Selasa, 08 Oktober 2013

Yovie Widianto: Tiga Dekade Tak Tergantikan


"Kangmas aku cinta beneran, pasti kan kubuktikan" - Ayang Raisa

Live Review: Yovie Widianto & His Friends - Irreplaceable
24 September 2013, Jakarta Convention Centre, Jakarta



Pembuktian dari sang maestro, Yovie Widianto, bahwa bukan tanpa alasan ia dinobatkan sebagai salah satu komposer terbaik dalam negeri.

tulisan ini juga tayang di sini


“Bos, masih ada tiket sisa ga?”  berulang kali terdengar dari puluhan calo tiket yang berada di sekitar Jakarta Convention Centre (JCC). Setiap pengunjung yang baru sampai di pintu masuk, seakan terlihat seperti artis yang sedang menghindari rentetan pertanyaan dari infotainment, karena berulang kali melambaikan tangan sebagai isyarat ‘tidak’ —kepada para calo, tanpa mengucap sepatah katapun.



Selasa 24 September lalu, memang menjadi hari yang spesial bagi JCC; seorang jenius musik yang pernah mengawali karirnya di tempat ini 30 tahun silam, kini kembali tampil untuk menggelar konser tunggalnya. Ya, Yovie Widianto adalah sosok yang paling bertanggungjawab atas penuh-sesaknya JCC malam itu. Lewat konser tunggalnya yang bertajuk Yovie Widianto & His Friends: Irreplaceable, Yovie berhasil menjual ludes 3.700 tiket yang sudah disiapkan oleh Berlian Entertainment selaku promotor.



Padahal tiket ini tidak dibanderol dengan harga murah —untuk ukuran harga tiket konser lokal. Untuk harga tiket paling murah saja, dipatok seharga RP. 400 ribu, dan harga tiket termahal mencapai harga Rp. 3,5 juta.  Ludesnya tiket konser lokal —sekalipun dibanderol dengan harga mahal ini juga membuktikan, bahwa penikmat musik Indonesia kini tak segan untuk ‘berkorban’ demi suguhan musik yang memang benar-benar berkualitas.



Namun sekalipun bertajuk konser tunggal, acara ini juga dimeriahkan oleh sederet nama besar yang memang ditugaskan untuk membawakan lagu ciptaan Yovie Widianto. Sebut saja: Kahitna, Dikta (Yovi & The Nuno), Raisa, Andien, Marcell Siahaan, Rio Febrian, RAN, Alexa dan 5 Romeo. Yovie juga turut serta mengundang violis The Corrs, Sharon Corr dan penyanyi kenamaan asal Australia, Rick Price.



Konser ini dibuka dengan kata sambutan yang dibacakan oleh seorang pembawa acara misterius, yang membuat para pengunjung berulang kali mengguman “Eh, ini siapa sih?” saat ia membacakan catatan perjalanan karir Yovie Widianto. Saat mengucapkan salam penutup, akhirnya sang pembawa acara menyebutkan namanya, “Terima kasih, saya Alexandra Asmasoebrata,” dan sontak membuat seisi JCC berteriak “Ooooh…” secara bersamaan. Maklum saja, Alexandra yang selama ini dikenal jarang menunjukkan sisi feminimnya —karena selalu terlihat dalam balutan kostum balap, malam itu terlihat sangat anggun dan berbeda.



5Romeo yang didapuk sebagai penampil pertama, langsung membuka konser dengan nomor “Merindu Lagi” yang dibawakan dengan nuansa swing. Tampil setelahnya, Mario Ginanjar membawakan lagu “Terlalu Cinta” karangan Yovie yang dibawakan oleh Rossa. Sayang, masalah tata suara langsung kentara di dua lagu pertama. Suara yang muncul dari pengeras suara, berulang kali terdengar kelewat keras, pecah dan menimbulkan feedback bising. Namun beruntung, penonton yang mengernyitkan alis dan dahi karena hal ini hanyalah minoritas. Karena sebagian besar sisanya, mereka tak peduli. Hal ini nampak jelas, dari jumlah mereka yang tetap bernyanyi walaupun suara penampilnya terbenam dalam bisingnya feedback dari pengeras suara.



