Senin, 09 September 2013

Blabitisme Dunia Maya

aku, kamu, kita semua budak digital.


(*) Sebelumnya perlu diketahui, bahwa saya sangat anti untuk menulis apapun yang berkaitan dengan politik atau kepemerintahan. Gambar di atas, cukup jelas merepresentasikan alasan keengganan saya untuk menulis tentang kedua hal tersebut di blog pribadi. Namun, saya diminta untuk mengisi kolom opini di sebuah majalah cetak terbitan kampus. Sebetulnya saya ingin menulis tentang isu perselisihan supporter di Solo tempo hari, namun saya rasa tidak banyak memiliki data tentang itu. Yah apapun itu, alih-alih hanya menjadi kertas pembungkus tempe panas di kantin kampus, bukankah lebih baik saya mengunggah tulisan ini ke blog pribadi?

************************************ 

Di Indonesia, para pengguna jejaring sosial punya kebiasaan unik: membangga-banggakan capaian di dunia maya —entah itu pribadi atau kelompok, yang menurut hemat saya, malah sama sekali tidak membanggakan. Sebagai contoh, sudah beberapa kali penggguna Twitter di Indonesia membanggakan capaian mereka, karena mampu menembus peringkat trending topic worldwide, dengan cara menciptakan/membahas isu yang sama secara berulang-ulang dan bersamaan. Perlu diketahui, sebuah bahasan yang mampu menembus peringkat trending topic worldwide, berarti juga menjadi sorotan para pengguna Twitter di seluruh dunia. Dan hal ini menjadi kebanggaan abstrak bagi sebagian pengguna Twitter di Indonesia, karena merasa bisa ‘menunjukan identitas bangsa’, dengan menampilkan kemampuan bergotong royong untuk membahas sesuatu yang sama sekali tidak penting. Tapi satu hal yang sering dilupakan oleh mereka yang membanggakan capaian ini adalah: fakta bahwa pengguna Twitter di Indonesia, adalah pengguna terbesar nomor lima sedunia. Jadi, apabila separuh dari mereka saja sepakat untuk membahas sebuah isu secara bersamaan, kiranya bukan hal sulit untuk kemudian bisa menempatkan isu yang mereka angkat ke dalam trending topic worldwide.

Lain capaian kelompok, lain pula capaian individu. Jika capaian kelompok diwakili dengan munculnya isu yang ramai dibahas di trending topic worldwide, maka capaian individu di Twitter seringkali diidentikkan dengan kuantitas —juga kualitas. Dari segi kuantitas, yang paling sering dijadikan tolak ukur bagi sebagian orang adalah: jumlah pengikut, atau followers. Jumlah followers yang membeludak, identik dengan tingkat popularitas di dunia maya. Ada yang memang sudah terkenal terlebih dahulu di dunia nyata, kemudian popularitasnya itu menjalar ke popularitas di dunia maya. Ada yang sebaliknya; merintis kepopuleran di dunia maya, untuk kemudian beranjak mulai dikenal di dunia nyata. Kepopuleran untuk golongan yang kedua ini bukan datang tanpa sebab, mereka banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, namun yang paling sering ditemui adalah: tweet atau kicauan mereka, dinilai menarik dan mampu mengundang banyak followers untuk memantau linimasanya. Entah karena unik, lucu, cerdas, informatif, memuat urusan percintaan, atau sebagainya. Fenomena ini sebetulnya sesuai dengan penjelasan Vannevar Bush dalam esainya di 1945, As We May Think. Di esainya itu, ia membayangkan suatu saat keyboard dan layar akan memungkinkan penggunanya menghadirkan pengetahuan, hiburan, serta informasi baru bagi sekelompok manusia yang terkumpul. Dan itulah, yang menyebabkan beberapa orang selalu mempunyai daya tarik sehingga bisa mendapatkan kepopuleran di dunia maya.

Mereka yang populer di dunia maya, seringkali diposisikan sebagai ‘aktor’ di sebuah panggung bernama linimasa; sedang para pengikutnya, adalah penonton setia. Mau tidak mau —mereka yang populer di dunia maya ini harus diakui, kalau mereka memiliki kemampuan untuk menggiring para pengikutnya menuju pemikiran yang seragam. Mungkin tidak semuanya, namun paling tidak, ada sebagian besar pengikut mereka yang secara berkala memantau perkembangan linimasa atau bahkan mengiyakan pemikiran orang populer tersebut. Bebas saja, toh negara ini memang menyediakan fasilitas untuk itu, kebebasan berpendapat di muka umum. Namun yang menjadi masalah adalah, bagaimana jika kemudian seseorang yang sudah populer di dunia maya itu, menggunakan ‘kekuatannya’ untuk menggiring pengikutnya ke arah pemikiran yang belum tentu benar?

Sah-sah saja memang, untuk mengemukakan pendapat atau berbagi pemikiran di jejaring sosial, namun jangan lupa, hanya kerena kebebasan itu bisa dikemukakan di dunia maya, bukan berarti tidak ada hukum di dunia nyata yang mampu membatasi gerak-geriknya. Negara ini adalah negara hukum, ada berderet undang-undang yang sudah disusun untuk membatasi gerak-gerik warga negara supaya tidak berperilaku sewenang-wenang; dan untuk ranah dunia maya, salah satu undang-undang yang sering dijadikan tameng adalah Pasal 27 junto Pasal 45 UU RI No 11:2008 ITE. Pasal ini mengatur tentang penghinaan dan pencemaran nama baik lewat jejaring sosial. Jadi, sebagaimana kebebasan di dunia nyata, kebebasan di dunia maya pun (mau tidak mau) harus bertanggung jawab.

Pekan lalu, pengguna Twitter di Indonesia digemparkan oleh penahanan Benny Handoko, sang pemilik akun @benhan. Benhan —begitu ia biasa disapa, sebelumnya dikenal di Twitter sebagai akun dengan pengikut yang cukup banyak, yang seringkali menuliskan bahasan-bahasan informatif. Sering, ia berbagi pemikiran dengan pengikutnya, mulai dari topik sepakbola, politik, atau ekonomi. Yang membedakan ia dengan akun berita adalah: ia mengemas bahasannya dengan luwes dan interaktif, sehingga berhasil menarik minat banyak pengikut untuk terus memantau linimasanya. Hingga suatu saat, ia terlibat perang kicauan atau biasa disebut tweetwar, dengan salah seorang mantan politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Misbakhun.

Pada penghujung 2012, Benhan sedang berbagi pemikiran tentang urusan politik kepada para pengikutnya di dunia maya. Sampai pada pembahasan tentang Century, di mana Benhan juga menyertakan nama Misbakhun di dalamnya. Benhan menuduh Misbakhun sebagai “perampok bank Century, pembuat akun anonim penyebar fitnah, penyokong PKS, mantan pegawai Pajak di era paling korup,” serta membeberkan beberapa opininya tentang keterkaitan Misbakhun di skandal kasus Century. Pembahasan ini akhirnya sampai juga di telinga Misbakhun. Merasa tidak terima dengan tuduhan tersebut, ia meminta Benhan untuk menunjukkan fakta, bukan hanya buah pemikiran semata. Sempat terjadi adu argumen di antara Benhan dan Misbakhun, di satu sisi Benhan merasa kekeuh dengan argumennya, di satu sisi pula, Misbakhun bersikukuh meminta Benhan untuk menunjukkan bukti valid tentang tuduhannya tersebut. Adu argumen diakhiri dengan sebuah kicauan dari Misbakhun yang bernada mengancam,” Sudah saya capture. Sulit lari.”

Sembilan bulan kemudian, buntut perselisihan itu baru kentara. Misbakhun melaporkan Benhan ke Polda Metro Jaya, atas tuduhan pencemaran nama baik. Setelah melalui beberapa kali proses pemeriksaan, akhirnya Benhan diringkus pada Kamis (5/9) lalu. Ini bukan kali pertama, seseorang ditahan karena tersandung pasal ITE. Sebelumnya, tercatat ada 11 kasus serupa, di mana perkara ‘pencemaran nama baik’ sering dijadikan pemantik kasusnya.

