Tampilkan postingan dengan label bla bla blah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bla bla blah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 April 2015

Olga Syahputra dan Tawa yang Semacam Embuh

So long, funny guy.



Sore itu, saya dibangunkan Ibu. Setelah percobaan ke sekian, akhirnya saya bangun. Masih setengah sadar, mata kriyip-kriyip, saya mendengar sayup-sayup suara azan dari masjid di dekat rumah.

Oalah, wis magrib to.

Pikir saya, adalah hal wajar kalau Ibu membangunkan anaknya ketika waktu magrib tiba. Pasti disuruh buru-buru bangun, lalu salat. Maklum, waktu Magrib memang yang paling singkat di antara waktu-waktu salat lainnya. Kalau saya masih klumbrak-klumbruk koyo kumbahan reget di atas kasur waktu magrib tiba, tentu saja harga minyak dunia tidak akan melambung tinggi. Tapi ya itu, paling besoknya nama saya sudah dicoret dari kartu keluarga. Dan itu jauh lebih berbahaya.

Le, bangun. Olga meninggal dunia.” Mak jegagik. Saya langsung bangun, seketika nyawa saya terkumpul penuh.

Pertama, saya heran. Saya kira, kalimat pertama yang bakal terucap waktu membangunkan saya—sama seperti biasanya—itu, “Bangun, sudah anu* (*= waktu shalat yang paling mendekati) lho. Ayo, keburu habis.”  Kedua, siapa sosok Olga yang dimaksud Ibu? Mengingat saya tidak punya kawan atau saudara dengan nama itu, pikiran saya langsung merujuk kepada Olga Syahputra. Ketiga, kalau memang yang dimaksud Olga Syahputra, tingkat urgensinya seberapa besar, sampai-sampai membangunkan anaknya hanya untuk diberitahu berita duka artis—alih-alih perintah salat magrib? Nah, ruwet to? Bangun tidur saja sudah punya tiga rumusan masalah.


Selasa, 30 Desember 2014

7 Lagu Indonesia Untuk Inspirasi Menikung & Selingkuh

Gari wani po ra?

Salah satu fase dalam hidup yang mendewasakan, adalah saat kehilangan. Baik kehilangan keluarga, kawan, kekasih bahkan gadget. Kenpa gadget saya sebut? Sebab, akhir-akhir ini saya rasa banyak yang lebih sedih kalau kehilangan gadget dibanding kehilangan kawan. Wong biaya yang harus dikeluarkan untuk menebus gadget-nya sendiri, bisa jauh lebih banyak dibanding total biaya yang pernah dikeluarkan untuk mentraktir teman selama empunya gadget hidup. Ndak heran.

Lain lagi dengan kehilangan kekasih. Kehilangan kekasih yang saya maksud di sini, tentu bukan ‘kehilangan’ berdasarkan arti leksikal lho ya. Bukan ‘kehilangan’ macam: sedang makan berdua, kemudian dia pamit pergi ke toilet dan mak jegagik hilang begitu saja—karena diculik Mas-Mas berjaket kulit yang naik mobil Espass seperti adegan ftv di siang hari. Bukan yang seperti itu. Yang saya maksut ‘kehilangan’ di sini, tentu saja ihwal perpisahan. Baik terpisah secara baik-baik—yang sudah pasti tidak mungkin ada—atau pisah secara terpaksa, karena campur tangan oknum-oknum yang tidak diinginkan.

Musabab perpisahan yang terakhir, tentu tidak menghasilkan suasana yang baik-baik saja. Sumpah serapah, ancaman, doa-doa buruk, hingga pelbagai tindakan tidak berpendidikan lainnya, seringkali muncul dari kubu yang paling merasa tersakiti. Berpisah karena hal-hal wajar—macam sudah tidak cocok lagi—saja sudah terasa menyakitkan, apalagi disebabkan karena teman sendiri atau orang lain. Sesak dan nyerinya tentu sampai di ulu hati. (Jika fenomena ini terus berulang meski tanpa sebab, bisa jadi Anda mengidap maag akut, dispepsia, atau gejala sakit jantung.)

Kali ini, saya mencoba membuat daftar lagu yang bisa menjadi peringatan dini bagi Anda. Jika pasangan mulai sering mendengarkan salah satu lagu yang ada di daftar ini, segera ambil tindakan preventif. Inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk lewat lagu. Waspada akan bahaya laten selingkuh atau ditikung itu perlu, sebab kedua hal tersebut bisa terjadi bukan hanya karena ada niat—tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah.


Sabtu, 30 Maret 2013

Who The Fuck is Eyang Subur Anyway?


Beberapa hari belakangan,  pagi-siang-sore saya di depan layar kaca dihabiskan dengan suguhan berita mengenai konflik antara Adi Bing Slamet dengan Eyang Subur. Untuk nama yang disebut pertama, tentu tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengingat sosok si empunya nama; sekalipun belakangan ini ia hanya sesekali muncul di TV sebagai juri ajang pencarian bakat khusus anak-anak, dan dalam beberapa kesempatan tampil di tayangan sinetron religi sebagai pedagang teraniaya, yang di akhir cerita entah-bagaimana-caranya selalu bisa jadi orang kaya.  Tapi untuk nama yang disebut kedua, saya begitu asing.  Eyang Subur? Lalu siapa yang memberinya pupuk?

Who the fuck is Eyang Subur anyway?