Tampil setelahnya, Marcell, membawakan lagu “Peri Cintaku”. Selain karena kepala plontosnya yang berulang kali terkena sorot lampu, pembawaan dan karakter vokal Marcell malam itu benar-benar terlihat gemerlap. Bagaimana tidak, ia berhasil membuat seisi JEC melantunkan lirik “aku untuk kamu / kamu untuk aku / namun semua apa mungkin / iman kita yang berbeda” sebelum menghentikan musik dari band pengiring, dan mempersilakan penonton melanjutkan koor sembari merenungi pahitnya perbedaan dengan menyanyikan “Tuhan memang satu / kita yang tak sama”.



Delegasi internasional yang didapuk sebagai penampil: Sharon Corr dan Rick Price, malah penampilannya terkesan ‘tenggelam’ dibanding penyanyi lokal. Tak begitu banyak penonton yang ikut bernyanyi, bahkan tatkala mereka membawakan hit masing-masing, seperti “Radio” (The Corrs) dan —tentu saja “Heaven Knows”. Hal ini tentu berbanding terbalik, dengan animo penonton yang selalu bernyanyi ketika para penampil membawakan lagu milik Yovie.



Sepanjang konser, penonton —baik yang berada di kelas festival, tribun, VIP memang tak pernah berhenti bernyanyi. Mario Ginanjar berkelakar, bahwa semua penonton yang turut bernyanyi ini nampaknya pernah mengalami kisah cinta seperti yang ada di setiap lagu gubahan Yovie. Kalau dilihat dari mereka turut bernyanyi; mulai dari sepasang kekasih yang masih duduk di bangku sekolah, sampai pasangan suami-istri yang sudah diberi momongan, nampaknya hal ini memang benar adanya. Rasanya tak berlebihan, jika lagu-lagu Yovie Widianto selalu terdengar cocok sebagai theme song di setiap frase percintaan seseorang: mulai dari saat jatuh cinta, menjalin hubungan, ingin naik pelaminan, putus cinta, atau bahkan saat selingkuh. Tapi hebatnya, musiknya tak pernah terdengar terlalu lirih dan cengeng, namun tetap menonjolkan sisi romantis.



Selain terus bernyanyi, malam itu penonton juga dibuat terus tertawa. Aksi-aksi spontan serta celetukan dari para pengisi acara, juga menjadi nilai lebih tersendiri dalam gelaran kali ini. Hedi Yunus-Rio Febrian-Mario Ginanjar, nampaknya menemukan bakat tersembunyi lainnya selain menyanyi: merangkap sebagai pembawa acara. Malam itu mereka sukses ‘mengerjai’ Yovie, dengan memberikan tantangan: membuat sebuah lagu dadakan, berdasarkan dari tiga lirik acak yang diberikan oleh penonton; “Janda” —diserukan oleh Titi DJ dari bangku penonton, “Sakit”, dan “Melayang”.



Sebagai penutup, trio Kahitna (Hedi-Mario-Carlo) membawakan hit mereka di 1996, “Cantik”, dengan sisipan tap-dance di tengah lagu. Dan di penghujung acara, seluruh penampil kembali naik ke atas panggung, untuk membawakan medley “Juwita” – “Lebih Dekat Denganmu” – “ Kemenangan Hati”, sebelumnya memberikan puja-puji setinggi mungkin kepada sang empunya hajatan, Yovie Widianto.



Malam itu Yovie membuktikan, bahwa di balik sosoknya yang terlihat kalem dan bersahaja, ia adalah seorang musisi berbahaya yang dianugerahi talenta musik luar biasa. Yovie selama ini menjadi jenius dengan caranya sendiri, dan formula ini berhasil menempatkannya dalan jajaran maestro terbaik dalam negeri selama tiga dekade.

Senin, 09 September 2013

Blabitisme Dunia Maya

aku, kamu, kita semua budak digital.


(*) Sebelumnya perlu diketahui, bahwa saya sangat anti untuk menulis apapun yang berkaitan dengan politik atau kepemerintahan. Gambar di atas, cukup jelas merepresentasikan alasan keengganan saya untuk menulis tentang kedua hal tersebut di blog pribadi. Namun, saya diminta untuk mengisi kolom opini di sebuah majalah cetak terbitan kampus. Sebetulnya saya ingin menulis tentang isu perselisihan supporter di Solo tempo hari, namun saya rasa tidak banyak memiliki data tentang itu. Yah apapun itu, alih-alih hanya menjadi kertas pembungkus tempe panas di kantin kampus, bukankah lebih baik saya mengunggah tulisan ini ke blog pribadi?

