Sabtu, 07 Desember 2019

Tentang Hidup, Tentang 07 Des


"Lindungi Bumi" - artwork 07 Des karya Rudi Mantovani.

Andaikan saya terdampar di sebuah pulau dan hanya ditemani satu buah album yang digunakan untuk membunuh sepi, tanpa ragu saya akan menunjuk album ketiga milik Sheila on 7, 07 Des sebagai bekal. Selalu sulit untuk menyusun daftar lagu favorit dari Sheila on 7 ke dalam sebuah komposisi peringkat, tapi jika ditanya album yang paling banyak memuat sentimen personal, 07 Des punya semua alasan untuk punya satu tempat spesial bagi saya. Di album yang dirilis 17 tahun silam tersebut, saya menganggap Sheila on 7 mengeluarkan kemampuan terbaik mereka untuk bertutur lewat lagu dengan cara paling khusyuk.

Di sebuah kesempatan, Eross Candra pernah bertutur bahwa 07 Des adalah album yang durasi pengerjaaanya paling cepat jika dibandingkan dua album sebelumnya. Karena dikerjakan di tengah kesibukan jadwal ini dan itu, Eross mengakui kalau proses kurasi materi di 07 Des tidak terlalu ketat dan tak sampai dibikin pusing. Di Self-Titled (1999) dan Kisah Klasik untuk Masa Depan (2001), Sheila on 7 seperti tampil dengan kemasan tebar pesona yang ditujukan untuk mengusahakan banyak kesan, dan memang terbukti berhasil dengan total penjualan album hingga menyentuh angka 3 juta. Selektivitas materi di dua album tersebut juga yang menjadi hal yang lumrah, jika mengingat status Sheila on 7 sebagai band anyar dari luar ibu kota yang sampai di pelukan Sony Music dengan cara yang tidak mudah. Tancap gas, serba digeber. Toh, hasil akhirnya juga jauh dari kategori biasa saja.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, yang membuat album ini terasa sangat personal adalah bagaimana cara Sheila on 7 bercerita. 07 Des bagaikan sebuah manifesto yang ditujukan satu orang kepada satu sosok lewat barisan lirik yang serba menohok. 14 nomor yang diciptakan oleh pemuda—yang kala itu baru menginjak usia 22-23—asal Jogja tersebut, tidak menciptakan spektrum tafsir yang kelewat luas, pun tidak menghasilkan pemaknaan yang kelewat mengawang. Ini terdengar seperti: “hei, ini aku bikin satu album khusus bercerita soal kamu, lho.”

Pada "Seberapa Pantas", misalnya. Eross seperti menangkap keresahan banyak lelaki ketika hendak menatap masa depan dengan orang terkasih, lewat lirik "mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang/sanggupkah kau meyakinkan di saat aku bimbang." Ini adalah tipikal lagu yang kemudian mengusik pikiran tentang kesediaan seseorang untuk tetap tinggal saat berada di fase yang sulit, dan kemudian memunculkan kembali pertanyaan: “seberapa pantaskah kau untuk ‘ku tunggu?”

Di album ini, Anton, pria pencetak pakem gebukan brilian nan sederhana yang muskil ditiru siapapun di kemudian hari, mengejutkan banyak orang ketika membidani kelahiran tembang “Mari Bercinta” yang kemudian secara biadab dinodai oleh Vicky Shu dan Aura Kasih di kemudian hari. Hingga hari ini, saya masih tidak habis pikir bagaimana lagu ini bisa menyertakan lirik genius seperti “hanya satu buah titah, yang kami ejawantah, terlalu banyak cinta kan binasa,” tanpa terkesan seperti musisi yang sedang pamer diksi. Aransemen string yang dihasilkan Erwin Gutawa di lagu ini seperti terselip dengan kadar yang pas; tak lantas membuat “Mari Bercinta” terdengar terlalu megah dan teknikal, tapi juga menjauhkan lagu ini dari kesan ala kadarnya karena minim kompleksitas aransemen.

Dalam sebuah wawancara, saya ingat Ari Lasso pernah menyebut Duta sebagai salah satu vokalis dengan karakter paling khas di Indonesia. Menurut mantan penggawa Dewa 19 tersebut, timbre vokal Duta sangat mudah untuk membuat wanita jatuh hati, tapi tak lantas membuat pria merasa malu untuk mendengarnya—seperti elegi yang tak mengundang alergi. Deskripsi paripurna atas testimoni Ari Lasso tersebut, terdengar sangat jelas pada satu-satunya lagu karangan Duta di 07 Des, “Seandainya”. Pernah ada satu waktu saya membuat satu keputusan penting dalam hidup, lantas terasa seperti dihantam tepat di dada ketika mendengarkan lagu ini tepat sebelum waktu tidur. Bagaimana mungkin, ada orang yang bisa tetap baik-baik saja, setelah disuguhi lirik “Seandainya aku bisa, aku sanggup, dan aku mampu,” dan sebelumnya dihajar bait pembuka: “Seandainya kudapat memilih untuk tak pergi dan tetap di sini.” Apa yang lebih buruk dibanding menjadi pasrah untuk dua tujuan yang tak bisa satu arah?

Akan tetapi sulit dipungkiri bahwa Eross adalah ruh paling mendominasi dalam keseluruhan album ini. Saya merasa bahwa Sheila on 7 adalah kawan terbaik yang selalu menemani fase percintaan seseorang, baik yang manis ataupun tidak. Dan apapun yang dirasakan Eross ketika mengalami aneka kegamangan romansa di masa itu, akhirnya membidani semua kegeniusan di 07 Des hingga menjadi sebuah album yang punya sensasi ‘mewakili’ bagi banyak orang.

Salah satu yang menarik dari cara Eross mengemas karyanya di album ini, adalah bagaimana ia membuat momen biasa saja jadi terdengar mewah—dan sebaliknya, vice-versa. Di “Saat Aku Lanjut Usia”, ia mampu menangkap momen romantis pasangan kakek-nenek yang ia lihat di satu daerah di Jawa Tengah saat sedang saling suap-suapan kacang, dan kemudian diubah jadi nomor ceria dengan meminjam kocokan ala Merle Haggard untuk merangkum hal sederhana macam “memijit pundakmu hingga kau tertidur pulas”. Atau di kesempatan lain, membawa “Takkan Pernah Menyesal” menjadi seperti lagu yang dibawakan dua orang yang sedang duduk di pos kamling dengan satu gitar akustik dan segelas kopi sachet, lengkap dengan decak “ehem” dan satu genjrengan palm-muted untuk mengecek kesiapan bunyi. Momen pacaran yang cheesy seperti saling mengingatkan untuk membangunkan tidur satu sama lain lewat telepon di pagi hari, entah kenapa seperti dibawa naik level ketika dirangkum dalam lirik “bangunkan tidurku, jika kau terjaga lebih dulu.”

Sisi lain Eross kemudian terlihat sangat serius ketika menghasilkan “Tentang Hidup”. Ia seperti mencurahkan energinya untuk sesuatu yang lebih besar dan luas daripada sekadar perkara jatuh cinta saja. “Bertahan sayang dengan doamu, ‘ku coba bertanya pada Tuhanku,” adalah lirik magis yang masih menyisakan banyak tanya tentang konsep Ilahiah. Eross seperti sedang menggugat sesuatu yang kelewat sering berada di ranah abu-abu, namun dengan kemasan yang tak menggigit. Baginya, Tuhan memang satu dan kita semua yang sok tahu. Berkat lagu ini, saya seperti disadarkan bahwa hidup memang menyisakan banyak tanya tak peduli sekeras apapun dipikir untuk menemukan jawabnya. Ada hal besar yang memaksa orang untuk percaya, bahwa selurus apapun lintasan hidup akan menuntunmu tiba pada satu persimpangan untuk memilih.

