Sabtu, 23 Februari 2013

Clash of the Cash



'tahun depan lu udah ga pake kaos itu kan?' - 'aaah bisa aja nih si cola'


Jika menilik 1 tahun ke belakang, Chelsea dan Manchester City adalah dua tim yang paling bertanggung jawab atas besarnya nominal kerugian para bandar judi bola. Bagaimana tidak, ketika para penikmat bola di manapun berada mengkerucutkan nama yang diprediksi bakal menjuarai UEFA Champions League (UCL) pada satu tim, yaitu Barcelona ― tiba-tiba Chelsea dengan gagahnya berhasil menumbangkan pasukan Catalan tersebut di semifinal. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ketika berada di final mereka berhasil membuat orang mau-tidak-mau-harus-percaya dengan jargon ‘bola itu bundar’, ketika berhasil membukukan kemenangan lewat titik penalti di Allianz Arena; markas Bayern Munchen, yang tidak lain adalah lawan tandingnya di final. Ya, menumbangkan klub yang dianggap sebagai tim terbaik dalam 1 dekade terakhir di semifinal, menumbangkan tuan rumah lewat titik putih setelah tertinggal terlebih dahulu, dan yang lebih mencengangkan lagi: mereka melakukannya di bawah asuhan pelatih yang baru menangani tim dalam hitungan bulan. Mungkin, perjalanan Chelsea di musim 2011/2012 adalah salah satu cerita paling dramatis yang bisa menjadi dongeng bagi anak-cucu fans mereka kelak. Mungkin.

Pun dengan City. 

Tak lagi menjadi kampiun di liga domestik selama 44 tahun, diduga menjadi penyebab kalahnya ratio kemunculan tagar #CTWD dibanding tagar #GGMU milik tetangga sekotanya. Iming-iming “bisa menyisipkan imbuhan ‘Gallagher’ di belakang nama supaya terdengar keren” bagi siapapun yang bersedia menghapal chant dan urutan pelatih tim dalam 1 dekade terakhir; nampaknya masih kurang untuk menjaring supporter City.  Persebaran pendukung mereka di berbagai penjuru belahan dunia pun tentu kalah dibanding Manchester United. Tapi nampaknya, itu bukan menjadi alasan untuk tidak menjuarai liga. Berhasil menduduki posisi puncak klasemen di detik-detik terakhir, (plus, tragedi El Thrashico yang membuat fans mereka gemar berteriak ‘SIX IN THE CITY, BABY!’ sampai hari ini) adalah pencapaian tertinggi pasukan arahan Mancini di musim 11/12. Mereka berhasil mematahkan dominasi rival sekotanya pada musim itu. Puasa gelar 44 tahun pun terhenti.

Tapi musim ini, jalan cerita kedua tim tadi sungguh berbeda. Chelsea, dengan tidak terhormatnya terlempar dari fase group UCL dengan status juara bertahan. Di Matteo pun harus merasakan bagaimana ke-Jahudi Ashkenazi-an Abramovich mendepak dia dari kursi kepelatihan. Sekalipun mengawali musim dengan amat sangat meyakinkan, tapi memasuki pekan ke-26, nampaknya mereka harus rela menempatkan diri sebagai penonton perburuan gelar intern, antara Manchester United – blunder lini belakang United karena 12 poin terasa terlalu banyak bagi saya dari peringkat ke-3.

City pun demikian. Ibarat anak usia 10 tahun yang kekenyangan, lantas kesulitan berjalan menuju masjid untuk shalat Tarawih karena terlalu banyak menghabiskan makanan saat berbukasetelah seharian penuh berpuasa; laju City di musim ini pun tidak jauh berbeda. Gelar juara liga dirasa masih terlalu ‘mengenyangkan’ City setelah puasa gelar selama 44 tahun.  Sebagai konsekuensi atas ‘kekenyangan’-nya, mereka terlempar dari fase group dengan predikat sebagai juru kunci; setelah ‘hanya mampu’ 3 kali seri dan 3 kalah. Beruntung, predikat barunya tak membuat mereka didatangi warga sekitar untuk dimintai wangsit.  Dan oh iya, dan jangan lupakan 12 poin itu.

Di luar semua faktor itu, tentu kedua laga ini tetap menarik untuk ditonton. Melihat bagaimana banyak orang menyematkan duel ini dengan label ‘El Ca$hico’ beberapa hari belakangan, tentu membuat tensi pertandingan ini  semakin meningkat.  Sayang, MNC TV tidak begitu membantu meningkatkan tensi laga hanya dengan menyematkan label ‘SUPER BIG MATCH’ di TVC-nya, seperti semua laga EPL yang mereka siarkan. 