Apakah ini bentuk pengekangan kebebasan berpendapat? Tentu tidak. Berpendapat dengan memberikan tuduhan tidaklah sama. Menurut hemat saya, Benhan juga melakukan kesalahan; karena tuduhan yang dialamatkan ke Misbakhun, tidak disertai dengan bukti dan alasan yang kuat. Orang akan mengira, jika tuduhan ini hanya berasal dari buah pemikiran semata. Kedua, Benhan arogan. Kenapa? Karena kita semua tahu, yang diminta Misbakhun hanyalah permintaan maaf dari Benhan, karena sudah mencemarkan nama baiknya. Alih-alih menyambut ruang lebar yang sudah dibuka oleh Misbakhun, justru Benhan malah terlihat menganggap klarifikasi itu tak penting untuk dilakukan. Entah, jika kemudian ada orang yang menganggap permohonan maaf dari Benhan hanya akan membuatnya nampak lemah di mata masyarakat, namun yang jelas, tidak bisa memberikan bukti atas tuduhan-tidak-mengenakkan yang dialamatkan kepada seseorang, jelas merupakan kesalahan. Dan tidak meminta maaf setelah jelas-jelas membuat kesalahan, adalah kesalahan pangkat dua: fatal —jika tidak mau disebut (maaf) bodoh.

Namun jelas, saya menganggap penangguhan Benhan adalah sesuatu yang berlebihan. Tak perlu saya menyebutkan deretan kasus yang tentu lebih penting untuk diusut di negeri ini, untuk sekedar menyatakan betapa ‘sepele’nya perkara ini dibandingkan kasus-kasus besar yang sampai saat ini masih belum tuntas. Namun faktanya, hampir sebagian besar pengguna jejaring sosial melakukannya setiap hari: mencela publik figur —atau bahkan mengalamatkan tuduhan tidak mengenakkan yang masih simpang siur kebenarannya. Hanya saja naas bagi Benhan, tuduhan yang ia lontarkan ditanggapi serius oleh yang bersangkutan. Saya yakin, jika celaan yang sering kita alamatkan ke publik figur itu akhirnya ditanggapi oleh yang bersangkutan, kita semua juga merasa bingung dan was-was.

Sesekali saya juga berpikir, kita tidak bisa hanya berlindung di balik keyboard dan monitor, ketika jari jemari kita membuat sebuah pernyataan yang menyinggung orang lain, atau bahkan membuat tuduhan yang belum terbukti kebenarannya. Semua harus ada konsekuensinya, dan kasus Benhan ini akhirnya membuat para pengguna jejaring sosial di Indonesia sadar, bahwa kebebasan berpendapat mereka bukan tanpa batasan. Dan sekali lagi, power yang muncul dari capaian atau jumlah pengikut di Twitter —yang sering dibangga-banggakan itu, tidak akan berarti apa-apa, jika nantinya kita harus berurusan dengan dunia nyata.

Namun perlu diketahui juga, Misbakhun bukanlah sosok pria tanpa cela. Politisi yang akhirnya hijrah ke Partai Golongan Karya ini pernah dituduh terlibat dalam penerbitan letter of credit (L/C) Selalang Prima International miliknya, oleh Kepolisian Negera di Pemerintahan SBY. Ia diduga memalsukan surat deposito untuk mendapatkan kredit US$ 22,5 juta. Kemudian, Misbakhun divonis bersalah dan dihukum setahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan diperberat hukumannya menjadi dua tahun setelah melalui proses banding.

Lantas pertanyaannya adalah: jika ‘pencemaran nama baik’ hanya sah dan berlaku untuk seseorang yang namanya masih baik, lantas jika namanya sudah jelek, apanya yang merasa dicemarkan?

Senin, 26 Agustus 2013

Konser Penuh Kutang Terbang (Tanpa Isinya)



"I wanna have a baby from all of you in Jakarta!" - Alex.

Live Review: A Rocket To The Moon & All Time Low 
23 Agustus 2013, Senayan Swimming Pool Area, Jakarta.
 

Konser penuh bra berterbangan yang diawali dengan aksi pembuka nan semenjana.

tulisan ini juga tayang di sini.