Setelah sekian lama berselang, album ini masih jadi opsi terbaik untuk menemani orang pada momen sulit dan menyenangkan. Tak peduli berapapun banyak album yang akan dicetak Sheila on 7 nanti, 07 Des tetap yang ter-muach di hati.

Senin, 29 Juli 2019

Dentum Kepopuleran Jilid Dua Didi Kempot



"Umpamane, kowe uwis mulyo~ Mulyono~" (Kredit foto: @Bokisabis) 

“Waktu Iwan Fals (bersama Swami) merilis “Bongkar” itu Mas, saya lagi tiduran di JCC deket Senayan,” ujar Didi Kempot. “Itu saya masih ngamen di jalan. Nggembel di Jakarta.” Saya hanya terdiam dan membiarkan ia berbicara ngalor-ngidul sembari sedikit bernostalgia tentang kenangannya terhadap ibukota. Siang itu, sebuah pesan singkat yang masuk menuntun saya untuk segera merapat ke Tjikini Lima demi menemui Didi Kempot beserta Lare Jawi, band pengiring yang setidaknya sudah menemaninya selama lebih dari satu dekade. Ketika sampai di sana, Mas Didi langsung menyapa dan menawari makan siang. “Dahar rumiyin, Mas.” Saya menolak dengan halus, bukan karena sudah kenyang atau merasa sungkan; tapi sepenuhnya karena sedang merasa mual akibat rasa grogi. 

Bagaimana tidak, salah satu dari sedikit solois yang sudah lama saya kultuskan dengan kadar tak wajar, kini tengah duduk semeja dengan saya. Tepat di depan mata, memberikan tawaran makan siang pula. Bisa terlihat tenang dan tidak melakukan hal-hal memalukan saja sudah membuat saya senang, apalagi bisa dapat kesempatan untuk berbincang santai dan melakukan sesi tanya jawab tanpa potensi intervensi. Duh Gusti, ngimpi opo aku iki.

Sejujurnya saya sempat terpikir untuk bertanya hal-hal yang selama ini mengganjal di pikiran terkait proses kreatif di balik pembuatan karyanya. Salah satu contohnya, tentang pemaknaan lirik di nomor klasik nan nakal bertajuk “Klengkeng Bandungan”. Saya selalu bertanya-tanya: jenis buah macam apa yang bisa membuat orang kemecer hanya karena dilihat, lalu semahal apa sebuah klengkeng sampai tidak mau ditawar dan baru bisa dibayar ketika sudah gajian? Lantas, kenapa Pom Bensin Daleman pernah ia pilih sebagai tema utama lagu padahal tidak cukup ikonik—bahkan bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya? Kenapa kata sindhap atau ketombe, bisa menjadi pembuka sebuah lagu yang bercerita tentang tragedi dilupakan oleh pujaan hati? Tapi saya sadar, diskusi ini bisa berlangsung sampai berjam-jam dan saya memutuskan untuk menyimpan rasa penasaran tersebut agar dilontarkan di lain kesempatan saja.

Tapi tak lama kemudian, saya memberanikan diri untuk menyodorkan beberapa pertanyaan. Saya tahu Mas Didi sempat menjalani profesi sebagai pengamen di bundaran Slipi, Jakarta Barat, tapi baru di siang itu saya tahu kalau ia tetap mengawali ‘karir’ bermusiknya sebagai pengamen di salah satu destinasi kuliner di kota Solo. “Dulu saya ngamen di daerah Keprabon itu, di warung nasi liwet itu lho Mas.” Di Keprabon, memang berjejer warung nasi liwet yang kerap menampilkan suguhan musik untuk mengibur tamunya. Beberapa di antaranya menampilkan lantunan musik populer dengan irama keroncong, sebagian sisanya adalah sinden yang tampil solo dengan iringan kecapi. Lebih dari 30 tahun lalu, seorang Didi Prasetyo ‘ditempa’ di tempat ini sebelum hijrah ke Jakarta dan menggunakan akronim Kelompok Penyanyi Trotoar (Kempot) sebagai nama panggungnya.

Uniknya hanya beberapa meter dari sana, ada satu tempat yang juga cukup memiliki nilai sejarah bagi kultur musik kota Solo. Jika Nasi Liwet Keprabon sempat membidani kelahiran Didi Kempot, maka Soto Triwindu (yang juga sama-sama terletak di kelurahan Keprabon) sempat disinggahi oleh David Bowie lewat undangan Setiawan Djodi, pebisnis asal Solo yang juga tercatat sebagai gitaris Swami dan supergrup Kantata Takwa, untuk datang dalam perayaan 1 Sura Kraton Mangkunegaran. Sebagai orang Solo yang sedari kecil dicekoki falsafah hidup Jawa, saya percaya tidak ada yang kebetulan dari momen ini. 

Keprabon sendiri memiliki arti tempat para prabu dan raja, dan di sanalah terdapat PurÃ¥ Mangkunagaran, istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran. Bowie adalah seorang ‘Raja’ yang mengubah sejarah rock dunia, sedangkan Didi Kempot kini dianugerahi titel 'Lord' oleh penikmatnya dari generasi baru. Keduanya tak pernah memiliki garis keturunan raja secara resmi, tapi karya mereka menjadi semacam titah yang bisa memberi komando pada jutaan orang untuk tunduk. Uthak-athik gathuk, tur masyuk.

Malang melintang sebagai pengamen di ibukota, rasa penasaran akan sensasi rekaman akhirnya datang juga. Mas Didi kemudian memberanikan diri untuk memasuki dapur rekaman, dan menelurkan beberapa karya awal seperti “We Cen Yu”, “Sir Siran”, “Teler”, “Yok Siskamling”, “Nggedebus”, dan hit fenomenal “Cidro” bersama Batara Group yang dibantu Pompi Suradimansyah (No Koes) dan juga sang kakak, Mamiek Prakoso. Di bawah bendera Atlantic Record, Batara Group justru melejit lebih dahulu di Suriname daripada di tanah air. Baru setelah memutuskan untuk berkarir sebagai solois bersama Dansa Studio dan merilis album Stasiun Balapan, Didi Kempot mulai dikenal secara meluas di Indonesia. 

Secara personal, saya sangat menyukai satu-satunya album yang pernah dirilis Batara Group itu karena terasa sangat autentik. “Cidro” dibawakan dengan versi slow-pop yang sangat berbeda dengan versi yang dikenal publik saat ini, “Teler” adalah tembang jujur tentang kebiasaan mabuk di jalan yang dibuka dengan repetan rap sederhana, dan “We Cen Yu” adalah crossover pop-keroncong-dangdut yang dipenuhi ragam celetukan dan slang khas Jawa dalam balutan pentatonik khas Tiongkok yang kental. 

Saya sempat sedikit bercerita kepada Mas Didi, bahwa “We Cen Yu” adalah karya yang saya tempatkan di posisi nomor dua pada sebuah tulisan yang ditujukan untuk mengkurasi daftar lagunya. Pada kesempatan yang sama saya juga mengeluhkan betapa sulitnya untuk mengakses lagu tersebut, karena saat tulisan itu dibuat, satu-satunya tempat yang bisa saya akses di internet untuk memutar “We Cen Yu” adalah portal radio asal Suriname yang bahkan saya lupa namanya.

Suara Jawa nopo Garuda, Mas?” tanya Mas Didi kepada saya. “Aduh, kula nggih kesupen Mas. Pokokmen niku angel sanget pas kula padhosi wonten internet.”


