Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Desember 2014

7 Lagu Indonesia Untuk Inspirasi Menikung & Selingkuh

Gari wani po ra?

Salah satu fase dalam hidup yang mendewasakan, adalah saat kehilangan. Baik kehilangan keluarga, kawan, kekasih bahkan gadget. Kenpa gadget saya sebut? Sebab, akhir-akhir ini saya rasa banyak yang lebih sedih kalau kehilangan gadget dibanding kehilangan kawan. Wong biaya yang harus dikeluarkan untuk menebus gadget-nya sendiri, bisa jauh lebih banyak dibanding total biaya yang pernah dikeluarkan untuk mentraktir teman selama empunya gadget hidup. Ndak heran.

Lain lagi dengan kehilangan kekasih. Kehilangan kekasih yang saya maksud di sini, tentu bukan ‘kehilangan’ berdasarkan arti leksikal lho ya. Bukan ‘kehilangan’ macam: sedang makan berdua, kemudian dia pamit pergi ke toilet dan mak jegagik hilang begitu saja—karena diculik Mas-Mas berjaket kulit yang naik mobil Espass seperti adegan ftv di siang hari. Bukan yang seperti itu. Yang saya maksut ‘kehilangan’ di sini, tentu saja ihwal perpisahan. Baik terpisah secara baik-baik—yang sudah pasti tidak mungkin ada—atau pisah secara terpaksa, karena campur tangan oknum-oknum yang tidak diinginkan.

Musabab perpisahan yang terakhir, tentu tidak menghasilkan suasana yang baik-baik saja. Sumpah serapah, ancaman, doa-doa buruk, hingga pelbagai tindakan tidak berpendidikan lainnya, seringkali muncul dari kubu yang paling merasa tersakiti. Berpisah karena hal-hal wajar—macam sudah tidak cocok lagi—saja sudah terasa menyakitkan, apalagi disebabkan karena teman sendiri atau orang lain. Sesak dan nyerinya tentu sampai di ulu hati. (Jika fenomena ini terus berulang meski tanpa sebab, bisa jadi Anda mengidap maag akut, dispepsia, atau gejala sakit jantung.)

Kali ini, saya mencoba membuat daftar lagu yang bisa menjadi peringatan dini bagi Anda. Jika pasangan mulai sering mendengarkan salah satu lagu yang ada di daftar ini, segera ambil tindakan preventif. Inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk lewat lagu. Waspada akan bahaya laten selingkuh atau ditikung itu perlu, sebab kedua hal tersebut bisa terjadi bukan hanya karena ada niat—tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah.


Jumat, 22 Agustus 2014

10 One-Hit Wonder Indonesia yang Sebaiknya Anda Dengar

Njedul siji, njuk ilang sak lawase




Jika Anda dihadapkan pada sebuah pilihan, “merasakan puncak ketenaran, walau hanya sekali —namun tak pernah dikenal lagi,” atau “memiliki popularitas yang sedang-sedang saja —tak pernah berada di puncak maupun tenggelam,” mana yang akan Anda pilih? Mereka yang perfeksionis dan ambisius, tentu tidak akan memilih keduanya. Bagi mereka, akan selalu ada opsi ketiga, seperti: “merasakan puncak ketenaran, tapi tak pernah tenggelam.” Sah-sah saja, namanya juga ambisi. Meski pada kenyataannya, dunia seringkali tidak kompromistis; tak ada ruang bagi kita untuk memilih.

Begitu juga dalam jagat industri musik. Jika boleh memilih, ambisi musisi tentu akan meletakkan opsi ketiga sebagai capaian karir peringkat wahid. Sebagai empunya karya, adalah wajar jika mengharapkan adanya apresiasi. Apalagi, jika datang dalam skala masif. Tak ayal, semua musisi akan mengerahkan kemampuan mereka sampai titik maksimal demi mendapat kepuasan batin —juga sambutan apik dari para pendengar. Terdengar seperti pakem fundamental seorang seniman. Tapi sekali lagi, di tengah badai ketidakpastian jagat industri musik, siapa yang bisa menjamin?

Fenomena ­one-hit wonder bisa menjadi contoh, bagaimana badai ketidakpastian jagat industri musik bisa meruntuhkan formula ‘sukses’ dengan rujukan basa-basi seperti dua paragraf di atas. Awal mulanya, one-hit wonder dimaknai sebagai “lagu yang menduduki peringkat pertama dalam tangga lagu 40 Billboard, kemudian tidak pernah mencapainya lagi,” oleh Wayne Jancik, dalam bukunya The Billboard Book of One-Hit Wonders.

Namun seiring berjalannya waktu, definisi one-hit wonder mengalami pemekaran makna yang signifikan. Kini, lagu yang menyandang gelar one-hit wonder tak lagi harus memenuhi syarat ‘tembus tangga lagu 40 Billboard’, tapi jauh lebih sederhana. Generalisasi makna one-hit wonder, kini bisa dijabarkan (kurang lebih) menjadi: musisi dengan satu lagu yang pernah mencapai puncak ketenaran, namun tak pernah memperoleh capaian sama setelahnya. Beberapa dari mereka, mungkin tidak hanya memiliki satu lagu saja, namun yang jelas, lagu-lagu lainnya tidak pernah bisa memperoleh kesuksesan layaknya tembang one-hit wonder mereka.