Mengundang lebih dari satu band atau musisi kenamaan dalam waktu bersamaan, bukanlah tren baru bagi para penyelenggara konser di negeri ini. Terlebih jika masing-masing dari mereka sudah memiliki barisan penggemar yang sudah cukup solid di tempat penyelenggaraan acara. Hal inilah yang dilakukan oleh Java Musikindo —selaku promotor, dengan menghadirkan dua band internasional sekaligus, A Rocket To The Moon dan All Time Low dalam satu kesempatan pada Jumat (23/8) lalu. Bertempat di Senayan Swimming Pool Area, Jakarta, konser yang dikonsep secara outdoor ini dihelat pada pukul 19.00.
Sedari awal, A Rocket To The Moon memang sudah mencanangkan Indonesia ke dalam farewell tour-nya, setelah mereka memutuskan untuk bubar pada medio 2013 lalu —tak lama setelah merilis album studio kedua mereka, Wild & Free. Namun sayang, penampilan mereka malam itu seakan meruntuhkan ekspektasi para pengunjung yang menginginkan performa apik, sebagaimana penampilan sebuah band yang sedang melakoni  farewell tour. Sekalipun ini bukan kali pertama mereka menyambangi Jakarta, A Rocket To The Moon seakan lupa, bahwa apa yang mereka tampilkan di akhir kesempatan seringkali menjadi cetak biru dalam kerangka apresiasi para penggemar.
A Rocket To The Moon membuka pertunjukan dengan “If Only They Knew”, sebuah nomor yang diambil dari mini-album Greetings From; album di mana mereka baru saja beralih dari sebuah band eksperimental dengan sentuhan bit-bit elektronik, menjadi sebuah band alternative dengan sedikit nafas punk dan sesekali sisipan elemen country. Nick Santino yang kemudian menyapa para penggemar setelah selesai membawakan lagu, berhasil membuat para remaja putri usia belasan memekikkan kata “NICK! NICK! I LOVE YOU!” dengan volume maksimal secara berulang-ulang.  Berurutan setelahnya, A Rocket To The Moon membawakan “Wild & Free”, “Give a Damn”, “Whole Lotta Love” dan “Baby Blue Eyes”. “Baby Blue Eyes” adalah lagu pertama yang paling banyak mengajak para penonton untuk sing along. Dibawakan dengan set akustik, nomor ini seakan menjadi panduan bagi bejubel pasangan remaja urban yang hadir, untuk kemudian saling menatap dan berbisik mesra, “Baby, baby blue eyes / stay with me by my side / til the mornin', through the night” satu sama lain. 
Tanpa banyak melakukan interaksi dengan penonton, kemudian mereka membawakan lagu hitnya seperti, “On A Lonely Night”, “On Your Side”, “Dakota” dan lagu andalan, “Like We Used To”. Nick Santino sempat mengungkapkan antusiasnya untuk kembali datang ke Jakarta, dengan berkata, “It’s feeling good to comeback. Yeah, it’s need a long time to comeback,” dan kemudian melakukan formalitas band internasional sebagaimana biasanya: menyapa para penggemar dengan bahasa lokal nan terbata-bata. Nick mengucapkan “Aku cinta Jakarta,” dan kemudian diikuti —sudah bisa diduga oleh teriakan histeris dari para penonton. Ada yang berteriak kencang, ada pula yang kemudian membentangkan sebuah kertas bertuliskan, “We love you, A Rocket To The Moon. Please follow me (@namaakunpribadi),” sebuah terobosan baru dalam jagad konser, selain merekam berbagai momen berharga di panggung dengan aneka ragam gadget berukuran besar. A Rocket To The Moon menutup konser dengan lagu “Mr. Right”, dan kemudian mengucapkan salam perpisahan kepada para penonton, karena ini akan menjadi konser terakhir mereka di Jakarta. Total mereka membawakan 14 lagu. Sebelum bubaran, terlihat mereka sempat mengabadikan beberapa moment dari atas panggung, untuk kemudian diunggah ke jejaring sosial milik personel masing-masing.
Sayang, skema haru dan romantis yang sudah dirancang sedemikian rupa ini harus terganjal oleh masalah tata suara dan visual. Beberapa kali, microphone yang digunakan oleh Nick Santino terdengar mati. Pun dengan visual yang hanya terkesan ‘seadanya’ saja. Tidak ada tata cahaya yang sedemikian rupa, atau juga persiapan tata panggung khusus. Hanya dengan lampu sorot beberapa warna, latar belakang kain hitam berukuran besar tanpa layar yang menampilkan visual di sebelah kanan dan kiri, panggung malam itu malah nampak seperti panggung pentas seni anak SMA atau panggung gelaran festival clothing penuh diskon. Barangkali jika tidak ada sorak sorai dan penampakan penonton yang mengenakan merchandise A Rocket To The Moon, tidak akan ada yang mengira kalau ini adalah panggung band internasional.
Penempatan A Rocket To The Moon juga terkesan membingungkan. Untuk kelas band pembuka, mereka membawakan terlalu banyak lagu dan diberi porsi waktu yang cukup lama. Namun jika ditempatkan sebagai sesama penampil —setingkat dengan All Time Low, mereka sama sekali jauh dari predikat itu. Nampak tidak ada efisiensi fasilitas yang ada di panggung, atau sedari awal itu semua memang hanya dipersiapkan untuk band selanjutnya, All Time Low. Yang jelas, untuk sebuah pertunjukan berlabel ‘farewell tour’, penampilan A Rocket To The Moon malam itu terlihat mengecewakan.
Setelah A Rocket To The Moon rampung melaksanakan tugasnya, panggung nampak gelap untuk sesaat. Samar-samar, terlihat ada beberapa kru yang nampak sedang mempersiapkan alat untuk All Time Low. Beberapa perombakan pun dilakukan, seperti pergantian set-drum, perubahan kabinet gitar, dan yang paling kentara adalah pemasangan sebuah kain hitam besar bertuliskan “All Time Low” sebagai latar panggung. Saat jeda ini berlangsung, terlihat beberapa penonton baik dari yellow zone maupun red zone merangsek keluar untuk sekedar membeli minuman atau makanan.
Ada salah satu kejadian menarik, saat di mana seorang teknisi di area front of house (foh) memutar sebuah nomor lawas milik Blink-182, “All The Small Things” sebagai musik latar. Sontak hal ini menimbulkan sing-along dari penonton yang masih berada di area konser. Maklum saja, Blink-182 yang didaulat sebagai pionir pop-punk, memang dikenal menjadi acuan utama beberapa band pop-punk generasi sekarang, tidak terkecuali All Time Low. Bahkan, sang drummer, Rian Dawson, memiliki tato bergambar logo Blink-182 di lengan kanannya. Di beberapa kesempatan, All Time Low sering membawakan lagu-lagu Blink-182, seperti “All The Small Things”, “Time to Break Up” dan ‘Dammit”. Tidak ketinggalan, saat menyambangi Jakarta pada 2010 silam, mereka membawakan “Dammit” berkolaborasi dengan jawara pop-punk lokal, Rocket Rockers. Beberapa orang bahkan menyebut mereka sebagai “Blink-182 of this generation.”
Saat lampu di area konser dimatikan, tiba-tiba All Time Low menghentak dengan lagu “Lost in Stereo”. Penonton yang tadinya terkesan pasif dan malu-malu untuk bergoyang di penampilan A Rocket To The Moon, berhasil dibujuk untuk ‘keluar sarang’ lewat single dari album Nothing Personal ini. Belum nampak hiasan bra yang biasanya terpasang di stand-mic milik sang gitaris, Jack Barakat, pada lagu pertama kali ini. Entah para penonton lupa membawa stok bra cadangan, atau memang mereka masih merasa belum cukup nyaman untuk melepasnya.
Tanpa panjang lebar, Alex Gaskarth (Vokal/Gitar), Jack Barakat (Gitar), Rian Dawson (Drum) dan Zack Merrick (Bass) langsung menimpali dengan salah satu hit mereka (masih) dari album Nothing Personal, “Damned If I Do Ya”. Sahut-sahutan part gitar antara Alex dan Jack dalam lagu ini, nampaknya berhasil membuat para penonton untuk melakukan ritual konser All Time Low sebagaimana biasanya: saling melempar bra ke panggung. Bukan pemandangan yang aneh, apabila kemudian kita melihat Alex mengarahkan mic ke penonton saat berteriak, “Damned if do ya..” namun tidak mendapat balasan “…damned if I do!” dari para penonton, melainkan malah mendapat balasan bra yang berterbangan ke arah panggung “. Dari lagu ke lagu, Alex berhasil memimpin koor para penonton; seperti pada nomor “Six Feet Under The Stars” ,“Stella”, dan “For Baltimore”. Termasuk saat Alex melakukan solo akustik dengan memainkan “Remembering Sunday”, di mana bagian vokal Juliet Simms dilafalkan dengan sempurna oleh para penonton.

All Time Low juga terlihat atraktif, dengan selalu mengajak penonton untuk melakukan interaksi. Mereka sempat mengajak penonton untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada salah satu teknisi gitar mereka, Danny. Toilet jokes yang membicarakan masalah seks dan hal-hal berbau porno khas band pop-punk juga sempat mereka lontarkan, bahkan mereka sempat mendapati bahwa mereka dilempari mainan berbentuk penis, kemudian berkelakar “Why you guys do this to me?”, dan kemudian disambut gelak tawa para penonton. Antusias penonton ini bahkan mendapatkan pujian dari Alex, “Kalian semua gila. Kami telah banyak melakukan pertunjukan, dan jarang sekali mendapatkan sambutan seperti ini. Kalian semua bahkan jauh terlihat bisa bersenang-senang, dibanding dengan para penonton di Amerika, Australia dan Eropa.”

Dari segi performa dan tata visual mereka juga terlihat lebih baik dibandingkan performa sebelumya. Bahkan untuk kesempurnaan tata suara, terlihat Alex sempat beberapa kali berganti gitar, mulai dari Custom Paul Reed Smith Mira sampai Gibson Les Paul, untuk menyesuaikan karakter suara di tiap-tiap album All Time Low. Mereka juga nampaknya paham betul dengan ketidakakraban para penggemar dengan lagu-lagu di album Dirty Work, dan berinisiatif hanya membawakan satu lagu dari album itu, “Timebomb”. Maklum saja, Dirty Work merupakan album yang dikritik karena meninggalkan karakter pop-punk yang selama ini mereka miliki. Peralihan label rekaman dari Hopeless Records ke Interscope Records, juga disinyalir sebagai salah satu penyebab utama album ini menjadi sebuah album yang flop.

Sebelumnya, pihak penyelenggara memberitahu bahwa akan ada perayaan kembang api dari venue lain, pada saat konser berlangsung. Dan tepat sebelum perayaan kembang api tersebut, All Time Low memutuskan untuk melakukan jeda. Seperti biasa, teriakan “We want more,” dari penonton juga terus berkumandang. Saat pesta kembang api belum sepenuhnya usai, All Time Low kembali berada di atas panggung. Seakan tidak peduli dengan keriuhan yang berasal dari ledakan kembang api tersebut, mereka langsung menggeber dengan lagu “Weightless”. Dan benar saja, sing-along dari penonton bahkan mampu menenggelamkan suara kembang api tersebut.

Sebelum menutup penampilannya, ia mempersilakan seorang penonton untuk maju. Seorang wanita pun dengan antusias langsung merangsek naik ke atas panggung, dan mendapat pelukan hangat dari Alex dan Jack. Alex sempat berkelakar, bahwa wanita yang naik ke atas panggung merupakan sosok yang pas untuk menjadi seorang bartender —yang akan meracik minuman untuk teknisi gitar yang sedang berulang tahun, Danny. Interaksi sang penonton dengan All Time Low, berakhir dengan kecupan dari Alex dan Jack yang mendarat tepat di keningnya. Hal ini sontak memancing emosi para wanita yang ada di deret penonton untuk mengumpat kepadanya, dan mencari tahu lewat jalan mana ia akan pulang.

Namun seolah tidak peduli dengan kecemburuan para penggemar wanitanya, All Time Low langsung memainkan nomor dari album So Wrong It’s Right, “Dear Maria Count Me In”. Dan lagi-lagi Alex berhasil memandu para penonton untuk bernyanyi bersama. Seperti biasa, setelah Alex dan Jack melakukan atraksi saling lempar gitar pada bagian interlude “Dear Maria Count Me In” di konser live mereka, mereka langsung mengarahkan microphone ke arah penonton untuk membalas seruan, “I got your picture…” dengan teriakan “Im coming with you”. Sebuah pemilihan lagu penutup yang pas, karena beberapa bagian di lagu ini yang memang membutuhkan sahut-sahutan dari banyak suara.