City dan Chelsea sama-sama baru menjalani laga kandang, beberapa hari yang lalu. City berhasil menumbangkan Leeds 4-0 dalam lanjutan kompetisi FA Cup, sedangkan Chelsea harus menjamu Brentford, yang kemudian dilanjutkan dengan laga melawan Sparta Praha 4 hari setelahnya. Hanya bermain imbang 1-1, tapi hasil ini tetap membuat armada Rafael Benitez melaju ke babak 16 besar Europa League (EL).
Di atas kertas, City tentu memiliki stok pemain yang jauh lebih fit dibandingkan Chelsea. Tapi jangan lupa, ada beberapa pemain kunci yang diragukan tampil dari pihak City. Di antaranya: Vincent Kompany, Javi Garcia, dan Gareth Barry.  Sedangkan di kubu Chelsea, hampir semua pemain kunci mereka siap untuk bertanding. Hanya Torres yang masih diragukan tampil (entah ini keuntungan atau kekurangan), Demba Ba mungkin akan mengawali laga sebagai starter. Ivanovic, Luiz dan Cole juga kemarin sengaja disimpan oleh Benitez ketika menjamu Sparta Praha di Stamford Bridge.

City dan Chelsea hampir memiliki kesamaan dalam urusan formasi. Sama-sama gemar memakai 4-2-3-1 (meskipun praktiknya, City cenderung taktis ke 4-2-2-2, dengan duet Tevez – Dzeko/Aguero).  Jamya untuk sekedar mengingat, Chelsea pernah berhadapan dengan tim yang menggunakan formasi serupa —yaitu Newcastle— dan hasilnya mereka tumbang 3-2. Dan tentu kita semua tahu, bagaimana kedigdayaan Moussa Sissoko memporak-porandakan lini pertahanan Chelsea. Dan yang paut dicermati adalah: bagaimana Santon yang notabene bukan fullback dengan label ‘wow’, ikut naik ke depan dan berhasil membuat 2 assists. Belum lagi saat Reading berhasil menahan imbang Chelsea 2-2, 2 gol (dari hanya 5 shots yang mereka buat) semua berasal dari sektor kanan Chelsea. Ya, lini kanan Chelsea adalah salah satu ‘lubang yang menganga dengan ukuran paling besar’ di antara lubang-lubang  yang lain. 

City diprediksi bakal mengandalkan duet Tevez – Silva untuk memberikan suplai bola ke Aguero/Dzeko. Silva sendiri merupakan anggota kehormatan sayap kiri terbaik dunia, bergabung dengan Lenin dan Tan Malaka; bukan perkara sulit bagi dia untuk membuat linglung Ivanovic – Azpilicueta selayaknya duet Ishizaki – Urabe di timnas Jepang-nya Tsubasa. Sejauh ini, dia sudah berhasil membuat 5 assists, hanya kalah 2 angka dibanding Tevez. Sedangkan Tevez,  saya rasa lebih cocok ketika diduetkan dengan Aguero. Memang, Dzeko sudah membuat 12 gol, unggul dibandingkan  rataan gol Aguero dan Tevez (9 & 7), tapi Tevez dan Aguero adalah striker yang memiliki tipikal hampir serupa. Gemar berlama-lama membawa bola dan memberikan tekanan ke depan, sembari memberikan ruang kepada pemain lain untuk mencetak gol. Hal ini mutlak diperlukan, karena ketika dua tim yang memiliki formasi serupa bertemu, tipikal pemain seperti ini yang diharapkan mampu membuka ruang bagi rekan-rekan timnya. Bukan tidak mungkin, gol City akan datang dari lini tengah.

Dari 38 laga kandang terakhir City, mereka 37 kali tidak terkalahkan. Namun bukan berarti mereka akan melakoni laga kali ini dengan mudah. Perlu diketahui, Chelsea masih punya seorang Frank Lampard. Melihat bagaimana Lampard menduduki posisi pencetak gol terbanyak Chelsea dengan 11 gol, unggul dibanding Mata dan —yang sudah kita ketahui bersama— Torres,  adalah sebuah keasyikan tersendiri. Dia yang digadang-gadang bakal didepak oleh skuad pada musim depan, seakan terus membuktikan bahwa melepas —bahkan baru merencanakan— adalah sebuah keputusan yang mungkin akan mereka sesali.  Saya lebih menikmati pertandingan ketika Ramires diduetkan dengan Lampard, dibandingkan duet Ramires – Mikel ada di depan lini pertahanan Chelsea. Dia patut diberi porsi lebih pada laga kali ini.
 