************

Tumbuh sebagai seorang penggemar, kemudian beranjak sebagai orang yang beruntung untuk memiliki kesempatan berkomunikasi dengan idola membuat saya memiliki impresi personal yang berkesan kepada Didi Kempot. Tiap kali berbincang, ia masih menggunakan krama inggil yang justru membuat saya jadi sangat sungkan. Ha wong, saya ini fans je, mosok di kula-jenengan karo idolane. Seorang kerabat, Pakdhe Blontank Poer, awalnya mengenalkan saya kepada Mas Didi sebagai ‘mas-mas sing nggambleh neng internet soal Mas Didi’ ketika kali pertama jumpa di belakang panggung Gulo Klopo. Mas Didi sontak membungkuk dan mengajak salaman sembari mengucap “matur suwun sanget, Mas,” yang juga dibalas gestur membungkuk lebih rendah dari saya berulangkali—karena merasa sangat sungkan atas respons tersebut. Andai ada yang mendokumentasikan adegan tersebut, pasti terlihat sangat mirip dengan adegan Mister Satomata-Kasino saat pamit dan berulangkali berbalas “arigatou!” di film Depan Bisa, Belakang Bisa.

Kepada Mas Didi, saya juga bercerita kalau saya tinggal satu kampung dengan Mas Didit, personel Lare Jawi yang bertugas pada departemen kibor. Kebetulan, saya dan Mas Didit sudah beberapa kali bekerjasama membuat hajat 17-an di kampung. Ia berada di divisi pengisi acara, sedangkan saya di urusan kepemudaan. Enam tahun silam, bahkan kami berhasil mengundang Didi Kempot di puncak perayaan 17 Agustus. Ketika bersua di Jakarta untuk perayaan ulang tahun sebuah partai, Mas Didit sekonyong-konyong mengajak saya selfie untuk dilaporkan pada istri. “Panitia 17-an kampung dolan Jakarta,” ujarnya. 

Berkat ‘koneksi’ inilah, saya bisa mengetahui kalau Didi Kempot memang begitu dekat dengan rekan-rekan yang nyengkuyung dirinya di dalam dunia musik. Sebelum didampingi Lare Jawi, Mas Didi kerap melibatkan mantan rekan ngamennya di Jakarta untuk kebutuhan bermusik dan syuting video klip. Anda mungkin tidak akrab dengan nama seperti Yatni Rembol, alm. Dani Pelo, atau alm. Kuncung, tapi pasti pernah melihat penampakan mereka di semua video klip Didi Kempot pada era ‘90-an. Di klip yang menyajikan keindahan panorama alam, penampilan wanita cantik yang menari secara berkelompok, dan raut wajah Didi Kempot yang di-zoom-in-zoom-out, pasti ada adegan komedi slapstick yang dimainkan oleh mantan rekan ngamennya itu.

Belakangan ini saya baru tahu kalau Mas Didi hanya bisa dihubungi melalui SMS, bukan chat WhatsApp. Ketika penyanyi dengan tingkat kepopuleran seperti dirinya sudah mulai memikirkan konten untuk kanal vlog atau menyapa “hai guys” kepada penggemarnya lewat Instagram Story, Mas Didi seperti ‘menolak’ menuruti tren dan memilih cara klasik jalur komunikasi ponsel untuk berinteraksi. Mungkin konservatisme ini pula yang membuat branding Didi Kempot kalah gaung dibanding para juniornya yang menapaki jenis musik serupa. Pun ketika berbicara soal kejelasan status karya, hak cipta, dan hak edar yang lebih diperhatikan oleh musisi zaman sekarang. 

Tapi di banyak kesempatan, ia selalu mengaku tidak ambil pusing dengan hal tersebut. Prinsip nerimo dan semeleh dalam mengelola karya, sejujurnya kadang membuat saya merasa gemas sebagai penggemar. Karena sering sebagai empunya karya, Didi Kempot justru kalah exposure dibanding musisi yang menggarap ulang lagu miliknya. Ketika diwawancara Gofar Hilman dalam acara Ngobam Didi Kempot, Mas Didi justru santai berujar “Karena saya orang Solo, nerimo itu lho Mas. Kalau memang rezeki saya, nanti pasti akan kembali ke saya. Kalau di-cover kelewat batas, ya biar nanti dosa saya dan anak-cucu saya dilimpahkan ke mereka,” sembari tertawa terkekeh.


************

Saya selalu menyatakan ketidaksetujuan ketika ada kawan yang nyeletuk ke saya, bahwa “sekarang Didi Kempot banyak yang dengerin lagi ya.” Didi Kempot tidak pernah benar-benar hilang dalam kultur musik Jawa, dan selalu punya tempat tersendiri bagi mereka yang tumbuh besar di tanah atau lingkungan keluarga Jawa. Sebelum mengukuhkan selera musik berdasar preferensi masing-masing, kami tumbuh besar dengan senandung lagu Didi Kempot. Ketika mulai mengenal pahit getir kehidupan, khususnya perkara cinta, karya Didi Kempot selalu menjadi tempat terbaik bagi kami untuk menangisi nasib dan kesunyian masing-masing. Entah lewat perantara karaoke, gitar di tongkrongan, atau racauan tak mengenal nada ketika kerongkongan sedang dihantam alkohol. 

Yang membedakan satu dengan lainnya, hanya keberanian untuk menampilkan selera tersebut ke hadapan umum. Karena tentu saja di tengah gempuran musik modern yang terus bermunculan, sentimen terhadap musik berbahasa daerah adalah hal yang tidak bisa dihindari. Dicap musik kelas bawah, ndeso, atau punya selera musik buruk adalah hal-hal yang sering terlontar pada penikmat karya Didi Kempot sebelum tren ini kembali bergaung.

Pada 2013, saya dan beberapa kawan sempat berinisiatif untuk membuat fanbase Didi Kempot dengan irisan penggemar dari anak muda di sosial media. Dulu, kami menamai sebuah akun bernama 'Didikempotmania' yang bisa dibajak siapa saja karena password-nya sangat simpel dan mudah ditebak: stasiunbalapan. Namun, ada ketakutan bahwa akun tersebut dianggap berafiliasi dengan Didi Kempot dan riskan disalahartikan jika memuat cuitan kontroversial. Apalagi, diperparah dengan kebiasaan radio atau stasiun televisi yang tidak mengecek verifikasi akun Didi Kempot ketika hendak mempublikasi segala aktivitas yang berkaitan dengan dirinya. Akhirnya, nama akunnya diubah menjadi ‘Dadikempot’ dengan konten utama berbentuk cuitan dari potongan lirik dan quote dari cuplikan video klip Didi Kempot. Akun itu sudah lama mati, tapi tidak dengan kecintaan kami terhadap karya sang maestro.

Pasca penampilan Didi Kempot di Balekambang, video yang dipublikasikan oleh rekan-rekan Rumah Blogger Indonesia (RBI) menjadi—duh, saya sangat benci menggunakan kata ini—viral. Linimasa dipenuhi puja-puji atas dedikasi Mas Didi yang konsisten merayakan patah hati. Beberapa saat sebelumnya, gaung permintaan akan kehadiran Didi Kempot di Synchronize Festival 2019 juga menggema cukup kencang. Kemudian berturut-turut setelahnya gelombang pemujaan ini terus membesar: ‘lahir kembali’ di Balekambang, pengukuhan gelar Bapak Patah Hati Nasional, berkolaborasi dengan Gofar Hilman, diminta tampil di Jakarta, diliput banyak media, sampai yang terakhir membuat Raden Saleh, Cikini, menjadi penuh sesak. 

Pada satu titik, momen ini terasa sangat sentimental; saya benar-benar terharu menyaksikan betapa banyak orang mau menunjukkan cintanya terhadap Didi Kempot. Saya rasa ada banyak orang yang bermimpi untuk bisa melihat Didi Kempot mendapat spotlight seperti saat ini. Prinsip semeleh dan nerimo itu pasti akan terbayarkan, dan saat ini Didi Kempot sedang menuai buah akan prinsipnya tersebut. 