All Time Low membawakan total 16 lagu, dan menutup konser ini dengan sebuah pertunjukan epik sebagai ‘penebusan dosa’ atas kekurangan penampil sebelumnya. Andai saja tajuk konser ini adalah konser solo All Time Low, tentu penilaian para penonton akan keseluruhan acara ini akan lebih baik. Ini juga menjadi sebuah pembuktian menawan, kenapa All Time Low pantas diganjar sebagai “Band of the Year” pada 2008. Sekaligus ingin menasbihkan diri, bahwa mereka kini bukan lagi “Blink-182 of this generation”, melainkan “All Time Low of this generation.”

Selasa, 13 Agustus 2013

Hikayat Tentang Jerat Pulpen Narkoba dan Kepang Trujilo

Metal yo metal, tur yen udan ngeyup
Saya tidak besar dalam keluarga yang dekat dengan hingar bingar musik keras. Ayah saya lebih sering mewariskan kenang-kenangan masa mudanya kepada saya, dalam bentuk setumpuk pakaian sepakbola dengan beragam nama dan nomor punggung. Boro-boro saya bisa menemukan setumpuk piringan hitam dan kaset tape langka sebagaimana peninggalan mantan-anak-metal-keren pada umumnya, tidak menemukan kaset dengan sampul bergambar Panbers, D’Loyd, atau The Mercy’s saja saya sudah bersyukur. Ayah saya tidak terlalu akrab dengan musik-musik kencang seperti itu. Mungkin, ia punya standar keren tersendiri, yang bahkan sampai 21 tahun saya hidup, saya belum menemukan letak kerennya di mana. Apalagi ibu saya. Ibu waktu itu belum mengenal tren berpacaran dengan anak band metal —atau minimal dengan pecinta musik metal seperti anak jaman sekarang. Tapi kalau merujuk dari setiap makanan yang Ibu masak, nampaknya saya paham satu hal: buat ibu saya waktu itu, kursus memasak masih terdengar jauh lebih menarik dibanding sibuk mencari akses masuk backstage bersama pacar yang juga anggota band metal.

Beranjak remaja, saya juga masih jauh dari hingar bingar musik keras —atau paling tidak musik keren. Saat duduk di bangku SD – SMP, percayalah bahwa saya belum pernah mengkonsumsi ganja atau obat-obatan terlarang. Kinerja otak saya waktu itu masih berjalan dengan baik dan benar; jadi menurut logika, seharusnya saya juga ‘berjalan’ ke arah yang benar ketika memilih selera musik.

Tapi nampaknya, kebiasaan saya untuk menggunakan pulpen narkoba sewaktu SD membawa dampak yang begitu buruk bagi kejiwaan saya. Walhasil, saya lebih memilih untuk menghapalkan lirik-lirik nan menyayat hati seperti: “Now I can see that we're falling apart from the way that it used to be, yeah no matter the distance I want you to know that deep down inside of me“ milik Backstreet Boys di single "I Want It That Way", dibanding harus (belajar) membiasakan diri mendengarkan lirik lugas nan jahat, seperti yang dilakukan Metallica saat menggarap ulang nomor lawas milik Misfits, “Die Die My Darling”. Saya waktu itu belum paham, lirik “I'll be seeing you again I'll be seeing you in hell” adalah salah satu ungkapan paling romantis yang pernah dilantunkan Danzig kepada seorang wanita, dan diinterpretasikan dengan baik oleh James Hetfield.

Titik terang itu datang ketika saya mulai beranjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Waktu itu, saya mulai berlangganan sebuah majalah musik bulanan. Sebetulnya bukan karena saya termasuk ‘anak musik banget’, tapi karena majalah itu memuat kunci-kunci gitar dari lagu hits Indonesia pada masanya. Saya yang waktu itu butuh sarana pembantu untuk terlihat keren di mata wanita dengan cara menyanyikan lagu cinta dengan petikan gitar, tentu tidak ingin ketinggalan. Sampai akhirnya, di salah satu edisi, majalah itu memberikan bonus poster band yang sering saya dengar namanya, tapi tidak pernah saya dengar lagunya: Metallica.

Poster itu menarik perhatian saya. Saya yang terbiasa untuk langsung menaruh poster hadiah majalah di sudut rak buku —di antaranya bahkan sampai berdebu, kali ini terdiam sesaat. Di poster itu, saya melihat tiga pria paruh baya berpose dengan gagah dan gahar, bersama satu pria yang nampak seperti pemeran lelaki hidung belang di sebuah situs porno kategori Amerika Latin. Saya berkata, “Anjing, ini kan yang biasa gue lihat kalo lagi download bokep di warnet.”

Belum selesai saya terheran dengan pose pria yang belakangan saya kenal dengan nama Robert Trujilo ini, saya kemudian dibuatnya tertawa saat melihat potongan rambut kepangnya. Kali ini, saya mengumpat dengan kata yang sama, namun dengan volume yang lebih kencang dan durasi yang lebih lama, “ANJEEEEEEEEEENG, APAAN NIH."

Ini perkenalan pertama saya dengan Metallica. Tidak meninggalkan kesan yang bagus bagi saya memang, tapi mereka berhasil membuat saya berpikir, “Dengan salah satu personel bertampang caur gini, lagu mereka kira-kira seperti apa ya?” Dampak pulpen narkoba yang ada di otak saya, nampaknya mulai sedikit berkurang. Jalan pikiran saya akan musik bagus, nampaknya kembali dibuka.

Untuk mengobati rasa penasaran saya, saya akhirnya memutuskan untuk mencari beberapa video yang berkaitan dengan Metallica. Setelah melakukan beberapa pencarian, akhirnya saya bertemu dengan teman satu angkatan yang mengaku punya beberapa video Metallica. Berbekal flashdisk dengan kapasitas 512 MB, saya berangkat ke kediamannya.

Sesampainya di sana saya bukan disuguhi video Metallica, tapi video beberapa band yang melakukan Tribute to Metallica untuk acara di sebuah saluran televisi musik. Di video itu, ada beberapa nama besar yang sudah saya kenal sebelumnya: mulai dari Avril Lavigne, Sum-41, Korn, dan Limp Bizkit.

Saya ingat betul, raut muka Avril Lavigne membawakan lagu “Fuel”. Di bagian “give me fuel, give me fire, give me that which I desire” yang seharusnya dibawakan Avril dengan sekuat tenaga, justru dibawakan dengan penampilan yang lemah, letih, loyo, lesu, dan letoy. Ia nampak seperti penyanyi yang hanya makan sereal dan tidak pernah mengkonsumsi daging segar sepanjang hidupnya. Saya yang bukan kritikus musik saja tahu, bahwa penampilan Avril di video itu jelek sekali. Sampai akhirnya bagian penampilan Limp Bizkit tiba, dan mereka menggarap ulang lagu “Welcome Home (Sanitarium)”. Percaya tidak percaya, saya langsung suka dengan penampilan mereka di acara ini karena alasan sepele: karena titik fret yang ada di bass milik Sam Rivers bisa menyala, dan saya menganggap itu sebagai hal yang keren. Apalagi saat teman saya —yang nampaknya bisa menangkap antusiasme saya menyaksikan Limp Bizkit mengatakan “Ada lagi nih, video mantan gitarisnya, Wes Borland, waktu solo ngebawain lagu Metallica.” Saya lagi-lagi terkagum.

Bagaimana tidak, ada seorang pria yang terlihat seperti baru saja pulang dari keikutsertaan parade kostum di Rio de Janeiro, tampil di panggung membawakan lagu “Master of Puppets” seorang diri, dan hanya diiringi tabuhan drum saja? Saya yang sebetulnya ingin tahu banyak tentang Metallica, justru makin jatuh cinta kepada Limp Bizkit. Belakangan, hal ini saya pikirkan betul. Saya takut tidak bisa menjawab, ketika dimintai pertanggungjawaban atas tindakan saya ini (baca: mencintai Limp Bizkit) di akhirat nanti. Mungkin saya akan berkata, “Ini karena ajaran sesat teman saya. Sungguh.”

