Rabu, 03 Juli 2013

Invasi Musim Hardcore: Di Antara Realita Semu dan Preferensi Sosial

Hajar, bleh!
Sejatinya budaya adalah tentang kebiasaan yang hadir di tengah khalayak, dan secara turun-menurun disepakati sebagai representasi simbol kekompakan sekumpulan individu. Ruang lingkup budaya selalu bersinggungan dengan budi dan akal manusia, karena memang itulah jabaran dari kata aslinya, buddayah. Gejala umum yang sudah menjadi bagian hidup masyarakat ini, mengalami metamorfosis seiring berjalannya waktu. Karena melibatkan manusia — yang memiliki sifat dasar mudah merasa bosan — sebagai mata rantainya, maka budaya tentu selalu ingin mengadakan perubahan.

Tidak terkecuali bagi anak muda. Generasi menjanjikan yang selalu digadang-gadang sebagai penerus bangsa ini, adalah lini yang paling mudah menjamah — juga dijamah — nilai-nilai baru dan yang paling sering ‘mengutak-atik’ peradaban, sehingga seringkali menelurkan sebuah kebudayaan baru. Generasi muda adalah sekumpulan individu yang menjadi mata rantai warisan budaya sebelumnya, pun juga bisa sebagai agen destruktif budaya, karena seringkali menganggap nilai-nilai yang ada di budaya sebelumnya, hanyalah souvenir usang dari jaman Jahiliyah yang tidak perlu diteruskan

Sebagai contoh, kini hanya ada sedikit anak muda yang berasal dari suku Jawa, yang masih berkenan untuk menggunakan ritual adat Jawa, sebagai rujukan pengiring di hari pernikahannya. Kini anak muda Jawa, bahkan alpa dengan istilah-istilah seperti midodarén, pager ayu, atau siraman; mereka tentu jauh lebih hapal dengan istilah standing party, garden party, atau bahkan bachelor party. Pergeseran dan berkurangnya kesadaran untuk memaknai nilai-nilai sakral yang ada di dalam sebuah budaya, tentu saja membuat berang para generasi terdahulunya yang cenderung bersifat konservatif.

Kiranya, hal seperti inilah yang sedang terjadi di scene musik hardcore di tanah air. Kini muncul semacam degradasi pemahaman tentang semangat yang diusung oleh para penggiat hardcore generasi awal. Nilai-nilai sakral tentang solidaritas dan semangat ‘pembangkangan’ yang memang gencar disuarakan oleh musik hardcore, bergeser menjadi budaya baru yang seringkali hanya berbicara soal fashion dan pembentukan identitas diri untuk show-off di depan khalayak. Pelakunya pun masih tergolong sangat muda, banyak dari mereka yang masih belum genap berusia kepala 2. Usia yang masih sangat rentan dengan pengaruh arus budaya asing dan indoktrinasi tentang paham atau ajaran baru.

Berangkat dari fenomena inilah, saya mengangkat tema “Invasi Musim Hardcore: Di Antara Realita Semu dan Preferensi Sosial” . Saya beranggapan, bahwa perlu ada penyamaan koridor tentang pemahaman spirit hardcore di antara generasi awal dengan generasi baru, supaya tidak ada kesimpangsiuran mengenai siapa meniru siapa, siapa perintis siapa pengikut, juga tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Saya idak berusaha membenarkan, karena menurut kami dalam ranah budaya tidak pernah ada yang salah; yang ada hanya ketidakpahaman pelakunya tentang aspek-aspek yang ada di dalam budaya itu sendiri.

Selamat membaca, selamat membangun ruang pembenaran di dalam imaji masing-masing.

************************************
Budaya Uzur Dalam Kemasan Prematur

Bicara hardcore adalah bicara tentang persahabatan, solidaritas, dan prinsip perlawanan kepada segala sesuatu yang dinilai mapan. Penikmat dan pelaku hardcore generasi lama tentu paham betul mengenai hal ini, karena pada era musik apapun sebuah generasi tumbuh dan kembang, akan selalu ada alasan kenapa seseorang memilih untuk berada pada jalur musik tertentu. Alasan-alasan yang ada di atas, menempati posisi paling puncak ketika HC-Kids — salah satu sebutan untuk penggemar musik hardcore — ditanya ‘kenapa memilih untuk suka musik hardcore” Dan ketika generasi lama ditanya perihal alasan “seberapa bermakna hardcore dalam kehidupan kalian” tentu jawaban mereka adalah “entah, apakah hardcore berarti hidup untuk saya; atau hidup saya, yang memang harus didedikasikan untuk hardcore. ”

Budaya adalah siklus berulang. Apa yang kini kita lihat dan maknai sebagai budaya, bukan tidak mungkin adalah kemasan daur ulang dari hasil pemikiran generasi sebelumnya. Pun dengan budaya Hardcore yang kini sedang (kembali) merebak di kalangan generasi muda. Di tengah ‘badai invasi’ budaya kekinian (K-Pop, J-Pop, Brit-Pop, American Style, dsb), ada sebagian kecil golongan yang menciptakan budaya tandingan alih-alih mengikuti budaya yang sudah ada. Semangat inilah yang mendasari sebagian generasi muda yang kini self-proclaimed sebagai “anak-Hardcore”; semangat pembangkangan atau bentuk perlawanan atas segala sesuatu yang dinilai mapan/umum.

Adalah Ian MacKaye dari Minor Threat, yang termasuk bagian dari generasi awal Hardcore yang memiliki gagasan untuk memasukkan unsur-unsur perubahan melalui media musik. Berangkat dari kekagumannya pada Bad Brains, pada medio ’80-an MacKaye mengajak Jeff Neslon — tandem di bandnya yang terdahulu, Teen Idles — untuk membentuk band baru, yang kemudian ia beri nama Minor Threat. Capaian dan sumbangsih MacKaye terhadap perkembangan musik Hardcore adalah, mengusung gerakan “Straight Edge”, dimana gerakan ini adalah bentuk penentangan atas kultur anak muda di zaman itu, yang gemar mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang sebagai pembentukan identitas golongan musik tertentu. Lagu dan ideologi “Straight Edge” merupakan cetak biru dalam budaya hardcore. Penggalan lirik “i’m people just like you / but I’ve got better things to do,” kini jadi dalil bagi Hardcore-Kids di belahan dunia manapun untuk bertaubat.

Jika gerakan Straight Edge milik MacKaye mengajak anak muda untuk melepaskan diri dari jerat alkohol dan obat-obatan terlarang, ada pula beberapa musisi Hardcore yang menggunakan musik dan karyanya sebagai media untuk ‘bersuara’ . Sebut saja Dead Kennedys. Band ini asal San Fransisco ini, sering menyisipkan muatan-muatan politis bernada satir, lewat lirik dan konsep panggung yang mereka usung. Maklum saja, personil mereka memang hampir sebagian besar seorang penganut ideologi sayap kiri. Di salah satu cover single mereka “Holiday in Cambodia” , mereka mengambil foto korban The Thammasat University Massacre, sebagai bentuk kritik atas kekejaman rezim negara timur dan campur tangan negara barat dalam urusan internasional.

Sedangkan awal mula Hardcore menyusup masuk ke Boston dan New York, didasari dari kecemasan beberapa musisi akan keamanan kotanya yang dikuasai oleh geng jalanan dan kartel narkoba. Sehingga mereka membuat paham Straight Edge menjadi lebih militan, sebagai bentuk perlawanan ideologi. Kebanyakan dari mereka ini kemudian membentuk sebuah perkumpulan kecil sebagai bentuk idenitas yang membedakan mereka dengan geng-geng jalanan. Tak ayal, mereka sering mengklaim satu sama lain sebagai “Family”, untuk kemudian membubuhkan embel-embel “Crew” sebagai pengkubuan/identitas kelompok hardcore region satu dengan region lain. Beberapa kata yang sering mereka gunakan sebagai jargon pemersatu adalah “Pride” dan “Respect”. Agnostic Front dengan gamblang menggambarkan dedikasi mereka untuk orang-orang yang ada di sekitarnya, lewat lirik “For my family for my friends / for those that we've lost I sing / this is a message, this is for you / never forget the ower east side crew” di single “For My Family” .

Daerah asal si empunya karya, memang seringkali menentukan bagaimana hasil akhir dari sebuah karya. Saya ingat, Pram pernah berkata bahwa realisme sosialis sesungguhnya merupakan teori seni yang mendasarkan pada kontemplasi dialektik antara seniman dan ingkungan sosialnya. Seorang seniman — dalam hal ini pelaku musik Hardcore = ditempatkan tidak terpisah dari lingkungan tempatnya berada. Hakikat dari realisme sosialis ini bisa dikatakan menempatkan seni sebagai wahana penyadaran bagi masyarakat untuk menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang terasing) dan mampu menyadari dirinya sebagai manusia yang memiliki kebebasan.