Baiklah. Jadi  menurut anda, tagar #CTWD atau #KTBFFH yang harus saya mute setelah laga?

Kamis, 21 Februari 2013

Revival Slime vs Osiris



"Wis, ngalamat sarapan sego nget-ngetan ki" - Messi kepada bandar.


Bagi siapapun yang mengikuti perkembangan dunia anime, mungkin tidak begitu asing dengan judul di atas. Ya, judul di atas adalah salah satu judul chapter di komik 'Yu-Gi-Oh', yang dirilis dalam versi komik seri ke-20, dengan judul "The Pressuring God."

Saya tentu tidak akan panjang lebar bercerita tentang bagaimana jalan cerita komik karangan Kazuki Takahashi itu. Tapi, kiranya ada sebuah kemiripan antara alur cerita di chapter itu, yang bisa merefleksikan pertandingan antara Milan vs Barca semalam.

"Revival Slime vs Osiris" bercerita tentang bagaimana sebuah monster card yang memiliki attack poin 1500 dan defense poin 500 sebuah nominal yang kecil di ranah battle card yu-gi-oh memenangkan duel melawan kartu berlabel 'dewa' yaitu Saint Dragon The God of Osiris. Osiris tak memiliki nominal poin, di kartunya hanya terpampang X000. Akan tetapi, dia bukan dipanggil 'dewa' tanpa sebab. 'X' di attack/defense poin-nya adalah angka yang merujuk jumlah kartu yang ada di deck lawan. Semakin banyak kartu yang keluar, semakin tinggi nominal angka 'X' yang ada di attack/defense poin.

Di atas kertas, Revival Slime tak mungkin bisa menang melawan Osiris. Sama seperti halnya Dewa buatan Ahmad Dhani, Dewa di card duel Yu-Gi-Oh pun punya kelemahan. Di card duel Yu-Gi-Oh, seorang duelist harus tetap memiliki kartu di deck-nya, sebagai syarat meneruskan pertandingan. Di duel itu, Osiris kewalahan menghadapi Revival Slime defense mode yang dibentengi oleh card trap Defense Slime & Repayment of Life. Kedua card trap ini adalah kunci, di mana setiap serangan dari Osiris akan 'dimentahkan' oleh defense slime dan kemudian menjadi mubadzir, karena Repayment of Life membuat kedua pemain di harus membuang 3 kartu ke graveyard setiap kali gilirannya datang. Combo ini terus berulang, sampai akhirnya Osiris mencapai attack poin 28.000, tapi menyisakan 0 kartu di deck-nya. Yugi Mutou 1 - 0 Malik.

Pun dengan pertandingan Milan - Barcelona semalam.

Datang ke San Siro dengan penuh keyakinan karena menyandang gelar sebagai pemuncak klasemen di fase group UCL dan pemuncak klasemen di La-Liga, Barcelona seolah-oleh datang ke Milan hanya untuk berlibur & berbelanja kebutuhan fashion team, yang kemudian disisipi agenda pemanasan ringan melawan El Shaarawy & friends FC oleh manajemen tim.

A.C Milan pun sebetulnya tak jauh berbeda dengan Barcelona. Mengawali musim dengan start terburuk dalam 2 dekade terakhir hingga akhirnya sempat nangkring di posisi 7 klasemen , mereka perlahan tapi pasti mulai menunjukkan jati dirinya dengan merangkak naik ke posisi 3 klasifika. Moral tim pun sedang bagus, karena pasca kedatangan si bengal Balotelli, tim ini terus memetik hasil positif di liga.

Tapi, semua keberhasilan itu nampak tidak berarti jika dihadapkan dengan kedigdayaan pasukan Catalan. Ibarat sukses penjualan single album Cakra Khan yang meledak laris di pasaran Indonesia, single itu hanya akan menjadi olok-olok & backsong tvc obat pelega tenggorokan di ranah yang jadi kiblat industri musik dunia, Amerika & UK. Keberhasilan pelakunya di ranah masing-masing, memiliki standar yang sungguh jauh berbeda.

Sebelum pertandingan dimulai, sulit bagi saya untuk menentukan kepada siapa dukungan saya berlabuh. Di satu sisi, Milan adalah salah satu tim yang saya benci di Serie-A, karena selalu menyulitkan langkah Juve dalam perburuan gelar (lebih-lebih ke Mexes & Boateng). Namun, di satu sisi saya juga tak ingin melihat nama belakang saya menang, karena jujur saja saya sudah bosan melihat dominasi Barcelona di setiap kompetisi yang mereka ikuti.