Setelah saya mengetahui kalau ternyata Motorhead juga pernah melakukan hal serupa, dengan menggarap ulang lagu “Enter Sandman”, kemudian saya berpikir, “Kenapa bukan mereka saja yang diundang untuk memainkan lagu Metallica? Mereka tentu jauh lebih paham, tentang definisi ‘memainkan musik dengan baik dan benar’ dibandingkan band-band di atas.” Yah sekalipun tidak ada perubahan aransemen yang begitu berbeda dibandingkan versi aslinya —kecuali vokal Lemmy yang terdengar lebih ‘jahat’ dan berat, tapi bukankah vokalis mereka Ian Fraser "Lemmy" Kilmister? Salah satu dari dua hal —selain arah belok dan timing berhenti angkutan dalam kota, di dunia ini yang tidak bisa disalahkan? He’s fucking Lemmy. Just deal with it.

Pencarian saya tidak berhenti sampai di situ saja. Selang beberapa hari setelah saya pergi ke rumah teman, saya masih penasaran dengan bagaimana penampilan Trujilo yang sesungguhnya. Berbekal beberapa lembar uang ribuan, saya bergegas pergi ke toko vcd original, tapi karena mahal dan waktu itu belum punya uang akhirnya pergi ke toko bajakan terdekat. Setelah sampai, saya langsung menanyakan kepada si penjaga lapak, “Mas ada vcd Metallica?” tanpa memberi isyarat untuk menyatakan iya atau tidak, ia langsung menggeledah beberapa tumpukan vcd yang ada di deretan rock, bersebelahan mesra dengan deretan VCD “Evergreen Songs” jilid satu sampai sepuluh.

“Ini mas?” sembari menunjukkan vcd dengan sampul bertuliskan “Metallica Live in Action”. Dan saya pun mengiyakan.


************************************

Sampai di rumah, tanpa ba-bi-bu saya langsung memutar kaset vcd yang baru saja saya beli. Saya disambut dengan single “Enter Sandman”. Tapi nampaknya formasi yang saya lihat waktu itu agak sedikit berbeda dengan bonus poster dari majalah yang saya beli. Benar saja, posisi penggebuk drum di video itu diisi oleh Joey Jordinson, drummer Slipknot. Lampu masih terlihat remang-remang, saat intro-nya yang terkenal itu mulai dimainkan, dan 1….2…..3! bagian bass dan drum masuk, lampu seketika dihidupkan. Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan Trujilo! Dengan jersey basket dan trucker yang dikenakan terbalik, dia nampak gagah. Setelan strap bass-nya juga terlihat unik, karena terlihat dibiarkan memanjang hingga posisi bass-nya mendekati lutut. Apalagi melihat tingkahnya yang unik saat Hetfield berteriak, “Take my hand!” Adik saya yang menonton bersama saya waktu itu bahkan berkelakar, bahwa Trujilo terlihat seperti gorilla. Saya tersenyum.

Semenjak itu, saya benar-benar memiliki ketertarikan kepada Metallica. Pengaruh pulpen narkoba yang selama ini menjerat saya, nampaknya sudah mulai benar-benar hilang. Saya yang pernah ikut kursus gitar privat, bahkan minta diajarkan intro “Enter Sandman” dan “Seek and Destroy”, setiap kali selesai sesi latihan. Butuh waktu lama untuk saya bisa memainkan intro itu dengan baik dan benar. Padahal adik saya yang sama-sama ikut les privat, sudah bisa memainkan melodi epik milik Slash di “November Rain” sambil merem melek. “Kurang ajar, saya dilangkahi adik saya sendiri,” guman saya. Akhirnya saya sadar (diri), bahwa kemampuan bermain gitar saya hanya terlihat bagus ketika memainkan lagu dengan pola tiga-kunci. Dorongan semangat “Ayo, Kirk Hammett juga bahkan lebih bodoh dari kamu sebelum akhirnya belajar gitar ke Joe Satriani. Masa kamu ga bisa,” dari guru saya pun tidak membuat motivasi saya bertambah. Mungkin, akan jauh lebih baik apabila saya hanya mendengar lagunya saja, tanpa berusaha memainkannya.

Dari waktu ke waktu, kecintaan saya makin bertambah. Dari sekedar mendengarkan lagu, beranjak ke keinginan untuk mengoleksi merchandise bertemakan Metallica. Pernah saya berjumpa dengan pedagang jus di depan sekolah, yang mengenakan kaos dengan desain album Kill ‘Em All. Saya sempat berpikir untuk menawar kaos itu, berapapun harga yang dia minta, tapi kemudian saya mengurungkan niat, karena ukuran kaos yang ia kenakan mungkin akan nampak seperti bencana visual kalau saya pakai. Ukurannya terlalu kecil. Beberapa waktu kemudian, saya bersyukur tidak melangsungkan niat saya untuk membeli kaos yang dipakai penjual jus itu, karena saat saya pergi ke sekaten (pasar malam tahunan), saya melihat kaos dengan desain serupa dijual dengan harga tidak sampai Rp. 50.000. Dipajang bersama kaos bergambar Bob Marley, logo The Rolling Stones, dan logo The Ramones. Belakangan, kaos seperti ini banyak digunakan oleh pengamen atau penonton yang kekeuh untuk mengenakan helm saat konser musik berlangsung. Masih belum jelas, apa motivasinya. Kalau naik motor helmnya malah dilepas, tapi kalau datang konser helmnya malah dipakai. Orang yang apa-apaan.

************************************

Saya memang telat mengenal Metallica. Saya tumbuh besar di lingkungan dan scene musik yang tidak membuat saya mendapatkan porsi lebih untuk bisa mengenal Metallica. Namun sejak awal perkenalan saya dengan band ini, secara bertahap saya berinisiatif untuk menggali sesuatu yang ada di band ini dengan lebih dalam. Mulai dari bangku kelas dua atau tiga SMP, saya bergegas melahap album-album Metallica yang sudah ada bahkan jauh sebelum saya lahir. Mungkin, ini seperti membayar kesalahan ayah saya karena telat meminang ibu, sehingga saya juga lahir lebih telat dari masa-masa keemasan Metallica. Meskipun ada kalanya saya sedikit kecewa, seperti apa yang saya alami saat Metallica merilis Death Magnetic. Siapa yang tidak kecewa, saat mendengar intro “The Day That Never Comes” yang lebih mirip dengan intro band dangdut koplo Pantura, saat akan membuka hajatan milik anak petinggi desa. Barangkali jika Mella Barbie masuk untuk mengucapkan “Yang tahu lagunya nyanyi bareng-bareng yaaaa,” saat part gitar Kirk Hammett dan James Hetfield saling bersahut-sahutan, masih akan terdengar pantas.

Tapi bagaimanapun juga, Metallica tetaplah Metallica. Bukan tanpa alasan, mereka dipanggil band rock terbesar di dunia. Saat menulis artikel ini, saya membayangkan akan menunduk, sembari menggandeng penonton di sebelah saya dan mengajak mereka mengangguk-angguk maju mundur, saat mereka memainkan “Sad But True”. Ah, bahkan membayangkannya saja saya sudah merinding.

Mungkin tidak seluruh aspek di kehidupan saya dipengaruhi oleh Metallica, namun percayalah, apabila setiap kali ditanya “Ini bill­-nya, Bapak. Kami juga menerima pembayaran menggunakan kartu kredit, Anda ingin menggunakan yang mana? Visa atau Master?”

Maka saya akan dengan lantang menjawab:

‘MASTER! MASTER! MASTER!”

Rabu, 03 Juli 2013

Invasi Musim Hardcore: Di Antara Realita Semu dan Preferensi Sosial

Hajar, bleh!
Sejatinya budaya adalah tentang kebiasaan yang hadir di tengah khalayak, dan secara turun-menurun disepakati sebagai representasi simbol kekompakan sekumpulan individu. Ruang lingkup budaya selalu bersinggungan dengan budi dan akal manusia, karena memang itulah jabaran dari kata aslinya, buddayah. Gejala umum yang sudah menjadi bagian hidup masyarakat ini, mengalami metamorfosis seiring berjalannya waktu. Karena melibatkan manusia — yang memiliki sifat dasar mudah merasa bosan — sebagai mata rantainya, maka budaya tentu selalu ingin mengadakan perubahan.