Namun, semua pengantar di atas seakan menjadi kontradiktif ketika berhadapan dengan kultur Hardcore yang ada di Indonesia. Khususnya pemaknaan ideologi di generasi muda. Di kalang an generasi muda, hardcore banyak dimaknai sebagai musik kencang yang apabila didengarkan, akan sedikit meningkatkan ‘strata-gaul’ mereka di lingkungan sekitar. Mereka akan dianggap sebagai seorang hipster yang memang ingin tampil beda, dan dipandang memiliki selera musik yang tidak biasa. “Hanya ikut-ikutan seorang teman yang lebih tahu saja’ jawab sebagian besar dari mereka. Budaya ikut-ikutan inilah, yang sebetulnya sangat disayangkan oleh banyak kalangan. Mengingat ada berbagai pergerakan dan pesan yang ingin disampaikan oleh para penggiat hardcore generasi sebelumnya.Sebagai contoh, bukanlah sesuatu yang mengagetkan lagi ketika kita jumpa dengan seorang anak muda yang mengklaim sebagai seorang “Straight Edge” , dengan memasang tanda silang di tangannya, namun saat itu juga ia sedang merokok atau dengan identitas ke-khasannya malah mengkonsumsi alkohol sebelum masuk ke gigs.

Sebetulnya, banyak yang merasa baik-baik saja ketika jumpa dengan fenomena yang seperti disebutkan di atas. Akan tetapi banyak pula yang merasa bahwa harus selalu ada konsekuensi ketika kita mencintai/menggemari segala sesuatu. Peribahasa bilang “Tak Kenal Maka Tak Sayang.” Begitu juga dengan ranah musik Hardcore, ketika kita tidak mengerti latar belakang dan pesan apa yang ingin disampaikan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya, tentu saja sia-sia. Apalagi ketika sudah show-off dengan identitas ke-khasannya.

Di satu sisi, ekspektasi generasi sebelumnya akan pemahaman ideologi Hardcore di kalangan generasi muda pun kadang tidak dibarengi dengan usaha untuk merangkul dan memberikan pemahaman sebagaimana mestinya. Kecenderungan untuk bersikap konservatif, dan merasa bahwa tonggak estafet kultur Hardcore yang diemban oleh generasi sekarang ini tidak dijalankan dengan benar , juga membuat adanya jurang pemisah antara generasi lama dengan generasi baru. Namun seperti yang sudah iungkapkan sebelumnya, yang terpenting dari mencintai sesuatu adalah memahaminya secara keseluruhan. Memang, edukasi dari berbagai pihak tentang ideologi Hardcore itu penting, namun yang Jauh lebih penting adalah kesediaan untuk mempelajari segala sesuatu yang sudah mereka pilih untuk digemari.

************************************
Enigma Hardcore di Kota Bengawan
(Wawancara dengan Budi, pentolan band hardcore kota Solo, Spirit of Life)

Musik hardcore awalnya terbentuk dari musik punk. Di Solo sendiri, musik hardcore berawal dari wilayah Sriwedari yang ada sekitar tahun 1998. Budi merupakan salah satu anggota band hardcore Spirit Of Life yang cukup lama bergabung sekitar sepuluh tahun, ini merupakan band kedua sejak ia bergabung dalam komunitas hardcore Solo. Ia bergabung dengan komunitas hardcore sekitar tahun 2000. Budi menganggap musik ini sebagai musik yang berbeda dan membuatnya lebih bersemangat. Dari sekedar rasa suka itu ia terus mencari tau tentang apa itu musik hardcore. Ada beberapa wilayah di Solo yang menjadi tempat berkumpul komunitas komunitas hardcore contohnya seperti daerah Kleco, utara stadion Sriwedari, dan Serengan. Di daerah-daerah tersebut terdapat beberapa band yang masih tetap aktif sampai sekarang seperti HOT, Isolated IQ, Down For Life. Setelah tahun 2000 merupakan tahun kedua generasi Hardcore di Solo dan tahun 2002 sampai sekarang semakin banyak band-band hardcore yang bermunculan. Budi merupakan anggota band Spirit Of Life yang telah berjalan kurang lebih sepuluh tahun ini berpendapat bahwa musik hardcore sebagai musik yang berasal dari barat dan sampai di Indonesia tidak sepenuhnya harus melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan di barat. Memilah-milah mana yang cocok dipakai di Indonesia dan mana yang tidak. Contohnya seperti bila dibarat musik hardcore digunakan sebagai perlawanan terhadap pemerintahan, tetapi di Indonesia menggunakan musik sebagai sarana perlawanan terhadap pemerintahan pada era Presiden Soeharto tidak memungkinkan untuk digunakan maka tidak akan menjiplak apa yang dilakukan band barat. Sebagian band hardcore menelan mentah-mentah apa yang dilakukan oleh band barat tanpa menyaring baik-buruknya dan bagaimana dampaknya. Pondasi band hardcore sendiri adalah brotherhood dan friendship yang berarti hardcore merupakan kebersamaan dan pertemanan.

Punk dan hardcore sebenarnya tidak berbeda. Hardcore dinilai dari proses awal perjuangan hingga mencapai kondisi yang semakin baik. Setiap band hardcore mempunyai pergerakan masing-masing tentang apa yang akan diperjuangkan dan dicapai. Di Indonesia seperti di wilayah Jakarta sendiri tiap wilayahnya punya perjuangan yang berbeda. Wilayah Priuk dengan wilayah Jakarta Selatan mereka punya perbedaan dalam pergerakan. Di wilayah Priuk, komunitas Hardcore tersebut bentuk perjuangannya untuk bertahan hidup karena kondisi lingkungan yang keras. Sedangkan di Jakarta Selatan, sebut saja daerah Pondok Indah daerah itu merupakan kawasan elit maka tidak mungkin apa yang diperjuangkan sama dengan komunitas di Priuk. Perjuangan mereka kearah hidup positif misal dalam perlawanan terhadap pemerintahan. Rata-rata komunitas hardcore di Jakarta Selatan berasal dari kalangan menengah ke atas, berbeda kondisi dengan komunitas hardcore yang berada di Priuk. Perbedaan kondisi ini yang membuat perjuangan dalam tiap komunitas berbeda. Perbedaan era hardcore yang seperti sekarang ini sama seperti saat musik underground masuk ke Indonesia . Penerimaan music tersebut oleh sebagian komunitas dianggap bahwa musik tersebut berbeda dengan musik-musik lain yang sudah biasa didengar, keras, dan memberi semangat.

Style atau gaya berbusana dalam musik hardcore berbeda dengan aliran lainnya. Hardcore cenderung apa yang digunakan lebih ke gaya hidup, secara subjektif hardcore tidak mempunyai ciri khusus. Tidak seperti misal punk yang mempunyai ciri pada rambut, atau celana ketat. Tren berpakaian hardcore di kalangan anak SMA dengan kaos kedodoran itu hanya sebuah fashion. Hardcore sendiri tidak bisa dilihat dari sisi fashion-nya. “Hak mereka bila memakai pakaian seperti itu,” kata Budi. Hardcore berawal dari musikalitas yang masih awam tentang dunia hardcore itu sendiri yang lama-kelamaan akan tau tentang apa itu Hardcore. Budi menjelaskan bahwa hardcore itu berbeda dengan aliran musik lainnya karena musik hardcore adalah musik tentang perlawanan terhadap ketidakbenaran yang terjadi disekitarnya. Jadi individu maupun komunitas Hardcore dianggap berbeda dan minoritas karena mereka tidak mengikuti apa yang terjadi tetapi melawan arus. Budi berprinsip, “jangan hidup untuk hardcore, tetapi hardcore untuk hidup”. Artinya hardcore merupakan pilihan hidup tapi bukan berarti hidup kita segalanya untuk hardcore. Ada hal lain yang diperjuangkan, dengan hardcore kita memperjuangkannya.

************************************

Realitas Semu dan Preferensi Sosial 
(Wawancara dengan Argyo, dosen sosiologi Universitas Sebelas Maret)

Suara musik menghentak yang didominasi dengan suara gitar dan gebukan drum. Vokal yang memekakkan telinga turut juga mendominasi. Di tengah ‘lantunan’ lirik tersebut puluhan anak muda dengan gaya dan dandanan yang hampir senada tengah menikmati pertunjukan ini. Remaja yang berusia tidak lebih dari 20 tahun mendominasi pertunjukkan pada malam itu. Mereka adalah kelompok penggemar musik dengan aliran yang keras semacam ini, alias hardcore. Mungkin bagi kebanyakan orang, apa yang disajikan tidak dapat dengan mudah dinikmati. Akan tetapi untuk mereka musik semacam ini bagaikan “nafas” dalam kehidupan mereka.

