepakbola, dia adalah seorang jenius yang tahu benar bagaimana caranya untuk memaksimalkan potensi yang ada di dalam timnya.
Pasca menorehkan hasil buruk dengan skema 4-3-3, PSG lantas bermain dengan skema 4-1-2-1-2. Don Carlo nampaknya jelas melihat Veratti tidak nyaman bermain sebagai central midfielder. Ditempatkanlah ia sebagai deep-lying-playmaker dengan Chantome dan Matuidi sebagai ‘pelindung’-nya. Perubahan gaya bermain ini membawa hasil yang sedikit lebih bagi PSG. Verratti pun mampu bermain sebagaimana mestinya. Satu-satunya problem di skema permainan ini adalah: Javier Pastore nampak tidak terlalu nyetel dipasang sebagai Trequartista di belakang Ibra dan J.Menez. Linking-up-play antara Pastore – Ibra – Menez tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Di bursa transfer musim dingin, PSG mendatangkan (another-overrated-overpricred) wonderkid yang berasal dari Sao Paolo Brazil: Lucas Moura. PSG yang sedang bertransisi formasi — dari 4-1-2-1-2 ke 4-2-2-2 — tentu mendapat amunisi tambahan yang cocok dengan apa yang sedang mereka butuhkan. Hal ini tentu membuat sang manajer sumringah. Saya membayangkan, raut wajah gembira Ancelotti kurang lebih sama seperti ekspresi bocah umur 9 tahun yang akhirnya mendapatkan kartu ekstra-langka: Mew, sebagai pelengkap dan penutup koleksi 150 kartu Pokemon yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah.Mulai dari sini, Verratti mulai menunjukkan alasan kenapa ia bisa menyandang gelar “The Next Pirlo”.

Dua pemain di depan 4 pemain bertahan — atau yang biasa disebut double pivot — sama-sama bertugas untuk mensupport defense. Tapi masing-masing dari mereka, juga mengemban amanah tersendiri dari pelatih: satu pemain lebih terfokus untuk mengacaukan arus serangan lawan, satu pemain lagi ditugaskan untuk mendistribusikan bola kepada lini depan. Di PSG, tugas ini dijalankan dengan baik oleh duet Verratti dan Matuidi. 

Matuidi adalah salah satu kunci kenapa Verratti bisa bermain dengan aman. Kemampuan holding ball dan juga intercept-nya, ditambah dengan kemampuan tackle-nya yang di atas rata-rata. Ia adalah pemilik rataan tackle per match terbanyak di PSG, dengan total 123 tackle, atau rata-rata 3,3 tackle per match. Total intercept-nya pun tertinggi di PSG, dengan total 131 intercepts, atau 3,5 intercept per match, bahkan jauh di atas centre-back terbaik mereka, Thiago Silva. Matuidi juga berperan baik menjadi physical link bagi Veratti.
Sedangkan Verratti sendiri, berada lebih dekat dengan back-four dan juga berkonsentrasi untuk mendistribusikan bola ke depan sembari melihat ruang untuk kemudian melepaskan passing jarak jauh. Suplai bola ke Pastore/Moura juga sangat bergantung dari pergerakan bocah yang bagai Chicarito dibelah dua ini.Inilah salah satu keuntungan — yang juga bisa jadi kerugian — bagi tim yang menerapkan skema “4 midfielders in a  ‘square’ formation”: Arus serangan, sangat bergantung dari pergerakan 4 pemain ini; lebih-lebih pada salah satu dari mereka yang memang ditugaskan untuk mendistribusikan bola ke berbagai lini.

Skema 4-2-2-2 juga selalu menuntut seorang pemain depan untuk tidak hanya menjadi seorang penyerang, tapi juga menjadi pemain yang mampu beradaptasi dengan attacking midfielder yang seringkali berubah-ubah menjadi winger. Karena jika tidak, akan begitu nampak ‘lubang’ di antara 6 pemain bertahan dan 4 pemain menyerang, lebih-lebih jika para pemain tipikal penyerang ini enggan turun untuk membantu lini pertahanan. Beruntung, Lavezzi dan Ibra adalah pemain yang tidak keberatan untuk wara-wiri turun ke lebih dalam, hanya untuk mempersempit ruang gerak pemain lawan di daerah pertahanan, sembari berusaha untuk ‘jemput bola’.

************

Di perhelatan Euro U-21, semua mata pasti tertuju pada talenta-talenta muda yang digadang-gadang akan menjadi pemain besar dunia. Tidak terkecuali pada Marco Verratti. Di skuat Italia, namanya cenderung lebih mentereng dibandingkan pemain-pemain lain. Sekalipun Italia U21 punya deretan nama yang tidak kalah tenar, seperti Insigne, Destro, Marrone, Borini, dsb.Lagi-lagi, julukan “The Next Andrea Pirlo”juga menjadi alasan kenapa banyak orang menaruh perhatian pada pemain yang satu ini. Publik ingin melihat, bagaimana aksi dan “kadar-kemiripan-gaya-bermain-ala-Pirlo” yang dimiliki oleh Verratti. Ekspektasi publik Italia dan pecinta sepakbola, tentu melambung tinggi. 