Ketika menyusun daftar seperti ini, tentu saja akan selalu memunculkan perdebatan. Mungkin salah satu bahan perdebatan yang bisa saya prediksi, seperti “Kok artis ini bisa masuk? Kan lagunya ga ini aja? Yang terkenal ada lagi kok,” atau komentar lain, yang kurang lebih bernada sama. Silakan saja, karena itu hal yang wajar. Namun jika Anda mempertanyakan keputusan saya untuk tidak memasukkan one-hit wonder macam “Harus Terpisah” milik Cakra Khan, “SMS” milik Ria Amelia, atau “Pecinta Wanita” milik Irwansyah ke dalam daftar ini, tentu saja itu jadi lain soal.



Sabtu, 03 Mei 2014

Vakansi Sempurna ala Pasukan dari Selatan Jakarta

Lembe-Lembe!

Dari Jakarta, turun ke Lokananta. Enam sekawan ini bernyanyi, berdansa, sembari bercerita tentang angan yang tak kelewat muluk dan kemungkinan membuat album religi

**********************************

Selang setahun setelah merilis White Shoes and the Couples Company Menyanyikan Lagu2 Daerah dalam format CD, White Shoes and the Couples Company (WSATCC) memutuskan untuk kembali merilis mini-album tersebut dalam format double gatefold 7 inch. Bekerjasama dengan The Think Organizer, pada Kamis (30/4) lalu mereka mengadakan pesta peluncuran dan penjualan mini-album tersebut di Lokananta —studio yang juga menjadi tempat penggarapan White Shoes and the Couples Company Menyanyikan Lagu2 Daerah. Malam itu, ruangan studio Lokananta disulap menjadi panggung sederhana yang intim, dengan melibatkan WSATCC dan 300 penggemarnya yang hadir sebagai sejolinya.

Acara ini dibuka dengan testimoni dari sang manajer, Indra Ameng dan Andi —perwakilan dari Studio Lokananta, tentang proses penggarapan mini-album White Shoes and the Couples Company Menyanyikan Lagu2 Daerah. Stephanus Adjie, vokalis Down For Life yang didapuk sebagai pembawa acara, berhasil membuat sesi testimoni ini menjadi kocak dan jauh dari kategori membosankan —sebagaimana testimoni pembuka di acara serupa. “Setelah White Shoes, saya dapat kabar kalau Metalllica juga akan membuat vinyl di Lokananta. Album mereka akan dibuat edisi vintage!” ujar Adjie. Mungkin jika sudah tidak lagi berkutat di ranah musik metal, Adjie tahu harus banting setir ke profesi apa.

Bukan kali pertama WSATCC tampil di dalam studio Lokananta. Hampir dua tahun silam, mereka juga pernah merasakan sensasi manggung di studio legendaris ini, dalam sebuah acara amal yang bertujuan untuk kembali ‘menghidupkan’ geliat Lokananta. Komposisinya masih sama: penonton di dalam duduk lesahan, intim, penuh sesak, dan sedikit gerah. Hanya saja, untuk konser kali ini WSATCC menyiapkan tata lampu dan cahaya yang lebih apik.

Seakan merayakan kembalinya momen kebersamaan dengan para penggemarnya di kota Solo, WSATCC langsung membuka dengan tembang cantik dari album Skenario Masa Muda, “Super Reuni”. Sang biduan, Aprilia Sari tahu betul cara menyapa dan membuat para penonton merasa semringah. Nona yang satu ini, tanpa henti menebar aura bahagia ketika bernyanyi dan berdansa. Seisi Lokananta seakan disuguhi dua anugerah secara bersamaan; nikmat rupa, juga nikmat suara. Tak lama berselang, mereka kemudian membawakan lagu yang sempat populer di era ’50, “Aksi Kucing” —dan seperti biasa, langsung dipenuhi dengan sahut-sahutan “meong, meong” antara penonton dengan sang penampil. Berurutan setelahnya, WSATCC memainkan “Vakansi”, “Senandung Maaf”, medley “Tentang Cinta – Selangkah – Masa Remadja”, sebelum mengakhiri pertunjukan dengan koor massal di nomor “Kisah dari Selatan Jakarta”.

Selayaknya adegan penutup konser pada umumnya, WSATCC kemudian undur diri sembari mengucapkan salam terimakasih kepada para penonton dengan terburu-buru. Selayaknya respon penonton pada umumnya pula, mereka kemudian berteriak “lagi, lagi, lagi!” dengan keyakinan penuh bawa musisi idolanya itu akan kembali naik ke atas panggung. Dan benar saja, sejurus kemudian WSATCC kembali berada di atas panggung. Riuh tepuk tangan dari penonton pun langsung terdengar. Dramatis? Bisa jadi.