Musik hardcore, sebuah aliran musik yang tidak bisa dibilang baru ini tengah mencuri perhatian remaja zaman sekarang. Terkhusus remaja putra usia SMA menganggap musik hardcore adalah bagian dari diri mereka. Namun sebenarnya mengertikah mereka akan filosofi dari aliran musik ini? Atau sekadar mengikuti trend saja yang tengah mereka lakukan saat ini.

Fenomena ini ditanggapi oleh Argyo, pengamat sosiologi kebudayaan asal UNS sebagai salah satu hasil dari berkembangnya budaya pop. Ditemui usai mengajar pada Sabtu (15/6), Argyo memaparkan pemikirannya mengenai fenomena trend musik hardcore ini.

Awal Mula Munculnya Fenomena


“Fenomena ini terjadi tentunya berkaitan pula dengan keberadaan budaya massa atau popular culture, “ ungkap Argyo ramah. “Ditambah lagi dengan persebaran budaya pop yang begitu mudah di era IT semacam ini. Dengan memanfaatkan teknologi yang ada, anak muda cenderung lebih mudah untuk bersinggungan dan menyerap bentuk budaya baru.”

Budaya pop, dalam hal ini adalah musik hardcore dilihat sebagai sebuah komoditas dengan pangsa pasar yang sudah jelas. Mereka sudah mempunyai consumer society sendiri yaitu golongan anak – anak muda. Kesempatan semacam ini kemudian dimanfaatkan oleh para pelaku industri untuk mengeruk keuntungan. “Berbeda dengan jenis high culture seperti pertunjukan opera dan wayang yang berorientasi pada kepuasan batin, perasaan dan emosi. Popular culture berorientasi pada keuntungan.”

Berangkat dari kesempatan semacam ini, proses eksternalisasi pun dilakukan oleh para pelaku. Mulai dari musisi sampai produser untuk mendapatkan keuntungan. Tidak berhenti sampai di situ proses ini terus berlanjut menuju apa yang disebut sebagai konsep subyektifikasi dan obyektifikasi. Kedua konsep ini merupakan gagasan dari sosiolog kondang, Peter L. Berger. “Simpelnya subyetifikasi adalah masa ketika anak muda mulai memiliki ketertarikan pada jenis musik tersebut. Merasa kok saya cocok ya dengan jenis musik ini. Saya senang. Sementara obyektifikasi ketika individu – individu ini berkumpul lalu kemudian saling berbagi kesenangan ini,” jelas Argyo lebih lanjut.

Setelah eksternalisasi, subyektifikasi dan obyektifikasi, tahapan selanjutnya yang dilalui adalah masa internalisasi. Ketika masyarakat mulai mengamini musik hardcore sebagai salah satu bagian dari mereka, bagian dari budaya dan sebagai seorang sosiolog, Argyo menilai apa yang tengah terjadi dan melanda anak muda zaman sekarang berkaitan dengan musik hardcore adalah sebagai sebuah “Realitas Semu”. Mengapa realitas semu?

Mengutip pernyataan seorang sosiolog terkemuka asal Perancis, Jane Baudrillard, realitas semu adalah sebuah kondisi atau keadaan yang tidak akan bisa bertahan lama. Ada masa dan titik jenuh tertentu yang akan muncul. Semuanya tergantung kepada kemampuan budaya itu sendiri apakah ia mampu bertahan di tengah masyarakat agar tidak hilang dalam gerusan waktu.

Konsep itu berlaku untuk hampir setiap jenis dari budaya pop, termasuk musik hardcore pula. Argyo menilai musik hardcore pada satu titik pasti akan mengalami saat kemunduran yang memang tidak akan bisa dihindarkan. Kemampuannya untuk mempertahankan diri dan kembali eksis kemudian akan sangat diuji. Apabila musik hardcore ini mampu melembagakan dan membudayakan pemikiran dan budaya mereka kepada generasi berikutnya, niscaya jenis musik ini akan tetap eksis sepanjang masa.

Dapat dinilai apabila diterapkan dalam kondisi sekarang ini, proses dari para musisi dan produsen musik hardcore untuk melembagakan jenis musik mereka telah cukup berhasil. Dimana sekarang mulai banyak anak remaja usia SMA yang menaruh minat dan perhatian mereka terhadap musik hardcore. Namun sejatinya pengertian dan pemahaman mereka mengenai musik hardcore cenderung sangat minim.

“Preferensi sosial”, ujarnya ketika saya mencoba mencari tahu alasan munculnya fenomena yang tengah menjadi pembahasan ini kepadanya. “ Semua fenomena ini didasari oleh satu alasan yakni preferensi sosial.”

Preferensi sosial sendiri dijelaskan sebagai sebuah hal yang wajar dalam sosiologi. Ini adalah masa dimana seseorang yang telah memiliki atau menikmati sebuah pengalaman tertentu kemudian menceritakan apa yang mereka dapat. Membagikan apa yang telah mereka alami kepada orang lain yang ada di sekitar mereka. Kebanyakan anak remaja SMA zaman sekarang yang baru saja menggemari jenis musik seperti ini mengetahui hardcore dari lingkungan pergaulan mereka. Sehingga pengaruh “ikut – ikut teman” sangatlah kental disini.

Walaupun pada kenyataannya tidak menutup juga kemungkinan mereka menyukai musik hardcore karena memang merasa musik itu sesuai dengan jiwa dan mewakili karakter serta perasaan meraka. “Memang ada pengaruh preferensi sosial dalam sebuah trend. Akan tetapi semuanya tetap kembali kepada individu yang bersangkutan. Apakah mereka menerima atau menolak kebudayaan yang baru ini, “ tuturnya “Sehingga unsur selera dan taste masih tetap menjadi yang utama.”

Beda Region Beda Budaya

Musik hardcore sendiri setelah ditelusuri perkembangannya, diketahui pertama kali muncul dari negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Kemudian setelah berkembang selama beberapa waktu aliran musik ini mulai diperkenalkan dan masuk ke Indonesia. Secara kasat mata, nampak beberapa perbedaan dari budaya pecinta musik hardcore dari negara asalnya dengan yang dari Indonesia.

“Sebuah budaya selalu memiliki apa yang disebut sebagai tanda penanda. Sebuah ciri khas yang memberikan identitas kepada budaya tersebut. Membedakannya dengan budaya yang lain.”, ungkapnya. “Seperti musik punk, reggae dan rock. Aliran musik hardcore pastilah memiliki bentuk tanda penanda mereka sendiri yang berbeda dan unik.

Perihal tanda penanda ini, telah terjadi beberapa proses filterisasi budaya yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Sehingga meskipun sejatinya hardcore berasal dari Amerika, namun tanda penandanya telah disesuaikan dengan keadaan masyarakat setempat. Proses penyaringan inilah yang memang sekarang tercermin kepada keberadaan musik hardcore yang berkembang di Indonesia, dimana memiliki sedikit perbedaan dengan versi aslinya.

Menutup wawancara, Argyo berpesan terutama kepada anak muda penggemar musik hardcore agar kecintaan mereka kepada musik hardcore tidak membawa mereka kepada hal yang kurang baik. “Menikmati musiknya tentu sah – sah saja. Akan tetapi perlu diingat kita juga harus menjaga norma. Jangan sampai kecintaan kalian kemudian menjurus kepada narkoba, alkohol dan parahnya tawuran alias kekerasan,” tegasnya, “Dengan memakai tanda penanda sebagai pecinta hardcore anda akan dapat memunculkan stigma di masyarakat. Jangan sampai karena kelakuan buruk satu atau dua individu membuat masyarakat melakukan generalisasi kepada seluruh penggemar hardcore.

Rabu, 12 Juni 2013

Mencoba Mengerti Marco Veratti


Mini-Vidic, is that you?

Sebelum Anda berpikir untuk meninggalkan laman ini karena judulnya yang gak banget — atau bisa dikatakan lebih mirip judul artikel sisipan majalah remaja wanita, yang berdampingan mesra dengan kolom “Zodiak Kamu Hari Ini” — percayalah, saya sudah berulang kali ketik-hapus-ketik-hapus judul, mulai dari: “Marco (O)Verrat(ed)ti”, “Marco Overrated Veratti (?)”. Terlihat rumit dan susah dibaca?Coba lihat ini:“Marco Veratti yang Ingin Dimengerti”Geli? Sama. Jadi saya pikir, judul yang saya pilih ini sudah yang terbaik. Harap maklum.