Namun untuk sesaat, akal sehat saya ikut berperan untuk mengalamatkan dukungan di match kali ini.

Kemenangan Milan di San Siro, tentu akan memuluskan langkah mereka ke babak perempat final UCL. Jika skenario ini berjalan lancar, bersama Juventus mereka akan menambah nilai plus serie-A di koefisien liga peserta UCL. Seperti yang kita ketahui, semenjak terlempar dari top three liga Eropa, serie-A praktis hanya boleh mengirimkan 3 wakilnya di kancah UCL. Imbasnya, pemain dengan label 'top' tak lagi sering kita dengar seliweran di mercato, selayaknya apa yang biasa tim-tim besar Italia lakukan pada periode 90- 2000'an awal. Jadi, kemulusan langkah 2 wakil Italia di UCL adalah mutlak, apabila mereka mengharapkan kejayaan serie-A kembali lagi seperti dulu.

Saat mengetahui Allegri menerapkan formasi 4-4-3, hal pertama yang saya cari adalah: di mana dia menempatkan Boateng. Allegri cukup waras dengan menempatkan dia sebagai winger, bukan sebagai trequartista seperti biasanya di 4-3-1-2. Jujur, melihat dia mengenakan nomer 10 dan bermain sebagai treq di Milan, bagi saya merupakan salah satu bentuk penghinaan untuk Rui Costa dan Seedorf. Selain karena dia tak memiliki skill pemain tipikal classic number ten visi, holding ball, akurasi passing di atas rata-rata seperti biasa, dia adalah salah satu pemain ter-tengil di dalam tim. Menantikan headline "Ballotelli vs Boateng" di laman La Gazetta Dello Sport, hanya jadi bom waktu buat saya.

Mengawali laga dengan terus menekan sepanjang pertandingan, Barcelona nampak memberi angin segar kepada fans-nya di seluruh dunia yang gemar ber-#ViscaBarca di manapun mereka sanggup menuliskannya itu. Seakan mereka berkata "tenang, di babak kedua kita baik hati ga ngejebol Abbiati lebih dari 3 gol".

Tapi alih-alih mencuri gol, justru mereka lah yang kebobolan terlebih dulu. Boateng memanfaatkan dengan baik, assist dari Kobe "Zapata" Bryant. Sesuatu yang membuat timeline saya dipenuhi dengan tulisan "wasit asu! wasit goblok, atau wasit dibayar!"

Jika Milan adalah Revival Slime, maka boleh dibilang Massimo Ambrosini adalah Defense Slime Milan. Lihat bagaimana dia membuat Xavi - Iniesta tak lagi tampil selayaknya pasangan emas Tsubasa - Misaki, namun lebih seperti jebolan Primavera yang baru saja menjalani laga debut di liga profesional. Ambrosini memang tak seperti Montolivo, yang terlihat berandil besar dalam skema serangan Milan, namun ketika Milan dalam posisi bertahan, dia tahu harus berbuat apa. Hanya berhasil membuat 9 dari rataan biasanya yang mencapai 30 touches/match, dan menghibahkannya secara ikhlas ke Messi 1 dari kebiasaan 6 touches/match, adalah bukti betapa 'seret'-nya suplai bola dari lini kedua Barca. Dan sekali lagi, Ambrosini yang paling bertanggung jawab atas statistik ini.

Gol dari Muntari, seakan mengukuhkan pendapat para pengamat yang meragukan posisi Pique di best starting-XI FIFA kemarin. Lubang menganga yang dia buat, tak lagi disia-siakan oleh Muntari. Mungkin dia belajar banyak dari pertemuan Juventus - Milan season lalu. Setelah laga, kini dia tak lagi trauma dengan siapapun yang berteriak 'oit! Dapet salam dari hakim garis tuh!' kepadanya.

Tapi Barca tetaplah Barca. Sekalipun kalah, mereka harus punya nilai lebih yang mungkin bisa diunggul-unggulkan oleh remaja ber-#ViscaBarca. Barca unggul jauh dalam ball possesion, dibanding Milan. Rataan mereka mencapai angka 66% meleset 4% dari perkiraan orang-orang dan menyisakan 34% sisanya untuk AC Milan. Seperti kebanyakan team yang doyan ber-false-nine-ria, unggul penguasaan bola adalah wajib fardlu, tampil menghibur sembari kutak-katik-umpan-satu-sentuhan atau biasa disebut "Tiki-Taka" adalah sunnah muakad. Sedangkan kemenangan adalah makruh. Sungguh berbeda dengan filosofi permainan Milan pada malam itu.