Tidak terkecuali bagi anak muda. Generasi menjanjikan yang selalu digadang-gadang sebagai penerus bangsa ini, adalah lini yang paling mudah menjamah — juga dijamah — nilai-nilai baru dan yang paling sering ‘mengutak-atik’ peradaban, sehingga seringkali menelurkan sebuah kebudayaan baru. Generasi muda adalah sekumpulan individu yang menjadi mata rantai warisan budaya sebelumnya, pun juga bisa sebagai agen destruktif budaya, karena seringkali menganggap nilai-nilai yang ada di budaya sebelumnya, hanyalah souvenir usang dari jaman Jahiliyah yang tidak perlu diteruskan

Sebagai contoh, kini hanya ada sedikit anak muda yang berasal dari suku Jawa, yang masih berkenan untuk menggunakan ritual adat Jawa, sebagai rujukan pengiring di hari pernikahannya. Kini anak muda Jawa, bahkan alpa dengan istilah-istilah seperti midodarén, pager ayu, atau siraman; mereka tentu jauh lebih hapal dengan istilah standing party, garden party, atau bahkan bachelor party. Pergeseran dan berkurangnya kesadaran untuk memaknai nilai-nilai sakral yang ada di dalam sebuah budaya, tentu saja membuat berang para generasi terdahulunya yang cenderung bersifat konservatif.

Kiranya, hal seperti inilah yang sedang terjadi di scene musik hardcore di tanah air. Kini muncul semacam degradasi pemahaman tentang semangat yang diusung oleh para penggiat hardcore generasi awal. Nilai-nilai sakral tentang solidaritas dan semangat ‘pembangkangan’ yang memang gencar disuarakan oleh musik hardcore, bergeser menjadi budaya baru yang seringkali hanya berbicara soal fashion dan pembentukan identitas diri untuk show-off di depan khalayak. Pelakunya pun masih tergolong sangat muda, banyak dari mereka yang masih belum genap berusia kepala 2. Usia yang masih sangat rentan dengan pengaruh arus budaya asing dan indoktrinasi tentang paham atau ajaran baru.

Berangkat dari fenomena inilah, saya mengangkat tema “Invasi Musim Hardcore: Di Antara Realita Semu dan Preferensi Sosial” . Saya beranggapan, bahwa perlu ada penyamaan koridor tentang pemahaman spirit hardcore di antara generasi awal dengan generasi baru, supaya tidak ada kesimpangsiuran mengenai siapa meniru siapa, siapa perintis siapa pengikut, juga tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Saya idak berusaha membenarkan, karena menurut kami dalam ranah budaya tidak pernah ada yang salah; yang ada hanya ketidakpahaman pelakunya tentang aspek-aspek yang ada di dalam budaya itu sendiri.

Selamat membaca, selamat membangun ruang pembenaran di dalam imaji masing-masing.

************************************
Budaya Uzur Dalam Kemasan Prematur

Bicara hardcore adalah bicara tentang persahabatan, solidaritas, dan prinsip perlawanan kepada segala sesuatu yang dinilai mapan. Penikmat dan pelaku hardcore generasi lama tentu paham betul mengenai hal ini, karena pada era musik apapun sebuah generasi tumbuh dan kembang, akan selalu ada alasan kenapa seseorang memilih untuk berada pada jalur musik tertentu. Alasan-alasan yang ada di atas, menempati posisi paling puncak ketika HC-Kids — salah satu sebutan untuk penggemar musik hardcore — ditanya ‘kenapa memilih untuk suka musik hardcore” Dan ketika generasi lama ditanya perihal alasan “seberapa bermakna hardcore dalam kehidupan kalian” tentu jawaban mereka adalah “entah, apakah hardcore berarti hidup untuk saya; atau hidup saya, yang memang harus didedikasikan untuk hardcore. ”

Budaya adalah siklus berulang. Apa yang kini kita lihat dan maknai sebagai budaya, bukan tidak mungkin adalah kemasan daur ulang dari hasil pemikiran generasi sebelumnya. Pun dengan budaya Hardcore yang kini sedang (kembali) merebak di kalangan generasi muda. Di tengah ‘badai invasi’ budaya kekinian (K-Pop, J-Pop, Brit-Pop, American Style, dsb), ada sebagian kecil golongan yang menciptakan budaya tandingan alih-alih mengikuti budaya yang sudah ada. Semangat inilah yang mendasari sebagian generasi muda yang kini self-proclaimed sebagai “anak-Hardcore”; semangat pembangkangan atau bentuk perlawanan atas segala sesuatu yang dinilai mapan/umum.

Adalah Ian MacKaye dari Minor Threat, yang termasuk bagian dari generasi awal Hardcore yang memiliki gagasan untuk memasukkan unsur-unsur perubahan melalui media musik. Berangkat dari kekagumannya pada Bad Brains, pada medio ’80-an MacKaye mengajak Jeff Neslon — tandem di bandnya yang terdahulu, Teen Idles — untuk membentuk band baru, yang kemudian ia beri nama Minor Threat. Capaian dan sumbangsih MacKaye terhadap perkembangan musik Hardcore adalah, mengusung gerakan “Straight Edge”, dimana gerakan ini adalah bentuk penentangan atas kultur anak muda di zaman itu, yang gemar mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang sebagai pembentukan identitas golongan musik tertentu. Lagu dan ideologi “Straight Edge” merupakan cetak biru dalam budaya hardcore. Penggalan lirik “i’m people just like you / but I’ve got better things to do,” kini jadi dalil bagi Hardcore-Kids di belahan dunia manapun untuk bertaubat.

Jika gerakan Straight Edge milik MacKaye mengajak anak muda untuk melepaskan diri dari jerat alkohol dan obat-obatan terlarang, ada pula beberapa musisi Hardcore yang menggunakan musik dan karyanya sebagai media untuk ‘bersuara’ . Sebut saja Dead Kennedys. Band ini asal San Fransisco ini, sering menyisipkan muatan-muatan politis bernada satir, lewat lirik dan konsep panggung yang mereka usung. Maklum saja, personil mereka memang hampir sebagian besar seorang penganut ideologi sayap kiri. Di salah satu cover single mereka “Holiday in Cambodia” , mereka mengambil foto korban The Thammasat University Massacre, sebagai bentuk kritik atas kekejaman rezim negara timur dan campur tangan negara barat dalam urusan internasional.

Sedangkan awal mula Hardcore menyusup masuk ke Boston dan New York, didasari dari kecemasan beberapa musisi akan keamanan kotanya yang dikuasai oleh geng jalanan dan kartel narkoba. Sehingga mereka membuat paham Straight Edge menjadi lebih militan, sebagai bentuk perlawanan ideologi. Kebanyakan dari mereka ini kemudian membentuk sebuah perkumpulan kecil sebagai bentuk idenitas yang membedakan mereka dengan geng-geng jalanan. Tak ayal, mereka sering mengklaim satu sama lain sebagai “Family”, untuk kemudian membubuhkan embel-embel “Crew” sebagai pengkubuan/identitas kelompok hardcore region satu dengan region lain. Beberapa kata yang sering mereka gunakan sebagai jargon pemersatu adalah “Pride” dan “Respect”. Agnostic Front dengan gamblang menggambarkan dedikasi mereka untuk orang-orang yang ada di sekitarnya, lewat lirik “For my family for my friends / for those that we've lost I sing / this is a message, this is for you / never forget the ower east side crew” di single “For My Family” .

Daerah asal si empunya karya, memang seringkali menentukan bagaimana hasil akhir dari sebuah karya. Saya ingat, Pram pernah berkata bahwa realisme sosialis sesungguhnya merupakan teori seni yang mendasarkan pada kontemplasi dialektik antara seniman dan ingkungan sosialnya. Seorang seniman — dalam hal ini pelaku musik Hardcore = ditempatkan tidak terpisah dari lingkungan tempatnya berada. Hakikat dari realisme sosialis ini bisa dikatakan menempatkan seni sebagai wahana penyadaran bagi masyarakat untuk menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang terasing) dan mampu menyadari dirinya sebagai manusia yang memiliki kebebasan.