Adalah Zdenek Zeman, yang bertanggung jawab atas gelar “The Next Andrea Pirlo” yang disandang Verratti sejak umur 19 tahun. Ia yang pertama kali mengubah posisi Verratti dari central midfielder menjadi deep-lying midfielder. Mengingat ia memang memiliki teknik, visi, dan juga akurasi passing di atas rata-rata, Veratti nampak tidak kesulitan ketika beradaptasi dengan posisi barunya. Malah kalau boleh dibilang, lebih nyetel dibanding dengan penempatan posisi sebelumnya. Bersama Insigne dan Immobile, ia berkontribusi untuk membawa Pescara promosi ke Serie-A dengan status jawara Serie-B. Prandeli bahkan pernah mencantumkan namanya ke dalam 32 skuat yang dibawa Italia ke Euro 2012, sebelum akhirnya dicoret bersama 6 pemain lain, karena alasan seleksi dan perampingan tim.

Selayaknya animo calon mahasiswa baru saat jumpa dengan penjaja buku — atau lebih tepatnya kumpulan fotokopi buram — “Tips Sukses SNMPTN” seharga 15-ribuan di kala mengantre daftar masuk kuliah, Marco Verratti pun mendadak menjadi incaran banyak klub karena berada dalam “waktu jual” yang tepat. Juventus, Napoli, dan PSG secara terang-terangan menyatakan ketertarikan mereka untuk menggunakan jasa pemuda kelahiran Manopello, Pescara ini. Saat itu, fans Juventus boleh sedikit jemawa karena saat transfer-market berlangsung, beredar luas foto Verratti cilik yang tengah mengenakan jersey Juventus + berbagai kutipan tentang ketertarikannya untuk bermain di klub idola semasa kecilnya itu. PHP level: comeback CR7 ke Old Trafford.
Napoli pun nampak enggan kalah dalam perburuan. Bahkan menurut kabar yang beredar, De Laurentiis sempat menginstruksikan kepada Lorenzo Insigne untuk membujuk Veratti secara personal. Mungkin tentang ajakan untuk kembali mengulang masa kejayaan di Pescara bersama-sama di Naples. Mungkin.

Namun ibarat pria berseragam orange dengan peluit di tangan yang-mendadak-entah-muncul-darimana saat kita ingin memarkirkan/meninggalkan kendaraan di lokasi parkir, PSG tiba-tiba muncul dan menyeruak dalam perburuan Marco Verratti.  Memang betul, pada saat bersamaan Ancelotti dan beberapa nama besar di Serie-A melakukan eksodus besar-besaran ke Paris, tapi siapa yang mengira kalau seorang pemuda berumur 20 tahun yang bahkan belum pernah mencicipi atmosfer liga kelas wahid di negaranya, bakal ditawari untuk hijrah ke luar negeri dan — lebih mencengangkan lagi — dibanderol 12M?

Tentu saja Napoli dan Juventus mundur teratur ketika mendengar Verratti sudah dibanderol €12M oleh PSG. Lebih-lebih, urusan transfer Juventus di-handle oleh Beppe Marotta. Sedari dulu, ia memang terbiasa menangani urusan transfer klub dengan keuangan yang biasa-biasa saja (Venezia, Atalanta, Sampdoria) baginya sangat pantang untuk berjudi mengeluarkan uang jumlah besardemi pemain yang belum teruji betul kualitasnya. “Kalau bisa gratis, kenapa harus membayar” adalah salah satu prinsip yang ia pegang teguh, bahkan sampai ia menangani Juventus saat ini. Sebagai perbandingan, dana yang digelontorkan PSG untuk membeli Marco Verratti lebih mahal dibandingkan harga pembelian ke-empat pemain kunci Juventus: Arturo Vidal (€10.5M), Andrea Barzagli (€500K), Andrea Pirlo (Free). dan Paul Pogba (Free).Overrated and overpriced, eh?

************
Verratti pun hijrah ke Paris. Keputusan yang disayangkan oleh banyak pihak di Italia ini, juga diikuti oleh beberapa keraguan. Sebagai contoh, di awal musim saat Ancelotti menerapkan skema 4-3-3, banyak yang mempertanyakan dimana Verratti akan bermain?Skill terbaiknya sebagai pemain poros, diragukan tidak akan muncul ketika ia ditempatkan dalam skema seperti ini, lebih-lebih jika ia ditempatkan melebar.
 Pada skema 4-3-3, Veratti jarang menempati posisi utama. Terhitung ia hanya dipasang sebagai starter sebanyak 3x, saat PSG mengawali laga dengan formasi ini. Posisinya terlalu jauh didapuk di depan. Verratti sendiri padahal pernah berkata “Saya nyaman berada di depan daerah pertahanan. Saya bisa dengan lebih leluasa melihat ruang dan memberikan supplai bola kepada pemain lain. Saya rasa, daerah itu — turun ke dalam, sebelum garis tengah lapangan — titik maksimal posisi saya.Saya kurang cepat dan tak sanggup untuk naik lebih ke depan.” Dari 7x bermain menggunakan skema seperti ini, PSG mencatat hasil yang kurang bagus; 3x menang, 3x seri, dan 1x kalah. 

Tapi Ancelotti bukanlah pelatih kemarin sore yang baru saja lulus kursus kepelatihan sepakbola, dia adalah seorang jenius yang tahu benar bagaimana caranya untuk memaksimalkan potensi yang ada di dalam timnya.
Pasca menorehkan hasil buruk dengan skema 4-3-3, PSG lantas bermain dengan skema 4-1-2-1-2. Don Carlo nampaknya jelas melihat Veratti tidak nyaman bermain sebagai central midfielder. Ditempatkanlah ia sebagai deep-lying-playmaker dengan Chantome dan Matuidi sebagai ‘pelindung’-nya. Perubahan gaya bermain ini membawa hasil yang sedikit lebih bagi PSG. Verratti pun mampu bermain sebagaimana mestinya. Satu-satunya problem di skema permainan ini adalah: Javier Pastore nampak tidak terlalu nyetel dipasang sebagai Trequartista di belakang Ibra dan J.Menez. Linking-up-play antara Pastore – Ibra – Menez tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Di bursa transfer musim dingin, PSG mendatangkan (another-overrated-overpricred) wonderkid yang berasal dari Sao Paolo Brazil: Lucas Moura. PSG yang sedang bertransisi formasi — dari 4-1-2-1-2 ke 4-2-2-2 — tentu mendapat amunisi tambahan yang cocok dengan apa yang sedang mereka butuhkan. Hal ini tentu membuat sang manajer sumringah. Saya membayangkan, raut wajah gembira Ancelotti kurang lebih sama seperti ekspresi bocah umur 9 tahun yang akhirnya mendapatkan kartu ekstra-langka: Mew, sebagai pelengkap dan penutup koleksi 150 kartu Pokemon yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah.Mulai dari sini, Verratti mulai menunjukkan alasan kenapa ia bisa menyandang gelar “The Next Pirlo”.

Dua pemain di depan 4 pemain bertahan — atau yang biasa disebut double pivot — sama-sama bertugas untuk mensupport defense. Tapi masing-masing dari mereka, juga mengemban amanah tersendiri dari pelatih: satu pemain lebih terfokus untuk mengacaukan arus serangan lawan, satu pemain lagi ditugaskan untuk mendistribusikan bola kepada lini depan. Di PSG, tugas ini dijalankan dengan baik oleh duet Verratti dan Matuidi. 

Matuidi adalah salah satu kunci kenapa Verratti bisa bermain dengan aman. Kemampuan holding ball dan juga intercept-nya, ditambah dengan kemampuan tackle-nya yang di atas rata-rata. Ia adalah pemilik rataan tackle per match terbanyak di PSG, dengan total 123 tackle, atau rata-rata 3,3 tackle per match. Total intercept-nya pun tertinggi di PSG, dengan total 131 intercepts, atau 3,5 intercept per match, bahkan jauh di atas centre-back terbaik mereka, Thiago Silva. Matuidi juga berperan baik menjadi physical link bagi Veratti.
Sedangkan Verratti sendiri, berada lebih dekat dengan back-four dan juga berkonsentrasi untuk mendistribusikan bola ke depan sembari melihat ruang untuk kemudian melepaskan passing jarak jauh. Suplai bola ke Pastore/Moura juga sangat bergantung dari pergerakan bocah yang bagai Chicarito dibelah dua ini.Inilah salah satu keuntungan — yang juga bisa jadi kerugian — bagi tim yang menerapkan skema “4 midfielders in a  ‘square’ formation”: Arus serangan, sangat bergantung dari pergerakan 4 pemain ini; lebih-lebih pada salah satu dari mereka yang memang ditugaskan untuk mendistribusikan bola ke berbagai lini.

Skema 4-2-2-2 juga selalu menuntut seorang pemain depan untuk tidak hanya menjadi seorang penyerang, tapi juga menjadi pemain yang mampu beradaptasi dengan attacking midfielder yang seringkali berubah-ubah menjadi winger. Karena jika tidak, akan begitu nampak ‘lubang’ di antara 6 pemain bertahan dan 4 pemain menyerang, lebih-lebih jika para pemain tipikal penyerang ini enggan turun untuk membantu lini pertahanan. Beruntung, Lavezzi dan Ibra adalah pemain yang tidak keberatan untuk wara-wiri turun ke lebih dalam, hanya untuk mempersempit ruang gerak pemain lawan di daerah pertahanan, sembari berusaha untuk ‘jemput bola’.