Sebagai orang Solo, saya selalu berharap ada ‘regenerasi’ ikon musik nasional dari kota Bengawan setelah kepergian Suwargi Mbah Gesang, dan kini legitimasi status tersebut berhasil disabet oleh Didi Kempot. Ini semacam mimpi basah bagi setiap penikmat dan pelaku musik lokal, yang akhirnya bisa terlepas dari dikte selera industri ibukota. Sesekali, biarkan rekan-rekan di Jakarta yang ‘turun’ untuk mengobati rasa penasaran mereka akan sesuatu yang sedang digandrungi orang banyak. Harapannya, seperti yang dituturkan Mas Didi, gerakan semacam ini bisa menjadi stimulus bagi musisi di daerah untuk menggemakan kearifan musik lokal sekencang-kencangnya.

Saya juga tidak menampik bahwa hal ini berpotensi ‘hanya’ menjadi tren yang cepat datang dan cepat pula menghilang. Namun setidaknya, kemunculan fenomena anyar seperti sadbois, sobatambyar, atau Godfather of Broken Heart bisa jadi gerbang pembuka bagi generasi baru penikmat karya Didi Kempot agar merasa terwakili. Mereka yang belum mengalami kebingungan menerjemahkan semiotika ‘klengkeng’ di lagu “Klengkeng Bandungan”, mungkin merasakan ode yang begitu indah ketika mendengar “Banyu Langit”. Yang tidak merasakan romansa “Nunut Ngiyup”, bisa saja kini merasa curahan hatinya difasilitasi ketika mendendangkan “Pamer Bojo”. 

Di beberapa hajatan Didi Kempot yang saya sambangi belakangan, saya justru mendapatkan sensasi seperti datang ke gigs band lokal yang mempertemukan kalian dengan kawan lintas skena. Tak peduli kalian datang dengan baju Fugazi, Slayer, The Clash, Depeche Mode, Barasuara, sampai Begundal Lowokwaru, semua datang dengan satu tujuan: menunjukkan respek untuk Didi Kempot atas kontribusinya terhadap perjalanan khazanah musik masing-masing yang mungkin dilengkapi dengan sentimen personal. 

Regenerasi penikmat adalah sesuatu yang harus dimunculkan untuk menjaga eksistensi empunya karya, dan anak-anak muda ini tidak hadir untuk menandingi Kempoters atau apapun nama penikmat Didi Kempot pendahulunya; mereka hanya melengkapi lapisan penggemar Didi Kempot agar spektrumnya menjadi lebih luas. Toh juga tidak ada yang dirugikan dari fenomena ini. Kecintaan generasi muda akan penggunaan bahasa daerah kini kembali muncul, penggemar makin dimudahkan untuk melihat penampilan idolanya, Didi Kempot kian terpacu untuk berkarya, dan orang-orang di sekelilingnya juga turut disejahterakan. 

Mas Didit, ketika melakukan sound check di Cikini, sempat berseloroh kepada saya bahwa agenda manggung Lare Jawi juga semakin padat pasca ‘kehebohan’ di Balekambang. Eksklusivitas penikmat hanya akan membuat potensi kemunculan penggemar baru jadi semakin menyempit, pun dengan keberlangsungan hidup dan karya si pelaku yang saling berkaitan.

Selagi bisa, nikmatilah tiap detik perayaan kesedihan yang disenandungkan oleh Didi Kempot. Karena hanya ia yang bisa menulis lagu tentang kemiripan sensasi menangis di Bantul dan Irlandia:

“Rasane kepengen nangis yen kelingan Parangtritis, ning ati koyo di Irish......”

Rabu, 26 September 2018

Benarkah Kita Sedang Mencintai Sepak Bola?




Saya selalu percaya bahwa sepak bola bisa memantik banyak romansa dalam kehidupan. Tidak hanya berlaku untuk mereka yang mengenali sepak bola secara kafah, tapi juga untuk mereka yang setengah-setengah atau sekadar paham saja dalam mengenali si kulit bundar. Tak peduli bagi mereka yang memekik dukungan di Curva Sud San Siro, atau pinggir tanah lapang berdebu dari sudut desa Polokarto, sepak bola selalu punya cara untuk menciptakan romansanya sendiri. Berbagai macam –itas dilahirkan di sana: loyalitas, rivalitas, solidaritas, identitas, humanitas, kolektivitas, maskunilitas, sportivitas, dan ‘mereka’ selalu beriringan mengikuti ke mana saja bola bergulir. Setelah 90 menit—juga kadang selepas azan magrib, beberapa dari –itas ini memudar, sebagian sisanya terlekat erat bahkan menempel pada hal-hal yang tak berkaitan langsung dengan sepak bola.

Minggu (23/9) lalu, sepak bola berlabuh pada sisi –itas yang salah; ia menjelma menjadi monster yang menyeret orang untuk melahap kebencian dan merawat kebiadaban. Pada sore yang terik di Gedebage, Bandung, Haringga Sirla meregang nyawa sebelum menyaksikan laga Persib versus Persija. Belakangan diketahui kalau pria 23 tahun itu terdaftar sebagai anggota The Jakmania, barisan suporter loyal milik Macan Kemayoran. Sejak mendengar berita itu, gol Bojan MaliÅ¡ić pada menit 94 tak lagi membuat saya berkesan. Sundulan bek asal Serbia yang meneruskan bola dari Victor Igbonefo itu sempat membuat saya berteriak ‘gol!’ karena terbawa antusiasme menit-menit akhir yang cukup menegangkan. Sebagai penonton yang tak menaruh dukungan pada siapapun yang sedang bertanding di Stadion Gelora Bandung Lautan Api hari itu, menyaksikan dua tim elit Indonesia bertarung habis-habisan dengan pertaruhan gengsi yang tak main-main adalah pengalaman yang mengesankan. Di dalam hati, saya sempat berseloroh “gini dong, derby gede ada geregetnya.” 

Tapi setelah membaca kabar meninggalnya Haringga lewat sosial media, antusiasme itu seketika ambyar. Gol itu tak lagi berkesan, riuh rendah bobotoh di GBLA tak lagi membuat saya merasa kagum, hari itu, ada nyawa yang dipaksa melayang karena sepakbola. Romansa itu hilang. Untuk barang sekejap, cinta hilang di bumi para dewa.

Tidak ada satupun nyawa yang sebanding dengan sepak bola. Ucapan ini kembali digaungkan di seantero linimasa, setidaknya sebanyak 17 kali—sebelum kasus Haringgga—terucap sejak 2017-2018; 17 kali kita mengutuk peristiwa kelam serupa, 17 kali tangis pecah di rumah para korban, 17 kali pula kita berharap ini jadi yang terakhir. Sayang takdir berkata lain, karena kepergian Haringga ‘membuat’ Indonesia kembali harus melontarkan rangkaian duka dan kegeraman serupa untuk kali ke-18. Tanpa perlu menunjuk, rasanya sungguh keterlaluan jika peristiwa ini tak membuat siapapun jadi berbenah dan mempertanyakan cara kita mencintai sepakbola. Yang tercucur dari suporter di dalam stadion seharusnya cukup keringat dan air mata saja, tak perlu sampai darah.

Saya tak ingin memperkeruh suasana, atau mengungkit luka lama yang bisa disalahartikan sebagai ‘amunisi’ balasan terkait rangkaian peristiwa serupa di masa lampau. Gaduh seperti itu hanya akan membuat banyak orang lupa kalau kita sedang berduka. Haringga dan 17 korban lain yang berjatuhan dalam setahun belakangan tidak mangkat untuk meninggalkan pertikaian baru bagi kita yang masih ada di sini, sebaliknya, justru harus ada perubahan mendasar terkait cara pandang semua orang tentang bagaimana memaknai sepak bola. Boleh jadi dalam fase berkabung seperti ini, tak ada yang lebih tepat dari mengoreksi diri sendiri sekaligus mendesak federasi terkait untuk menciptakan kebijakan yang memaksa semua unsur jadi berpikir ulang untuk memproduksi teror dan aksi tak bertanggung jawab di kemudian hari. Jika solusi kedua dirasa sulit—dan nampaknya demikian, maka sebaik-baiknya langkah perbaikan memang harus dimulai dari diri semua orang yang dengan memang menjatuhkan pilihan cintanya kepada sepak bola.