Selidik punya selidik, ternyata Eyang Subur adalah sosok nyentrik yang dituding oleh Adi Bing Slamet, sebagai seorang pria ber-istri  9 yang memiliki keahlian/ketertarikan kepada hal –hal berbau mistis, spritual, ghaib, klenik, atau semacamnya. Dalam beberapa kesempatan, Adi bahkan terang-terangan menyebut Eyang Subur sebagai seorang dukun/paranormal. Tapi yang mencengangkan, saat tuduhan itu dialamatkan kepada Eyang Subur, kemudian muncul beberapa sosok artis kawakan yang menyanggah pernyataan Adi Bing Slamet tersebut. Sebut saja:  Srimulat, Unang, dan sebagian komedian yang sesekali kita lihat di TV/film, namun tidak pernah kita ketahui siapa namanya. Hanya familiar dengan wajahnya saja. Mereka beranggapan bahwa Eyang Subur adalah pria baik yang selama ini menjadi guru spiritual bagi mereka. Tidak kurang, (tapi sangat diragukan) tidak lebih.

Tentu akan semakin rumit — dan tidak ada gunanya — jika membahas tentang siapa sebenarnya sosok ‘Eyang Subur’ ini. Lagipula, saya yakin sesaat setelah anda membaca artikel ini, anda masih bisa ‘menikmati’ suguhan tentang perkembangan kasus ini di TV. Dimana anda akan menyaksikan tayangan: seorang pria melotot, menggebrak meja & mengacungkan tangan ke arah kamera sambil marah-marah; Adi Bing Slamet berusaha tampil seperti pemuka agama dengan menggabungkan air mata & kata-kata ‘umat’ secara bersamaan; tayangan ulang perayaan pesta Eyang, dimana pada saat itu Eyang Subur dan istrinya — yang terlalu banyak menyemprot hairspray di rambut jambul ala nyonya pejabat itu — justru terlihat sebagai petinggi TRIAD yang seringkali disebut sebagai ‘kakak pertama’ di film-film mafia Hongkong; semuanya diputar berulang-ulang. DALAM SEHARI PENUH.

Di beberapa portal berita online, diberitakan bahwa dia adalah seorang juragan percetakan, ada pula yang bilang dia hanya orang biasa yang punya alat cetak uang yang digerakkan oleh kekuatan gaib, entertainer kurang terkenal, dsb.  Yah, semacam taipan-ngacengan-nyentrik gitu pokoknya.
Tentu, saya tidak sedang menulis untuk salah satu infotainment, pun akun blog saya tidak sedang di-hack oleh seorang admin kapanlagi.com, di tulisan ini saya hanya ingin berandai-andai dan berdelusi,

BAGAIMANA JIKA KITA BANGUN TIDUR, DAN MENDAPATI BAHWA DIRI KITA ADALAH EYANG SUBUR?

  1. Jika saya bangun tidur dan mendapati bahwa saya adalah Eyang Subur, maka kemudian saya akan beli tank terbaru keluaran Rusia, untuk saya gunakan berkeliling kota sambil makan Beng-Beng dari atas kemudi tank.
  2. Jika saya bangun tidur dan mendapati bahwa saya adalah Eyang Subur, maka saya akan menghubungi Masashi Kishimoto dan Eichiro Oda, untuk segera membeli lisensi Naruto dan One Piece, agar hanya saya seorang yang tahu lanjutan chapter-chapter terbarunya. Mati kalian jadi arwah penasaran.
  3. Jika saya bangun tidur dan mendapati bahwa saya adalah Eyang Subur, saya akan memberi Coboy Junior uang sebesar 1 trilyun (masing-masing personil), supaya mereka berhenti bernyanyi.
  4. Jika saya bangun tidur dan mendapati bahwa saya adalah Eyang Subur, saya akan bergegas menuju kamar mandim cuci muka lalu sholat Subuh. Sekalipun syahwat saya Naudzubillah, saya harus tetap ingat Allah. Ailah.
  5. Jika saya bangun tidur dan mendapati bahwa saya adalah Eyang Subur, saya akan memproduksi lagi konsol PSX, dan saya bagi-bagikan ke seluruh anak kecil di Indonesia, beserta CD Suikoden II, Bishi Bashi Special, Harvest Moon: Back to Nature, dan FF VII di dalamnya.
  6. Jika saya bangun tidur dan mendapati bahwa saya adalah Eyang Subur, saya akan beli setiap jengkal tanah di perkampungan — yang sudah beralih fungsi dari lapangan sepakbola jadi perumahan —supaya saya rubuhkan dan saya jadikan lagi lapangan sepakbola.
  7. Jika saya bangun tidur dan mendapati bahwa saya adalah Eyang Subur, saya akan booking seluruh seat theatre JKT-48 selama 1 tahun penuh hanya untuk 1 nama, dan kemudian saya jadi penonton tunggal, handshake dan hi-five dengan member berulang-ulang kali, dihapal namanya oleh semua member, untuk kemudian saya ajukan  penawaran untuk jadi istri ke 10,11,12,13,14,15. Lebih-lebih ke Melody, Kinal dan Sonya.
  8. Jika saya bangun tidur dan mendapati bahwa saya adalah Eyang Subur, saya akan membeli akun @DennyJA_World, @pepatah, dan @damnitstrue untuk kemudian saya gunakan untuk nge-tweetFUCK YOU, I’AM EYANG SUBUR.”
  9. Jika saya bangun tidur dan mendapati bahwa saya adalah Eyang Subur, maka saya akan segera terbang ke Amerika, untuk membujuk Nicki Minaj agar segera di-ruqiyah.
  10. Jika saya bangun tidur dan mendapati bahwa saya adalah Eyang Subur, saya akan beli pabrik Yakult, dan kemudian memproduksi Yakult keluaran terbaru, dengan botol kemasan seukuran Aqua 150 ml.
Kalo kamu?

Senin, 18 Maret 2013

“Habis, Kamu Selebtwit Sih”

Bermain-main dengan 140 karakter, tak pernah menjadi semenarik ini. Ya, semenjak ada Twitter, menit-menit yang biasanya hanya kita habiskan dengan dlangap-dlongop ga jelas, bengong, membayangkan sesuatu yang sebagian besar hanya bisa dibayangkan saja; tiba-tiba beralih menjadi menit-menit yang diisi dengan sebuah kegiatan menyenangkan. Twitter juga bertanggung jawab atas gaya berjalan baru hampir sebagian anak muda di Indonesia: menunduk, memandangi layar hp, berjalan dengan ritme tidak jelas, dan seringkali susah-nyambung jika diajak berbicara. Sering, kita mengulang pembicaraan yang tadi sudah disampaikan, karena lawan bicara — seperti disebutkan tadi — pasti akan merengek: “Eh, apa? Gimana gimana tadi? Tadi ga jelas. Ulangin ulangin deh.” 