************

Di perhelatan Euro U-21, semua mata pasti tertuju pada talenta-talenta muda yang digadang-gadang akan menjadi pemain besar dunia. Tidak terkecuali pada Marco Verratti. Di skuat Italia, namanya cenderung lebih mentereng dibandingkan pemain-pemain lain. Sekalipun Italia U21 punya deretan nama yang tidak kalah tenar, seperti Insigne, Destro, Marrone, Borini, dsb.Lagi-lagi, julukan “The Next Andrea Pirlo”juga menjadi alasan kenapa banyak orang menaruh perhatian pada pemain yang satu ini. Publik ingin melihat, bagaimana aksi dan “kadar-kemiripan-gaya-bermain-ala-Pirlo” yang dimiliki oleh Verratti. Ekspektasi publik Italia dan pecinta sepakbola, tentu melambung tinggi. 

Di awal laga melawan Inggris — sekalipun Italia hanya unggul 1-0 lewat eksekusi bola mati — Verratti tampil tidak mengecewakan.Meski pergerakannya selalu diganggu dan dibayangi oleh Shelvey, tugasnya untuk mendistribusikan bola ke berbagai lini tetap mampu ia lakoni dengan apik. Successful passes Verratti mencapai angka 121. Bandingkan dengan pengumpan terbaik Inggris, Henderson: 44 (yah, namanya juga timnas Inggris).Hanya sayang, lini-depan Italia tampil kurang menggigit malam itu. Borini nampaknya lupa, saat itu ia bermain dan berseragam untuk Gli Azzuri, bukan untuk Liverpool.Jadi, tak perlu ia menyesuaikan diri dengan sering membuang peluang dan bermain serampangan. Pun demikian saat bermain melawan Israel. Bukan hanya berperan jadi distributor bola, ia juga ikut turun membantu 2 centre back di belakangnya, untuk kemudian mempersilakan fullback naik membangun serangan. 

PSG dan Italia U-21, tentu masih jauh dari gaya bermain Verratti-sentris, seperti pengaruh seniornya Andrea Pirlo ketika bermain di Juventus maupun Italia senior. Namun, ada beberapa tugas yang diemban Pirlo, juga mampu dikerjakan dengan baik oleh Verratti. Baik dari gaya bermain, visi, akurasi passing, kemampuan untuk turun membantu daerah pertahanan. Tapi, ada beberapa aspek selain jenggot dan pengalaman bermain milik Pirlo, yang tidak dimiliki Verratti: kemampuan membuat peluang. Karena memang lebih sering berkutat dengan daerah pertahanan, chance rate milik Verratti hanya 15; bandingkan dengan rataan milik Pirlo, 74. Sekalipun nampak seperti orang yang lari-lari santai keliling komplek, Pirlo memang memiliki kemampuan yang sama baiknya ketika membaca serangan dan membangun serangan. Aspek nomer 2 inilah, yang belum begitu menonjol dalam diri Verratti. In case, jika memang dia “disamakan” dengan Andrea Pirlo.

Belakangan ia bilang bahwa ia mengidolakan Andrea Pirlo, tak lebih dari ia mengidolakan David Pizarro. Verratti kagum akan kemampuan playmaker Fiorentina asal Chili itu, yang sangat sulit kehilangan bola, sekalipun berada dalam kepungan lawan. Beberapa jurnalis sepakbola di Italia, bahkan lebih dulu mengatakan bahwa gaya bermainnya di Pescara cenderung lebih seperti Pizarro: lebih nyaman berada di depan back-four; sangat sering turun ke daerah pertahanan, sembari melakukan tackle dan mengambil boladengan cara yang sangat ‘rawan-kartu-kuning’. Tapi selain itu, ia juga adalah sosok diminutive deep-lying playmaker yang diberkahi dengan visi bermain dan kemampuan passing yang luar biasa. Mungkin kemampuan inilah, yang membuatnya lebih disamakan dengan dengan sang maestro— pemain yang belum tentu ada dalam 1 dekade sekali — Andrea Pirlo. Karena di Italia, akan lebih mudah menemukan pemain yang memiliki gaya bermain seperti Pizarro, dibanding menemukan pemain yang memiliki gaya bermain seperti Pirlo. Saya merasa, statement yang keluar dari mulut Verrati itu hanya bentuk ketidaknyamannya akan pelabelan sejumlah media.  Sehingga ia berusaha melepaskan “jerat Pirlo” yang ada di dalam dirinya, dengan menjadikan Pizarro sebagai perantaranya.

Saya sendiri bukan tipikal penikmat bola yang gemar melabeli talenta muda/pemain berbakat dengan titel “The Next”, sekalipun ada beberapa pemain yang gaya bermainnya mengingatkan saya dengan sejumlah pemain hebat. Melabeli mereka dengan titel seperti itu, buat saya hanya akan membatasi karir dan pencapaian empunya titel seakan-akan tidak bisa melampaui karir sang pemain yang dijadikan contoh. Iya kalau mereka memang jadi pemain hebat, bagaimana kalau nasib mereka seperti para pemain yang berlabel “The Next Pele”, ha? Bukankah hal itu hanya akan menjadi bahan lelucon dan materi segar untuk dibuat meme di akun-akun parodi sepakbola?

Jadi, marilah kita sedikit mencoba mengerti Marco Verratti. Biarkan ia bermain sebagaimana mestinya, dan jangan memberi beban ekspektasi yang terlalu berlebihan hanya karena ia memiliki gaya bermain dengan pemain lain. Toh bagaimanapun, ia adalah pemuda berumur 20 tahun yang baru saja rampung bermain di Serie-B, dan mendadak “dibajak” oleh klub kaya negeri seberang dengan harga yang tidak masuk akal untuk pemain seusianya. Asal tidak sering-sering menerima ajakan John Terry untuk keluar malam, perjalanan dan perkembangan karirnya tentu masih bisa berkembang pesat.

Yes , he is overrated& overpriced, but doesn’t mean he’s untalented. Just give the kid some damn time.


Kamis, 09 Mei 2013

Egosentrisme Taktik Ala Turin

Ill Capitano
Di dunia ini, tak ada yang abadi.
Dominasi pasukan Catalan, puasa gelar Robin van Persie, bahkan sampai pesona kecantikan Nadya Hutagalung yang dianggap imortal, pada waktunya nanti juga akan menemui masa kadaluarsa. Akan selalu tiba masa, dimana apapun yang sudah diklaim sebagai “paten” dan “pasti” akan mengalami peralihan. Satu-satunya yang pasti dari kepastian sendiri adalah ketidakpastian. Tidak hanya berlaku di jagad sepakbola, tapi juga berlaku di segala aspek kehidupan.

Tapi, bukan karena tak ada yang abadi, bukan berarti tidak ada yang tidak bertahan lama.

Romantisme Arsenal – Wenger – dan banner “In Arsene We Trust”, sorotan kamera ke arah Fergie dengan permen karet dan pipi merahnya di bench United, optimisme fans Liverpool dengan “musim depan EPL akan jadi milik kami’-nya yang terkenal itu, betahnya klub-klub Serie-A numpang di stadion milik pemerintah, masa kelam sepakbola Indonesia, ukuran botol Yakult, adalah salah satu dari sekian banyak hal di dunia ini yang — mungkin tidak akan bersifat —  abadi, namun pada kenyataannya sudah bertahan sekian lama. Bertahan pada sebuah paten, agar tetap berada pada koridor kepastian, adalah salah satu cara menghindari ketidakpastian; sekalipun nanti akan tiba masa dimana “paten” itu akan mengalami peralihan. Di jagad sepakbola, hal yang demikian adalah sesuatu yang lumrah.

Tapi nampaknya, ideologi Conte adalah sebuah anomali. Baginya, skema permainan Juventus tidak ubahnya gaya rambut Mitha The Virgin: selalu berubah-ubah di setiap kesempatan. Berikut beberapa skema permainan yang pernah Conte rancang selama 2 musim menukangi Juventus.

4-2-4: Flank, flank, flank.

Mengawali musim perdananya di Turin dengan skema all-out-attack 4-2-4, Conte masih sedikit mewarisi kebiasaan jaman Jahilliyah Juve era Del Neri – Secco, dengan fokus serangan lewat flank. Memang, kala itu tak ada lagi teriakan “MILOOOOOOOS!” khas Del Neri dari pinggir lapangan, untuk meminta Krasic menyusuri sisi kanan lapangan sembari berlari dengan kondisi NOS yang ada di kedua kakinya menyala. Conte tidak begitu suka dengan gaya bermain Krasic. Bagi Conte, pemain dengan tipikal ngotot dan grinta yang kental, selalu lebih baik dibanding pemain yang punya keunggulan skill di bidang tertentu: Krasic, Giaccherini, Elia – tipikal speed merchant, selalu kalah dibandingkan dengan Pepe, Estigarribia, atau bahkan Padoin. Sesuatu yang tentu sangat tidak lazim di formasi PES.