Sebagai orang yang hidup dari menulis dan sepak bola, harus diakui kalau atmosfer rivalitas yang rawan gesekan memang sering menempatkan saya dalam kondisi yang menguntungkan. Baik di level nasional atau internasional, saya merasa bahwa memercik kebencian pada satu kelompok memang lebih mudah untuk mendulang berbagai pencapaian semu dari perspektif profesi. Tapi ketika percikan itu membesar, saya ikut mengutuk. Seperti lupa kalau apa yang saya lakukan juga turut menyeret orang dalam lahapan kebencian yang kerap saya percik. Tak ada tuntutan untuk mengedukasi pecinta sepak bola tentang bahasan norma memang, tapi pasca insiden berulang seperti yang sudah-sudah, saya rasa hal sekecil apapun tetap memiliki andil dalam merawat kewarasan atmosfer sepak bola di negeri ini.

Ketika menulis ini, saya masih berada di kantor. Pulang paling larut dibanding rekan-rekan yang lain. Pikiran saya mengawang pada keluarga Haringga setelah membaca beberapa update berita tentang peristiwa terkait. Tak bisa saya membayangkan, ada rasa sesak yang begitu teramat dari dada sang ibu karena anak lelaki yang mencium tangannya untuk pamit pergi, pada akhirnya tak akan pernah pulang lagi. Pada satu kesempatan, Mirah—sang ibu—bahkan bercerita tentang detail peristiwa yang menawaskan anak lelakinya itu kepada pers, yang berarti ia sempat menyaksikan cuplikan video brutal yang entah sudah tersebar sampai ke mana itu. Sepak bola tak seharusnya jadi belanga kepiluan, sepak bola tak seharusnya membuat para ibu jadi risau menantikan kepulangan anaknya di rumah, sepakbola tak seharusnya membuat orang pulang tinggal nama.

Di satu titik, terkadang saya memikirkan kemungkinan-kemungkinan ekstrem yang terus mengusik tiap muncul insiden seperti ini. Berulangkali dihantam rangkaian gerbong kesedihan yang seperti tanpa usai, membuat saya bertanya: “apakah sebaiknya sepakbola dibubarkan saja?” Sudah alpa prestasi, terus menerus menelan korban pula. Mungkin, sepakbola memang bukan untuk kita. Barangkali, takdir kita memang hanya jadi penonton saja, tak perlu ikut-ikutan menciptakan industri yang pada akhirnya tak pernah dikelola secara becus. Namun pada saat bersamaan, saya mengingat kembali ucapan yang saya tulis di awal tulisan ini: sepak bola bisa memantik banyak romansa dalam kehidupan. Lalu, saya punya hak apa untuk melarang orang jatuh cinta? Apa yang sudah disatukan bola, tidak boleh diceraikan manusia.

Saya juga paham, rangkaian kata-kata bijak atau barisan kalimat indah tidak akan mengubah apapun andai tak disertai perubahan mendasar terkait mental suporter dan regulasi yang mengikat dalam sepak bola. Tapi mengutip ucapan Guillén Vicente yang termasyhur itu: kata adalah senjata. Apalagi, sepak bola kerap bicara soal olah rasa. Ada ikatan kuat yang kerap menyihir orang di dalamnya untuk rela melakukan apa saja. Lewat tulisan ini, saya hanya mengajak Anda semua untuk kembali meredefinisi makna cinta dalam sepak bola. Karena dari sekian banyak skenario kehilangan dalam hidup, kehilangan orang tercinta akibat cintanya pada sepak bola adalah pilihan terakhir bagi siapapun yang dengan bangga menepuk dada sebagai pecinta sepak bola.


Senin, 04 Juni 2018

Yang Tersisa dari Jejak Kaki Bale, Maradona, dan Stoichkov


Seminggu silam, final Champions League digelar di Kiev. Madrid masih kelewat digdaya dengan meneruskan dominasi di Benua Biru untuk kali ketiga secara beruntun, sementara Liverpool kembali ke Anfield dengan kepala—yang dipaksa—tegak dan beberapa penyesalan yang akan terus mengusik dalam kurun waktu yang tak sebentar. Malam itu, Gareth Bale mencuri perhatian dunia. Dua gol ia borong meski masuk sebagai pemain pengganti; satu lewat sepakan akrobatik, satu lagi lewat sepakan kencang yang ‘dibantu’ muntahan salah arah dari Loris Karius. Dalam kurun 20 menit, Bale merampungkan mimpi The Reds untuk angkat trofi kuping besar mereka yang keenam. Mungkin musim depan akan menjadi milik mereka, tapi musim ini, biarkan dulu Los Merengues berpesta di Olympic Stadium dengan Gareth Bale sebagai dirigen utamanya.

Yang dilakukan Bale dengan kaki kirinya, kemudian membuat saya harus berdiskusi dengan partner menonton saya malam itu: ayah. Menurutnya, Karius memang melakukan blunder pada proses terjadinya gol ketiga Madrid, tapi sepakan luar biasa kencang dari Bale membuat bola bersarang jadi lebih mudah.

“Kirinya Bale ini memang gila,” ujar Ayah. “Orang taunya dia mahal, larinya kenceng, tapi pada lupa kalau kaki kirinya ini bahaya. Dari jarak segitu lho, coba dilihat lagi.”

Saya terdiam sesaat setelah mendengar pernyataan itu. Ada benarnya juga, pikir saya. Mungkin jika tidak ‘diingatkan’ ayah, saya masih berpikir bahwa yang menjadi daya tarik utama Bale hanya soal akselerasi dan transformasi fisiknya setiba di Madrid. Seakan-akan abai dengan rentetan tembakan knuckleball yang berulangkali dilakukan Bale sejak merumput di St. Mary's. Teknik menendang yang mencomot istilah dari baseball itu memang unik; bola yang dilepas dengan teknik knuckleball akan mereduksi intensitas berputar bola sesaat setelah ditendang, kemudian menghasilkan gerakan tak beraturan yang kerap mengecoh lawan.

Robert Adair, seorang profesor fisika dari Yale University pernah berujar bahwa menghentikan laju bola hasil teknik knuckleball adalah hal yang hampir mustahil karena manusia memiliki keterbatasan fisik untuk menghasilkan waktu bereaksi. Di kompetisi baseball, bahkan ada anekdot macam ini terkait trik terbaik untuk menghentikan teknik knuckleball: “the way to catch a knuckleball is to wait until it stops rolling and pick it up.” Tapi Karius menolak untuk tunduk pada hukum fisika, dan melakukan tindakan penyelamatan yang sejatinya tidak menyelamatkan apapun—termasuk bola, karir, dan nama baiknya sebagai kiper profesional.

Setelah gol kedua Bale, ingatan saya mengawang pada mimpi di masa kecil: bisa menendang bola dengan kaki kiri. Dan ayah, adalah orang pertama yang paling memacu saya untuk bisa melakukan hal tersebut.

“Papah tuh bisa nendang pakai kaki kiri kan ya?” tanya saya setelah diskusi kecil soal gol kedua Bale.

“Bisa, malah lebih sering pakai kaki kiri waktu masih main. Kerasanya pas sudah tua sekarang, lebih sering sakit di kaki kiri kalau dipakai aktivitas.”