Di awal laga melawan Inggris — sekalipun Italia hanya unggul 1-0 lewat eksekusi bola mati — Verratti tampil tidak mengecewakan.Meski pergerakannya selalu diganggu dan dibayangi oleh Shelvey, tugasnya untuk mendistribusikan bola ke berbagai lini tetap mampu ia lakoni dengan apik. Successful passes Verratti mencapai angka 121. Bandingkan dengan pengumpan terbaik Inggris, Henderson: 44 (yah, namanya juga timnas Inggris).Hanya sayang, lini-depan Italia tampil kurang menggigit malam itu. Borini nampaknya lupa, saat itu ia bermain dan berseragam untuk Gli Azzuri, bukan untuk Liverpool.Jadi, tak perlu ia menyesuaikan diri dengan sering membuang peluang dan bermain serampangan. Pun demikian saat bermain melawan Israel. Bukan hanya berperan jadi distributor bola, ia juga ikut turun membantu 2 centre back di belakangnya, untuk kemudian mempersilakan fullback naik membangun serangan. 

PSG dan Italia U-21, tentu masih jauh dari gaya bermain Verratti-sentris, seperti pengaruh seniornya Andrea Pirlo ketika bermain di Juventus maupun Italia senior. Namun, ada beberapa tugas yang diemban Pirlo, juga mampu dikerjakan dengan baik oleh Verratti. Baik dari gaya bermain, visi, akurasi passing, kemampuan untuk turun membantu daerah pertahanan. Tapi, ada beberapa aspek selain jenggot dan pengalaman bermain milik Pirlo, yang tidak dimiliki Verratti: kemampuan membuat peluang. Karena memang lebih sering berkutat dengan daerah pertahanan, chance rate milik Verratti hanya 15; bandingkan dengan rataan milik Pirlo, 74. Sekalipun nampak seperti orang yang lari-lari santai keliling komplek, Pirlo memang memiliki kemampuan yang sama baiknya ketika membaca serangan dan membangun serangan. Aspek nomer 2 inilah, yang belum begitu menonjol dalam diri Verratti. In case, jika memang dia “disamakan” dengan Andrea Pirlo.

Belakangan ia bilang bahwa ia mengidolakan Andrea Pirlo, tak lebih dari ia mengidolakan David Pizarro. Verratti kagum akan kemampuan playmaker Fiorentina asal Chili itu, yang sangat sulit kehilangan bola, sekalipun berada dalam kepungan lawan. Beberapa jurnalis sepakbola di Italia, bahkan lebih dulu mengatakan bahwa gaya bermainnya di Pescara cenderung lebih seperti Pizarro: lebih nyaman berada di depan back-four; sangat sering turun ke daerah pertahanan, sembari melakukan tackle dan mengambil boladengan cara yang sangat ‘rawan-kartu-kuning’. Tapi selain itu, ia juga adalah sosok diminutive deep-lying playmaker yang diberkahi dengan visi bermain dan kemampuan passing yang luar biasa. Mungkin kemampuan inilah, yang membuatnya lebih disamakan dengan dengan sang maestro— pemain yang belum tentu ada dalam 1 dekade sekali — Andrea Pirlo. Karena di Italia, akan lebih mudah menemukan pemain yang memiliki gaya bermain seperti Pizarro, dibanding menemukan pemain yang memiliki gaya bermain seperti Pirlo. Saya merasa, statement yang keluar dari mulut Verrati itu hanya bentuk ketidaknyamannya akan pelabelan sejumlah media.  Sehingga ia berusaha melepaskan “jerat Pirlo” yang ada di dalam dirinya, dengan menjadikan Pizarro sebagai perantaranya.

Saya sendiri bukan tipikal penikmat bola yang gemar melabeli talenta muda/pemain berbakat dengan titel “The Next”, sekalipun ada beberapa pemain yang gaya bermainnya mengingatkan saya dengan sejumlah pemain hebat. Melabeli mereka dengan titel seperti itu, buat saya hanya akan membatasi karir dan pencapaian empunya titel seakan-akan tidak bisa melampaui karir sang pemain yang dijadikan contoh. Iya kalau mereka memang jadi pemain hebat, bagaimana kalau nasib mereka seperti para pemain yang berlabel “The Next Pele”, ha? Bukankah hal itu hanya akan menjadi bahan lelucon dan materi segar untuk dibuat meme di akun-akun parodi sepakbola?

Jadi, marilah kita sedikit mencoba mengerti Marco Verratti. Biarkan ia bermain sebagaimana mestinya, dan jangan memberi beban ekspektasi yang terlalu berlebihan hanya karena ia memiliki gaya bermain dengan pemain lain. Toh bagaimanapun, ia adalah pemuda berumur 20 tahun yang baru saja rampung bermain di Serie-B, dan mendadak “dibajak” oleh klub kaya negeri seberang dengan harga yang tidak masuk akal untuk pemain seusianya. Asal tidak sering-sering menerima ajakan John Terry untuk keluar malam, perjalanan dan perkembangan karirnya tentu masih bisa berkembang pesat.