Di 4-2-4 milik Conte 11/12, ada beberapa hal yang menjadi sorotan saya. Di antaranya:

(-) Chiellini bermain bukan pada posisi aslinya, centreback, tapi dia ditempatkan sebagai fullback di sisi kiri. Hal ini sungguh disayangkan, mengingat menempatkan seorang CB murni menjadi fullback berarti harus mampu menyelaraskan antara menyerang dan bertahan. Chiellini sangat baik ketika ditempatkan di opsi kedua, namun tidak sebaik Ashley Cole ketika ditanya perihal opsi pertama.

(-) Bonucci tampil selayaknya medioker yang selalu gugup di setiap laga. Bersama Barzagli, dia menjadi duet centreback yang mengawal lini pertahanan Juventus paruh musim 11/12. Sepanjang musim 10/11, dia adalah salah satu alasan kenapa lini pertahanan Juventus nampak seperti pesakitan. Entah sudah berapa kali gaya ‘sekali-tebas-buang’-nya jadi malapetaka buat Buffon. Hanya Barzagli yang nampak tidak kesulitan dengan skema 4-2-4 ini. Tapi tidak dengan Bonucci. Saya seringkali berharap, Bonucci diculik seseorang dan ditempatkan dalam bunker setiap kali Juventus main dengan skema ini. Orang Jawa bilang, dia tampil hayub-hayuben.

(-) M-V-P (Marchisio, Vidal, Pirlo) tidak tampil sebagaimana mestinya. Sayang sekali dalam skema ini, salah satu dari Marchisio atau Vidal pasti jadi ‘korban’. Pirlo diplot berada central midfield bergantian dengan salah satu di antara Marchisio atau Vidal. Mengingat bagaimana ketiga manusia ini bekerjasama dengan sangat apik saat dimainkan bersama, 4-2-4 ini menjadi semacam kesia-siaan talenta yang ada di lini tengah.

(-) Konsistensi sungguh tidak akrab dengan flank kiri Juventus di skema ini. Chiellini yang bermain sebagai LB untuk menopang Estigarribia/De Ceglie di depan, jadi salah satu titik lemah Juventus di  4-2-4. Sebagaimana penggemar Maicih lvl.10 saat disuguhi Mie Instant dengan embel-embel “selera pedas”, gregetnya pasti kurang dan tidak berasa. Kira-kira seperti itu gambaran sisi kiri Juventus dalam skema 4-2-4.

(-) Sulit bagi fullback sekelas Lichtsteiner untuk overlap ke depan, ketika winger seperti Pepe sudah mendapatkan ruang lebih banyak. Agresivitas sisi kanan Juve berkurang, karena seperti yang kita ketahui bersama Lichtsteiner is a monster. Determinasinya menyusuri sisi kanan, baik ketika bertahan dan menyerang sama baiknya. Skema ini sulit membuat ke-khasan Licht itu nampak.

(+) Bisa menyaksikan penggunaan dua midfielder di tengah, yang sudah sangat jarang diterapkan pelatih modern. Pirlo era Milan sukses melakoni posisi ini, karena dia ditopang oleh seorang ‘so-called-gelandang-pengangkut-air’ semacam Gattuso yang terus menerus berlari dan mengcover sektor yang ditinggal Pirlo (kita tahu, melihat Pirlo berlari kencang kesana kemari merupakan salah satu  keajaiban dunia yang belum tentu kejadian dalam 10 tahun sekali). Di Juventus, tugas ini dicover dengan baik oleh Marchisio/Vidal. Sama-sama seorang petarung, dengan usia yang lebih muda. Di akademi Juventus, Il Principino ditempatkan sebagai trequartista, dan sangat jauh dari tipikal holding player. Maka dari itu, sekalipun skema ini menjadi menarik karena sudah jarang digunakan, hal ini menjadi sia-sia jika mengingat Juventus punya Vidal. Juve akan selalu butuh midfielder ke-tiga selama Conte masih ada di Juventus.

(+) Bagaimana lini tengah Juventus bisa mengcover ruang yang diciptakan lawan. Pertengahan 2007, Wenger pernah bilang: “Dengan menempatkan 4 gelandang di lini tengah — merujuk ke 4-4-2 miliknya pada waktu itu —  efisiensi covering space sebuah tim bisa mencapai angka 60%”. Memang secara kasat mata, 4-2-4 praktis hanya menyisakan dua midfielder sebagai penguasa lini tengah, dan dua winger sisanya berkonsentrasi bermain di flank. Namun jangan salah, Estigarribia/De Ceglie dan Pepe justru menjadi sosok yang pemain yang paling bisa menguasai ruang di skema ini. Masih ingat jelas dalam ingatan saya ketika Juventus melakukan comeback setelah tertinggal 2-0 dari Napoli, kemudian menjadi 3-3. Pemain kunci pada waktu itu adalah Pepe. Ia selalu bisa menemukan ruang, di saat Pirlo dan Vidal ‘melindungi’ dia dan memberikan kebebasan kepadanya untuk maju ke depan

(+) Sangat efisien sebagai peralihan, ketika jumpa tim dengan skema serupa dengan stamina yang lebih buruk. Sekali lagi, 3-3 saat melawan Napoli 11/12 adalah representasi sempurna dari efektivitas skema permainan ini. Paruh babak pertama, Juve berusaha melakukan mirroring skema permainan Napoli. Sama-sama menggunakan 3-5-2 (Napoli 11/12 cenderung ke 3-4-1-2, dengan Hamsik berada di belakang Lavezzi dan Cavani. Namun secara garis besar, hampir sama pola permainannya sama dengan 3-5-2 milik Juventus. Hamsik seringkali fleksibel ditempatkan sebagai attacking midfielder, atau dalam beberapa kasus menjadi central midfielder) di babak pertama. Hasilnya, Maggio benar-benar jadi malapetaka malam itu. Estigarribia yang diplot untuk mengisi flank kiri, ‘diperkosa’ secara biadab oleh Maggio. Kemampuan bertahan miliknya memang tak sebaik ketika menyerang. Wajar, mengingat Esti adalah tipikal sayap murni. Walhasil, 2 gol Napoli berasal dari sisi kiri Juventus. Pirlo juga dengan baik ‘dimatikan’ oleh Hamsik, supplai bola ke depan benar-benar mandeg. Jadilah babak pertama Juventus seperti hati anak kecil yang balon hijaunya meletus: sangat kacau.

Namun di babak kedua, kejeniusan Conte untuk mengubah skema 3-5-2 menjadi 4-2-4 sungguh membuahkan hasil. Chiellini yang tadinya diplot jadi centreback ditarik ke kiri untuk jadi fullback, Lichtsteiner juga ditarik mundur untuk kembali jadi fullback, Bonucci dan Barzagli diplot jadi centreback, Sisi kanan ditempati Pepe, kiri masih menjadi milik Estigarribia. Namun yang membedakan adalah: Pepe dan Esti sama-sama ditarik ke depan untuk menjadi sayap murni. Urusan pertahanan biar menjadi urusan Chiello dan Lichtsteiner Pirlo dan Vidal ditugaskan untuk mengcover lini tengah. Namun ini yang membedakan dengan skema babak pertama: Estigarribia berada di zona nyamannya, posisinya lebih maju ke depan dan ditugaskan Conte untuk memberikan pressing pada Maggio sehingga ia benar-benar harus ditarik ke belakang oleh Mazzari. Terbukti, 3 gol balasan Juventus berasal dari pergerakan sektor kiri. Sekali lagi, melihat bagaimana Conte memilih untuk ‘menyerang’ Maggio alih-alih harus memperkuat lini pertahanan dari serangan sayapnya adalah sebuah kejeniusan. 