Namun, semua pengantar di atas seakan menjadi kontradiktif ketika berhadapan dengan kultur Hardcore yang ada di Indonesia. Khususnya pemaknaan ideologi di generasi muda. Di kalang an generasi muda, hardcore banyak dimaknai sebagai musik kencang yang apabila didengarkan, akan sedikit meningkatkan ‘strata-gaul’ mereka di lingkungan sekitar. Mereka akan dianggap sebagai seorang hipster yang memang ingin tampil beda, dan dipandang memiliki selera musik yang tidak biasa. “Hanya ikut-ikutan seorang teman yang lebih tahu saja’ jawab sebagian besar dari mereka. Budaya ikut-ikutan inilah, yang sebetulnya sangat disayangkan oleh banyak kalangan. Mengingat ada berbagai pergerakan dan pesan yang ingin disampaikan oleh para penggiat hardcore generasi sebelumnya.Sebagai contoh, bukanlah sesuatu yang mengagetkan lagi ketika kita jumpa dengan seorang anak muda yang mengklaim sebagai seorang “Straight Edge” , dengan memasang tanda silang di tangannya, namun saat itu juga ia sedang merokok atau dengan identitas ke-khasannya malah mengkonsumsi alkohol sebelum masuk ke gigs.

Sebetulnya, banyak yang merasa baik-baik saja ketika jumpa dengan fenomena yang seperti disebutkan di atas. Akan tetapi banyak pula yang merasa bahwa harus selalu ada konsekuensi ketika kita mencintai/menggemari segala sesuatu. Peribahasa bilang “Tak Kenal Maka Tak Sayang.” Begitu juga dengan ranah musik Hardcore, ketika kita tidak mengerti latar belakang dan pesan apa yang ingin disampaikan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya, tentu saja sia-sia. Apalagi ketika sudah show-off dengan identitas ke-khasannya.

Di satu sisi, ekspektasi generasi sebelumnya akan pemahaman ideologi Hardcore di kalangan generasi muda pun kadang tidak dibarengi dengan usaha untuk merangkul dan memberikan pemahaman sebagaimana mestinya. Kecenderungan untuk bersikap konservatif, dan merasa bahwa tonggak estafet kultur Hardcore yang diemban oleh generasi sekarang ini tidak dijalankan dengan benar , juga membuat adanya jurang pemisah antara generasi lama dengan generasi baru. Namun seperti yang sudah iungkapkan sebelumnya, yang terpenting dari mencintai sesuatu adalah memahaminya secara keseluruhan. Memang, edukasi dari berbagai pihak tentang ideologi Hardcore itu penting, namun yang Jauh lebih penting adalah kesediaan untuk mempelajari segala sesuatu yang sudah mereka pilih untuk digemari.

************************************
Enigma Hardcore di Kota Bengawan
(Wawancara dengan Budi, pentolan band hardcore kota Solo, Spirit of Life)

Musik hardcore awalnya terbentuk dari musik punk. Di Solo sendiri, musik hardcore berawal dari wilayah Sriwedari yang ada sekitar tahun 1998. Budi merupakan salah satu anggota band hardcore Spirit Of Life yang cukup lama bergabung sekitar sepuluh tahun, ini merupakan band kedua sejak ia bergabung dalam komunitas hardcore Solo. Ia bergabung dengan komunitas hardcore sekitar tahun 2000. Budi menganggap musik ini sebagai musik yang berbeda dan membuatnya lebih bersemangat. Dari sekedar rasa suka itu ia terus mencari tau tentang apa itu musik hardcore. Ada beberapa wilayah di Solo yang menjadi tempat berkumpul komunitas komunitas hardcore contohnya seperti daerah Kleco, utara stadion Sriwedari, dan Serengan. Di daerah-daerah tersebut terdapat beberapa band yang masih tetap aktif sampai sekarang seperti HOT, Isolated IQ, Down For Life. Setelah tahun 2000 merupakan tahun kedua generasi Hardcore di Solo dan tahun 2002 sampai sekarang semakin banyak band-band hardcore yang bermunculan. Budi merupakan anggota band Spirit Of Life yang telah berjalan kurang lebih sepuluh tahun ini berpendapat bahwa musik hardcore sebagai musik yang berasal dari barat dan sampai di Indonesia tidak sepenuhnya harus melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan di barat. Memilah-milah mana yang cocok dipakai di Indonesia dan mana yang tidak. Contohnya seperti bila dibarat musik hardcore digunakan sebagai perlawanan terhadap pemerintahan, tetapi di Indonesia menggunakan musik sebagai sarana perlawanan terhadap pemerintahan pada era Presiden Soeharto tidak memungkinkan untuk digunakan maka tidak akan menjiplak apa yang dilakukan band barat. Sebagian band hardcore menelan mentah-mentah apa yang dilakukan oleh band barat tanpa menyaring baik-buruknya dan bagaimana dampaknya. Pondasi band hardcore sendiri adalah brotherhood dan friendship yang berarti hardcore merupakan kebersamaan dan pertemanan.

Punk dan hardcore sebenarnya tidak berbeda. Hardcore dinilai dari proses awal perjuangan hingga mencapai kondisi yang semakin baik. Setiap band hardcore mempunyai pergerakan masing-masing tentang apa yang akan diperjuangkan dan dicapai. Di Indonesia seperti di wilayah Jakarta sendiri tiap wilayahnya punya perjuangan yang berbeda. Wilayah Priuk dengan wilayah Jakarta Selatan mereka punya perbedaan dalam pergerakan. Di wilayah Priuk, komunitas Hardcore tersebut bentuk perjuangannya untuk bertahan hidup karena kondisi lingkungan yang keras. Sedangkan di Jakarta Selatan, sebut saja daerah Pondok Indah daerah itu merupakan kawasan elit maka tidak mungkin apa yang diperjuangkan sama dengan komunitas di Priuk. Perjuangan mereka kearah hidup positif misal dalam perlawanan terhadap pemerintahan. Rata-rata komunitas hardcore di Jakarta Selatan berasal dari kalangan menengah ke atas, berbeda kondisi dengan komunitas hardcore yang berada di Priuk. Perbedaan kondisi ini yang membuat perjuangan dalam tiap komunitas berbeda. Perbedaan era hardcore yang seperti sekarang ini sama seperti saat musik underground masuk ke Indonesia . Penerimaan music tersebut oleh sebagian komunitas dianggap bahwa musik tersebut berbeda dengan musik-musik lain yang sudah biasa didengar, keras, dan memberi semangat.

Style atau gaya berbusana dalam musik hardcore berbeda dengan aliran lainnya. Hardcore cenderung apa yang digunakan lebih ke gaya hidup, secara subjektif hardcore tidak mempunyai ciri khusus. Tidak seperti misal punk yang mempunyai ciri pada rambut, atau celana ketat. Tren berpakaian hardcore di kalangan anak SMA dengan kaos kedodoran itu hanya sebuah fashion. Hardcore sendiri tidak bisa dilihat dari sisi fashion-nya. “Hak mereka bila memakai pakaian seperti itu,” kata Budi. Hardcore berawal dari musikalitas yang masih awam tentang dunia hardcore itu sendiri yang lama-kelamaan akan tau tentang apa itu Hardcore. Budi menjelaskan bahwa hardcore itu berbeda dengan aliran musik lainnya karena musik hardcore adalah musik tentang perlawanan terhadap ketidakbenaran yang terjadi disekitarnya. Jadi individu maupun komunitas Hardcore dianggap berbeda dan minoritas karena mereka tidak mengikuti apa yang terjadi tetapi melawan arus. Budi berprinsip, “jangan hidup untuk hardcore, tetapi hardcore untuk hidup”. Artinya hardcore merupakan pilihan hidup tapi bukan berarti hidup kita segalanya untuk hardcore. Ada hal lain yang diperjuangkan, dengan hardcore kita memperjuangkannya.