Yes , he is overrated& overpriced, but doesn’t mean he’s untalented. Just give the kid some damn time.


Kamis, 09 Mei 2013

Egosentrisme Taktik Ala Turin

Ill Capitano
Di dunia ini, tak ada yang abadi.
Dominasi pasukan Catalan, puasa gelar Robin van Persie, bahkan sampai pesona kecantikan Nadya Hutagalung yang dianggap imortal, pada waktunya nanti juga akan menemui masa kadaluarsa. Akan selalu tiba masa, dimana apapun yang sudah diklaim sebagai “paten” dan “pasti” akan mengalami peralihan. Satu-satunya yang pasti dari kepastian sendiri adalah ketidakpastian. Tidak hanya berlaku di jagad sepakbola, tapi juga berlaku di segala aspek kehidupan.

Tapi, bukan karena tak ada yang abadi, bukan berarti tidak ada yang tidak bertahan lama.

Romantisme Arsenal – Wenger – dan banner “In Arsene We Trust”, sorotan kamera ke arah Fergie dengan permen karet dan pipi merahnya di bench United, optimisme fans Liverpool dengan “musim depan EPL akan jadi milik kami’-nya yang terkenal itu, betahnya klub-klub Serie-A numpang di stadion milik pemerintah, masa kelam sepakbola Indonesia, ukuran botol Yakult, adalah salah satu dari sekian banyak hal di dunia ini yang — mungkin tidak akan bersifat —  abadi, namun pada kenyataannya sudah bertahan sekian lama. Bertahan pada sebuah paten, agar tetap berada pada koridor kepastian, adalah salah satu cara menghindari ketidakpastian; sekalipun nanti akan tiba masa dimana “paten” itu akan mengalami peralihan. Di jagad sepakbola, hal yang demikian adalah sesuatu yang lumrah.

Tapi nampaknya, ideologi Conte adalah sebuah anomali. Baginya, skema permainan Juventus tidak ubahnya gaya rambut Mitha The Virgin: selalu berubah-ubah di setiap kesempatan. Berikut beberapa skema permainan yang pernah Conte rancang selama 2 musim menukangi Juventus.

4-2-4: Flank, flank, flank.

Mengawali musim perdananya di Turin dengan skema all-out-attack 4-2-4, Conte masih sedikit mewarisi kebiasaan jaman Jahilliyah Juve era Del Neri – Secco, dengan fokus serangan lewat flank. Memang, kala itu tak ada lagi teriakan “MILOOOOOOOS!” khas Del Neri dari pinggir lapangan, untuk meminta Krasic menyusuri sisi kanan lapangan sembari berlari dengan kondisi NOS yang ada di kedua kakinya menyala. Conte tidak begitu suka dengan gaya bermain Krasic. Bagi Conte, pemain dengan tipikal ngotot dan grinta yang kental, selalu lebih baik dibanding pemain yang punya keunggulan skill di bidang tertentu: Krasic, Giaccherini, Elia – tipikal speed merchant, selalu kalah dibandingkan dengan Pepe, Estigarribia, atau bahkan Padoin. Sesuatu yang tentu sangat tidak lazim di formasi PES.

Di 4-2-4 milik Conte 11/12, ada beberapa hal yang menjadi sorotan saya. Di antaranya:

(-) Chiellini bermain bukan pada posisi aslinya, centreback, tapi dia ditempatkan sebagai fullback di sisi kiri. Hal ini sungguh disayangkan, mengingat menempatkan seorang CB murni menjadi fullback berarti harus mampu menyelaraskan antara menyerang dan bertahan. Chiellini sangat baik ketika ditempatkan di opsi kedua, namun tidak sebaik Ashley Cole ketika ditanya perihal opsi pertama.

(-) Bonucci tampil selayaknya medioker yang selalu gugup di setiap laga. Bersama Barzagli, dia menjadi duet centreback yang mengawal lini pertahanan Juventus paruh musim 11/12. Sepanjang musim 10/11, dia adalah salah satu alasan kenapa lini pertahanan Juventus nampak seperti pesakitan. Entah sudah berapa kali gaya ‘sekali-tebas-buang’-nya jadi malapetaka buat Buffon. Hanya Barzagli yang nampak tidak kesulitan dengan skema 4-2-4 ini. Tapi tidak dengan Bonucci. Saya seringkali berharap, Bonucci diculik seseorang dan ditempatkan dalam bunker setiap kali Juventus main dengan skema ini. Orang Jawa bilang, dia tampil hayub-hayuben.