Ayah tidak kidal, ia melakukan semua aktivitas utamanya dengan tangan-kaki kanan. Hanya saja ketika bermain bola, kaki kirinya selalu lebih hidup. Saya belum pernah menyaksikan ayah bermain bola saat masih aktif bermain di level amatir, tapi saya beberapa kali setim dengan ayah saat main sepakbola di lapangan dekat rumah. Bahkan, ia sempat melatih saya dan kawan-kawan kampung saat membentuk kesebelasan untuk kompetisi sepakbola antar remaja masjid. Seingat saya, dulu ada satu sesi di mana saya dan kawan-kawan dipersilakan untuk mencoba menendang dengan kaki terlemah. Beberapa kawan yang lebih tua dari saya bisa menendang dengan cukup terarah meski tak bertenaga, sedangkan saya, terarah tidak-kencang apalagi. Bahkan lebih mirip Ishizaki yang pernah terpeleset ketika mencoba melakukan drive shot di serial Tsubasa; terlihat konyol bin memalukan.

Ketika ayah memberi contoh tiga kali menendang bola dengan kaki kiri, seketika itu saya dan kawan-kawan sepakat untuk tidak mencoba menyundul atau menghalau laju bola saat tidak setim dengan ayah di laga eksebisi, andai masih sayang organ tubuh masing-masing.

Tidak cukup sekali-dua kali saya mengeluh tidak bisa menendang dengan kaki kiri, sampai akhirnya ayah bilang bahwa sebelum konsisten mencoba melatih menendang dengan kaki kiri, tentukan dulu ‘mazhab kiri’ mana yang ingin saya pakai: mazhab Maradona atau Stoichkov. 

Mazhab Maradona untuk ‘genre’ sepakan kaki kiri yang tak melulu bertenaga tapi menghasilkan akurasi tembakan yang sulit dijangkau lawan, sedangkan mazhab Stoichkov merujuk pada sepakan kencang yang akurasinya tak terlalu sempurna, tapi selalu merepotkan kiper karena laju kecepatan ekstrem yang juga sama sulitnya untuk dibendung. Saya bingung, wong bisa saja belum sudah disuruh menentukan ingin meniru siapa. Meskipun dalam hati kecil, saya ingin menjawab, “ya minimal bisa kaya papah,” tapi belum pernah terucap.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru memahami ucapan itu. Lewat kompilasi video yang dengan mudah diakses di YouTube, saya jadi paham kenapa dua orang itu selalu disebut-sebut ketika disinggung soal acuan pesepakbola kaki kiri terbaik versi ayah. Maradona adalah Maradona, sedangkan Stoichkov adalah seorang gunslinger yang menjadi bagian integral dari dream team Blaugrana saat dipoles Cruyff. Dua sosok yang pantas masuk altar pemujaan sekte kiri bersama Inessa Armand, Guy Debord, dan tentu saja Tan Malaka.

Andai disuruh memilih saat ini, tentu saja memilih mazhab Stoichkov. Maradona adalah kesempurnaan yang muskil dijangkau pria normal tanpa talenta ilahiah, sedangkan Stoichkov memiliki aspek-aspek normal yang jauh lebih masuk akal untuk diduplikasi. El Pistelero adalah kepingan puzzle terakhir yang melengkapi ‘orang-orang sopan’ dalam komposisi dream team Cruyff. Agresivitas dan sikap oportunistisnya sebagai seorang jugador, membuat skuat Barcelona yang memang didesain ofensif jadi jauh lebih sempurna.

“Ada pemain yang lebih memilih untuk menunggu momen, atau menantikan peluang untuk mengkreasi gerakan indah ketika mengolah bola, Stoichkov adalah orang yang menciptakan momen, menjemput bola, dan langsung menembaknya ketika mendapat peluang,” ujar Cruyff ketika disinggung soal karakter pemain asal Bulgaria itu. Dalam skema ofensif khas Barca yang kerap memasang garis pertahanan tinggi untuk secepat-cepatnya mencuri penguasaan bola dan mengusik daerah berbahaya lawan, Stoichkov adalah karakter kunci dalam racikan taktik El Flaco. Dan tentu saja, kaki kiri pemain kelahiran Plovdiv itu yang kemudian menyelesaikan tugas-tugasnya; baik dari dalam kotak penalti, atau dari luar kotak penalti.

Saya cukup kenyang menyaksikan cuplikan gol Stoichkov, tapi tentu saja tidak mengubah apapun yang berkaitan dengan kemampuan saya untuk menendang bola dengan kaki kiri. Di sepanjang karir pada laga eksebisi di kampung dan atlet bola pocokan-non-amatir-namun-banyak-gaya, seingat saya, saya tak lebih dari 3 atau 4 kali mencetak gol dengan kaki kiri. Separuh tak sengaja tersenggol, sisanya mungkin sengaja dipersilakan kiper untuk masuk gawang sebagai bentuk apresiasi. Maka, di sepertiga malam pada bulan penuh berkah ini, izinkan saya memanjat doa sederhana yang menjadi ambisi sejak masih piyik: 

Duh Gusti, aku ingin bisa menendang bola dengan kaki kiri.

Jumat, 12 Mei 2017

Menuju Kicau Kacau Kota: Mencoba Menyimak The Mudub Dari Sisi yang Berbeda

The Mudub bicara soal persiapan merilis mini-album terbarunya, dan bercerita tentang bagaimana mereka beralih dari unit melodic-punk menuju pembuat single untuk sekolah pendidikan anak usia dini.

Melihat Catur Ayudiono sedang bersemangat memainkan gitar dan bertanya kepada orang di sekelilingnya tentang lagu apa yang baiknya ia mainkan tentu bukan hal yang baru bagi saya. Saya pernah melihat ia melakukan hal serupa di berbagai situasi; di tongkrongan, di atas panggung pensi, di panggung dadakan yang butuh penampil untuk mengulur waktu, sampai di hajat nikahan kawan satu skena. “Seperti yang biasa diucapkan oleh teman-teman, saya memang senang tampil,” ujar Catur. “Ini pengaruh dari keluarga saya, senang manggung semua, senang tampil di hadapan orang banyak. Dulu waktu TK saya pernah didandani dengan rompi dan kumis, kemudian disuruh joget, rasanya senang sekali. Terakhir waktu ada drama natal, saya berperan sebagai orang gila. Pokoknya kalau disuruh tampil saya senang.”

Malam itu, sebelum wawancara, Catur kembali memuaskan hasratnya untuk tampil di hadapan banyak orang. Saya datang sedikit terlambat, tapi tahu situasi macam apa yang bakal saya hadapi ketika Catur sudah memegang gitar dan tandemnya di atas panggung, Arum Setiadi, berada di dekatnya. 

“Ini pasti bakal molor dari jadwal,” gumam saya. Dan benar saja, sejurus kemudian mereka membuat semua orang—termasuk saya—yang ada di Rumah Blogger Indonesia (RBI) jadi ikut menggila dalam durasi yang tak sebentar. Bermula dari karaoke massal hit era ’90-an, menyanyikan nomor andalan milik Didi Kempot, sampai ajang pamer kemampuan nihil guna dari Catur yang mampu menirukan suara karakter Teletubbies; si bayi matahari, Dipsy, hingga karakter mesin vacuum cleaner berjalan yang selalu menghasilkan aneka suara tak jelas, Noo-noo. Catur kemudian menutup ‘panggung kecil’ miliknya itu dengan menirukan gestur, mimik, dan vokal Glenn Fredly ketika tampil di atas panggung. “Saya justru terlihat seperti copet dengan dandanan seperti ini,” kata Catur seraya mencopot flatcap yang lekat dengan penampilan penyanyi keturunan Ambon itu pada awal karirnya.