Yang sudah mengenal perkembangan teknologi dengan baik, pastilah akrab dengan Twitter. Rentang usia penggunanya pun beragam: mulai dari anak kecil usia 8 tahun – sampai orang tua yang digit dari umurnya hanyalah pengulangan dari angka tadi: 88 tahun. Tapi memang — seperti rentang umur pengguna jejaring sosial lainnya di Indonesia — kebanyakan pengguna Twitter masih didominasi oleh anak-anak muda, dan (orang yang merasa dirinya masih seperti) anak muda Sebutlah pantaran umur 15 – 35 tahun. Patut dicurigai, apabila ada dari mereka yang masih dalam rentang usia tadi, tapi tidak memiliki — atau bahkan belum pernah mengenal — akun Twitter; pastilah sistem pemerintahan di daerah rumahnya masih menggunakan pola kadipaten, di mana mereka memilih seorang Adipati sebagai pemimpin di daerahnya. Bisa jadi.
Di antara sekian banyak pengguna Twitter tadi, muncul segelintir orang yang dinilai pantas untuk menyandang sebuah gelar, yaitu ‘Selebwtit’. Lalu, apa itu Selebtwit?

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang ‘Selebtwit’, di antaranya:
  • Selebtwit bukan berarti ‘taruh di pohon’ dalam bahasa Jawa, karena itu seleh wit.
  • Selebtwit bukan berarti ‘taruh di sepeda’ dalam bahasa Jawa, karena itu seleh pit.
  • Selebtwit bukan berarti mantan jurnalis Rolling Stone yang sekarang konsen menggeluti karir di ranah Standup Comedy, Seleh Solihun. Oh, itu Soleh Solihun. Iya, tau yang ini garing. Garing Nugroho. [ b u n u h s a j a l a h]
Siapa yang pertama kali mencetuskan istilah ‘selebtwit’, ibarat berapa umur Nikita Willy yang sesungguhnya: hingga kini, masih menjadi misteri. Tiada satu orang pun yang tahu. Definisi ‘selebtwit’, bagaimana acuan standar selebtwit yang baik dan sesuai kaidah (hei, bukankah ini lahan bagus untuk MUI?), dan siapa-siapa saja yang berhak menjadi selebtwit masih rancu. Membolak-balik kitab suci pun seakan nihil; karena saya juga tak mendapati jawaban atas kebingungan saya perihal ‘selebtwit’ ini. Jadi, (sekali lagi) apa itu selebtwit?
Entah angin apa yang mendasari saya untuk melakukan riset, sebelum mulai menulis artikel yang bahkan-saya-tak-tahu akan dibaca oleh orang atau tidak ini; yang jelas, saya sempat melakukan riset sederhana dengan metode random sampling, dengan koresponden beberapa teman-teman saya kuliah:

Q: “Menurut kamu, apa itu selebtwit?”

(Beberapa jawaban ada yang saya edit & sederhanakan, tanpa mengubah makna jawaban tersebut)

A1: “Yang followers-nya banyak. Yang nge-tweet ‘capek’ aja di-retweet berpuluh-puluh orang.”
A2: “Yang kalo nge-tweet lebay, semua orang juga tahu, dan maksa. Apalagi kalo ngiklan.”
A3: “Ngga tahu juga. Tapi biasanya, orang yang sering nongol di timeline kita, sekalipun dia ga kita follow."
A4: “Anak sajak. Timeline-nya rapih. Kadang ada yang suka modus-modus murahan gitu. Eh tapi seru juga kok timeline-nya. Keren.”
A5: “Orang yang tahu bener caranya bersenang-senang di Twitter”
A6: “Yang kaya kamu bukan, Bon?”

Jawaban tadi saya dapatkan lewat bincang-bincang sederhana, bukan ter-struktur seperti riset skripsi/thesis mahasiswa.  Tidak dibuat-buat, hanya diedit & disederhanakan tanpa mengurangi makna sesungguhnya.*

(*) = Buat teman-teman Komunikasi UNS 2010, terima kasih kesediannya menjawab, ya. Maaf saya dulu tanya-tanya, tapi ga bilang buat apa. :p

Sebelum menyimak jawaban 1-5, mungkin ada baiknya kita sedikit membahas poin nomer 6. Yang pertama, saya tidak pernah self proclaimed sebagai selebtwit. Dari definisi selebwit yang disampaikan di poin 1-5, saya hanya ada di poin 4 dan 5; timeline saya bukan rapat tirakatan, yang hanya dipenuhi RT-RT dari berbagai tempat, hanya saja saya menaruh sedikit perhatian pada penggunaan tanda baca, estetika susunan kata, dan unsur ‘penak disawang opo ora’ kalo di-tweet. Pun, saya menggunakan Twitter sebagai media bersenang-senang dan dan perantara bagi saya untuk mengobati kejenuhan. Mungkin bagi beberapa orang, saya masuk di poin ke 2, tak apa, itu hak mereka menilai saya bagaimana. Untuk sisanya,  saya jelas tidak termasuk di kategori yang lain: followers banyak, retweet-able, menggunakan akun untuk kepentingan iklan barang/jasa, tidak pandai bersajak, tidak pandai ber-modus ria, atau bahkan selalu muncul di timeline orang yang tidak mem-follow saya. Saya jauh dari itu.