************************************ 

Di Indonesia, para pengguna jejaring sosial punya kebiasaan unik: membangga-banggakan capaian di dunia maya —entah itu pribadi atau kelompok, yang menurut hemat saya, malah sama sekali tidak membanggakan. Sebagai contoh, sudah beberapa kali penggguna Twitter di Indonesia membanggakan capaian mereka, karena mampu menembus peringkat trending topic worldwide, dengan cara menciptakan/membahas isu yang sama secara berulang-ulang dan bersamaan. Perlu diketahui, sebuah bahasan yang mampu menembus peringkat trending topic worldwide, berarti juga menjadi sorotan para pengguna Twitter di seluruh dunia. Dan hal ini menjadi kebanggaan abstrak bagi sebagian pengguna Twitter di Indonesia, karena merasa bisa ‘menunjukan identitas bangsa’, dengan menampilkan kemampuan bergotong royong untuk membahas sesuatu yang sama sekali tidak penting. Tapi satu hal yang sering dilupakan oleh mereka yang membanggakan capaian ini adalah: fakta bahwa pengguna Twitter di Indonesia, adalah pengguna terbesar nomor lima sedunia. Jadi, apabila separuh dari mereka saja sepakat untuk membahas sebuah isu secara bersamaan, kiranya bukan hal sulit untuk kemudian bisa menempatkan isu yang mereka angkat ke dalam trending topic worldwide.

Lain capaian kelompok, lain pula capaian individu. Jika capaian kelompok diwakili dengan munculnya isu yang ramai dibahas di trending topic worldwide, maka capaian individu di Twitter seringkali diidentikkan dengan kuantitas —juga kualitas. Dari segi kuantitas, yang paling sering dijadikan tolak ukur bagi sebagian orang adalah: jumlah pengikut, atau followers. Jumlah followers yang membeludak, identik dengan tingkat popularitas di dunia maya. Ada yang memang sudah terkenal terlebih dahulu di dunia nyata, kemudian popularitasnya itu menjalar ke popularitas di dunia maya. Ada yang sebaliknya; merintis kepopuleran di dunia maya, untuk kemudian beranjak mulai dikenal di dunia nyata. Kepopuleran untuk golongan yang kedua ini bukan datang tanpa sebab, mereka banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, namun yang paling sering ditemui adalah: tweet atau kicauan mereka, dinilai menarik dan mampu mengundang banyak followers untuk memantau linimasanya. Entah karena unik, lucu, cerdas, informatif, memuat urusan percintaan, atau sebagainya. Fenomena ini sebetulnya sesuai dengan penjelasan Vannevar Bush dalam esainya di 1945, As We May Think. Di esainya itu, ia membayangkan suatu saat keyboard dan layar akan memungkinkan penggunanya menghadirkan pengetahuan, hiburan, serta informasi baru bagi sekelompok manusia yang terkumpul. Dan itulah, yang menyebabkan beberapa orang selalu mempunyai daya tarik sehingga bisa mendapatkan kepopuleran di dunia maya.

Mereka yang populer di dunia maya, seringkali diposisikan sebagai ‘aktor’ di sebuah panggung bernama linimasa; sedang para pengikutnya, adalah penonton setia. Mau tidak mau —mereka yang populer di dunia maya ini harus diakui, kalau mereka memiliki kemampuan untuk menggiring para pengikutnya menuju pemikiran yang seragam. Mungkin tidak semuanya, namun paling tidak, ada sebagian besar pengikut mereka yang secara berkala memantau perkembangan linimasa atau bahkan mengiyakan pemikiran orang populer tersebut. Bebas saja, toh negara ini memang menyediakan fasilitas untuk itu, kebebasan berpendapat di muka umum. Namun yang menjadi masalah adalah, bagaimana jika kemudian seseorang yang sudah populer di dunia maya itu, menggunakan ‘kekuatannya’ untuk menggiring pengikutnya ke arah pemikiran yang belum tentu benar?