************************************

Realitas Semu dan Preferensi Sosial 
(Wawancara dengan Argyo, dosen sosiologi Universitas Sebelas Maret)

Suara musik menghentak yang didominasi dengan suara gitar dan gebukan drum. Vokal yang memekakkan telinga turut juga mendominasi. Di tengah ‘lantunan’ lirik tersebut puluhan anak muda dengan gaya dan dandanan yang hampir senada tengah menikmati pertunjukan ini. Remaja yang berusia tidak lebih dari 20 tahun mendominasi pertunjukkan pada malam itu. Mereka adalah kelompok penggemar musik dengan aliran yang keras semacam ini, alias hardcore. Mungkin bagi kebanyakan orang, apa yang disajikan tidak dapat dengan mudah dinikmati. Akan tetapi untuk mereka musik semacam ini bagaikan “nafas” dalam kehidupan mereka.

Musik hardcore, sebuah aliran musik yang tidak bisa dibilang baru ini tengah mencuri perhatian remaja zaman sekarang. Terkhusus remaja putra usia SMA menganggap musik hardcore adalah bagian dari diri mereka. Namun sebenarnya mengertikah mereka akan filosofi dari aliran musik ini? Atau sekadar mengikuti trend saja yang tengah mereka lakukan saat ini.

Fenomena ini ditanggapi oleh Argyo, pengamat sosiologi kebudayaan asal UNS sebagai salah satu hasil dari berkembangnya budaya pop. Ditemui usai mengajar pada Sabtu (15/6), Argyo memaparkan pemikirannya mengenai fenomena trend musik hardcore ini.

Awal Mula Munculnya Fenomena


“Fenomena ini terjadi tentunya berkaitan pula dengan keberadaan budaya massa atau popular culture, “ ungkap Argyo ramah. “Ditambah lagi dengan persebaran budaya pop yang begitu mudah di era IT semacam ini. Dengan memanfaatkan teknologi yang ada, anak muda cenderung lebih mudah untuk bersinggungan dan menyerap bentuk budaya baru.”

Budaya pop, dalam hal ini adalah musik hardcore dilihat sebagai sebuah komoditas dengan pangsa pasar yang sudah jelas. Mereka sudah mempunyai consumer society sendiri yaitu golongan anak – anak muda. Kesempatan semacam ini kemudian dimanfaatkan oleh para pelaku industri untuk mengeruk keuntungan. “Berbeda dengan jenis high culture seperti pertunjukan opera dan wayang yang berorientasi pada kepuasan batin, perasaan dan emosi. Popular culture berorientasi pada keuntungan.”

Berangkat dari kesempatan semacam ini, proses eksternalisasi pun dilakukan oleh para pelaku. Mulai dari musisi sampai produser untuk mendapatkan keuntungan. Tidak berhenti sampai di situ proses ini terus berlanjut menuju apa yang disebut sebagai konsep subyektifikasi dan obyektifikasi. Kedua konsep ini merupakan gagasan dari sosiolog kondang, Peter L. Berger. “Simpelnya subyetifikasi adalah masa ketika anak muda mulai memiliki ketertarikan pada jenis musik tersebut. Merasa kok saya cocok ya dengan jenis musik ini. Saya senang. Sementara obyektifikasi ketika individu – individu ini berkumpul lalu kemudian saling berbagi kesenangan ini,” jelas Argyo lebih lanjut.

Setelah eksternalisasi, subyektifikasi dan obyektifikasi, tahapan selanjutnya yang dilalui adalah masa internalisasi. Ketika masyarakat mulai mengamini musik hardcore sebagai salah satu bagian dari mereka, bagian dari budaya dan sebagai seorang sosiolog, Argyo menilai apa yang tengah terjadi dan melanda anak muda zaman sekarang berkaitan dengan musik hardcore adalah sebagai sebuah “Realitas Semu”. Mengapa realitas semu?

Mengutip pernyataan seorang sosiolog terkemuka asal Perancis, Jane Baudrillard, realitas semu adalah sebuah kondisi atau keadaan yang tidak akan bisa bertahan lama. Ada masa dan titik jenuh tertentu yang akan muncul. Semuanya tergantung kepada kemampuan budaya itu sendiri apakah ia mampu bertahan di tengah masyarakat agar tidak hilang dalam gerusan waktu.

Konsep itu berlaku untuk hampir setiap jenis dari budaya pop, termasuk musik hardcore pula. Argyo menilai musik hardcore pada satu titik pasti akan mengalami saat kemunduran yang memang tidak akan bisa dihindarkan. Kemampuannya untuk mempertahankan diri dan kembali eksis kemudian akan sangat diuji. Apabila musik hardcore ini mampu melembagakan dan membudayakan pemikiran dan budaya mereka kepada generasi berikutnya, niscaya jenis musik ini akan tetap eksis sepanjang masa.

Dapat dinilai apabila diterapkan dalam kondisi sekarang ini, proses dari para musisi dan produsen musik hardcore untuk melembagakan jenis musik mereka telah cukup berhasil. Dimana sekarang mulai banyak anak remaja usia SMA yang menaruh minat dan perhatian mereka terhadap musik hardcore. Namun sejatinya pengertian dan pemahaman mereka mengenai musik hardcore cenderung sangat minim.

“Preferensi sosial”, ujarnya ketika saya mencoba mencari tahu alasan munculnya fenomena yang tengah menjadi pembahasan ini kepadanya. “ Semua fenomena ini didasari oleh satu alasan yakni preferensi sosial.”

Preferensi sosial sendiri dijelaskan sebagai sebuah hal yang wajar dalam sosiologi. Ini adalah masa dimana seseorang yang telah memiliki atau menikmati sebuah pengalaman tertentu kemudian menceritakan apa yang mereka dapat. Membagikan apa yang telah mereka alami kepada orang lain yang ada di sekitar mereka. Kebanyakan anak remaja SMA zaman sekarang yang baru saja menggemari jenis musik seperti ini mengetahui hardcore dari lingkungan pergaulan mereka. Sehingga pengaruh “ikut – ikut teman” sangatlah kental disini.

Walaupun pada kenyataannya tidak menutup juga kemungkinan mereka menyukai musik hardcore karena memang merasa musik itu sesuai dengan jiwa dan mewakili karakter serta perasaan meraka. “Memang ada pengaruh preferensi sosial dalam sebuah trend. Akan tetapi semuanya tetap kembali kepada individu yang bersangkutan. Apakah mereka menerima atau menolak kebudayaan yang baru ini, “ tuturnya “Sehingga unsur selera dan taste masih tetap menjadi yang utama.”

Beda Region Beda Budaya

Musik hardcore sendiri setelah ditelusuri perkembangannya, diketahui pertama kali muncul dari negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Kemudian setelah berkembang selama beberapa waktu aliran musik ini mulai diperkenalkan dan masuk ke Indonesia. Secara kasat mata, nampak beberapa perbedaan dari budaya pecinta musik hardcore dari negara asalnya dengan yang dari Indonesia.

“Sebuah budaya selalu memiliki apa yang disebut sebagai tanda penanda. Sebuah ciri khas yang memberikan identitas kepada budaya tersebut. Membedakannya dengan budaya yang lain.”, ungkapnya. “Seperti musik punk, reggae dan rock. Aliran musik hardcore pastilah memiliki bentuk tanda penanda mereka sendiri yang berbeda dan unik.

Perihal tanda penanda ini, telah terjadi beberapa proses filterisasi budaya yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Sehingga meskipun sejatinya hardcore berasal dari Amerika, namun tanda penandanya telah disesuaikan dengan keadaan masyarakat setempat. Proses penyaringan inilah yang memang sekarang tercermin kepada keberadaan musik hardcore yang berkembang di Indonesia, dimana memiliki sedikit perbedaan dengan versi aslinya.

Menutup wawancara, Argyo berpesan terutama kepada anak muda penggemar musik hardcore agar kecintaan mereka kepada musik hardcore tidak membawa mereka kepada hal yang kurang baik. “Menikmati musiknya tentu sah – sah saja. Akan tetapi perlu diingat kita juga harus menjaga norma. Jangan sampai kecintaan kalian kemudian menjurus kepada narkoba, alkohol dan parahnya tawuran alias kekerasan,” tegasnya, “Dengan memakai tanda penanda sebagai pecinta hardcore anda akan dapat memunculkan stigma di masyarakat. Jangan sampai karena kelakuan buruk satu atau dua individu membuat masyarakat melakukan generalisasi kepada seluruh penggemar hardcore.