(-) M-V-P (Marchisio, Vidal, Pirlo) tidak tampil sebagaimana mestinya. Sayang sekali dalam skema ini, salah satu dari Marchisio atau Vidal pasti jadi ‘korban’. Pirlo diplot berada central midfield bergantian dengan salah satu di antara Marchisio atau Vidal. Mengingat bagaimana ketiga manusia ini bekerjasama dengan sangat apik saat dimainkan bersama, 4-2-4 ini menjadi semacam kesia-siaan talenta yang ada di lini tengah.

(-) Konsistensi sungguh tidak akrab dengan flank kiri Juventus di skema ini. Chiellini yang bermain sebagai LB untuk menopang Estigarribia/De Ceglie di depan, jadi salah satu titik lemah Juventus di  4-2-4. Sebagaimana penggemar Maicih lvl.10 saat disuguhi Mie Instant dengan embel-embel “selera pedas”, gregetnya pasti kurang dan tidak berasa. Kira-kira seperti itu gambaran sisi kiri Juventus dalam skema 4-2-4.

(-) Sulit bagi fullback sekelas Lichtsteiner untuk overlap ke depan, ketika winger seperti Pepe sudah mendapatkan ruang lebih banyak. Agresivitas sisi kanan Juve berkurang, karena seperti yang kita ketahui bersama Lichtsteiner is a monster. Determinasinya menyusuri sisi kanan, baik ketika bertahan dan menyerang sama baiknya. Skema ini sulit membuat ke-khasan Licht itu nampak.

(+) Bisa menyaksikan penggunaan dua midfielder di tengah, yang sudah sangat jarang diterapkan pelatih modern. Pirlo era Milan sukses melakoni posisi ini, karena dia ditopang oleh seorang ‘so-called-gelandang-pengangkut-air’ semacam Gattuso yang terus menerus berlari dan mengcover sektor yang ditinggal Pirlo (kita tahu, melihat Pirlo berlari kencang kesana kemari merupakan salah satu  keajaiban dunia yang belum tentu kejadian dalam 10 tahun sekali). Di Juventus, tugas ini dicover dengan baik oleh Marchisio/Vidal. Sama-sama seorang petarung, dengan usia yang lebih muda. Di akademi Juventus, Il Principino ditempatkan sebagai trequartista, dan sangat jauh dari tipikal holding player. Maka dari itu, sekalipun skema ini menjadi menarik karena sudah jarang digunakan, hal ini menjadi sia-sia jika mengingat Juventus punya Vidal. Juve akan selalu butuh midfielder ke-tiga selama Conte masih ada di Juventus.

(+) Bagaimana lini tengah Juventus bisa mengcover ruang yang diciptakan lawan. Pertengahan 2007, Wenger pernah bilang: “Dengan menempatkan 4 gelandang di lini tengah — merujuk ke 4-4-2 miliknya pada waktu itu —  efisiensi covering space sebuah tim bisa mencapai angka 60%”. Memang secara kasat mata, 4-2-4 praktis hanya menyisakan dua midfielder sebagai penguasa lini tengah, dan dua winger sisanya berkonsentrasi bermain di flank. Namun jangan salah, Estigarribia/De Ceglie dan Pepe justru menjadi sosok yang pemain yang paling bisa menguasai ruang di skema ini. Masih ingat jelas dalam ingatan saya ketika Juventus melakukan comeback setelah tertinggal 2-0 dari Napoli, kemudian menjadi 3-3. Pemain kunci pada waktu itu adalah Pepe. Ia selalu bisa menemukan ruang, di saat Pirlo dan Vidal ‘melindungi’ dia dan memberikan kebebasan kepadanya untuk maju ke depan

(+) Sangat efisien sebagai peralihan, ketika jumpa tim dengan skema serupa dengan stamina yang lebih buruk. Sekali lagi, 3-3 saat melawan Napoli 11/12 adalah representasi sempurna dari efektivitas skema permainan ini. Paruh babak pertama, Juve berusaha melakukan mirroring skema permainan Napoli. Sama-sama menggunakan 3-5-2 (Napoli 11/12 cenderung ke 3-4-1-2, dengan Hamsik berada di belakang Lavezzi dan Cavani. Namun secara garis besar, hampir sama pola permainannya sama dengan 3-5-2 milik Juventus. Hamsik seringkali fleksibel ditempatkan sebagai attacking midfielder, atau dalam beberapa kasus menjadi central midfielder) di babak pertama. Hasilnya, Maggio benar-benar jadi malapetaka malam itu. Estigarribia yang diplot untuk mengisi flank kiri, ‘diperkosa’ secara biadab oleh Maggio. Kemampuan bertahan miliknya memang tak sebaik ketika menyerang. Wajar, mengingat Esti adalah tipikal sayap murni. Walhasil, 2 gol Napoli berasal dari sisi kiri Juventus. Pirlo juga dengan baik ‘dimatikan’ oleh Hamsik, supplai bola ke depan benar-benar mandeg. Jadilah babak pertama Juventus seperti hati anak kecil yang balon hijaunya meletus: sangat kacau.