Jauh dari kategori 'menghibur', menempatkan 9 pemain di daerah pertahanan sembari menyisakan 1 prima punta di depan, kalah jauh di penguasaan bola, adalah salah satu alasan yang menyebabkan penikmat bola di seluruh dunia mengambil kopi 3 sendok lebih banyak saat jeda babak pertama kemarin. Milan sungguh jauh dari kata 'berbahaya'. Catenaccio/Zone Press Up Match System atau apapun itu namanya, memang seperti raut muka Sultan Bhatoegana: tak pernah sedap dipandang mata. Namun, strategi ini sangat efektif ketika menghadapi Barca yang sering lupa diri menerapkan all-out-attack. Lihat bagaimana Inter 09/10, Chelsea 11/12, Celtic 12/13 berhasil meredam 'amukan' Messi dkk. Berlama-lama menahan bola di daerah aman sembari menumpuk pemain bertahan, terbukti ampuh ketika berhadapan dengan gempuran L1 - X - X - L1 -X - milik Barca. Allegri kini bergabung bersama Mourinho, Di Matteo, dan Lennon, sebagai penasehat Jokowi untuk memperbaiki kualitas armada bus Transjakarta dalam 5 tahun ke depan.

Setelah laga, Allegri merayakan euphoria ini dengan berkunjung ke salah satu kafe di kota Milan. Ketika baru saja membuka pintu masuk, seisi pengunjung kafe memberikan tepuk tangan sebagai bentuk penghargaan atas kejeniusannya di laga semalam. Sungguh, bertentangan dengan sikap supporter mereka di awal musim yang menginginkan Allegri pergi setelah memetik rentetan hasil buruk di kompetisi dalam negeri.

Barca sang Osiris pun tumbang di hadapan Revival Slime, A.C Milan. Tim yang dianggap terbaik di dunia dalam 2 dasawarsa terakhir, tunduk di hadapan tim yang diklaim sebagai skuad-terburuk-dalam-sejarah-klub di 2 dasawarsa terakhir pula. Siapapun yang dianggap 'dewa', pastilah tetap memiliki celah, dan Allegri paham benar bagaimana memanfaatkan titik lemah tersebut. Pazzini - Boateng - Muntari - Mexes - Abate pun seakan memberi bukti, bahwa Milan tak lagi perlu Van Basten - Seedorf - Rijkaard - Tasotti - Maldini, hanya untuk mempertahankan harga diri tim. Ketika mereka diberi arahan dan porsi yang mumpuni, status 'medioker' yang mereka sandang pun seakan menjadi tak penting lagi.

Kamis, 14 Februari 2013

A Scottish Fallen



The 'Invisible Hand', Ambrose


Glasgow Celtic menjamu Juventus dengan penuh keyakinan. Bagaimana tidak, dari 23 pertandingannya di Eropa, mereka hanya 2 kali kalah di Celtic Park. Dan hanya pasukan Catalan saja yang berhasil membukukan kemenangan di sana. Belum lagi ditambah dengan hadirnya 60.000 supporter mereka yang terkenal militan dan tak arogan, karena tak pernah mengklaim “You’ll Never Walk Alone” sebagai satu-satunya chant-yang-hanya-boleh-dinyanyikan-eksklusif-oleh-mereka. Jangan lupakan juga, bahwa di fase group, Celtic berhasil menumbangkan Barcelona  -satu satunya tim Eropa yang berhasil mencatatkan kemenangan saat melawat ke Celtic Park-  dengan skor 2-1. Sebuah laga dramatis yang berhasil membuat Rod Stewart berhasil menitikkan air mata, selayaknya dia baru saja melebihi pencapaiannya memenangkan Grammy pertamanya di tahun 2005.

Tetapi Juventus tetaplah Juventus.

Saat di bawah tekanan, entah kenapa Juventus selalu tampil justru di luar perkiraan. Grinta-nya yang terkenal itu, selalu berhasil membalikkan ekspektasi penikmat bola di berbagai belahan dunia. Masih ingat jelas dalam ingatan saya, ketika mereka mengawali laga pertama UCL –setelah absen selama 3 tahun berturut-turut- melawan sang juara bertahan, Chelsea, di Stamford Bridge. Comeback setelah tertinggal 2-0 di London adaalah bukti, bahwa mereka bukan tanpa alasan pantas mengagung-agungkan jargon Lo Spirito Juve. Pun dengan laga di Turin, yang kemudian berhasil membantu Abrahamovic untuk menemukan alasan melengserkan Di Matteo dari singgasana kepelatihan Chelsea. Juve berhasil membuat Chelsea tampil selayaknya sekolah sepakbola U-14, yang baru coba-coba-berhadiah untuk ikut kompetisi Danone Cup di Paris.  Mereka dipermalukan secara biadab dengan skor 3-0 di Juventus Stadium.