Sah-sah saja memang, untuk mengemukakan pendapat atau berbagi pemikiran di jejaring sosial, namun jangan lupa, hanya kerena kebebasan itu bisa dikemukakan di dunia maya, bukan berarti tidak ada hukum di dunia nyata yang mampu membatasi gerak-geriknya. Negara ini adalah negara hukum, ada berderet undang-undang yang sudah disusun untuk membatasi gerak-gerik warga negara supaya tidak berperilaku sewenang-wenang; dan untuk ranah dunia maya, salah satu undang-undang yang sering dijadikan tameng adalah Pasal 27 junto Pasal 45 UU RI No 11:2008 ITE. Pasal ini mengatur tentang penghinaan dan pencemaran nama baik lewat jejaring sosial. Jadi, sebagaimana kebebasan di dunia nyata, kebebasan di dunia maya pun (mau tidak mau) harus bertanggung jawab.

Pekan lalu, pengguna Twitter di Indonesia digemparkan oleh penahanan Benny Handoko, sang pemilik akun @benhan. Benhan —begitu ia biasa disapa, sebelumnya dikenal di Twitter sebagai akun dengan pengikut yang cukup banyak, yang seringkali menuliskan bahasan-bahasan informatif. Sering, ia berbagi pemikiran dengan pengikutnya, mulai dari topik sepakbola, politik, atau ekonomi. Yang membedakan ia dengan akun berita adalah: ia mengemas bahasannya dengan luwes dan interaktif, sehingga berhasil menarik minat banyak pengikut untuk terus memantau linimasanya. Hingga suatu saat, ia terlibat perang kicauan atau biasa disebut tweetwar, dengan salah seorang mantan politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Misbakhun.

Pada penghujung 2012, Benhan sedang berbagi pemikiran tentang urusan politik kepada para pengikutnya di dunia maya. Sampai pada pembahasan tentang Century, di mana Benhan juga menyertakan nama Misbakhun di dalamnya. Benhan menuduh Misbakhun sebagai “perampok bank Century, pembuat akun anonim penyebar fitnah, penyokong PKS, mantan pegawai Pajak di era paling korup,” serta membeberkan beberapa opininya tentang keterkaitan Misbakhun di skandal kasus Century. Pembahasan ini akhirnya sampai juga di telinga Misbakhun. Merasa tidak terima dengan tuduhan tersebut, ia meminta Benhan untuk menunjukkan fakta, bukan hanya buah pemikiran semata. Sempat terjadi adu argumen di antara Benhan dan Misbakhun, di satu sisi Benhan merasa kekeuh dengan argumennya, di satu sisi pula, Misbakhun bersikukuh meminta Benhan untuk menunjukkan bukti valid tentang tuduhannya tersebut. Adu argumen diakhiri dengan sebuah kicauan dari Misbakhun yang bernada mengancam,” Sudah saya capture. Sulit lari.”

Sembilan bulan kemudian, buntut perselisihan itu baru kentara. Misbakhun melaporkan Benhan ke Polda Metro Jaya, atas tuduhan pencemaran nama baik. Setelah melalui beberapa kali proses pemeriksaan, akhirnya Benhan diringkus pada Kamis (5/9) lalu. Ini bukan kali pertama, seseorang ditahan karena tersandung pasal ITE. Sebelumnya, tercatat ada 11 kasus serupa, di mana perkara ‘pencemaran nama baik’ sering dijadikan pemantik kasusnya.

Apakah ini bentuk pengekangan kebebasan berpendapat? Tentu tidak. Berpendapat dengan memberikan tuduhan tidaklah sama. Menurut hemat saya, Benhan juga melakukan kesalahan; karena tuduhan yang dialamatkan ke Misbakhun, tidak disertai dengan bukti dan alasan yang kuat. Orang akan mengira, jika tuduhan ini hanya berasal dari buah pemikiran semata. Kedua, Benhan arogan. Kenapa? Karena kita semua tahu, yang diminta Misbakhun hanyalah permintaan maaf dari Benhan, karena sudah mencemarkan nama baiknya. Alih-alih menyambut ruang lebar yang sudah dibuka oleh Misbakhun, justru Benhan malah terlihat menganggap klarifikasi itu tak penting untuk dilakukan. Entah, jika kemudian ada orang yang menganggap permohonan maaf dari Benhan hanya akan membuatnya nampak lemah di mata masyarakat, namun yang jelas, tidak bisa memberikan bukti atas tuduhan-tidak-mengenakkan yang dialamatkan kepada seseorang, jelas merupakan kesalahan. Dan tidak meminta maaf setelah jelas-jelas membuat kesalahan, adalah kesalahan pangkat dua: fatal —jika tidak mau disebut (maaf) bodoh.