Namun di babak kedua, kejeniusan Conte untuk mengubah skema 3-5-2 menjadi 4-2-4 sungguh membuahkan hasil. Chiellini yang tadinya diplot jadi centreback ditarik ke kiri untuk jadi fullback, Lichtsteiner juga ditarik mundur untuk kembali jadi fullback, Bonucci dan Barzagli diplot jadi centreback, Sisi kanan ditempati Pepe, kiri masih menjadi milik Estigarribia. Namun yang membedakan adalah: Pepe dan Esti sama-sama ditarik ke depan untuk menjadi sayap murni. Urusan pertahanan biar menjadi urusan Chiello dan Lichtsteiner Pirlo dan Vidal ditugaskan untuk mengcover lini tengah. Namun ini yang membedakan dengan skema babak pertama: Estigarribia berada di zona nyamannya, posisinya lebih maju ke depan dan ditugaskan Conte untuk memberikan pressing pada Maggio sehingga ia benar-benar harus ditarik ke belakang oleh Mazzari. Terbukti, 3 gol balasan Juventus berasal dari pergerakan sektor kiri. Sekali lagi, melihat bagaimana Conte memilih untuk ‘menyerang’ Maggio alih-alih harus memperkuat lini pertahanan dari serangan sayapnya adalah sebuah kejeniusan. 

4-1-4-1: Demi Vidal

4-2-4 adalah bentuk kesia-siaan lini tengah Juventus. Memiliki Marchisio, Vidal dan Pirlo dalam satu komposisi, namun lebih memilih untuk merotasi salah satu dari mereka dengan alasan kecocokan skema permainan adalah hal yang konyol bagi saya. Dengan kemudian memilihi 4-1-4-1, saya melihat bagaimana Conte ingin memaksimalkan talenta yang ada di dalam timnya. Pirlo sebagai regista, sedangkan Marchisio/Vidal sebagai mezalla. Tugas Marchisio/Vidal yang bergantian menemani Pirlo di skema 4-2-4 memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Sama-sama ditugaskan untuk ‘melindungi’ Pirlo dari godaan marking lawan yang terkutuk,  Marchisio cenderung lebih memiliki visi menyerang yang lebih baik dibandingkan Vidal. Sekali lagi, penempatan dia sebagai trequartista semasa berada di akademi Juve mau tidak mau mempengaruhi gaya bermainnya sampai sekarang. Mewarisi kekhasan pemain nomer 8 Juventus milik pendahulunya — Conte salah satunya — yang memiliki grinta kental, Marchisio mempadupadankannya dengan tipikal pemain petarung yang ada di dalam dirinya. Sedangkan Vidal sendiri, adalah jawaban atas kekurangan Marchisio: kemampuan untuk holding ball. Vidal didapuk untuk melakukan ‘tugas-kasar’ milik lini tengah Juve: tackle, intercept, skill box-to-box, pressing semua dilakukan Vidal dengan baik. Namun sayang, seringkali visi menyerangnya tidak sebaik Il Principino. Musim 11/12 untuk urusan mencetak gol, nama Marchisio lebih sering muncul di papan skor ketimbang Vidal (9 banding 7). Dan ketika akal sehat Conte menuntun dirinya ke jalan yang benar dengan menempatkan mereka berdua dalam satu kesempatan untuk menemani Pirlo, saya merasa bahwa berkah dari Tuhan itu memang benar adanya. Pirlo diplot sebagai deep-lying “creative” central midfielder, Marchisio sebagai attacking midfielder, dan Vidal sebagai defensive midfielder. Sungguh, padu padan yang pas.

4-1-4-1 diformat untuk menyenangkan Pirlo. Pirlo dibiarkan untuk bersabar dan duduk tenang, sementara Marchisio dan Vidal diplot untuk bekerja dan meng-cover area Pirlo, sembari terus memberi ruang bagi Pirlo untuk bekerja di dalamnya. Alur serangan benar-benar dimulai dari tingkatan yang paling dalam. Tidak heran, suplai bola ke depan seringkali berupa long-pass dari Bonucci, atau dari Pirlo. Hanya berkisar dari itu.

Tapi formasi ini bukan tanpa cacat. Ada celah yang begitu menganga di antara Chiellini dan Vucinic. Mengingat sektor kiri yang ditempati Marchisio tidak begitu baik dalam bertahan — untuk mengcover area kerja Pirlo saja buat saya sudah cukup berat —, maka tidak heran celah ini seringkali dimanfaatkan oleh lawan. Pemain dengan tipikal penjelajah seperti Robben dan Ribery akan sangat senang dengan celah seperti ini. Beruntung, klub-klub Serie-A tidak cukup memiliki tipikal stok pemain seperti mereka berdua. Maka tidak heran, kalau formasi seperti terhitung cukup aman jika dimainkan di liga. 