Prediksi banyak orang bahwa Celtic akan menyulitkan Juventus terbukti benar adanya. Tapi mereka lupa, ‘menyulitkan’ dengan ‘menumbangkan’ adalah dua kata yang jauh berbeda maknanya. Secara keseluruhan, Celtic memang benar-benar menyulitkan Juventus di sepanjang ’90 menit pertandingan. Tapi tidak dengan predikat menumbangkan. Karena pada akhirnya, skor 0-3 berhasil dibukukan Juventus di papan skor Celtic Park.

           
First Half

Memasuki menit ke 3, sebuah long-pass dari Peluso berhasil disambut dengan sundulan-lemah-tak-terarah ke kotak penalti oleh Matri. Bola yang seharusnya dibuang dengan mudah oleh kiper/pemain belakang manapun itu, malah hanya ditonton dan disambut Forster dengan pelan dan lemah lembut. Tak ayal, Matri yang sepersekian-detik lebih cepat menyambut bola muntah tadi, berhasil mengkolong Foster. Meskipun pada akhirnya bola yang sudah melewati kedua paha Forster dan garis itu dibuang lagi oleh pemain Celtic, namun Marchisio seakan memantapkan keabsahan gol Matri, dengan memasukkan bola tepat ke arah jaring gawang. Belakangan baru diketahui, bahwa Forster sangat mengidolakan Pepe Reina dan Victor Valdes, sehingga kita tidak perlu heran dari mana datangnya ‘talenta’ tersebut berasal. Papan skor sempat mencatatkan nama Marchisio sebagai pencetak gol, hingga beberapa menit kemudian UEFA meralat dan menghadiahkan gol tersebut kepada Matri. Sebuah kejadian yang tentu saja membuat Muntari kesal bukan kepalang..

Selepas Matri mencetak gol, Celtic memberikan pressing gila-gilaan pada Juventus. Hampir semua pemain Celtic selalu ikut naik ke depan saat mereka menyerang. Pun saat mereka bertahan, mereka sama sekali tidak memberi ruang pada lini tengah Juventus. Dengan kondisi demikian, mau tidak mau Conte harus fokus untuk melakukan serangan lewat rangkaian counter attack dan suplai bola-bola atas. Terbukti rataan aerial pass Juventus mencapai angka 60%, unggul jauh dibanding Celtic yang hanya mencapai angka 40%. Sepanjang berlangsungnya babak I, ada 3 pemain Celtic yang membuat saya enggan memalingkan perhatian dari mereka..

Pertama, Scott Brown. Duelnya di lini tengah bersama Pirlo, terlalu menyenangkan untuk dilewatkan. Melihat bagaimana dia mengkawal Pirlo dalam jangkauan area-nya, mengingatkan saya pada Paspampres yang selalu ada paling tidak 2 meter saat Presiden berada. Bersama Oscar edisi Stamford Bridge, Brown adalah salah satu orang yang berhasil masuk jajaran Paspampir (Pasukan Perngaman Pirlo) di kancah UCL. Memang kehadiran Paspampir ini mutlak diperlukan oleh siapapun lawan yang berhadapan dengan Juventus. Karena arus serangan Juventus, hampir semua berawal dari pergerakan Pirlo. Dan ketika babak 1 berlangsung kemarin, Brown cukup sukses melakukan tugasnya.

Kedua, Kris Commons. Karena Samaras absen, praktis dia bersama Hooper yang menjadi tumpuan serangan Celtic. Tercatat dia berhasil membukukan 7 shots on target, dari 17 total shots ke lini pertahanan Juventus. Tapi entah amnesia atau bagaimana, nampaknya Kris Commons lupa kalo penjaga gawang Juventus itu Gianlugi Buffon, bukan Markus Horison. Tendangan biasa-biasa saja tidak cukup membuat gol bersarang ke gawangnya. Gigi tercatat berhasil membuat 5 blocks, dan membuat semua tendangan ke arah gawang dari pemain Celtic nampak seperti sesi latihan shoting klub semenjana Eropa.

