![]() |
| "Mangan ra mangan sing penting gelut." |
Senin, 24 Agustus 2015
Perkara Terbaik dan Perdebatan yang Tak Akan Pernah Usai
Jumat, 24 Juli 2015
Ode untuk Iker Casillas
![]() |
| Adios, Iker! |
Iker Casillas kecil adalah sosok teledor. Pada usia delapan tahun, ia pernah membuat kesalahan bodoh: lupa mengirimkan surat milik ayahnya, yang berisikan 14 prediksi tepat hasil Liga Spanyol pada musim 1989/1990. Andai surat hasil prediksi itu tidak lupa dikirim, keluarga Iker Casillas sudah menikmati hadiah utama sebesar 1,2 juta Euro. Menurut Casillas, itu adalah salah satu kesalahan paling bodoh dalam hidupnya. Sampai sekarang, ia merasa masih memiliki ‘hutang’ kepada ayahnya, meski secara finansial—dengan menilik statusnya sebagai bintang sepakbola dunia—ia dengan mudah sanggup membayar uang 1,2 juta Euro.
Setahun setelahnya, Casillas bergabung bersama akademi sepakbola Real Madrid. Pada 1997, ia sedang berada di ruang kelas Instito Canaveral, sekolah menengah atas yang berada di Mostoles—kota kecil yang menjadi bagian Community of Madrid. Hari itu, kepala sekolah menghampirinya setelah mendapat sebuah panggilan telepon. Instruksi kepala sekolah jelas: Iker harus segera berkemas pulang. Tak lama kemudian, taksi datang untuk menjemputnya menuju tempat latihan Real Madrid. Ia diberitahu bahwa kiper utama Los Blancos, Bodo Illgner dan Pedro Contreras sama-sama dibekap cidera. Sebagai gantinya, Casillas—yang masih bermain di akademi—akan dipanggil bergabung dengan tim inti, dan akan bertolak ke Norwegia untuk melakoni laga penyisihan grup melawan Rosenberg di Liga Champions. Dua tahun setelah itu, ia berhasil menembus tim inti Real Madrid.
Dan seperti yang kita ketahui, sisanya adalah sejarah.
Kamis, 09 April 2015
Olga Syahputra dan Tawa yang Semacam Embuh
![]() | ||
| So long, funny guy. |
Sore itu, saya dibangunkan Ibu.
Setelah percobaan ke sekian, akhirnya saya bangun. Masih setengah sadar, mata kriyip-kriyip, saya mendengar
sayup-sayup suara azan dari masjid di dekat rumah.
“Oalah, wis magrib to.”
Pikir saya, adalah hal wajar
kalau Ibu membangunkan anaknya ketika waktu magrib tiba. Pasti disuruh
buru-buru bangun, lalu salat. Maklum, waktu Magrib memang yang paling singkat
di antara waktu-waktu salat lainnya. Kalau saya masih klumbrak-klumbruk koyo kumbahan reget di atas kasur waktu magrib
tiba, tentu saja harga minyak dunia tidak akan melambung tinggi. Tapi ya itu,
paling besoknya nama saya sudah dicoret dari kartu keluarga. Dan itu jauh lebih
berbahaya.
“Le, bangun. Olga meninggal dunia.” Mak
jegagik. Saya langsung bangun, seketika nyawa saya terkumpul penuh.
Pertama, saya heran. Saya kira,
kalimat pertama yang bakal terucap waktu membangunkan saya—sama seperti
biasanya—itu, “Bangun, sudah anu* (*=
waktu shalat yang paling mendekati) lho. Ayo, keburu habis.” Kedua, siapa sosok Olga yang dimaksud Ibu?
Mengingat saya tidak punya kawan atau saudara dengan nama itu, pikiran saya
langsung merujuk kepada Olga Syahputra. Ketiga, kalau memang yang dimaksud
Olga Syahputra, tingkat urgensinya seberapa besar, sampai-sampai membangunkan
anaknya hanya untuk diberitahu berita duka artis—alih-alih perintah salat
magrib? Nah, ruwet to? Bangun tidur saja sudah punya tiga rumusan masalah.
Selasa, 30 Desember 2014
7 Lagu Indonesia Untuk Inspirasi Menikung & Selingkuh
![]() |
| Gari wani po ra? |
Salah satu fase dalam hidup yang mendewasakan, adalah saat kehilangan. Baik kehilangan keluarga, kawan, kekasih bahkan gadget. Kenpa gadget saya sebut? Sebab, akhir-akhir ini saya rasa banyak yang lebih sedih kalau kehilangan gadget dibanding kehilangan kawan. Wong biaya yang harus dikeluarkan untuk menebus gadget-nya sendiri, bisa jauh lebih banyak dibanding total biaya yang pernah dikeluarkan untuk mentraktir teman selama empunya gadget hidup. Ndak heran.