Pertunjukan sebenarnya justru baru saja dimulai. Setelah lampu panggung dipadamkan, seketika itu pula muncul suara deburan ombak dan hembusan angin yang berulang. Kombinasi ini, adalah pengantar dari nomor pembuka mini-album White Shoes and the Couples Company Menyanyikan Lagu2 Daerah, “Jangi Janger”. Lagu tradisional anak yang berasal dari Bali ini, dimainkan tanpa iringan instrumen dan berhasil menanggalkan kesan magis serta megah. Setelah itu WSATCC membawakan lagu “Tjangkurileung”, yang merupakan buah karya seniman besar Sunda, Koko Koswara. Nuansa rockabilly yang kental di dalam lagu ini, berhasil membujuk para penonton untuk menggoyangkan badan dan turut serta memberikan iringan tepuk tangan tanpa henti.

Pasca encore, mereka membawakan seluruh lagu yang ada di mini-album White Shoes and the Couples Company Menyanyikan Lagu2 Daerah. Kejutan dengan suguhan eksplorasi musik sampai tingkatan paling dalam, mereka buktikan dengan menyisipkan sentuhan baru di tiap-tiap nomor. Sisipan surf-rock, psikedelik, akustik-ballad, ketukan disko klasik khas film ’70-an serta kocokan gitar ala funk-jazz yang dikawinkan dengan vokal nan ciamik milik Nona Sari, bisa Anda temukan di “Lembe-Lembe”, “Te O Rendang O”, dan “Tam-Tam Buku”. Repertoar ini, kemudian ditutup tanpa cacat oleh hit mereka dari 2005, “Windu Defrina”.

Konser telah usai, tapi tidak dengan keriaan yang ada di dalamnya. Setelah turun panggung, WSATCC langsung mengadakan sesi meet & greet dengan para pengggemarnya. Berfoto bersama, sekaligus menandatangani seluruh ‘dagangan’ yang mereka bawa dari Jakarta. Perwakilan Demajors —perusahaan rekaman yang bertanggung jawab untuk mendistribusikan mini-album ini, nampak tersenyum lebar tatkala mendapati lapaknya laris manis bak penjualan mantel plastik di kala musim hujan tiba. 50 piringan hitam dan 50 cakram padat yang mereka bawa, seluruhnya habis terjual. Piringan hitam White Shoes and the Couples Company Menyanyikan Lagu2 Daerah sendiri hanya diproduksi sebanyak 300 keping, dan dilepas dengan harga Rp. 280 ribu.

Alhamdulillah deh kalau gitu,” ujar Sari tatkala mendengar kabar bahwa piringan hitam yang mereka bawa habis terjual.  Ricky Surya Virgana sang bassist, bercerita tentang proses produksi mini album ini. “Proses pengerjaan album ini memang di Lokananta, tapi pressing­­-nya sih di Italia. Sempat ada opsi, supaya hasil rekaman dibawa ke Prancis, tapi biaya produksinya kelewat mahal. Padahal dulu, semua piringan hitam musik Indonesia —bahkan Asia Tenggara pressing-nya ya di sini, di Lokananta. Tapi, mesinnya udah dijual ke Singapura.” kata Ricky.

Ketika disinggung mengenai pesan yang ingin disampaikan WSATCC dalam album ini, Sari mengaku bahwa mereka tidak merancang atau menyisipkan pesan yang kelewat muluk.

“Biasa aja.”

“Gini, sebetulnya kita rekaman di Lokananta itu memang karena kami ingin membuktikan bahwa studio ini tuh sama seperti studio-studio lain; bisa dipakai rekaman.  Udah itu aja. Karena kami sadar, bahwa pesan dari kami saja tidak akan mengubah sesuatu secara signifikan. Jamannya memang sudah berbeda, memang ga bisa dipaksakan kalau visi dan misinya memang sudah ga sejalan,” ujar Sari tegas. Nona Sari dan Aprilia Sari memang dua karakter yang berbeda: yang satu tampil sebagai biduan, dengan lemparan senyum setiap saat dan raut mata yang ingin menyenangkan semua orang dari atas panggung. Yang satu lagi: sesekali tersenyum, garis wajahnya sedikit serius dan lisannya terdengar tajam dalam menyampaikan gagasan. Tapi yang pasti, baik Nona Sari maupun Aprilia Sari sama-sama memiliki senyum yang menenangkan, juga menyenangkan.

Sari menambahkan, “Kalau soal lagu daerah, itu memang sudah menjadi kebiasaan kami sejak lama. Sebelum proses rekaman album ini, kami sempat beberapa kali membawakan lagu daerah. Meskipun yang sering kami bawakan, malah tidak kami rekam. Jadi, kami tidak terlalu mengemban misi yang kelewat spektakuler; melestarikan lagu daerah, menyelamatkan budaya, atau yang lainnya. Kami melakukan apa yang kami suka saja, kalau kemudian banyak pendengar yang sama-sama menyukai juga, ya itu bonus.”

Lagian, terdengar berlebihan ga sih kalau kita menyampaikan gagasan seperti itu? Toh sebetulnya, tiap hari lagu daerah itu masih sering dinyanyikan di sekolah dasar. Anak-anak masih banyak yang hapal lagu daerah. Banyak hal yang sering kita lakukan sehari-hari, sehingga saking seringnya, kita ga sadar kalau itu sudah menjadi bagian dari hidup kita,” tutur Sari.