Keempat personel The Mudub kemudian memisahkan diri dari kerumunan yang sedari tadi mengharapkan mereka untuk terus melempar kelakar. Arum Setiadi (vokal), Catur Ayudiono (gitar), Achmad Jeky Priliana (drum) dan Fauzan Abusallam (bass) adalah kuintet panas kota Bengawan yang belakangan semakin sering tampil dari satu panggung ke panggung yang lain. Meski berdiri sejak 2008 dan konsisten tampil di panggung seni dari tahun ke tahun, The Mudub boleh dibilang baru melebarkan spektrum musiknya ke wilayah yang lebih luas sejak 3 tahun belakangan. Sebelumnya, mereka kerap mendapat predikat sebagai band favorit anak-anak seni, baik dari kampus ISI atau fakultas Seni Rupa UNS, karena intensitas tampil yang cukup sering di tiap hajatan yang dihelat oleh kedua perwakilan institusi tersebut. “Mungkin setelah Mas Jeky dan saya masuk, The Mudub jadi semakin memiliki koneksi ke arah sana [kampus], karena terkait latar pendidikan yang kami miliki. Band saya yang terdahulu juga punya skena sendiri, jadi relasi kami saat ini juga semakin bertambah,” ujar Fauzan yang lebih akrab disapa Jampes.

Selain karena musik, The Mudub juga bisa dibilang dipersatukan karena seni ilustrasi. Arum tercatat sebagai salah satu komikus yang sudah malang melintang di skena komik lokal sejak pertengahan ’00, Catur bekerja sebagai desainer lepas yang juga merintis usaha percetakannya sendiri, Jeky melanjutkan studinya di DKV dengan merilis studio komik, sedangkan Jampes dikenal sebagai artis mural merangkap ilustrator di tengah kesibukannya menyelesaikan studi seni rupa. Dengan latar belakang tersebut, bukan hal yang aneh apabila The Mudub kemudian menjadi favorit setiap hajatan yang bersifat nyeni di kota Solo. Apalagi masing-masing personel The Mudub terbilang cukup aktif di tiap komunitas yang menaungi ide kreatif mereka.

Meski memiliki benang merah yang sama sebagai ilustrator dan pegiat seni rupa, nyatanya mereka tidak memiliki kesamaan untuk urusan referensi musik. “Ringo Star. Saya selalu ingin menjadi seperti dia. Dia selalu memainkan pola yang itu-itu saja, simpel, tapi di panggung tetap terlihat ceria,” ujar Jeky seraya tersenyum ketika ditanyai soal pengaruh musik terbesarnya. Lain halnya dengan Catur, yang terang-terangan menyukai genre glam rock, karena di tiap kesempatan ia selalu terlihat flamboyan bagaikan personel Poison namun minus rambut gondrong. Tapi jika bicara soal referensi musik dan perjalanan yang menyertainya, Arum boleh bertepuk dada karena kisahnya mungkin jadi yang paling menarik di antara personel lainnya. Berulangkali berujar bahwa dirinya menjadikan Benyamin Sueb sebagai rujukan dalam bermusik dan melakoni aksi panggung, nyatanya perjalanan musik Arum sebelum tergabung dalam The Mudub nyaris tidak pernah bersinggungan dengan karakter yang dimiliki maestro kesenian Betawi itu. Ia pernah membentuk band beraliran melodic punk sebelum membentuk The Mudub. “Capek teriak-teriak terus,” ujar Arum.

Tentu membayangkan Arum menjadi garda terdepan dalam sebuah band beraliran melodic punk akan terasa konyol jika Anda pernah menyaksikan performanya bersama The Mudub. Memang benar ia selalu tampil enerjik dengan aksi panggung yang mendekati gila saat menjelma dari Arum Setiadi menuju Arum Mudub, tapi sulit membayangkan bahwa ia bisa melempar kelakar semau hati dan melakukan gimmick komedi yang biasa ia lakukan andai masih tergabung dengan band lamanya. Lagi pula, memang hal semacam itu yang kemudian membedakan The Mudub dengan band lainnya. Di atas panggung, personel The Mudub selalu mengenakan kostum yang sesuai dengan karakter masing-masing; Arum sebagai guru olahraga yang sekilas terlihat letoi tapi siap mengejutkan Anda dengan energi yang seakan tidak ada habisnya jika sudah melantunkan lagu, atau di lain kesempatan, ia mencopot jaket training yang ia kenakan dan membiarkan tubuh kurusnya hanya berbalut kaus singlet ketat hijau terang dan celana panjang ketat dengan warna yang sama. Di sebelahnya, ada Catur yang seakan sudah bersiap untuk menyambut kembali kejayaan musik rock centil era ’80 dengan setelan satin macan tutul plus ikat kepala bercorak serupa, dan sesekali ia memoles bibirnya dengan gincu. Sebelum mengenakan setelan retro seperti saat ini, Jampes pernah menjajal kostum SMA di tiap penampilan The Mudub, sampai akhirnya menyadari bahwa pilihannya memang sama sekali tidak keren.

“Dulu waktu pakai seragam SMA, rasanya ga enak dan membuat saya sadar bahwa saya terlihat jelek sekali saat masih SMA. Dan kalau kami tampil di panggung pensi di sekolah, saya justru terlihat sebagai salah satu siswa yang membolos,” tutur Jampes yang di panggung lebih sering dikenal sebagai personel irit bicara. Jeky juga pernah menjajal kostum berbeda sebelum memilih seragam petugas pemadam kebakaran. “Dulu saya pakai kostum ala badut, tapi waktu tampil rasanya juga ga enak dan ga bebas. Malah seperti ledek kethek.”

Pemilihan kostum memang merupakan bagian dari paket hiburan yang ditawarkan oleh The Mudub di tiap penampilan. Arum pernah berujar kalau konsep seperti ini memang sudah ia persiapkan sejak kali pertama membentuk The Mudub, karena jika hanya untuk mengekor konsep menjadi ‘band keren’, menurutnya stok band seperti itu sudah ada banyak di kota Solo. Bukan tanpa alasan mereka menyebut The Mudub sebagai proyek dramatic-pop, karena memang gimmick dan penampilannya yang total di atas panggung merupakan bagian dari konsep dramatik yang ingin mereka usung. Tik-tok antara Arum dan Catur yang seringkali menjadi selingan di tiap pergantian lagu—atau bahkan di tengah-tengah lagu—seringkali membuat repertoar yang sudah mereka susun di awal penampilan menjadi tidak ada artinya. Sebagai contoh, hit andalan mereka “Bakso Bakar Bang Brewok” hanya memiliki durasi selama 2 menit 7 detik jika menilik versi aslinya, tapi andai menyaksikan lagu ini dibawakan secara langsung, mungkin akan menghabiskan 15 menit karena gimmick yang menyertainya. 

Mulai dari perdebatan tona nada Arum yang sering dirasa kurang tinggi oleh Catur saat memasuki bait pertama lagu, intro dari Catur yang meleset dan harus diulang sampai lebih dari tiga kali, sampai ketukan Jeky yang—dibuat—tidak seirama dengan komponen musik lainnya. Andaikan Anda sedang menyaksikan band lain, sorak kekecewaan adalah respons paling tepat untuk menanggapi insiden seperti itu; tapi di penampilan live The Mudub, Anda tidak memiliki kuasa untuk menahan tawa dan merasa dikecewakan atas gimmick yang mereka buat. Tanyakan kepada mereka yang sudah berulangkali menonton penampilan The Mudub; meski dengan komposisi gimmick dan kelakar yang seragam, Anda masih selalu tertawa ketika menyaksikannya sendiri. Bahkan ketika Anda melempar protes, “Kemarin sudah pernah!” karena melihat komedi situasi yang sama, mereka akan menimpali dengan ucapan, “Anyar terus malah koyo kondom,” dan membuat gelak tawa penonton jadi semakin pecah. It’s Mudub’s world and we’re all just living in it.