Entah kenapa saya juga tidak suka dengan penempatan Vucinic di belakang lone frontman, Matri. Menurut hemat saya, Vucinic bukan seorang energetic runners yang bersedia untuk menyusuri areanya sembari memberikan suplai bola secara konsisten ke depan. Vucinic adalah seorang ‘papan pantul’ bagi siapapun yang ada di dekatnya. Ia lebih jemput bola, untuk kemudian berlama-lama menahan bola sambil menunggu bantuan dari lini kedua.  Di posisi paling pucuk, saya melihat Matri malah cocok dengan skema permainan seperti ini. Sekalipun ia bukan tipikal targetman yang sebegitu menyeramkan seperti Cavani, diposisikan sebagai striker murni yang memang membuatnya nyaman tentu saja membuat perbedaan dalam skema permainan. Matri sejatinya adalah seorang poacher. Penyempurnaan dari skema ini adalah pemain tipikal classic number 9 seperti Trezegol yang memang selama ini jadi incaran Juventus. Andai Llorente dan Giovinco datang lebih awal, untuk kemudian menggantikan Matri dan Vucinic untuk bermain dalam skema ini, bukan tidak mungkin formasi 4-1-4-1 akan bertahan dalam kurun waktu yang lama.

3-5-2: Transformasi Penyempurnaan

3-5-2 menuntut adanya keseimbangan dalam bertahan dan menyerang.  Yang paling mendasar adalah peran dua wingback yang berada di sisi kanan dan kiri, mereka dituntut harus bisa memiliki kedua aspek tersebut dengan baik. Hampir di sepanjang musim 11/12 dan 12/13, Conte sering menjadikan skema ini sebagai pilihan utama. 

Dimulai dengan lini belakang: trio Barzagli – Bonucci – Chiellini menjadi pakem kekuatan baru lini pertahanan di Italia, bahkan dunia. Terbukti pada musim 2011/2012, Juve hanya kebobol 20 gol. Catatan terbaik di Eropa. Dan musim ini hingga pekan ke 35, Juventus juga hanya kebobolan 20 gol.  Bonucci tampil dengan sangat baik ketika Juventus bermain dengan skema seperti ini.  Dengan formasi 3 CB, membuat konsentrasi bertahan benar-benar dibagi rata oleh ketiga pemain ini. Dengan kehadiran Barzagli dan Chiellini di kanan-kirinya, tentu saja ini menjadi jaminan aman bagi Bonbon. Bonucci hadir seperti anak bungsu yang jika diganggu oleh anak kecil nakal yang lebih tua, kemudian mengadu untuk minta perlindungan ke kedua kakaknya, yaitu Chiellini dan Barzagli. Rataan passing Bonucci juga salah satu yang terbaik setelah Pirlo. Pokoknya, Bonucci seperti tamiya yang dinamonya baru saja ditune-up, setelah Juventus beralih formasi jadi 3-5-2. Mungkin pada periode sebelum ‘90an, posisi Bonucci ini lebih cocok ditempati oleh seorang sweeper atau offensive libero, namun ini akan menjadi sia-sia mengingat Bonucci memiliki seorang deeplying midfielder sekelas Pirlo di depannya.  Menjadi seorang stopper untuk mengcover bola saat pertandingan berlangsung, nampak lebih cocok baginya. Sementara Chiellini dan Barzagli sering naik ke depan untuk overlap (sering intercept dari kedua pemain ini berlanjut dengan solo-run ke depan, untuk kemudian memberi assist kepada siapapun yang ada di depan mereka untuk kemudian dikonversikan menjadi gol), Bonucci malah sering menjadi pilar terakhir lini pertahanan Juventus.

Salah satu keunggulan lini belakang Juventus ketika menerapkan skema seperti ini adalah: sangat efektif ketika jumpa dengan tim yang menurunkan 2 striker. Barzagli dan Chiellini akan ditugaskan untuk me-marking mereka, sementara Bonucci akan menghentikan arus serangan dari lini keduanya. Namun, seringkali trio B-B-C ini dibuat kebingungan ketika jumpa dengan tim yang mendapuk 1 pemain di lini paling depan. Pembagian jatah marking dan konsentrasi penghentian bola seringkali terpecah jika mereka menghadapi situasi demikian. Akibatnya, gol justru lebih sering muncul dari lini kedua. Contoh paling nyata, mungkin ketika mereka harus berhadapan dengan hanya seorang Mandzukic di perempatfinal UCL, dan harus menghadapi Fabregas seorang di lini paling depan, di final Euro 2012. Dan kita tahu sendiri hasil akhirnya seperti apa.

Maju ke tengah. Kita bisa melihat kunci keberhasilan permainan skema 3-5-2 ada di wingback. Sebagai contoh: Brazil menjuarai World Cup 2002. Dengan formasi seperti ini. Lucio – Edmilson – Juan begitu kokoh di lini pertahanan, sementara Cafu dan Roberto Carlos bergantian membombardir dari sisi kanan dan kiri. Pun saat bertahan, kedua pemain ini sama baiknya.