Namun memang, saya kenal & intens berhubungan dengan beberapa teman yang seringkali disebut namanya ketika diajukan pertanyaan ‘selebtwit siapa sih?’, itu saja. itupun tidak banyak. Sekali lagi, esensi bermain Twitter bagi saya adalah bersenang-senang, kalaupun sempat mengenal beberapa orang hebat dan luar biasa di sini, itu bonus. Dan tidak ada salahnya untuk menerima bonus itu dengan senang hati. Bukankah tidak baik, jika menolak rejeki?  [h e k c u I h]

Kembali ke bahasan soal jawaban beberapa rekan saya tadi. Jadi, apakah selebtwit itu bisa didefinisikan persis seperti apa yang didefinisikan oleh rekan saya tadi?

Buat saya pribadi: tidak.

Sebut saya sebagai lelaki ber-standar ganda (karena standar nasional sudah jadi milik Maspion, dan standar samping sudah jadi milik mas-mas parkir) karena saya kenal beberapa rekan yang seringkali menerima gelar — dan mau tidak mau harus menerima definisi suka-suka dari — Selebtwit.

Tapi hei, akal sehat saya juga nampaknya sulit untuk menerima kenyataan sepihak seperti itu, pun seandainya saya tidak mengenal beberapa dari mereka. Bagaimana bisa, kita menyalahkan mereka atas melimpahnya followers yang mereka miliki, hanya karena banyak dari orang yang tertarik dengan ‘ketidak-biasaan’ yang ada di akun miliknya? Jika kalian sanggup membenci seseorang karena dia memiliki pengikut lebih banyak, lantas bolehkah saya tiba-tiba membenci kalian hanya karena kalian jauh lebih kaya? Tentu tidak
.
Mungkin ada dari kita yang berpikir “yang kami benci sikap angkuhnya, bukan jumlah follower-nya”. Well, ini adalah bahasan yang tak akan pernah usai. Di satu sisi menganggap ‘tidak membalas mention adalah bentuk kesombongan’, yang satu menanggap itu sebagai hal yang biasa saja. Saya sering ngobrol dengan teman, tentang bagaimana memandang gejala ‘keangkuhan’ ini. Saya pribadi, lebih memilih terlihat angkuh di dunia maya, untuk kemudian bersikap ramah di dunia nyata, daripada sebaliknya. Fokus hidup saya di luar, bukan di linimasa. Tapi, memang lebih baiknya menjadi ramah di dua ranah yang saya sebutkan. Musuh bukan kepingan Tazoz, yang harus dikumpulkan sebanyak mungkin. Tidak ada salahnya juga, untuk menjadi ramah dan mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya di dunia maya.

Sebagai manusia normal, tentu kita memiliki kecenderungan untuk menganggap ‘diri kita lebih dari orang lain’, yang membedakan antara individu satu dengan yang lain, hanya di kadarnya. Ada yang terus menganggap hal ini sebagai sebuah pride yang harus terus dijunjung tinggi, ada pula yang sesekali mau berkompromi dengan gengsinya. Ketika kalian memiliki sesuatu yang orang lain tidak punya — dan itu dicapai dengan perjuangan —, tentu saja itu sangat menggoda kita untuk bersikap jemawa; lihat bagaimana Andhika Kangen Band beranjak dari remaja kampung yang memancing simpati & rasa salut akan perjuangannya untuk menapaki kesuksesan, beralih jadi sosok tengil & memancing umpatan seluruh ibu-ibu PKK di manapun berada. Di Twitter mungkin tidak seekstrem itu, tapi pada dasarnya memiliki gejala sama: syndrome superstar. Kembalikan saja pada masing-masing individunya. 

Emang Lu Bisa Bikin? Bisa. Tapi…..

Lantas, ada beberapa kawan yang kemudian menciptkan sebuah karya. Entah itu buku, entah itu film, entah itu perhelatan, entah itu merchandise, atau apapun yang diawali dari keberhasilan mereka menarik orang untuk mengamati setiap kicauan mereka di Twitter. Namun seperti halnya sambutan sebuah karya di manapun berada: selalu ada yang menyuarakan dukungan, pun dengan cercaan. Tidak terkecuali karya ‘anak-anak’ Twitter.

Ada yang memang sudah menikmati karyanya, lalu kemudian mengeluarkan opini pribadinya. Ada pula yang memang nampaknya dianugerahi bakat untuk jadi cenayang, karena tanpa menikmati karyanya, sudah mampu untuk mencerca. Sah-sah saja.

Saya pribadi, berusaha untuk menikmati karyanya terlebih dahulu, lalu kemudian berkomentar. Ada beberapa karya milik mereka, yang jujur, bagi saya biasa saja. Tidak menimbulkan kesan “anjing, keren!” dan membuat saya untuk terus menikmatinya secara berulang-ulang. Namun, ada pula yang sanggup membuktikan kepercayaan publik, bahwa dia bukan hanya mengandalkan ‘nama besar di Twitter’ semata.
Namun ada baiknya kita mengingat, bukan tanpa pertimbangan seseorang ditunjuk untuk menghasilkan sebuah karya. Di balik — bagaimanapun —hasil akhir sebuah karya,  tentu ada kelebihan dan sebuah pencapaian yang sudah berhasil mereka torehkan.  Bukan tanpa sebab, seseorang menunjuk mereka untuk menciptakan sebuah karya. Namun ketika jumpa dengan industri, mungkin mereka dihadapkan dengan berbagai pilihan.  Ada baiknya sering-sering berkunjung ke ‘dunia’ mereka sebelum di Twitter (blog, website, dsb), untuk menilai bagaimana kualitas mereka dalam berkarya.