“Cuma, dulu memang lagu daerah memiliki tempat yang sejajar dengan musik kebanyakan. Musik pop, misalnya. Kami cuma mau mengembalikan itu saja,” ujar Ricky menambahkan. “Kami tidak ingin merasa terbebani dengan apa yang kita buat. Misalnya mau puasa bikin lagu pop-religi, padahal gua ngaco, masih sering ngomongin orang, bahkan mungkin puasa juga ga! (tertawa)” kata Rio Farabi sang gitaris.

Penggebuk drum, John Navid juga mengiyakan pendapat personel lainnya. Menurutnya, ia juga menyadari kapasitas WSATCC. “Kami ga berharap lebih. Yaudah, sederhana aja gitu. Orang tau kita bisa rekaman di Lokananta......”

“....kalau suka beli, ga suka rugi,” pungkas Ricky dengan jujur.

Kamis, 03 April 2014

10 Lagu Didi Kempot yang Sebaiknya Anda Dengar

Gambar kanan, pojok kiri berkumis. Are you Frank Rijkaard in disguise?


S
alah satu keunggulan lirik lagu berbahasa daerah, adalah kemampuannya untuk membuat para pendengar merasa ‘dekat’ dengan sang empunya karya. Selain karena faktor kesamaan budaya, tema yang diangkat dalam lirik lagu berbahasa daerah seringkali dianggap lebih mampu untuk merepresentasikan fenomena di sekitar mereka —yang belum tentu mampu ‘disentuh’ oleh lirik berbahasa Indonesia. Dalam kasus ini, seringkali dua unsur penting dalam jagad hiburan (penyanyi dan pendengar) disatukan oleh faktor kedekatan dan fungsi keterwakilan.

Dari sekian banyak musisi yang konsisten berjalan di jalur musik ini, lancang rasanya jika tidak menyebut Didi Kempot sebagai salah satu maestronya. Hampir dua dekade berkarya, hingga kini Didi Kempot masih berdiri di garda terdepan musik campursari, dengan hit-hit yang menjadi pilihan utama untuk menunjang fasilitas ‘full music & karaoke' di hampir seluruh bis trayek pulau Jawa. Mungkin jika para pekerja dan perantau dari tanah Jawa ditanya perihal “Siapa yang lebih berjasa di dalam hidup kalian, antara Didi Kempot atau Soekarno-Hatta?” bukan tidak mungkin, nama yang disebut pertama akan keluar sebagai juaranya.

Kekuatan lagu milik Didi Kempot, terletak pada departemen lirik dan aransemen yang sederhana. Lirik yang mengandalkan rima, bercampur dengan bebunyian gamelan dan keyboard yang tak disertai dengan kompleksitas aransemen. Di beberapa lagu, Didi Kempot gemar melafalkan liriknya dengan gaya yang ‘Njawani tenan’. Jauh sebelum Bams Samsons dan Ivan Seventeen melafalkan lirik berakhiran “..errr” dengan penuh tekanan sebagaimana posisi Moyes di United, Didi Kempot telah melakukannya terlebih dahulu di tembang “Cintaku Sekonyong Konyong Koder”.

Berbekal beberapa kaset berserta vcd (bajakan) lawas milik orangtua saya yang cukup lama terbengkalai di rak, saya mencoba menyusun beberapa karya milik Didi Kempot yang sekiranya patut untuk Anda dengar. Susah susah gampang untuk melakukan hal ini. Karena jujur saja, untuk menelusuri diskografi Didi Kempot ini cukup sulit. Semenjak SD, saya selalu mengenal hit-hit Didi Kempot sebagai single yang dilepas satu per satu, bukan menjadi satu dalam rangkaian album. Meski pemilik nama asli Didi Prasetyo ini termasuk giat dalam menelurkan album —pernah ia membuat 12 album dalam satu tahun & mengaku sudah membuat 70 album sepanjang karirnya, namun tak banyak yang mengetahui mana sebetulnya yang merupakan album rilisan resmi Didi Kempot. Meski tak semua, tapi sebagian besar penikmatnya justru lebih banyak mengoleksi kepingan cakram bajakan dari penjaja CD di pinggir jalan —termasuk saya. Saya berani bertaruh, jika Anda berkunjung ke daerah perkampungan di Jawa Tengah, Jogja, ataupun Jawa Timur, pasti paling tidak ada 5 dari 10 orang yang pernah memiliki/masih menyimpan CD bajakan Didi Kempot.

Wis ah, akehan nyengep ndak tulisane ra rampung-rampung. Monggo, mang pirsani!

10. “Kuncung” — Album Emas Didi Kempot Vol. 4

Bagian terbaik: Kosokan watu neng kali nyemplung neng kedhung (byuuur). Jaman ndhisik, durung ungsum sabun (pabrik’e rung dibangun). Andukku cukup mung anduk sarung, dolananku montor cilik saka lempung.”

Lagu yang bercerita tentang masa kecil seorang pemuda desa, yang dikemas secara apik dengan lirik nan jenaka. Meski tak pernah mengalami kejadian serupa, pendengar lagu ini seakan mampu dibuat untuk merasakan suasana pedesaan dengan segala kesederhanaannya. Tak lupa juga, Didi Kempot menyertakan gambaran umum cita-cita pemuda desa, yang diharapkan orangtuanya agar kelak menjadi orang sukses —dengan profesi dokter yang menjadi tolak ukurnya. Puisi karangan Aji Saka atau yang lebih dikenal sebagai aksara Jawa, juga dilagukan secara baik dan menjadi sisipan yang cukup menarik.