2011/2012, peran ini bergantian diperankan oleh Estigarribia/De Ceglie dan Lichtsteiner. Musim 2012/2013, pernah pos flank kiri diisi oleh Kwadwo  Asamoah. Duet Asamoah – Lichsteiner tentu saja adalah versi upgrade dari  De Ceglie – Licht. Asamoah yang sebetulnya bermain sebagai CM di Udinese, tampak tidak canggung saat bermain sebagai LWB. Saat menyerang, kemampuan box-to-box Asamoah tidak perlu diragukan lagi. Saat bertahan, dia juga mampu menutup dan menjembatani celah yang sering terjadi dibuat Vucinic – Chiellini. Sekalipun ia belum menemui performa terbaiknya pasca AFCON kemarin, Asamoah adalah opsi terbaik untuk menempati posisi LWB Juventus. Untuk RWB, saya no comment. Lichtsteiner adalah seorang monster. Bagi saya, performa The Swiss Train selama ini luar biasa. Tidak melulu menakjubkan, tapi konsisten.

Madrid punya Makelele Role, sedangkan bagi saya dua tahun belakangan ini Juventus punya Pirlo Role. Sebuah skema dimana gaya bermain dan arus bola ke berbagai lini sangat bergantung pada sosok Andrea Pirlo. Saat melakukan perjanjian terlarang dengan Jin Ifrit, Pirlo tidak membaca terms of agreement yang tertulis: kamu akan selalu bermain baik, dengan syarat harus menumbalkan dua pemain untuk bekerja keras dan mati-matian melindungimu serta memberimu ruang bermain untuk berkreativitas. Di Milan, Pirlo menumbalkan Gattuso dan Ambrosini. Di Juventus, Marchisio dan Vidal. Di Italia, Marchisio dan De Rossi. Hasilnya, Pirlo bertanggung jawab atas statistiknya di Juventus selama ini: 2,9 key passes/game, 87% pass success/game, 10.3 accurate long pass/game, 80% rataan passing/game. Hanya Xavi, Xabi Alonso dan Schweinsteiger yang mampu mendekati capaian statistik angka tadi.

Vidal dan Marchisio juga berperan penting selain sebagai ‘ tumbal’ untuk kecemerlangan permainan Pirlo: physical play dan kemampuan box-to-box untuk melayani dua striker yang ada di depan. Ini adalah versi sempurna dari 4-1-4-1 yang memungkinkan M-V-P main secara bersamaan.  Penjabaran kelebihan mereka berdua sudah tercantum di bahasan sebelumnya.
Untuk lini depan, Juventus masih cenderung labil  Coba lihat rotasi duet striker yang Conte miliki (statistik diambil sampai dengan laga Juventus – Bayern) saat menerapkan strategi 3-5-2:
  1. Vucinic dan Giovinco – 14 kali
  2. Matri dan Giovinco – 7 kali
  3. Quagliarella dan Giovinco – 6 kali
  4. Matri dan Vucinic – 6 kali
  5. Vucinic dan Quagaliarella – 4 kali
  6. Matri dan Quaglirella  - 2 kali
Saat Vucinic dan Giovinco bermain, praktis Conte tidak memasang seorang CF. Vucinic dan Giovinco adalah tipikal seconda punta. Entah kebanyakan orang menyebutnya false-nine atau bagaimana, yang jelas ini adalah duet terbaik Juventus menurut hemat saya. Vucinic dan Giovinco adalah tipikal pemain yang gemar berlama-lama menahan bola sambil mencari ruang untuk rekan setimnya. Gol akan datang dari mana saja ketika dua orang ini bermain secara bersamaan. Umpan-umpan pendek terlihat sangat mendominasi. Dalam beberapa kali kesempatan, Vidal/Marchisio sangat gemar mencetak gol yang berawal dari pergerakan Mirko dan Seba. Jumlah gol mereka memang tidak mencapai 2 digit, hanya 9 dan 6. Tapi mereka berkontribusi banyak dengan menyumbang sejumlah assist. Sejauh ini, jumlah assist mereka masing-masing (6) hanya kalah oleh Vidal (7).  Memang yang dibutuhkan Conte adalah tipikal dynamic forward yang ditugaskan untuk mempersempit jarak dan harus mampu bersinergi dengan dua wingback yang ada di belakang mereka. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya mereka harus mampu menyuguhkan linking-up play untuk lini tengah. Sejauh ini, tugas itu mampu diemban dengan baik oleh Vucinic.

Untuk alasan itulah, kenapa Matri nampak tidak cocok dengan skema seperti ini. Matri bukan tipikal pemain yang mau ‘ngoyo’ untuk mendapatkan bola dan mengemban tugas linking-up play dengan lini tengah. Ia adalah seorang targetman. Menarik, menanti perubahan formasi seperti apalagi yang akan Conte buat jika Llorente sudah bergabung dengan tim.


3-5-1-1: A Brilliant Player With a Bright Future. Pog, Pog, Pogba!

Kesimpulan dari transformasi skema permainan Juventus selama ini adalah: Conte selalu mencari solusi untuk memaksimalkan potensi pemain yang dia miliki.