Aku, Kamu, Kita Cuma Perlu Cuma Piknik

Jika ternyata kita melewati hari dengan terus-menerus mencaci, mengolok-olok, atau bahkan menentang pencapaian dengan membabi-buta, tanpa mau menerima fakta-fakta yang selalu menyertainya;  ada baiknya kita mulai menghujat diri sendiri, karena begitu bebal, sampai-sampai tidak mau menerima keberagaman.
Sampai saat ini, saya hanya menganggap Twitter sebagai tempat bermain. Taman bermain pastilah menyebalkan, jika hanya diisi oleh orang-orang relijius yang hidupnya semata hanya untuk urusan surgawi saja. Di taman bermain, kita perlu orang tengil, orang setengah tengil setengah alim, orang asyik, orang bandel, orang pendiam, orang membosankan, untuk kemudian mengisi keberagaman yang ada di dalamnya.   
Pun dengan Twitter yang selalu menjadi menarik karena ada banyak ‘pelangi’ di dalamnya. Ada yang dari pagi sampai malam, kejar setoran untuk cari retweet dan follower; ada yang bahkan dalam sehari, hanya menuliskan satu tweet; ada yang dari pagi sampai malam, hanya membicarakan soal cinta; ada pula yang komposisi jumlah tweet-nya, hampi 80 % ditujukan untuk mencibir akun-akun yang gemar menulis perihal cinta; ada yang gemar menumpuk twitlonger tanpa memperhatikan tanda baca; ada pula yang sangat teliti, mulai dari titik sampai koma. Tapi sekali lagi, mereka yang membuat taman bermain kita menjadi menarik. Tanpa si RT-abuser, kita tak akan tahu betapa indahnya ketika kita memperhatikan keindahan susunan kalimat & tanda baca, tanpa mereka yang setiap hari mengeluh soal betapa sengsaranya jatuh cinta, kita tentu akan jauh lebih menghargai orang tercinta, jika tidak ingin bernasib sama ngenesnya seperti mereka.

Hidup, terkadang seperti warna rambut Mitha The Virgin: tak menentu dan selalu penuh dengan kejutan. Tapi karena tak menentu itulah, hidup jadi menarik. Siapa yang tahu, suatu hari nanti kita (berada pada kondisi yang sering dijumpai beberapa anak-anak Twitter) akan kesulitan untuk berkata ‘tidak’, kepada mereka yang menawari kita untuk melebarkan pencapaian dan karya yang pernah kita buat. Padahal setiap hari, kita mencibir pencapaian mereka.

Siapa yang tahu pula, akun dengan pengikut banyak yang sering kita agung-agungkan itu, tiba-tiba di-hack oleh jasa layanan pembesar penis, sehingga tak lagi bisa kita gunakan. Mulai lagi dari semula, menjalin hubungan kembali dengan beberapa kawan yang ada di akun terdahulu, kembali menjadi orang yang sedikit ‘ngoyo’ untuk kejar setoran retweet dan follower. Yah, siapa yang tahu?

Ketika kita masih meributkan perihal ‘siapa-harusnya-harus-ngetweet-apa’, di lain tempat, lahan bermain ini sudah bisa menggerakkan seseorang untuk melakukan perubahan. Lihat, bagaimana masyarakat Mesir bisa menggulingkan tirani, hanya karena isu-isu yang mereka angkat di linimasa mampu menggerakkan orang banyak; lihat bagaimana masyarakat kita bisa menyuarakan dukungan untuk KPK, keberagaman beragama, dan kesetaraan hak, karena beberapa orang hebat di linimasa, mampu menggiring mereka untuk memiliki paradigma yang sama; lihat bagaimana standup comedy di Indonesia (mendadak bisa) jadi lahan penghasilan bagi pekerja seni, karena kemunculannya diawali oleh bincang-bincang beberapa orang, yang sebelumnya hanya saling mengenal via Twitter; saya juga sempat menyaksikan langsung, bagaimana animo anak muda di kota Solo – dan kemudian diikuti oleh kota-kota lain —, untuk mengungkapkan kecintaannya pada Lokananta (yang sebelumnya terbengkalai), hanya melalui movement sebuah tagar di Twitter, tanpa media promosi lain yang jor-joran. Twitter, memang hanya dibatasi oleh 140 karakter, tapi dampak dan manfaat yang bisa dirasakan oleh penggunanya, bisa menjamah individu yang dipisahkan jarak hingga beribu-ribu kilometer.

Sayup-sayup terdengar “Bisanya ngetwit sama ngebacot doang lu di Twitter. Kaya selebtwit aje,” yang kemudian dibalas:
LAH ELU MAU NGAPAIN KALO DI TWITTER? KHATAMAN AL-QURAN? NANEM PALAWIJA?”

Minggu, 03 Maret 2013

Bagaimana Mengapresiasi Kimcil Selayaknya Sebuah Mahakarya



Kimcilku, kimcilmu, kimcil kita bersama

Saya sedang menikmati secangkir gelas dawet Banjarnegara ukuran sedang, dan berencana untuk segera bergegas pulang ke rumah; setelah –katakanlah 1 atau 2 tegukan terakhir yang kemudian dilanjut dengan menghabiskan sebatang Gudang Garam. Tapi seketika rancangan agenda singkat saya tadi berubah, setelah kedatangan 2 orang remaja putri  yang mengenakan seragam SMA/SMK (saya lupa, tak begitu mengingat detail badge yang menempel di lengan kanan seragamnya. Setiap kali saya melihat yang seperti ini, fokus saya — entah kenapa—  langsung tertuju ke bagian saku OSIS-nya. Hanya ingin memastikan bordir jahitan saku OSIS-nya rapi; itu saja.)

Percakapan di antara keduanya mau tidak mau bertanggung jawab atas kembungnya perut saya, karena untuk kali kedua dalam 30 menit memesan secangkir gelas dawet lagi. Sungkan rasanya, jika hanya duduk-duduk-sambil-nguping-pembicaraan-dua-anak-(entah masih/tidak) gadis di warung es dawet hanya sambil ditemani rokok saja. Tapi sungguh, pesanan dawet saya yang ke dua ini serasa hambar dan mubadzir, karena fokus saya bukan bagaimana untuk menghabiskan dawetnya, tapi ke bagaimana isi pembicaraan dua remaja yang tadi baru saja.