4-1-4-1: Demi Vidal

4-2-4 adalah bentuk kesia-siaan lini tengah Juventus. Memiliki Marchisio, Vidal dan Pirlo dalam satu komposisi, namun lebih memilih untuk merotasi salah satu dari mereka dengan alasan kecocokan skema permainan adalah hal yang konyol bagi saya. Dengan kemudian memilihi 4-1-4-1, saya melihat bagaimana Conte ingin memaksimalkan talenta yang ada di dalam timnya. Pirlo sebagai regista, sedangkan Marchisio/Vidal sebagai mezalla. Tugas Marchisio/Vidal yang bergantian menemani Pirlo di skema 4-2-4 memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Sama-sama ditugaskan untuk ‘melindungi’ Pirlo dari godaan marking lawan yang terkutuk,  Marchisio cenderung lebih memiliki visi menyerang yang lebih baik dibandingkan Vidal. Sekali lagi, penempatan dia sebagai trequartista semasa berada di akademi Juve mau tidak mau mempengaruhi gaya bermainnya sampai sekarang. Mewarisi kekhasan pemain nomer 8 Juventus milik pendahulunya — Conte salah satunya — yang memiliki grinta kental, Marchisio mempadupadankannya dengan tipikal pemain petarung yang ada di dalam dirinya. Sedangkan Vidal sendiri, adalah jawaban atas kekurangan Marchisio: kemampuan untuk holding ball. Vidal didapuk untuk melakukan ‘tugas-kasar’ milik lini tengah Juve: tackle, intercept, skill box-to-box, pressing semua dilakukan Vidal dengan baik. Namun sayang, seringkali visi menyerangnya tidak sebaik Il Principino. Musim 11/12 untuk urusan mencetak gol, nama Marchisio lebih sering muncul di papan skor ketimbang Vidal (9 banding 7). Dan ketika akal sehat Conte menuntun dirinya ke jalan yang benar dengan menempatkan mereka berdua dalam satu kesempatan untuk menemani Pirlo, saya merasa bahwa berkah dari Tuhan itu memang benar adanya. Pirlo diplot sebagai deep-lying “creative” central midfielder, Marchisio sebagai attacking midfielder, dan Vidal sebagai defensive midfielder. Sungguh, padu padan yang pas.

4-1-4-1 diformat untuk menyenangkan Pirlo. Pirlo dibiarkan untuk bersabar dan duduk tenang, sementara Marchisio dan Vidal diplot untuk bekerja dan meng-cover area Pirlo, sembari terus memberi ruang bagi Pirlo untuk bekerja di dalamnya. Alur serangan benar-benar dimulai dari tingkatan yang paling dalam. Tidak heran, suplai bola ke depan seringkali berupa long-pass dari Bonucci, atau dari Pirlo. Hanya berkisar dari itu.

Tapi formasi ini bukan tanpa cacat. Ada celah yang begitu menganga di antara Chiellini dan Vucinic. Mengingat sektor kiri yang ditempati Marchisio tidak begitu baik dalam bertahan — untuk mengcover area kerja Pirlo saja buat saya sudah cukup berat —, maka tidak heran celah ini seringkali dimanfaatkan oleh lawan. Pemain dengan tipikal penjelajah seperti Robben dan Ribery akan sangat senang dengan celah seperti ini. Beruntung, klub-klub Serie-A tidak cukup memiliki tipikal stok pemain seperti mereka berdua. Maka tidak heran, kalau formasi seperti terhitung cukup aman jika dimainkan di liga. 

Entah kenapa saya juga tidak suka dengan penempatan Vucinic di belakang lone frontman, Matri. Menurut hemat saya, Vucinic bukan seorang energetic runners yang bersedia untuk menyusuri areanya sembari memberikan suplai bola secara konsisten ke depan. Vucinic adalah seorang ‘papan pantul’ bagi siapapun yang ada di dekatnya. Ia lebih jemput bola, untuk kemudian berlama-lama menahan bola sambil menunggu bantuan dari lini kedua.  Di posisi paling pucuk, saya melihat Matri malah cocok dengan skema permainan seperti ini. Sekalipun ia bukan tipikal targetman yang sebegitu menyeramkan seperti Cavani, diposisikan sebagai striker murni yang memang membuatnya nyaman tentu saja membuat perbedaan dalam skema permainan. Matri sejatinya adalah seorang poacher. Penyempurnaan dari skema ini adalah pemain tipikal classic number 9 seperti Trezegol yang memang selama ini jadi incaran Juventus. Andai Llorente dan Giovinco datang lebih awal, untuk kemudian menggantikan Matri dan Vucinic untuk bermain dalam skema ini, bukan tidak mungkin formasi 4-1-4-1 akan bertahan dalam kurun waktu yang lama.

3-5-2: Transformasi Penyempurnaan

3-5-2 menuntut adanya keseimbangan dalam bertahan dan menyerang.  Yang paling mendasar adalah peran dua wingback yang berada di sisi kanan dan kiri, mereka dituntut harus bisa memiliki kedua aspek tersebut dengan baik. Hampir di sepanjang musim 11/12 dan 12/13, Conte sering menjadikan skema ini sebagai pilihan utama. 

Dimulai dengan lini belakang: trio Barzagli – Bonucci – Chiellini menjadi pakem kekuatan baru lini pertahanan di Italia, bahkan dunia. Terbukti pada musim 2011/2012, Juve hanya kebobol 20 gol. Catatan terbaik di Eropa. Dan musim ini hingga pekan ke 35, Juventus juga hanya kebobolan 20 gol.  Bonucci tampil dengan sangat baik ketika Juventus bermain dengan skema seperti ini.  Dengan formasi 3 CB, membuat konsentrasi bertahan benar-benar dibagi rata oleh ketiga pemain ini. Dengan kehadiran Barzagli dan Chiellini di kanan-kirinya, tentu saja ini menjadi jaminan aman bagi Bonbon. Bonucci hadir seperti anak bungsu yang jika diganggu oleh anak kecil nakal yang lebih tua, kemudian mengadu untuk minta perlindungan ke kedua kakaknya, yaitu Chiellini dan Barzagli. Rataan passing Bonucci juga salah satu yang terbaik setelah Pirlo. Pokoknya, Bonucci seperti tamiya yang dinamonya baru saja ditune-up, setelah Juventus beralih formasi jadi 3-5-2. Mungkin pada periode sebelum ‘90an, posisi Bonucci ini lebih cocok ditempati oleh seorang sweeper atau offensive libero, namun ini akan menjadi sia-sia mengingat Bonucci memiliki seorang deeplying midfielder sekelas Pirlo di depannya.  Menjadi seorang stopper untuk mengcover bola saat pertandingan berlangsung, nampak lebih cocok baginya. Sementara Chiellini dan Barzagli sering naik ke depan untuk overlap (sering intercept dari kedua pemain ini berlanjut dengan solo-run ke depan, untuk kemudian memberi assist kepada siapapun yang ada di depan mereka untuk kemudian dikonversikan menjadi gol), Bonucci malah sering menjadi pilar terakhir lini pertahanan Juventus.

Salah satu keunggulan lini belakang Juventus ketika menerapkan skema seperti ini adalah: sangat efektif ketika jumpa dengan tim yang menurunkan 2 striker. Barzagli dan Chiellini akan ditugaskan untuk me-marking mereka, sementara Bonucci akan menghentikan arus serangan dari lini keduanya. Namun, seringkali trio B-B-C ini dibuat kebingungan ketika jumpa dengan tim yang mendapuk 1 pemain di lini paling depan. Pembagian jatah marking dan konsentrasi penghentian bola seringkali terpecah jika mereka menghadapi situasi demikian. Akibatnya, gol justru lebih sering muncul dari lini kedua. Contoh paling nyata, mungkin ketika mereka harus berhadapan dengan hanya seorang Mandzukic di perempatfinal UCL, dan harus menghadapi Fabregas seorang di lini paling depan, di final Euro 2012. Dan kita tahu sendiri hasil akhirnya seperti apa.

Maju ke tengah. Kita bisa melihat kunci keberhasilan permainan skema 3-5-2 ada di wingback. Sebagai contoh: Brazil menjuarai World Cup 2002. Dengan formasi seperti ini. Lucio – Edmilson – Juan begitu kokoh di lini pertahanan, sementara Cafu dan Roberto Carlos bergantian membombardir dari sisi kanan dan kiri. Pun saat bertahan, kedua pemain ini sama baiknya.

2011/2012, peran ini bergantian diperankan oleh Estigarribia/De Ceglie dan Lichtsteiner. Musim 2012/2013, pernah pos flank kiri diisi oleh Kwadwo  Asamoah. Duet Asamoah – Lichsteiner tentu saja adalah versi upgrade dari  De Ceglie – Licht. Asamoah yang sebetulnya bermain sebagai CM di Udinese, tampak tidak canggung saat bermain sebagai LWB. Saat menyerang, kemampuan box-to-box Asamoah tidak perlu diragukan lagi. Saat bertahan, dia juga mampu menutup dan menjembatani celah yang sering terjadi dibuat Vucinic – Chiellini. Sekalipun ia belum menemui performa terbaiknya pasca AFCON kemarin, Asamoah adalah opsi terbaik untuk menempati posisi LWB Juventus. Untuk RWB, saya no comment. Lichtsteiner adalah seorang monster. Bagi saya, performa The Swiss Train selama ini luar biasa. Tidak melulu menakjubkan, tapi konsisten.