4-2-4: memaksimalkan Pepe
4-1-4-1: memaksimalkan Vidal
3-5-2: memaksimalkan M-V-P, mengeluarkan roh jahat yang selama ini bersemayam di tubuh Bonucci, menjadikan Lichtsteiner seorang monster.
Pun dengan 3-5-1-1.

Juventus musim ini kedatangan sebuah bocah ajaib yang bernama Paul Pogba. Kedatangannya yang bersifat free transfer dari Manchester United ini, sedikit banyak mempengaruhi gaya bermain Juventus. Pada awal musim, Pogba diplot sebagai pelapis M-V-P. jika salah satu dari mereka absen, nama Pogba akan mencuat terlebih dahulu sebagai penggantinya. Yang mencengangkan adalah, pemain yang baru saja genap berusia 20 tahun ini justru tampil di luar ekspektasi.

Setiap kali dia dipasang, ia nampak seperti kerasukan Vieira dan Deschamps dalam satu kesempatan. Pernah, Edgar Davids dan Paul Scholes juga mencoba masuk ke raga anak ini saat Juventus melakoni pertandingan melawan Udinese. Walhasil, dua tendangan keras dari luar kotak pinalti berhasil bersarang ke gawang Padelli malam itu.

Namun bicara soal Pogba, bukan hanya bicara soal tendangan kencangnya saja. Pada awal kedatangannya, potongan rambutnya memang seakan ingin bersaing dengan potongan rambut ala ‘kabel-charger- Blackberry-yang-tertinggal’ milik Rodrigo Palacio dalam hal perebutan Rambut Norak Awards. Namun saya berulang kali mengucap syukur ketika mengetahui ia memutuskan untuk bercukur dan menyemir sisa rambutnya dengan cat hitam. Nominasi ini tinggal menyisakan Boateng dan Palacio sebagai pesertanya.

Namun lebih dari itu, Pogba adalah seorang Pogboss. Ketika ia bermain, dia seringkali terus berlari seakan-akan pemain tidak ada pemain yang menjaganya. Posturnya yang tinggi dan kakinya yang panjang, juga membuat dia memiliki jangkauan area bola yang lebih luas. Seringkali melakukan intercept-intercept penting. Aerial duel won per game-nya mencapai 2,3. Tertinggi kedua setelah Chiellini. Sejauh ini sudah berhasil membuat 48 dribble, hanya kalah dari Asamoah yang membuat 59 dribble. Wajar, mengingat Pogba lebih jarang bermain dibandingkan Asamoah. Namun menjadi luar biasa, mengingat usianya yang baru 20 tahun dan ini adalah musim pertamanya Di Juventus.

Untuk itulah, Conte tidak ingin menyia-nyiakan talenta yang ada di dalam skuatnya. Ia memilih untuk merombak skema permainan tim demi menempatkan Pogba, tanpa harus mengorbankan pemain terbaiknya. Pogba diplot menggantikan posisi Marchisio sebagai CM. Sedangkan Marchisio kembali menjadi treq, dengan menempati posisi di belakang Vucinic yang seorang diri berada di depan.

Pada saat Derby Della Mole, Pogba benar-benar menunjukkan kelasnya. Membuat akurasi passing mencapai 86%, touches sebanyak 59 kali, 5 total shots, 6 tackles dan 2 kali intercept. He’s a good ball winning midfielder. 

Jelas, tidak ada pemain kesayangan bagi Conte. Egosentrisme taktik yang dia buat, berada di dirinya sendiri. Bukan Pirlo, Vidal, Pogba, Vucinic atau siapapun yang ada di dalam tim. Baginya, kesempurnaan dan kolektivitas tim jauh lebih penting dibandingkan produktivitas gol atau rating pemain. Elia, Krasic, Bendtner adalah contoh: bahwa nama besar dengan banderol harga mahal bukan jaminan akan mendapat tempat di Juventus. Sejauh mana sang pemain bisa berkontribusi untuk tim, itu yang menjadi pertimbangan dia. Bahkan, sekalipun harus mengorbankan rekrutan anyar, pemain kesayangan publik, pemain kesayangan media, atau pemain kesayangan sang pemilik klub.

Tidak heran, Buffon dan Pirlo pernah menyebut bahwa Conte adalah pelatih terbaik yang selama ini pernah melatih mereka. Mengingat mereka pernah berada di bawah asuhan berbagai pelatih top: Lippi, Ancelotti, Mr. Trap, Prandelli, maka penghormatan ini adalah bentuk penghormatan tertinggi untuk Conte.

Seorang kawan yang juga seorang Milanisti pernah berkata, “Conte terus berteriak dari pinggir lapangan, seakan-akan dia kalah 3-0 dari lawan. Sedangkan Allegri hanya duduk diam di bench, seakan-akan dia sudah menang 3-0 dari lawan. Padahal kenyataannya, Milan sedang tertinggal 0 -1 dari Juve. Pelatihmu itu gila.

Saya tersenyum.