Asu og, wedhoke kae soyo suwe soyo menthel. Dijarne malah soyo ndadi, ket mau tak mat-matne wonge caper terus karo Bagong (nama disamarkan) neng kelas.”

Translate:

“Anjing memang, itu cewe makin lama makin ganjen. Dibiarin malah makin jadi, dari tadi gue perhatiin dia caper mulu sama si Bagong di kelas.”

Bagi saya yang orang Jawa, mendengarkan seorang wanita —apalagi masih duduk di bangku SMA— mengucapkan umpatan ‘Asu’ di tengah kerumunan orang yang sedang makan/minum adalah sebuah hal yang luar biasa. Naif rasanya kalo saya bilang saya jarang misuh/mengumpat, tapi ada semacam perasaan aneh setengah miris; ketika mendapati wanita berkelakuan demikian.

Saya agak malas menuliskan transkrip pembicaraan kedua gadis remaja tadi. Karena selain saya bukan penyidik KPK —yang gemar mencatat ulang transkrip pembicaraan pelaku korupsi di telepon— kurang etis rasanya untuk mencatatkan beberapa anggota tubuh, jenis hewan, dan jenis pekerjaan disebut di sini (Ex: kontol, asu, lonthe.)

Saya tipikal orang yang gemar menilai seseorang, hanya dari penampilan dan attitude. Masa bodoh dengan mereka yang bilang ‘penampilan itu ga penting’, buat saya, hal itu menjadi penting; karena — saat pertama kali bertemu — biasanya orang lain menilai seseorang melalui penampilan. Dan dua remaja tadi, berdasarkan penampilan —dan juga attitude — saya kategorikan sebagai:

KIMCIL

berani perih itu baik

Bagi yang baru pertama kali mendengar kata ‘kimcil’, mungkin akan terdengar seperti rumah makan serba Korea, nama personel boyband Korea, atau semacamnya; tapi percayalah, makna sebenarnya jauh dari persepsi kalian itu.

Kimcil merupakan akronim dari ‘Kimpet Cilik’, Kimpet adalah bahasa Jawa slang yang merupakan pelafalan (sedikit lebih) halus dari Tempik: organ tubuh vital perempuan. Cilik sendiri bisa diartikan kecil, mungil, dsb.  Jadi secara harfiah, kimcil bisa dimaknai sebagai organ vital perempuan yang masih berukuran kecil, mungil dan menggemaskan; tapi secara pergaulan, dimaknai seenak jidat sebagai ‘remaja putri yang sedang dalam proses pencarian jati diri, dan seringkali menghalalkan segala cara untuk mencapai tangga keeksisan’

Tapi merujuk pada KBKI (Kamus Besar Kimcil Indonesia), maka kita harus bisa mengklasifikasikan kimcil ke dalam beberapa golongan lagi, di antaranya:

  1. Kimcil Amatir: Hanya mencapai puncak keeksisan di tingkat sekolah; itupun hanya di skala kelas 1,2,3. Secara dandanan, bisa dibilang mereka adalah ‘bencana visual’, sering mentabrak-tabrakakan warna pakaian yang ada di tumpukan teratas lemari pakainnya, tanpa memperhatikan komposisi keindahan & pantas-tidaknya ketika dipakai. Sering berada di sekitaran alun-alun, gigs musik htm 5 ribuan, sering salah kostum (ex: memakai legging bermotif macan dengan pakaian super besar, atau bahkan lebih tepat disebut mantol hujan), masih menganggap bahwa eksis di Facebook adalah hal yang keren, dan seringkali menempel stiker yang bertuliskan istilah-istilah Twitter di helm. Jangan sesekali melihat album foto Facebook-nya, jika anda masih peduli dengam kesehatan mata anda. Bagi mereka, memiliki/punya pacar yang naik Satria-X, adalah pencapaian tertinggi dalam hidupnya.
  1. Kimcil Regular: Berada di tengah-tengah peredaran keeksisan; terkenal tidak, tidak diketahui oleh banyak orang pun bukan. Di tengah-tengah. Mereka adalah versi upgrade dari kimcil amatir, dengan kapasitas otak yang sedikit lebih diperbesar. Rujukan fashion-nya pun tidak begitu parah, namun juga masih jauh dari kata ‘bagus’. Tongkrongannya tidak pasti; kadang di mall, kadang juga di warung es yang paling terkenal seantero kota. Komposisi nongkrongnya selalu sama; beli minum, ngobrol, sedot isi gelas sampe berbunyi ‘sroooo sroooot’, lalu nongkrong berjam-jam tanpa membeli suatu apapun lagi. Sudah mulai akrab di Twitter, tapi seringkali juga jadi ‘penyakit mata’ di timeline dengan menjadi RT Abuser.
  1. Kimcil Berkualitas (dedek-dedek lucu): Mereka adalah alasan segerombolan remaja putra mendatangi suatu tongkrongan, karena si dedek lucu update ‘duh, di starbucks/j.co sendirian aja nih’. Berada di puncak keeksisan, bahkan bisa sampai lintas usia, lintas kota, dan lintas provinsi. DP BBM-nya, diperkirakan sudah diunduh beberapa orang yang ngebet pengen ngobrol dengannya via bbm, namun chat-nya hanya dibiarkan dalam kondisi ‘D’ sampai Imam Mahdi tiba. Dalam urusan fashion, mereka jauh lebih maju selangkah dibandingkan dua kategori sebelumnya. Tak ayal, Sonia Eryka dan Anastasia Siantar sering mereka jadikan rujukan dalam berdandan. Di Twitter, mereka tahu benar bagaimana menerapkan strategi ‘caper’ dengan baik yang benar. Anak band setempat, tentu sudah paham benar bagaimana gelagat dia dalam keseharian; bahkan mungkin jika dia membentuk paguyuban mantan dalam satu band, sudah bisa menghasilkan beberapa album hits, mungkin. Naik mobil adalah sebuah harga mati, jadi jika kalian bermodalkan kemaluan dan motor matic, ada baiknya jauh-jauh dari mereka; sebelum jatuh hati terlalu jauh.
  1. Kimcil Frustasi: tidak bisa didefinisikan. Bisa menjadi 3 kategori tadi, atau bahkan tidak semuanya. Mereka punya dunia sendiri; yang hanya dia dan celana gemesnya yang tahu, bagaimana mereka berfikir dan bertindak. Tapi karena seringkali di luar perkiraan, perhatian yang mereka dapatkan seringkali salah alamat. Coba temui mereka setelah pulang sekolah, ajak kenalan, ajak jalan-jalan sambil liat kereta lewa; kemudian tembak; mereka akan selalu mengiyakan, atau bahkan mungkin mengajak kalian menikah di sana.
Saya tidak menyalahkan mereka, atas ketidakmampuan mereka menyadari bahwa perilaku ‘ke-kimcilan’ mereka seringkali mengundang tawa orang lain. Mereka hanya gadis usia belasan, yang perlu dipangku semberi diberi arahan yang benar.
Mungkin saat 10 atau 15 tahun mendatang, mereka akan menertawakan bagaimana mereka dulu mencari jati diri dengan merujuk pada standarisasi keren anak remaja seusia mereka. Bagaimanapun, hidup perlu fase di mana kita melakukan tindakan bodoh dan di luar akal sehat; agar tak melulu membosankan dan kekurangan asupan tawa di masa depan. 