Namun jelas, saya menganggap penangguhan Benhan adalah sesuatu yang berlebihan. Tak perlu saya menyebutkan deretan kasus yang tentu lebih penting untuk diusut di negeri ini, untuk sekedar menyatakan betapa ‘sepele’nya perkara ini dibandingkan kasus-kasus besar yang sampai saat ini masih belum tuntas. Namun faktanya, hampir sebagian besar pengguna jejaring sosial melakukannya setiap hari: mencela publik figur —atau bahkan mengalamatkan tuduhan tidak mengenakkan yang masih simpang siur kebenarannya. Hanya saja naas bagi Benhan, tuduhan yang ia lontarkan ditanggapi serius oleh yang bersangkutan. Saya yakin, jika celaan yang sering kita alamatkan ke publik figur itu akhirnya ditanggapi oleh yang bersangkutan, kita semua juga merasa bingung dan was-was.

Sesekali saya juga berpikir, kita tidak bisa hanya berlindung di balik keyboard dan monitor, ketika jari jemari kita membuat sebuah pernyataan yang menyinggung orang lain, atau bahkan membuat tuduhan yang belum terbukti kebenarannya. Semua harus ada konsekuensinya, dan kasus Benhan ini akhirnya membuat para pengguna jejaring sosial di Indonesia sadar, bahwa kebebasan berpendapat mereka bukan tanpa batasan. Dan sekali lagi, power yang muncul dari capaian atau jumlah pengikut di Twitter —yang sering dibangga-banggakan itu, tidak akan berarti apa-apa, jika nantinya kita harus berurusan dengan dunia nyata.

Namun perlu diketahui juga, Misbakhun bukanlah sosok pria tanpa cela. Politisi yang akhirnya hijrah ke Partai Golongan Karya ini pernah dituduh terlibat dalam penerbitan letter of credit (L/C) Selalang Prima International miliknya, oleh Kepolisian Negera di Pemerintahan SBY. Ia diduga memalsukan surat deposito untuk mendapatkan kredit US$ 22,5 juta. Kemudian, Misbakhun divonis bersalah dan dihukum setahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan diperberat hukumannya menjadi dua tahun setelah melalui proses banding.

Lantas pertanyaannya adalah: jika ‘pencemaran nama baik’ hanya sah dan berlaku untuk seseorang yang namanya masih baik, lantas jika namanya sudah jelek, apanya yang merasa dicemarkan?

Senin, 26 Agustus 2013

Konser Penuh Kutang Terbang (Tanpa Isinya)



"I wanna have a baby from all of you in Jakarta!" - Alex.

Live Review: A Rocket To The Moon & All Time Low 
23 Agustus 2013, Senayan Swimming Pool Area, Jakarta.
 

Konser penuh bra berterbangan yang diawali dengan aksi pembuka nan semenjana.

tulisan ini juga tayang di sini.