9. “Solo Balapan” — Album Emas Didi Kempot Vol. 1

Bagian terbaik: Jare lungo mung sedelo, malah tanpo kirim warto. Lali opo pancen nglali, yen eling mbok enggal bali.”

Pernah mengantar orang tersayang ke stasiun untuk bepergian jauh dalam kurun waktu yang cukup lama? Jika belum, bersyukurlah. Tapi kalau suatu saat Anda harus menghadapi situasi seperti ini, saya menyarankan untuk tidak mendengarkan “Solo Balapan” dari jauh-jauh hari. Bagaimana tidak, di dalam lagu yang sempat ditolak banyak pedagang kaset karena nadanya dianggap ugal-ugalan ini, Didi Kempot bercerita tentang pengalaman pahitnya ditinggal orang terkasih, setelah disuguhi janji-janji manis untuk segera kembali. Di era yang belum terlalu melek teknologi —saat itu, berkirim surat untuk sekedar menanyakan kabar pasangan dari kota seberang adalah hal yang teramat romantis. Sayang, Didi Kempot tak mendapati hal seperti itu dalam kurun waktu yang cukup lama. Sang pasangan, akhirnya meninggalkannya dalam diam dan keheningan.

8. “Parangtritis” — Album Emas Didi Kempot Vol. 4

Bagian terbaik: Naliko udah gerimis Rebo wengi malem Kemis, ra nyono ra ngiro janjimu jebul mung lamis.”

Dibuka dengan alunan nada diatonis dan diiringi dengan betotan bass berulang yang bernuansa groovy, “Parangtritis” adalah salah satu hit Didi Kempot dengan intro terbaik. Lirik berima yang mampu disusun dengan ciamik dalam lagu ini pun, sangat jauh dari kesan dipaksakan. Lagu yang bercerita tentang kenangan berwisata di kawasan Pantai Selatan ini, mampu mengemas sebuah kisah nestapa dengan nuansa yang ceria. Ringan, cocok didengar bagi mereka yang ingin mengenang saat terindah bersama mantan terkasih, tanpa perlu terjebak dalam ruang nostalgia yang kelewat dalam.

7. “Ketaman Asmoro” — Ketaman Asmoro

Bagian terbaik: Bingung rasane atiku, arep sambat nanging karo sopo

Bagi saya, ini adalah lagu Didi Kempot dengan nuansa paling kelam. Tidak seperti di lagu-lagu lain yang sering dibawakan secara slengean dengan nuansa ala jalanan yang kental, di sini ia terdengar betul-betul ‘bernyanyi’ selayaknya penyanyi balad sungguhan. Yang mendengarkan lagu ini, seperti diajak untuk meratapi kesendirian dengan suguhan lirik nan melankolis macam “bingung rasane atiku, arep sambat nanging karo sopountuk kemudian dihajar lagi dengan lirik miris “nyatane ora kuwowo, nyesake atiku sansoyo nelongso”.

6. “Sewu Kuto” — Album Emas Didi Kempot Vol. 1

Bagian terbaik: Umpamane kowe uwis mulyo, lilo aku lilo”

Didi Kempot berbicara tentang makna mengikhlaskan, tanpa perlu terkesan menggurui. “Sewu Kuto” mampu menampilkan sisi kerinduan dan ketulusan seseorang untuk mengikhlaskan dalam waktu yang bersamaan. Ada peralihan tempo yang asyik, saat iringan musik campursari dengan tempo lambat kemudian beranjak menjadi cepat di  “pirang taun anggonku nggoleki”; dan menempatkan tabuhan gendang sebagai elemen utamanya. Mengutip istilah Jawa, lagu ini digambarkan dengan istilah: “Nggrantes ki keno, ning aja nemen.”

5. “Layang Kangen” — Album Emas Didi Kempot Vol. 4

Bagian terbaik: “Umpama tanganku dadi suwiwi, iki ugo aku mesti enggal bali”

Kembali, tabuhan gendang menjadi aksen kuat dalam lagu Didi Kempot. Porsi iringannya di bagian refrain, memberi corak yang cukup khas dalam lagu ini. Saya beberapa kali menyaksikan penampilan Didi Kempot, dan salah satu yang paling berkesan adalah saat tampil di kampung saya; tatkala tetangga saya —yang juga merupakan personel iringan band Didi Kempot mengggelar pesta sunatan anaknya (kalau tidak salah). Kala itu, saya terkagum-kagum melihat harmonisasi antara gendang dengan vokal Didi Kempot yang terdengar sengau-sengau-seperti-kehabisan-suara saat membawakan “Layang Kangen”, mampu membuat kaki dan jempol tangan saya turut bergoyang.