Madrid punya Makelele Role, sedangkan bagi saya dua tahun belakangan ini Juventus punya Pirlo Role. Sebuah skema dimana gaya bermain dan arus bola ke berbagai lini sangat bergantung pada sosok Andrea Pirlo. Saat melakukan perjanjian terlarang dengan Jin Ifrit, Pirlo tidak membaca terms of agreement yang tertulis: kamu akan selalu bermain baik, dengan syarat harus menumbalkan dua pemain untuk bekerja keras dan mati-matian melindungimu serta memberimu ruang bermain untuk berkreativitas. Di Milan, Pirlo menumbalkan Gattuso dan Ambrosini. Di Juventus, Marchisio dan Vidal. Di Italia, Marchisio dan De Rossi. Hasilnya, Pirlo bertanggung jawab atas statistiknya di Juventus selama ini: 2,9 key passes/game, 87% pass success/game, 10.3 accurate long pass/game, 80% rataan passing/game. Hanya Xavi, Xabi Alonso dan Schweinsteiger yang mampu mendekati capaian statistik angka tadi.

Vidal dan Marchisio juga berperan penting selain sebagai ‘ tumbal’ untuk kecemerlangan permainan Pirlo: physical play dan kemampuan box-to-box untuk melayani dua striker yang ada di depan. Ini adalah versi sempurna dari 4-1-4-1 yang memungkinkan M-V-P main secara bersamaan.  Penjabaran kelebihan mereka berdua sudah tercantum di bahasan sebelumnya.
Untuk lini depan, Juventus masih cenderung labil  Coba lihat rotasi duet striker yang Conte miliki (statistik diambil sampai dengan laga Juventus – Bayern) saat menerapkan strategi 3-5-2:
  1. Vucinic dan Giovinco – 14 kali
  2. Matri dan Giovinco – 7 kali
  3. Quagliarella dan Giovinco – 6 kali
  4. Matri dan Vucinic – 6 kali
  5. Vucinic dan Quagaliarella – 4 kali
  6. Matri dan Quaglirella  - 2 kali
Saat Vucinic dan Giovinco bermain, praktis Conte tidak memasang seorang CF. Vucinic dan Giovinco adalah tipikal seconda punta. Entah kebanyakan orang menyebutnya false-nine atau bagaimana, yang jelas ini adalah duet terbaik Juventus menurut hemat saya. Vucinic dan Giovinco adalah tipikal pemain yang gemar berlama-lama menahan bola sambil mencari ruang untuk rekan setimnya. Gol akan datang dari mana saja ketika dua orang ini bermain secara bersamaan. Umpan-umpan pendek terlihat sangat mendominasi. Dalam beberapa kali kesempatan, Vidal/Marchisio sangat gemar mencetak gol yang berawal dari pergerakan Mirko dan Seba. Jumlah gol mereka memang tidak mencapai 2 digit, hanya 9 dan 6. Tapi mereka berkontribusi banyak dengan menyumbang sejumlah assist. Sejauh ini, jumlah assist mereka masing-masing (6) hanya kalah oleh Vidal (7).  Memang yang dibutuhkan Conte adalah tipikal dynamic forward yang ditugaskan untuk mempersempit jarak dan harus mampu bersinergi dengan dua wingback yang ada di belakang mereka. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya mereka harus mampu menyuguhkan linking-up play untuk lini tengah. Sejauh ini, tugas itu mampu diemban dengan baik oleh Vucinic.

Untuk alasan itulah, kenapa Matri nampak tidak cocok dengan skema seperti ini. Matri bukan tipikal pemain yang mau ‘ngoyo’ untuk mendapatkan bola dan mengemban tugas linking-up play dengan lini tengah. Ia adalah seorang targetman. Menarik, menanti perubahan formasi seperti apalagi yang akan Conte buat jika Llorente sudah bergabung dengan tim.


3-5-1-1: A Brilliant Player With a Bright Future. Pog, Pog, Pogba!

Kesimpulan dari transformasi skema permainan Juventus selama ini adalah: Conte selalu mencari solusi untuk memaksimalkan potensi pemain yang dia miliki.

4-2-4: memaksimalkan Pepe
4-1-4-1: memaksimalkan Vidal
3-5-2: memaksimalkan M-V-P, mengeluarkan roh jahat yang selama ini bersemayam di tubuh Bonucci, menjadikan Lichtsteiner seorang monster.
Pun dengan 3-5-1-1.

Juventus musim ini kedatangan sebuah bocah ajaib yang bernama Paul Pogba. Kedatangannya yang bersifat free transfer dari Manchester United ini, sedikit banyak mempengaruhi gaya bermain Juventus. Pada awal musim, Pogba diplot sebagai pelapis M-V-P. jika salah satu dari mereka absen, nama Pogba akan mencuat terlebih dahulu sebagai penggantinya. Yang mencengangkan adalah, pemain yang baru saja genap berusia 20 tahun ini justru tampil di luar ekspektasi.

Setiap kali dia dipasang, ia nampak seperti kerasukan Vieira dan Deschamps dalam satu kesempatan. Pernah, Edgar Davids dan Paul Scholes juga mencoba masuk ke raga anak ini saat Juventus melakoni pertandingan melawan Udinese. Walhasil, dua tendangan keras dari luar kotak pinalti berhasil bersarang ke gawang Padelli malam itu.

Namun bicara soal Pogba, bukan hanya bicara soal tendangan kencangnya saja. Pada awal kedatangannya, potongan rambutnya memang seakan ingin bersaing dengan potongan rambut ala ‘kabel-charger- Blackberry-yang-tertinggal’ milik Rodrigo Palacio dalam hal perebutan Rambut Norak Awards. Namun saya berulang kali mengucap syukur ketika mengetahui ia memutuskan untuk bercukur dan menyemir sisa rambutnya dengan cat hitam. Nominasi ini tinggal menyisakan Boateng dan Palacio sebagai pesertanya.

Namun lebih dari itu, Pogba adalah seorang Pogboss. Ketika ia bermain, dia seringkali terus berlari seakan-akan pemain tidak ada pemain yang menjaganya. Posturnya yang tinggi dan kakinya yang panjang, juga membuat dia memiliki jangkauan area bola yang lebih luas. Seringkali melakukan intercept-intercept penting. Aerial duel won per game-nya mencapai 2,3. Tertinggi kedua setelah Chiellini. Sejauh ini sudah berhasil membuat 48 dribble, hanya kalah dari Asamoah yang membuat 59 dribble. Wajar, mengingat Pogba lebih jarang bermain dibandingkan Asamoah. Namun menjadi luar biasa, mengingat usianya yang baru 20 tahun dan ini adalah musim pertamanya Di Juventus.

Untuk itulah, Conte tidak ingin menyia-nyiakan talenta yang ada di dalam skuatnya. Ia memilih untuk merombak skema permainan tim demi menempatkan Pogba, tanpa harus mengorbankan pemain terbaiknya. Pogba diplot menggantikan posisi Marchisio sebagai CM. Sedangkan Marchisio kembali menjadi treq, dengan menempati posisi di belakang Vucinic yang seorang diri berada di depan.

Pada saat Derby Della Mole, Pogba benar-benar menunjukkan kelasnya. Membuat akurasi passing mencapai 86%, touches sebanyak 59 kali, 5 total shots, 6 tackles dan 2 kali intercept. He’s a good ball winning midfielder. 

Jelas, tidak ada pemain kesayangan bagi Conte. Egosentrisme taktik yang dia buat, berada di dirinya sendiri. Bukan Pirlo, Vidal, Pogba, Vucinic atau siapapun yang ada di dalam tim. Baginya, kesempurnaan dan kolektivitas tim jauh lebih penting dibandingkan produktivitas gol atau rating pemain. Elia, Krasic, Bendtner adalah contoh: bahwa nama besar dengan banderol harga mahal bukan jaminan akan mendapat tempat di Juventus. Sejauh mana sang pemain bisa berkontribusi untuk tim, itu yang menjadi pertimbangan dia. Bahkan, sekalipun harus mengorbankan rekrutan anyar, pemain kesayangan publik, pemain kesayangan media, atau pemain kesayangan sang pemilik klub.

Tidak heran, Buffon dan Pirlo pernah menyebut bahwa Conte adalah pelatih terbaik yang selama ini pernah melatih mereka. Mengingat mereka pernah berada di bawah asuhan berbagai pelatih top: Lippi, Ancelotti, Mr. Trap, Prandelli, maka penghormatan ini adalah bentuk penghormatan tertinggi untuk Conte.

Seorang kawan yang juga seorang Milanisti pernah berkata, “Conte terus berteriak dari pinggir lapangan, seakan-akan dia kalah 3-0 dari lawan. Sedangkan Allegri hanya duduk diam di bench, seakan-akan dia sudah menang 3-0 dari lawan. Padahal kenyataannya, Milan sedang tertinggal 0 -1 dari Juve. Pelatihmu itu gila.

Saya tersenyum.