Mengundang lebih dari satu band atau musisi kenamaan dalam waktu bersamaan, bukanlah tren baru bagi para penyelenggara konser di negeri ini. Terlebih jika masing-masing dari mereka sudah memiliki barisan penggemar yang sudah cukup solid di tempat penyelenggaraan acara. Hal inilah yang dilakukan oleh Java Musikindo —selaku promotor, dengan menghadirkan dua band internasional sekaligus, A Rocket To The Moon dan All Time Low dalam satu kesempatan pada Jumat (23/8) lalu. Bertempat di Senayan Swimming Pool Area, Jakarta, konser yang dikonsep secara outdoor ini dihelat pada pukul 19.00.
Sedari awal, A Rocket To The Moon memang sudah mencanangkan Indonesia ke dalam farewell tour-nya, setelah mereka memutuskan untuk bubar pada medio 2013 lalu —tak lama setelah merilis album studio kedua mereka, Wild & Free. Namun sayang, penampilan mereka malam itu seakan meruntuhkan ekspektasi para pengunjung yang menginginkan performa apik, sebagaimana penampilan sebuah band yang sedang melakoni  farewell tour. Sekalipun ini bukan kali pertama mereka menyambangi Jakarta, A Rocket To The Moon seakan lupa, bahwa apa yang mereka tampilkan di akhir kesempatan seringkali menjadi cetak biru dalam kerangka apresiasi para penggemar.
A Rocket To The Moon membuka pertunjukan dengan “If Only They Knew”, sebuah nomor yang diambil dari mini-album Greetings From; album di mana mereka baru saja beralih dari sebuah band eksperimental dengan sentuhan bit-bit elektronik, menjadi sebuah band alternative dengan sedikit nafas punk dan sesekali sisipan elemen country. Nick Santino yang kemudian menyapa para penggemar setelah selesai membawakan lagu, berhasil membuat para remaja putri usia belasan memekikkan kata “NICK! NICK! I LOVE YOU!” dengan volume maksimal secara berulang-ulang.  Berurutan setelahnya, A Rocket To The Moon membawakan “Wild & Free”, “Give a Damn”, “Whole Lotta Love” dan “Baby Blue Eyes”. “Baby Blue Eyes” adalah lagu pertama yang paling banyak mengajak para penonton untuk sing along. Dibawakan dengan set akustik, nomor ini seakan menjadi panduan bagi bejubel pasangan remaja urban yang hadir, untuk kemudian saling menatap dan berbisik mesra, “Baby, baby blue eyes / stay with me by my side / til the mornin', through the night” satu sama lain. 
Tanpa banyak melakukan interaksi dengan penonton, kemudian mereka membawakan lagu hitnya seperti, “On A Lonely Night”, “On Your Side”, “Dakota” dan lagu andalan, “Like We Used To”. Nick Santino sempat mengungkapkan antusiasnya untuk kembali datang ke Jakarta, dengan berkata, “It’s feeling good to comeback. Yeah, it’s need a long time to comeback,” dan kemudian melakukan formalitas band internasional sebagaimana biasanya: menyapa para penggemar dengan bahasa lokal nan terbata-bata. Nick mengucapkan “Aku cinta Jakarta,” dan kemudian diikuti —sudah bisa diduga oleh teriakan histeris dari para penonton. Ada yang berteriak kencang, ada pula yang kemudian membentangkan sebuah kertas bertuliskan, “We love you, A Rocket To The Moon. Please follow me (@namaakunpribadi),” sebuah terobosan baru dalam jagad konser, selain merekam berbagai momen berharga di panggung dengan aneka ragam gadget berukuran besar. A Rocket To The Moon menutup konser dengan lagu “Mr. Right”, dan kemudian mengucapkan salam perpisahan kepada para penonton, karena ini akan menjadi konser terakhir mereka di Jakarta. Total mereka membawakan 14 lagu. Sebelum bubaran, terlihat mereka sempat mengabadikan beberapa moment dari atas panggung, untuk kemudian diunggah ke jejaring sosial milik personel masing-masing.