Ada baiknya, kita mengingat kembali lirik lagi dari grup band Seurieus yang pernah heboh pada masanya:

Kimcil juga manusia, punya rasa punya hati. Jangan samakan dengan, pisau belatiiiiiiiiii~

Cring, Cring, Cring


Beberapa tahun belakangan ini, saya merasa muak. Saya jijik, melihat bagaimana seseorang harus menjadi pribadi yang berbeda ketika dihadapkan dengan pundi-pundi rupiah.

Saya iba, melihat betapa lacurnya mereka menukar bahagia ― yang mungkin sudah mereka bangun dalam skala tahunan ― hanya demi bertambahnya digit-digit rekening, yang saya yakin tak sanggup bertahan dalam hitungan bulan.

Entah, saya yang besar pada jaman yang salah; atau saya yang terlalu keras menghardik perubahan jaman yang mau tak mau pasti datang menghampiri. Saya merasa, ada yang salah dengan jaman ini, di mana acuan bahagia harus dihitung dengan berapa banyak pigura-mortal-para-pahlawan yang sanggup kita gelontorkan.

Syukur, sejauh ini ― sekalipun tak pernah berada dalam kadar 'berlebihan' ― saya masih diberi kemudahan ketika harus berhadapan dengan segala yang berbau rupiah. Menyenangkan, mendapati kesederhanaan tak pernah pelit berbagi kebahagiaan dengan saya dan keluarga.
                                   
Saya banyak bertemu sahabat, yang tak pernah jauh-jauh dari makna 'bahagia', sekalipun garis hidupnya sanggup membuat siapapun yang mengetahuinya; berulang-ulang kali mengelus dada.

Sesekali mereka bercerita, tentang bagaimana hidup menempa & memaksa sekitarnya untuk tetap tegar. Kadang, mereka juga dengan lucunya berbagi mimpi tentang bagaimana nikmatnya jika mereka hidup seperti 'mereka-mereka'. Sebuah bahasan yang selalu berhasil membuat tawa pecah di mana-mana.

Saya membagi bahagia dalam dua kategori. Pertama, yang memang mendapatinya dengan dengan tanpa perlu bersusah-payah, sehingga acuan bahagia yang mereka miliki kadang sulit untuk dimengerti. Kedua, yang harus memperhatikan sekeliling terlebih dahulu untuk mendapatkan acuan bahagia; lantas bersusah-payah mendapatkannya, agar kemudian semua orang tahu bahwa dia kini tak lagi akrab berkawan dengan duka.

Lucu, ketika mendapati remaja yang baru saja menginjak kepala dua seperti saya, harus lebih memperdulikan bagaimana tatanan hidup bahagia seseorang lewat besarnya nominal uang. Bukan tentang cinta-cintaan atau bagaimana memperdalam kemampuan omong kosong saya, tentang bagaimana indahnya mahligai rumah tangga yang akan dibina kelak; pada wanita yang tingkat akurasi menjadi pendamping untuk masa depan, hanya mencapai kisaran 20%. Yah, kurang lebih itulah yang jadi pemandangan saya sehari-hari ketika duduk bersama 5 kepala yang baru saja mengucapkan salam perkenalan pada angka 20; sampai pagi, sampai malas untuk pesan secangkir kopi lagi.
 
Tapi, itulah yang mendasari rasa muak & benci saya kepada beberapa sosok beberapa tahun belakangan ini. Melihat bagaimana mereka harus mengorbankan apa yang jadi cerita kebanggaan pada anak cucu kita masing-masing kelak, hanya karena kesimpang-siuran berita yang kesemuanya mengerucut pada satu bahasan: uang.

Ah, tiba-tiba saya ingat cerita tetangga ketika duduk bersebelahan di angkringan dekat rumah. Dia dengan penuh rona bahagia berbagi cerita, tentang bagaimana ia menjalani rutinitas hidupnya dari pagi-menjelang malam hari. Secangkir kopi, sebatang kretek selalu jadi sahabatnya di pagi hari. Yang dilanjut dengan kegiatan mengantar anak sekolah, 15 menit kemudian. Tak lupa sebelum mengecup kening anaknya di depan gerbang sekolah, ia menitipkan beberapa lembar ribuan di saku anaknya.