Di luar panggung, mereka juga punya polah yang tidak kalah absurd. Saat band-band lain menjual merchandise dalam bentuk kaos atau artwork sebagai bukti eksistensi dan sumber pemasukan tambahan untuk band, The Mudub menolak mengikuti arus dan memilih untuk menciptakan merchandise dengan caranya sendiri. Tiga tahun lalu, mereka pernah meluncurkan merchandise dalam bentuk pangan bermerek ‘Karak Semangat’, dan dikenalkan melalui launching di sebuah gigs meriah selayaknya pesta rilisan album baru. Sebelumnya, mereka juga pernah mengeluarkan produk pangan lain yaitu ‘Keripik Tempe Persahabatan’ dan membuka jasa cetak undangan serta menyediakan MC untuk berbagai acara, yang semuanya dikelola dalam payung bisnis The Mudub, C.V Mudub Jaya. Di kesempatan lain, mereka juga pernah bekerjasama dengan salah satu sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) untuk menciptakan jingle yang bakal digunakan untuk kegiatan belajar mengajar di kemudian hari. The Mudub memang konsisten menciptakan karya dengan berbagai cara, dan yang paling terpenting, mereka mengaku merasa bahagia melakukan itu semua—meski terdengar seperti proyek ala kadarnya.

Kini setelah melewati proses hampir satu dekade berkarya, The Mudub siap untuk sesuatu yang lebih serius. Berselang sembilan tahun sejak peluncuran album pertama bertajuk Hidup Jaya Abadi, kini mereka bakal melepas mini-album bertajuk Kicau Kacau Kota yang bakal memuat enam buah lagu di dalamnya. Album ini merupakan kelanjutan dari proyek kerjasama mereka dengan kolektif sosial Kampungnesia, yang terfokus pada pengembangan dan pemberdayaan beberapa kampung di wilayah kota Solo. Pemilihan materi yang ada di album Kicau Kacau Kota juga dipengaruhi oleh keterkaitan tema dengan isu-isu yang beredar di seputar kampung dan kota.

Direkam lewat proses live recording dan rekaman terpisah di studio yang cukup berpengaruh di kalangan skena kota Bengawan, RDT, The Mudub mengaku bahwa mereka memang sedang berusaha untuk menjajaki fase yang lebih serius sebagai band ketika menyusun materi Kicau Kacau Kota. Tidak ada yang meragukan kualitas penampilan mereka ketika ada di atas panggung, tapi untuk proyek kali ini, mereka juga berusaha untuk meningkatkan musikalitas dan kedalaman lirik sebagai wujud keseriusan mereka untuk membawa The Mudub ke jenjang yang lebih jauh.

Dalam nomor paling anyar mereka, “Emosi di Jalan” misalnya. The Mudub berani untuk sejenak keluar dari zona nyamannya di komposisi pop dan menggantinya dengan eksplorasi musik yang lebih segar lewat corak distorsi yang padat. Mereka tidak meninggalkan lirik berima yang menjadi ciri khasnya selama ini, tapi alih-alih dikemas dalam balutan jenaka, kali ini mereka menampilkan sisi getir dengan pembawaan vokal Arum yang terdengar lebih emosional. Seperti pada lirik, “bising suara mobil dan motor/asap tebal udara kotor/semua berteriak ingin cepat/merasa paling penting,”  yang kemudian dilanjut dengan harmonisasi Arum dan Catur di bagian, “bersaing, bersaing dan bersaing/berpacu dalam dunia yang bising/untuk bisa menang harus mengalahkan/emosi di jalanan.”

“Respons penonton ketika mendengar lagu ini memang tidak seheboh seperti saat mendengar lagu kami yang lain. Tapi biarkan ini menjadi ‘momen egois’ kami sebagai musisi, dan mempersilakan penonton untuk menikmati. Tapi setelah itu, kami kembali berkomedi lagi,” ujar Arum. “Pernah ada mahasiswa yang mendengar lagu ini kemudian berkata bahwa lirik ini kritis. Padahal waktu membuat kami tidak kepikiran untuk ke arah sana, tapi setelah dibilang seperti itu, ya kami kait-kaitkan saja.”

Di nomor lain, The Mudub tetap menampilkan karakter musik yang selama ini membuat mereka dikenal banyak orang. Pada “Andai Aku Jadi Tarzan”, mereka kembali menunggangi kemudi mesin pop yang dibalut dengan nuansa balad yang cukup kental. Arum seperti sedang melagukan sebuah cerita anak tentang kisah aneka satwa penghuni hutan, tapi diselingi dengan vokal latar dari personal lainnya—yang tentu saja jauh dari kesan serius. Uniknya di bagian koda, mereka seperti memberi twist dengan hentakan irama musik berbeda dan peralihan lirik yang jauh dari kesan manis. Coba simak lirik, “Tapi ternyata semua hanya mimpi/hutan digunduli tanahku erosi/banjir tak terbendung lagi/satwa liar lari dan bersembunyi,” yang ditutup dengan repetisi sinisme tingkat tinggi seperti, “diburu ditangkap lagi/diburu ditembak lagi/diburu dibunuh lagi.”

Tapi The Mudub tetaplah The Mudub. Mereka tidak ingin nampak terlalu keras berusaha untuk menjadi band kritik sosial, dan tetap menyisipkan elemen remeh temeh ke dalam Kicau Kacau Kota. Sulit untuk tidak menyertakan “Bakso Bakar Bang Brewok” ke dalam daftar ini, karena latar kisah di balik pembuatan lagu dan karakter musik yang ada di dalamnya. Bercerita tentang fenomena merebaknya penjaja bakso bakar di berbagai tempat di kota Solo dalam beberapa tahun terakhir, "Bakso Bakar Bang Brewok" dikemas dalam irama simpel nan catchy, dan terbukti mujarab mengundang penonton untuk larut dalam ajakan berdendang dan bergoyang. Musik dan lirik yang sederhana membuat tembang ini selalu menjadi andalan untuk menghasilkan koor massal yang masih terkesan intim, dan menutup penampilan mereka dengan teriakan, “bakso bakar Bang Brewok/brewoknya sampai ke bakso!” dari baris penonton.

Tiga nomor sisanya, biarkan menjadi misteri yang kemudian menjadi alasan Anda untuk datang ke helatan launching Kicau Kacau Kota yang bakal digelar Sabtu (13/5) ini di Studio Lokananta. Penunjukan venue legendaris yang menyimpan romantisme kejayaan musik masa lalu ini juga terasa spesial, karena penggunaan Lokananta sebagai medium perhelatan bagi ajang skena lokal justru terasa lebih sedikit dibandingkan dengan hajatan musisi dari luar kota Solo. Di lain sisi, hal ini juga masih seiring dengan komitmen Lokananta untuk menjadi fasilitator pelbagai talenta musik setempat yang membutuhkan ruang untuk berkarya, pun bersinggungan langsung dengan wacana yang diusung The Mudub dalam album Kicau Kacau Kota kali ini. Namun terlepas dari itu semua, Lokananta memang dirasa sebagai venue yang paling representatif untuk membangun atmosfer intim dan tak bercela yang selama ini menjadi ciri khas karakter panggung ideal versi The Mudub.

Ada banyak penyesalan yang sebaiknya Anda lewatkan ketika menjalani hidup yang serba singkat ini. Dan pastikan bahwa ‘gagal menyaksikan penampilan The Mudub kala merilis karya terbarunya di tempat pertunjukan spesial’ tidak masuk ke dalam daftar penyesalan tersebut. Jika Anda ingin sejenak merasa gila tanpa harus menenggak Lexotan dan merasakan sensasi berteriak “icikiwir” pada momentum yang tepat, maka Anda tahu akhir pekan nanti harus menghabiskan waktu ke mana untuk menonton siapa.