4. “Nunut Ngiyup” — Album Emas Didi Kempot Vol. 1

Bagian terbaik: Langite peteng ndhedet hawane adem banget. mbok kulo dijak mlebet, kersane tambah anget

Saat hujan turun dengan deras dan Anda harus berteduh seorang diri di emperan toko, apa yang Anda lakukan untuk mengisi waktu luang? Jika pertanyaan ini diajukan kepada remaja jaman sekarang, mungkin sebagian besar akan menjawab “nge-tweet: coba ada kamu di sini, pasti jauh terasa lebih hangat.’” Tapi, tidak dengan Didi Kempot. Adik dari pelawak kawakan Mamiek Prakoso ini, lebih memilih untuk menciptakan lirik lagu —yang kemudian liriknya kita temui dalam lagu “Nunut Ngeyup”. Lagu bernuansa ceria ini, dipenuhi dengan kesederhanaan pola pikir yang dibalut dalam lirik yang gamblang. Seperti terlihat di lirik “nunut leren, kula nunut leren. ajeng mantuk sampun kewengen.”

3. “Cidro” — Album Emas Didi Kempot Vol. 1

Bagian terbaik: Aku nelongso mergo kebacut tresno

Dibuka dengan ketukan keyboard ala 80’an yang dibarengi oleh bebunyian flute, tabuhan gendang, dan porsi solo-guitar yang pas; Didi Kempot kemudian menutup intro miliknya dengan lirik pengantar yang teramat pilu, seperti: “wis sak mestine ati iki nelangsa,
wong sing tak tresnani mblenjani janji”. Irama keyboard yang bersahut-sahutan dengan gitar kencrung dan flute sebelum menginjak bagian chorus, selalu terdengar begitu sempurna bagi saya. Meski di beberapa bagian, vokal Didi Kempot terdengar datar —mungkin karena tuntutan penjiwaan lagu, tapi tetap tidak mengurangi kadar ciamiknya lagu ini. Lirik? Tengok ini: Opo mergo kahanan uripku iki, mlarat banda seje karo uripmu”, kalau Anda kehabisan kata-kata untuk menggambarkan kekaguman akan lirik yang demikian jujur ini, Anda tidak sendirian. Yang menulis artikel ini, sudah mengalaminya terlebih dahulu.

2. “We Cen Yu” — Didi Kempot & Batara Grup

Bagian terbaik: Mbe mu pis, lambemu sing tipis. Mbut mu wo, rambutmu sing dowo

Karya awal Didi Kempot, semasa masih tergabung bersama Batara Grup. Lagu ini digarap di studio milik Nompi No Koes di bilangan Depok Lama, dan kemudian mengantarkan mantan pengamen jalanan ini menuju jenjang karir yang lebih melesat. "We Cen Yu" merupakan tonggak sejarah Didi Kempot yang (mungkin) belum banyak dikenal publik, karena kurang dikenal dibanding lagu hit-hit Didi Kempot lainnya. Padahal di Suriname, "We Cen Yu" begitu digemari masyarakat keturunan Jawa di sana. Lagu ini kemudian menjembatani juga mengawali hubungan Didi Kempot dengan penikmat campursari dan musik Jawa yang berada di Suriname. Dan yang tidak kalah pentingnya, nomor ini juga berjasa memantapkan pilihan Didi Kempot untuk menjadi penyanyi profesional setelah menerima bayaran pertama sebagai musisi, dalam jumlah yang cukup besar. Keistimewaan "We Cen Yu" juga terletak pada aransemen unik yang ada di dalamnya; menggabungkan nada pentatonik khas Erhu, dan dipadupadankan dengan petikan walking-bass serta ketukan electric drum khas Pop Jawa. Sahut-sahutan vokal Didi Kempot dengan vokal latar, terdengar begitu dinamis dan asyik didengar. Satu lagi, vokal merengek di bagian “kowe pancen ayu!” juga menjadi bagian yang paling mudah untuk diingat.

1. “Cintaku Sekonyong-Konyong Koder” — Album Emas Didi Kempot Vol. 4

Bagian terbaik: Cintaku sekonyong-konyong koder, paribasan durung demok wani panjer

Megah. Satu kata yang menggambarkan aransemen musik “Cintaku Sekonyong-Konyong Koder” secara keseluruhan. Kejeniusan Didi Kempot (dengan bantuan pemusik Ranu Suryanto dan Agus Genjik yang selama ini bekerjasama dengannya) terlihat betul tatkala berani mengambil keputusan untuk melaras ulang nada musik karawitan yang berskala pentatonis menjadi diatonis, dan memberikan porsi yang cukup banyak ke dalam aransemen lagu ini. Saya masih sering merinding, membayangkan kebersamaan saya dengan teman-teman semasa kecil untuk berlomba-lomba menyanyikan rima di lagu ini dengan benar. Vokal ala pengamen jalanan yang dibalut dengan tata musik yang sempurna, membuat lagu ini terkesan mewah tapi juga terdengar catchy. Saat memasuki bagian minim instrumen pun tak kalah epik; tengok 10 detik menakjubkan di lagu ini, saat Didi Kempot hanya melibatkan solo gendang dan icik-icik tamborin, untuk mengiringi repetan lirik berima ‘-it’ dengan tempo cepat ini. Maestro yang pernah tergabung dalam grup Kelompok Penyanyi Trotoar yang kemudian akronimnya dijadikan nama panggung ini, berhasil menumpahkan kekagumannya kepada seorang anak penjual lemper dengan lirik yang teramat jujur dan romantis. Mahakarya.