"Buat jajan dan keperluan fotokopi ya nak. Kalo ibu guru menagih uang LKS, bilang: dompet ayahmu ini baru terisi penuh ketika angka di kalender hanya menunjukkan 1 digit angka saja. Masuk, masuklah. Cari bahagiamu dengan berlari-lari dan berlomba menarik perhatian teman wanita sebangkumu" katanya.
Kemudian dia pulang. Sesampainya di rumah, segeralah dia bergegas untuk mengisi mangkuk pakan burung yang ada di sangkar ― yang tergantung di atap rumahnya ― dengan penuh. Sesekali ia menggoda burung peliharaannya itu dengan pertanyaan bodoh. Bertahun-tahun ia bertanya pada burungnya itu, bertahun-tahun pula ia tak pernah mendapati burungnya menjawab; meski hanya dengan kicauan, anggukan, atau apapun gerak tubuh yang menandakan ia paham dengan apa yang diucapkan oleh majikannya. Tapi, ia selalu mendapatkan senyum kecil dari rutinitasnya yang satu itu. Sekali lagi, hidup 0 - 1 kesederhanaan bahagia.

Siang hari, ia kembali bergegas menuju sekolah anaknya. Selama hidupnya, ia tak pernah membuat anaknya menunggu lebih dari 15 menit untuk kepanasan di depan gerbang sekolah menanti ayahnya datang dengan motor tuanya.

Di rumah, makan siang dengan lauk-apapun-yang-bisa-dimasak-dari-kulkas-kecil-di-dapur sudah terhidang. Bagi mereka, tak penting apa yang masuk ke perut. Toh nanti ketika dibuang, warna dan bentuknya kurang lebih sama. Tapi yang menarik adalah: ada semacam peraturan tak tertulis, yang mengharuskan mereka makan di meja makan bersamaan. Bagi keluarga ini, bahasan dan perbincangan yang terjalin setelah makan siang, harus jauh lebih berkualitas dibanding apa yang mereka makan. Makan boleh hanya dengan sepiring tahu, tapi setelah makan, semua problematika yang ada di dalam keluarga; semua harus tahu.

Sore hari, ia mewajibkan anaknya untuk keluar rumah. Entah hanya untuk sekedar bermain bola di lapangan kecil di kampungnya, atau bersepeda sambil berkejar-kejaran dengan teman sebayanya. Membiarkan anaknya di rumah, dan melewatkan kesempatan untuk menghapal nama anak-anak tetangganya ― karena tak pernah keluar rumah ― adalah dosa besar bagi dirinya. Tawa kecil mereka saat berjalan kembali ke rumah, sesaat setelah adzan Maghrib berkumandang, adalah sebuah keriuhan yang bakal mereka kenang sampai tua nanti. Persis seperti apa yang dirindukan sang ayah kini. Sementara ia sendiri, sesekali pergi memancing di sungai kampung sebelah. Tak peduli seberapa banyak tangkapan yang berhasil dia bawa pulang, ketika sampai di rumah, dia seperti baru saja mengisi-ulang kapasitas bahagianya untuk hari ini. Baginya, ikan hanyalah kepingan rupiah dalam proses kehidupan, hanya jadi bonus; yang terpenting adalah bagaimana melewati prosesnya, bukan hasilnya. Klise, tapi memang selalu begitu adanya.

Ketika hari tak lagi terang, selalu ada riuh di balik sunyinya malam. Dia pergi ke pos ronda, bertemu dengan para pria-pria seusianya; yang sama-sama jenuh dengan tumpukan kertas, deretan angka, raut muka pimpinan, dan tentu saja aroma pewangi ruangan yang tergantung di mesin pendingin selama berjam-jam. Angkringan, papan catur, dan beberapa tumpuk kartu gaple adalah pendengar setia dari keluhan siapapun yang duduk sampe larut di sana; mulai dari politik, biaya sekolah anak, baiaya tagihan motor, kebiasaan tetangga, bahkan hingga kurang memuaskannya pelayanan sang isteri beberapa hari belakangan. Tetapi itulah mereka, di sana, mereka selalu menertawakan bagaimana hidup mencoba menertawakan mereka.

Dee pernah mencoba menulis di salah satu karyanya, Supernova — Petir, tentang bagaimana sinisnya dia memandang berhala rupiah. ‘Mpret’ adalah refleksi sempurna, akan ketidakpedulian manusia akan acuan bahagia yang seenak jidat sudah ditetapkan bersama:

“ Besok pagi lu bayangin, lu bangun dan satu dunia sepakat kalo uang itu nggak ada. Bisa? Pasti bisa. Uang bisa hilang dalam sedetik. Tapi coba lu bayangin, lu dan dunia sepakat kalo rasa bahagia itu nggak ada…cinta itu ga ada…bisa?”

Memang, Mpret sepertinya lupa, kalo suatu saat — ketika dia sudah berkeluarga — dia harus mendapati bahwa keluarganya bukan kuda lumping; yang bisa merasa kenyang cuma karena makan bohlam dan pecahan beling. Mereka butuh beras, nasi, atau apapun itu yang bersifat mengenyangkan. Bahagia tidak akan membuat kita menghasilkan tinja berwarna kekuning-kuningan.

Seorang teman pernah berkata “Jangan pernah punya mau, jika enggan berusaha. Sebaliknya, jika tak pernah ingin berusaha, jangan pernah juga untuk punya mau”. Sekilas, terdengar seperti kutipan seorang motivator yang —self proclaimed— berhasil membuat banyak orang bangkit dari kegagalan; kemudian jadi milyarder, namun untuk beli obat penumbuh rambut untuk dirinya sendiri ia tak sanggup. Memang, bahagia selalu menuntut seseorang untuk tak bermalas-malasan mengejarnya, namun kita juga jangan lupa; ketika acuan bahagia nampak mustahil untuk kita nikmati, kenapa bukan standar bahagianya saja yang kita ubah? Sesederhana itu.