Ketiga, tentu saja Gary Hooper. Striker berperawakan kekar nan sangar selayaknya Debt Collector Adira ini harus merengek cengeng kepada wasit, setiap kali ia berada di kotak penalti. Alasannya jelas: karena ia merasa ‘direcoki’ oleh Stephan Lichsteiner, saat ingin mengganggu konsentrasi Buffon ketika corner kick berlangsung. Drama antara The Swiss Train dan Hooper ini berlanjut sampai peluit panjang pertandingan, di mana Celtic menciptakan 10 peluang tendangan sudut.  Setelah laga, Lichsteiner berkata bahwa ia dan rekan-rekannya telah mempelajari setiap pertandingan Celtic di UCL, dan mendapati fakta bahwa mereka sangat berbahaya dari set pieces terlebih-lebih corner kick. 40% gol mereka di Eropa berawal dari sana. Yang biasa Celtic lakukan adalah: mengganggu konsentrasi kiper, sehingga pemain bisa ‘bebas’ memanfaatkan kelengahan daerah pertahanan lawan. Maka tidak heran bila kemudian Licht berusaha mati-matian melindungi dan menjauhkan Hooper dari jangkauan Buffon. There’s no hope for Hooper.

Secara keseluruhan babak I, Celtic mendominasi jalannya pertandingan. Juve hanya sesekali nampak berbahaya saat mereka melangsungkan counter attack. Itupun seringkali kemudian dipatahkan lini ke-dua Celtic, mengingat mereka menerapkan pressing gila-gilaan yang membuat suplai bola dari lini tengah ke depan terbatas. Pirlo-Vidal-Marchisio tidak begitu banyak diberi ruang malam itu.

Second Half

Tidak ada pergantian dari kedua kubu. Nampaknya masing-masing tim masih nyaman dengan taktik yang mereka terapkan di babak I. Lennon masih gemar menginstrusikan anak buahnya untuk terus berlari sepanjang pertandingan, dan Conte lebih memilih untuk tetap menginstuksikan anak buahnya agar tetap ‘santai’ sambil sesekali memberikan ancaman lewat counter attack.

Namun sebenarnya malapetaka Celtic dimulai dari sini.

Seperti kebanyakan tim dari dataran Britania Raya, Celtic juga gemar bermain ‘lari-larian’ seperti yang lain. Mereka terus berlari kemanapun bola pergi, memberikan pressing sepanjang pertandingan, kerap menciptakan peluang, dan tampil mendominasi selayaknya tim yang sudah pasti bakal menang. Dan tentu saja, hal seperti ini sangat disukai oleh tim-tim Italia yang gemar bermain ‘lambat’, dan sangat bertumpu pada kecerdasan pelatih lewat keahlian membaca strategi.

Itulah yang kemudian menjadi malapetaka Celtic. Tampil menekan dan jor-joran sepanjang pertandingan, memang harus mengorbankan sesuatu sebagai konsekuensinya. Dalam hal ini, Celtic lebih memilih mengorbankan ‘stamina’, dibanding harus mendesak pelatihnya berhenti berteriak kesetanan dari pinggir lapangan, untuk segera menemukan racikan pas demi menarik pemain Juventus keluar ‘sarang’. Mereka tidak belajar dari Chelsea –yang sama-sama berasal dari Britania Raya, sama-sama gemar berlarian sepanjang pertandingan, sama-sama gemar mengecewakan pendukungnya juga-  yang 2 kali dibobol Juventus di 10 menit menuju pertandingan usai. Saat pertandingan nampak sudah berakhir 2-1 untuk Chelsea, Quagliarella tiba-tiba masuk dan menyarangkan gol di menit ’86. Bahkan dia hampir mencatatkan namanya di papan skor 3 menit kemudian, bila tendangannya tidak membentur mistar gawang. Pun dengan Giovinco di Turin, yang berhasil menjebol gawang Petr Cech saat pertandingan tinggal menyisakan beberapa menit lagi. Juventus benar-benar mengajarkan pada mereka, bahwa kehilangan stamina dan konsentrasi pada saat yang bersamaan adalah sesuatu yang buruk di sepakbola.

Benar saja, ketika babak kedua berjalan 20 menit, Celtic seakan ‘kehabisan’ bahan bakar. Pirlo memang masih dikawal dengan baik oleh Brown, tapi Juventus bukan hanya Pirlo seorang. Juve punya Vidal dan Marchisio, yang sama baiknya ketika menyerang dan bertahan,  Vidal bahkan mencatatkan 4 tackles, jauh lebih banyak dibanding trio Bonucci-Barzagli-Caceres. Ketika Celtic kehabisan stamina untuk memberikan pressing di lini tengah Juve, perlahan-lahan Marchiso & Vidal mulai menggerogoti ruang kosong yang dengan murah hati dibuka oleh Celtic.