Sabtu, 23 November 2013

10 Balada Terbaik Dalam Negeri Satu Dekade Terakhir

Ini kali pertama saya menulis sebuah daftar yang mencantumkan superlatif dari sebuah kumpulan. Kali ini, saya mencoba mengumpulkan lirik balada berbahasa Indonesia terbaik yang pernah diciptakan musisi dalam negeri dalam kurun 10 tahun belakangan. Buang jauh-jauh, ekspektasi penuh lirik semi puitis di daftar ini, karena bagi saya romantisme selalu bisa menemukan jalannya sendiri.

Penilaian ini sangat objektif. Banyak yang tidak setuju? Tentu. Saya tidak sedang membuat daftar yang membuat banyak orang menjadi senang.

10. “Hanya Kau” – The Adams, V2.05 (2006)


Bagian terbaik: hanya kau yang bisa / memastikan semua / segala yang ku rasa / hanya kau yang bisa / mengubah semua / ‘tuk menjadi indah”

Tak perlu berkali-kali memutar lagu ini, hanya untuk mengerti betapa jujurnya ungkapan kekaguman yang ada di dalam liriknya. Di vokal ini, Ario tahu betul bagaimana menyatakan sayang tanpa harus terkesan sok romantis. Koor-massal yang berulang kali melantunkan “uuuuu” seakan menjadi pengantar, bagi teman minum teh bersama pasangan di sore hari. Yang pernah menikmati video klipnya di sisa-sisa kejayaan MTV di Indonesia pasti tahu benar, bahwa adegan di klip ini benar-benar merefleksikan karakter lagu aslinya: sederhana, jujur, dan tidak ingin mengumbar romantisme berlebih. Berkat kemunculan video ini, pengendara vespa dibawa ke dimensi kekerenan yang sedikit berbeda.

9.   “Tentang Cinta” – White Shoes & The Couples Company, White Shoes & The Couples Company (2005)


Bagian terbaik: “relung jiwaku hanyut tak menentu / entah apakah ini, oh tuanku / menutup mata aku dan membisu / berasa cinta kalbu”

Nomor ketiga dari debut album White Shoes & The Couples Company dengan judul yang sama. Di tengah badai musik mendayu waktu itu, sekumpulan hipster dari Jakarta ini sepakat membawa alunan musik ’70 an kembali ke permukaan, dengan sentuhan akustik-ballad dan ketukan disko klasik khas film-film hit Yati Octavia dan Roy Marten. Di nomor ini, karakter vokal lawas milik Sari dipadu dengan kocokan gitar ala funk-jazz yang megah. Lantunan flute sebelum masuk ke bagian, “relung jiwaku hanyut tak menentu / entah apakah ini, oh tuanku / menutup mata aku dan membisu / berasa cinta kalbu” ini seakan memberi petunjuk: sekalipun sedang gamang asmara, bukan berarti kalian tidak bisa membawakan lagu ini dengan ceria.

8.  “Semua Tentang Kita” – Peterpan, Taman Langit (2003)


Bagian terbaik: teringat di saat kita tertawa bersama / ceritakan semua tentang kita”

Sekalipun memiliki intro yang menjadi skill wajib bagi para pemetik gitar di tongkrongan sudut gang / pos kamling, tak mengurangi esensi lagu ini sebagai anthem wajib bagi mereka yang masih memendam hasrat untuk balikan. Nomor ini juga selalu menjadi pilihan pertama, untuk dijadikan backsong di video amatir —penuh slide foto kenangan semasa pacaran— yang mereka buat di Windows Movie Maker. Sudah, akui saja.

7.  “Muak Untuk Memuja” – Alone At Last, Jiwa (2008)


Bagian terbaik: “kau penyiksa (jilat pantatku bila kau bisa) / simpan semua (setan kau hancurkan misi hidupku”

Sebelum ada Alone At Last, rasanya emo tak pernah selirih ini. Kuintet ugal-ugalan asal Bandung ini, berhasil menyuguhkan kekaguman dan rasa benci kepada wanita pada saat bersamaan. Ngomong-ngomong, yang juga menjadi sisi baik dari lagu ini adalah: Yas menemukan kembali identitas aslinya, yang dulu sempat dirasuki Bert McCracken.

6.  “Karena Kamu Cuma Satu” — Naif, Planet Cinta (2011)


Bagian terbaik:  “kau satu-satunya / dan tak ada dua / apalagi tiga / cuma engkau saja

Rima terbaik, yang bercerita tentang egosentrisme asmara ala kawula muda. Cheesy, namun tak menanggalkan kesan elegan. Setelah hijrah dari bekap kegelapan konsep era 70-80’an, Naif memang tak lagi kompromi soal tembang berirama balad. Di awal tahun 2013, formula ini sukses meluluhlantakkan niatan cerai sepasang suami istri yang sudah hidup berdampingan selama 13 tahun. Mungkin ini, representasi sempurna dari film The Power of Song besutan Jim Brown.
                