Sayang, skema haru dan romantis yang sudah dirancang sedemikian rupa ini harus terganjal oleh masalah tata suara dan visual. Beberapa kali, microphone yang digunakan oleh Nick Santino terdengar mati. Pun dengan visual yang hanya terkesan ‘seadanya’ saja. Tidak ada tata cahaya yang sedemikian rupa, atau juga persiapan tata panggung khusus. Hanya dengan lampu sorot beberapa warna, latar belakang kain hitam berukuran besar tanpa layar yang menampilkan visual di sebelah kanan dan kiri, panggung malam itu malah nampak seperti panggung pentas seni anak SMA atau panggung gelaran festival clothing penuh diskon. Barangkali jika tidak ada sorak sorai dan penampakan penonton yang mengenakan merchandise A Rocket To The Moon, tidak akan ada yang mengira kalau ini adalah panggung band internasional.
Penempatan A Rocket To The Moon juga terkesan membingungkan. Untuk kelas band pembuka, mereka membawakan terlalu banyak lagu dan diberi porsi waktu yang cukup lama. Namun jika ditempatkan sebagai sesama penampil —setingkat dengan All Time Low, mereka sama sekali jauh dari predikat itu. Nampak tidak ada efisiensi fasilitas yang ada di panggung, atau sedari awal itu semua memang hanya dipersiapkan untuk band selanjutnya, All Time Low. Yang jelas, untuk sebuah pertunjukan berlabel ‘farewell tour’, penampilan A Rocket To The Moon malam itu terlihat mengecewakan.
Setelah A Rocket To The Moon rampung melaksanakan tugasnya, panggung nampak gelap untuk sesaat. Samar-samar, terlihat ada beberapa kru yang nampak sedang mempersiapkan alat untuk All Time Low. Beberapa perombakan pun dilakukan, seperti pergantian set-drum, perubahan kabinet gitar, dan yang paling kentara adalah pemasangan sebuah kain hitam besar bertuliskan “All Time Low” sebagai latar panggung. Saat jeda ini berlangsung, terlihat beberapa penonton baik dari yellow zone maupun red zone merangsek keluar untuk sekedar membeli minuman atau makanan.
Ada salah satu kejadian menarik, saat di mana seorang teknisi di area front of house (foh) memutar sebuah nomor lawas milik Blink-182, “All The Small Things” sebagai musik latar. Sontak hal ini menimbulkan sing-along dari penonton yang masih berada di area konser. Maklum saja, Blink-182 yang didaulat sebagai pionir pop-punk, memang dikenal menjadi acuan utama beberapa band pop-punk generasi sekarang, tidak terkecuali All Time Low. Bahkan, sang drummer, Rian Dawson, memiliki tato bergambar logo Blink-182 di lengan kanannya. Di beberapa kesempatan, All Time Low sering membawakan lagu-lagu Blink-182, seperti “All The Small Things”, “Time to Break Up” dan ‘Dammit”. Tidak ketinggalan, saat menyambangi Jakarta pada 2010 silam, mereka membawakan “Dammit” berkolaborasi dengan jawara pop-punk lokal, Rocket Rockers. Beberapa orang bahkan menyebut mereka sebagai “Blink-182 of this generation.”
Saat lampu di area konser dimatikan, tiba-tiba All Time Low menghentak dengan lagu “Lost in Stereo”. Penonton yang tadinya terkesan pasif dan malu-malu untuk bergoyang di penampilan A Rocket To The Moon, berhasil dibujuk untuk ‘keluar sarang’ lewat single dari album Nothing Personal ini. Belum nampak hiasan bra yang biasanya terpasang di stand-mic milik sang gitaris, Jack Barakat, pada lagu pertama kali ini. Entah para penonton lupa membawa stok bra cadangan, atau memang mereka masih merasa belum cukup nyaman untuk melepasnya.
Tanpa panjang lebar, Alex Gaskarth (Vokal/Gitar), Jack Barakat (Gitar), Rian Dawson (Drum) dan Zack Merrick (Bass) langsung menimpali dengan salah satu hit mereka (masih) dari album Nothing Personal, “Damned If I Do Ya”. Sahut-sahutan part gitar antara Alex dan Jack dalam lagu ini, nampaknya berhasil membuat para penonton untuk melakukan ritual konser All Time Low sebagaimana biasanya: saling melempar bra ke panggung. Bukan pemandangan yang aneh, apabila kemudian kita melihat Alex mengarahkan mic ke penonton saat berteriak, “Damned if do ya..” namun tidak mendapat balasan “…damned if I do!” dari para penonton, melainkan malah mendapat balasan bra yang berterbangan ke arah panggung “. Dari lagu ke lagu, Alex berhasil memimpin koor para penonton; seperti pada nomor “Six Feet Under The Stars” ,“Stella”, dan “For Baltimore”. Termasuk saat Alex melakukan solo akustik dengan memainkan “Remembering Sunday”, di mana bagian vokal Juliet Simms dilafalkan dengan sempurna oleh para penonton.