Dominasi Juventus di paruh babak kedua, berbanding lurus dengan bertambahnya menit-demi-menit jalannya pertandingan. Saat laga memasuki menit ke 77, Marchisio seakan minta jatah preman ke Matri atas kepemilikan gol pertama yang sudah dihibahkan ke dirinya. Seakan tak bisa menolak, Matri pun memberikan upeti berupa sodoran assist ke Marchisio, yang kemudian diteruskan gocekan ciamik yang berhasil mengecoh Ambrose, untuk kemudian dilanjutkan dengan sebuah tendangan keras ke arah gawang. Gol. Skor 0-2 untuk Juventus. 

Alih-alih ingin memperkuat lini pertahanan sembari menjaga perasaan 60.00 fans Celtic yang merelakan uangnya untuk beli tiket dan nonton pertandingan di Celtic Park agar tidak tersakiti terlalu jauh (p.s: setelah gol ke dua, Celtic Park untuk sesaat menjadi sunyi senyap karena supporter mereka tidak lagi bernyanyi. Chant mereka kalah keras dibanding cori 3000 fans Juventus yang melawat ke Glasgow. Parahnya lagi, sebagian dari mereka sudah pulang sebelum laga berakhir), Conte menarik keluar Matri, dan menggantinya dengan Paul Pogba. Indikasi Conte jelas; memperkuat lini pertahanan agar Celtic tidak memiliki deposit gol saat melawat ke Turin. Sesuatu yang acapkali dilakukan oleh tim tuan rumah. Namun apa daya ketika Conte berkehendak, sesaat kemudian Amborse (lagi-lagi) mengaburkannya. Niat Conte untuk mempertahankan keunggulan 0-2, nampaknya tak disetujui oleh lini belakang Celtic yang menganut filsafah anak muda Jawa’ Edan-edan sisan, totalitas / jadi gila jangan nanggung, yang totalitas’. Mereka dengan baik hatinya mempersilakan Vucinic untuk meyakinkan Forster, bahwa mengidolakan Pepe Reina adalah sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Skor berubah menjadi 0-3 untuk Juventus. Dan yang mencengangkan, ini merupakan shots on target Juventus yang ke empat, dan tiga di antaranya berbuah menjadi gol.

Di dua gol terakhir Juve, Ambrose turut serta sebagai –meminjam isitilah Adam Smith- Invisible Hand yang memuluskan pergerakan Marchisio dan Vucinic. Namun apabila mengingat dia baru saja bergabung bersama tim 48 jam setelah memenangkan piala Afrika bersama Nigeria, nampaknya hal itu bisa dimaklumi. Lebih-lebih jika dia mengambil bonus yang dijanjikan Federasi Sepakbola Nigeria yang you-know-what-lah-itu lebih cepat, pastilah tempurung lutut miliknya bekerja ekstra keras pada laga malam itu. Untuk alasan yang sama, Conte menyimpan LWB terbaik mereka Kwadwo Asamoah, yang baru saja mengikuti laga perebutan juara ke-3  Piala Afrika bersama Ghana. Sebuah keputusan yang tepat, mengingat 3 hari kemudian mereka harus bertandang ke Olimpico, untuk menghadapi serigala kota Roma.

Credit special juga layak diberikan pada Martin Ceceres dan Frederico Peluso, karena berhasil meng-cover sektor kiri pertahanan Juventus dengan baik. Lubang yang selama ini digadang-gadang bakal menjadi sumber masalah karena ditinggal Chiellini dan Asamoah ini, terbukti dilindungi dengan baik oleh mereka berdua. Dari 17 total shots yang berhasil dibuat Celtic, hanya 4 yang berasal dari sektor kiri. Sisanya merata di sektor tengah dan kanan.

Sesaat setelah laga, Lennon mengatakan bahwa timnya butuh keajaiban untuk bisa lolos ke babak selanjutnya. Ia juga mengkritisi wasit asal Spanyol, Alberto Mallenco, yang ia sebut sebagai ‘wasit pro Juventus’. Menurutnya, ada perbedaan mendasar antara pertandingan di Inggris dengan Spanyol dan Italia, yang menganggap bahwa melakukan penjagaan berlebih kepada pemain lawan adalah sebuah pelanggaran yang seharusnya berbuah tendangan pinalti. Well, memang ada baiknya kita mampu memaklumi (dan mengkasihani) komentar Lennon, karena dia menyamaratakan kecengengan liga-liga di Britania Raya, dengan Serie-A dan La Liga.

Mungkin sesaat setelah laga, Lennon bersama Rod Steward berjanji untuk bertemu di salah satu bar pinggiran Glasgow. Untuk sekedar bercerita dan minum beer, sembari karaoke salah satu lagi hits Rod, “For The First Time”. Mungkin.