Lain lagi dengan kehilangan kekasih. Kehilangan kekasih yang saya maksud di sini, tentu bukan ‘kehilangan’ berdasarkan arti leksikal lho ya. Bukan ‘kehilangan’ macam: sedang makan berdua, kemudian dia pamit pergi ke toilet dan mak jegagik hilang begitu saja—karena diculik Mas-Mas berjaket kulit yang naik mobil Espass seperti adegan ftv di siang hari. Bukan yang seperti itu. Yang saya maksut ‘kehilangan’ di sini, tentu saja ihwal perpisahan. Baik terpisah secara baik-baik—yang sudah pasti tidak mungkin ada—atau pisah secara terpaksa, karena campur tangan oknum-oknum yang tidak diinginkan.
Musabab perpisahan yang terakhir, tentu tidak menghasilkan suasana yang baik-baik saja. Sumpah serapah, ancaman, doa-doa buruk, hingga pelbagai tindakan tidak berpendidikan lainnya, seringkali muncul dari kubu yang paling merasa tersakiti. Berpisah karena hal-hal wajar—macam sudah tidak cocok lagi—saja sudah terasa menyakitkan, apalagi disebabkan karena teman sendiri atau orang lain. Sesak dan nyerinya tentu sampai di ulu hati. (Jika fenomena ini terus berulang meski tanpa sebab, bisa jadi Anda mengidap maag akut, dispepsia, atau gejala sakit jantung.)
Kali ini, saya mencoba membuat daftar lagu yang bisa menjadi peringatan dini bagi Anda. Jika pasangan mulai sering mendengarkan salah satu lagu yang ada di daftar ini, segera ambil tindakan preventif. Inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk lewat lagu. Waspada akan bahaya laten selingkuh atau ditikung itu perlu, sebab kedua hal tersebut bisa terjadi bukan hanya karena ada niat—tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah.
Lain lagi dengan kehilangan kekasih. Kehilangan kekasih yang saya maksud di sini, tentu bukan ‘kehilangan’ berdasarkan arti leksikal lho ya. Bukan ‘kehilangan’ macam: sedang makan berdua, kemudian dia pamit pergi ke toilet dan mak jegagik hilang begitu saja—karena diculik Mas-Mas berjaket kulit yang naik mobil Espass seperti adegan ftv di siang hari. Bukan yang seperti itu. Yang saya maksut ‘kehilangan’ di sini, tentu saja ihwal perpisahan. Baik terpisah secara baik-baik—yang sudah pasti tidak mungkin ada—atau pisah secara terpaksa, karena campur tangan oknum-oknum yang tidak diinginkan.
Musabab perpisahan yang terakhir, tentu tidak menghasilkan suasana yang baik-baik saja. Sumpah serapah, ancaman, doa-doa buruk, hingga pelbagai tindakan tidak berpendidikan lainnya, seringkali muncul dari kubu yang paling merasa tersakiti. Berpisah karena hal-hal wajar—macam sudah tidak cocok lagi—saja sudah terasa menyakitkan, apalagi disebabkan karena teman sendiri atau orang lain. Sesak dan nyerinya tentu sampai di ulu hati. (Jika fenomena ini terus berulang meski tanpa sebab, bisa jadi Anda mengidap maag akut, dispepsia, atau gejala sakit jantung.)
Kali ini, saya mencoba membuat daftar lagu yang bisa menjadi peringatan dini bagi Anda. Jika pasangan mulai sering mendengarkan salah satu lagu yang ada di daftar ini, segera ambil tindakan preventif. Inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk lewat lagu. Waspada akan bahaya laten selingkuh atau ditikung itu perlu, sebab kedua hal tersebut bisa terjadi bukan hanya karena ada niat—tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah.
Minggu, 09 November 2014
Ramen, Gama-Chan, Sexy no Jutsu, dan Hal-Hal Dungu Lainnya
![]() |
| Keluarga Cemara |
Malam itu serasa surreal. Saya yang
baru saja rampung melahap suguhan sci-fi nan
elegan milik Nolan, Interstellar, kembali
harus terdiam sembari mengawang-awang setelah membaca bab terakhir Naruto. Untuk alasan yang pertama, tentu
karena terkagum. Hampir selama 3 jam, saya menikmati visual megah dengan
sentuhan Odissey-esque dan muatan
emosional yang pas. Untuk alasan yang kedua, karena muatan emosional yang
membuncah. Pikiran saya kacau untuk sejenak, karena komik yang saya ikuti sejak
12 tahun silam, malam itu tamat. Bukan hal mengejutkan memang, karena Naruto sendiri sudah sejak jauh-jauh
hari dikabarkan oleh Masashi Kishimoto—sang empunya karya—akan tamat jelang penutupan
2014. Bukan karena ada twist yang
sedemikian mengejutkan dari segi plot juga, karena menurut hemat saya komik ini
sudah mengalami degradasi kualitas sejak cukup lama; yang mana, hal ini
mengakibatkan cerita jadi mudah ditebak dan terkesan ‘terpaksa selesai’ lebih
lekas.
Naruto
memang
tidak menempati posisi nomor wahid dalam deretan komik terbaik yang pernah saya
baca. Tapi, Naruto pernah membuat
saya tergila-gila selayaknya saat saya membaca komik favorit saya sepanjang
masa, Dragon Ball, dulu. Apa
alasannya? Mari sedikit bernostalgia.
Langganan:
Postingan (Atom)