All Time Low juga terlihat atraktif, dengan selalu mengajak penonton untuk melakukan interaksi. Mereka sempat mengajak penonton untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada salah satu teknisi gitar mereka, Danny. Toilet jokes yang membicarakan masalah seks dan hal-hal berbau porno khas band pop-punk juga sempat mereka lontarkan, bahkan mereka sempat mendapati bahwa mereka dilempari mainan berbentuk penis, kemudian berkelakar “Why you guys do this to me?”, dan kemudian disambut gelak tawa para penonton. Antusias penonton ini bahkan mendapatkan pujian dari Alex, “Kalian semua gila. Kami telah banyak melakukan pertunjukan, dan jarang sekali mendapatkan sambutan seperti ini. Kalian semua bahkan jauh terlihat bisa bersenang-senang, dibanding dengan para penonton di Amerika, Australia dan Eropa.”

Dari segi performa dan tata visual mereka juga terlihat lebih baik dibandingkan performa sebelumya. Bahkan untuk kesempurnaan tata suara, terlihat Alex sempat beberapa kali berganti gitar, mulai dari Custom Paul Reed Smith Mira sampai Gibson Les Paul, untuk menyesuaikan karakter suara di tiap-tiap album All Time Low. Mereka juga nampaknya paham betul dengan ketidakakraban para penggemar dengan lagu-lagu di album Dirty Work, dan berinisiatif hanya membawakan satu lagu dari album itu, “Timebomb”. Maklum saja, Dirty Work merupakan album yang dikritik karena meninggalkan karakter pop-punk yang selama ini mereka miliki. Peralihan label rekaman dari Hopeless Records ke Interscope Records, juga disinyalir sebagai salah satu penyebab utama album ini menjadi sebuah album yang flop.

Sebelumnya, pihak penyelenggara memberitahu bahwa akan ada perayaan kembang api dari venue lain, pada saat konser berlangsung. Dan tepat sebelum perayaan kembang api tersebut, All Time Low memutuskan untuk melakukan jeda. Seperti biasa, teriakan “We want more,” dari penonton juga terus berkumandang. Saat pesta kembang api belum sepenuhnya usai, All Time Low kembali berada di atas panggung. Seakan tidak peduli dengan keriuhan yang berasal dari ledakan kembang api tersebut, mereka langsung menggeber dengan lagu “Weightless”. Dan benar saja, sing-along dari penonton bahkan mampu menenggelamkan suara kembang api tersebut.

Sebelum menutup penampilannya, ia mempersilakan seorang penonton untuk maju. Seorang wanita pun dengan antusias langsung merangsek naik ke atas panggung, dan mendapat pelukan hangat dari Alex dan Jack. Alex sempat berkelakar, bahwa wanita yang naik ke atas panggung merupakan sosok yang pas untuk menjadi seorang bartender —yang akan meracik minuman untuk teknisi gitar yang sedang berulang tahun, Danny. Interaksi sang penonton dengan All Time Low, berakhir dengan kecupan dari Alex dan Jack yang mendarat tepat di keningnya. Hal ini sontak memancing emosi para wanita yang ada di deret penonton untuk mengumpat kepadanya, dan mencari tahu lewat jalan mana ia akan pulang.

Namun seolah tidak peduli dengan kecemburuan para penggemar wanitanya, All Time Low langsung memainkan nomor dari album So Wrong It’s Right, “Dear Maria Count Me In”. Dan lagi-lagi Alex berhasil memandu para penonton untuk bernyanyi bersama. Seperti biasa, setelah Alex dan Jack melakukan atraksi saling lempar gitar pada bagian interlude “Dear Maria Count Me In” di konser live mereka, mereka langsung mengarahkan microphone ke arah penonton untuk membalas seruan, “I got your picture…” dengan teriakan “Im coming with you”. Sebuah pemilihan lagu penutup yang pas, karena beberapa bagian di lagu ini yang memang membutuhkan sahut-sahutan dari banyak suara.

All Time Low membawakan total 16 lagu, dan menutup konser ini dengan sebuah pertunjukan epik sebagai ‘penebusan dosa’ atas kekurangan penampil sebelumnya. Andai saja tajuk konser ini adalah konser solo All Time Low, tentu penilaian para penonton akan keseluruhan acara ini akan lebih baik. Ini juga menjadi sebuah pembuktian menawan, kenapa All Time Low pantas diganjar sebagai “Band of the Year” pada 2008. Sekaligus ingin menasbihkan diri, bahwa mereka kini bukan lagi “Blink-182 of this generation”, melainkan “All Time Low of this generation.”