5.  “Ingatlah Hari Ini” — Project Pop, Pop Ok (2003)


Bagian terbaik: “kamu sangat berarti / istimewa di hati / selamanya rasa ini / jika tua nanti / kita telah hidup masing-masing / ingatlah hari ini”

Lirik ini, sanggup menggugah romansa bersama kawan tercinta dengan cara yang sederhana. Project-Pop, dengan jenius menyentuh sisi sensitif persahabataan lewat ungkapan yang tak kalah romantis dengan lirik yang dibuat untuk menyanjung pasangan. Musik yang tak disertai kompleksitas aransemen dan berbalut dengan ketukan-ketukan nan catchy ini, sesaat menyadarkan bahwa sebelum kita disibukkan dengan kehidupan dewasa yang penuh dengan ego dan kepentingan pribadi, sejatinya kita pernah menjadi makhluk sosial yang melewati hari dengan searangkaian kejadian bodoh bersama seorang teman. Tak ayal, lagu ini selalu menjadi pilihan utama untuk backsong acara perpisahan sekolah/dokumenter catatan akhir sekolah.

4. “Elora” — Pure Saturday, Elora (2005)


Bagian terbaik: “tiada lagi yang kuinginkan lebih dari yang kau berikan / tak pernah berhenti / seakan datang tanpa kuminta / selalu ada saat kubutuhkan”

Bagi saya pribadi, butuh berkali-kali mendengarkan album Elora untuk bisa melepas bayang-bayang Suar, pasca digantikan oleh Iyo. Saya benci membuka paragraf dengan bahasan seperti ini, karena ini adalah bahasan yang akan selalu memancing debat kusir tanpa henti, perkara siapa yang lebih baik dalam urusan menyanyi —antara Suar dan Iyo; tapi ini penting, sebagai pengantar kenapa saya menyertakan “Elora” sebagai salah satu balada terbaik dalam satu dekade terakhir. Iyo, tak berusaha menjadi Suar 2.0, atau merombak struktur Pure Saturday secara keseluruhan di dalam lagu ini. Pure Saturday pun tak menutut hal lebih, dari apa yang bisa diberikan Iyo. Tapi saat itu —saat Pure Saturday membutuhkan sosok untuk mengisi garda terdepan band ini, Iyo datang tanpa mereka minta. Pasca kekosongan karya yang cukup lama, saya rasa lagu ini berhasil membuat sebagian orang berteriak “Yes, they are fucking back!” di dalam hati kecil mereka.

3.  “Berhenti Berharap” — Sheila on 7, Ost. 30 Hari Mencari Cinta (2004)


Bagian terbaik: “aku berhenti berharap / dan menunggu datang gelap / hingga nanti suatu saat / tak ada cinta kudapat”

Sheila on 7 adalah jawara, untuk urusan mencipta balada. Rasa-rasanya tak perlu saya sebutkan, berderet lagu ciptaan mereka yang selalu menemani banyak orang untuk segala fase urusan percintaan; mulai dari tebar pesona – curi pandang – pdkt – jadian – selingkuh – putus – balikan – dst. Musik So7 adalah musik universal, yang sanggup memikat hati berbagai lapisan pendengar musik tanpa terkecuali. Di lagu ini, Duta menampilkan sisi gelap urusan percintaan yang berpadupadan dengan keputusasaan. Nuansa kelam, sangat kentara dalam lagu yang hanya diiringi oleh ketukan piano akustik ini. 8 dari 10 orang yang sedang mendengarkan lagu ini dalam kondisi gamang, sangat direkomendasikan untuk dijauhkan dari segala benda tajam, racun serangga, juga obat nyamuk cair.

2. “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” — Efek Rumah Kaca, Efek Rumah Kaca (2007)


Bagian terbaik: “kita berdua / tak pernah ucapkan maaf / tapi saling mengerti / kita berdua / tak hanya menjalani cinta / tapi menghidupi”

Di tengah segala ke-riweuh­-­an memadu kasih, yang kini secara tak tertulis disepakati standar pakem untuk jatuh cinta, Cholil dengan santai muncul dengan antitesanya. “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” memiliki lirik yang dalam, juga menyentil mereka yang gemar mengkambinghitamkan hal-hal tak penting sebagai tedeng aling untuk cinta tak berbalas. Jika Anda menganut falsafah “cukup dengan cinta, kita taklukan segalanya,” maka nampaknya lagu ini adalah pilihan utama sebagai tameng, tatkala menghadapi amuk pasangan yang menuntut candle light dinner untuk perayaan tanggal jadian di akhir bulan.

1.   “Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan” — Payung Teduh, Dunia Batas (2012)



Bagian terbaik: “hanya ada / sedikit bintang malam ini / mungkin karena kau / sedang cantik-cantiknya”

Merayu wanita, adalah teknik dasar yang harus dimiliki setiap pria. Namun, kemampuan untuk menyandingkan keindahan semesta dengan kecantikan seorang wanita, adalah sebuah barang langka —yang juga brilian. Alih-alih menggunakan teknik rayuan murahan “bapak kamu…”, Payung Teduh malah menjadikan rayuan sebagai sesuatu yang elegan dan berkelas. Coba saja, lantunkan lirik ini kepada wanita yang sedang Anda puja, niscaya —sedikit banyak akan membuat hatinya bergetar. Jika rayuan ini gagal, cuma ada dua kemungkinan: sang wanita kelewat serius, atau Anda menyanyikan lagu ini saat langit malam penuh dengan bintang.